
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
Memang benar kata orang, wanita akan kalap jika diajak belanja, apalagi jika barang diskonan. Tapi sepertinya aku belum masuk pada fase itu, melihat ibu ibu berjubel di deretan barang diskonan awal bulan saja rasanya ngeri, sudah seperti lihat remaja SMA mau tawuran. Makanya duku saat bunda mengajakku berbelanja aku selalu menolak, paling hanya menitip cemilan favoritku saja.
"Abang tunggu disini sama Al, " om Za memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian, demi kenyamanan bayi berusia 2 bulan ku ini, sementara aku berbelanja kebutuhan bulanan. Barang barang perabotan yang kami beli sudah dikirim ke alamat rumah kontrakan, karena aku dan om Za yang tak mau ribet.
Beberapa bahan makanan dan kebutuhan lainnya kumasukkan dalam keranjang dorong. Langkahku sampai di deretan barang yang memang ku butuhkan, ternyata harganya memang sedang diskon, tapi sayangnya dimana ada barang diskon disitu banyak pemburu diskon, well ini dia waktunya, aku belajar menjadi emak emak sesungguhnya.
Masuk ke dalam barisan para pencari diskon memang sesuatu yang membanggakan apalagi jika barang yang dituju didapatkan. Senyum mengembang di wajahku. Tak jarang tersikut atau tak sengaja terdorong.
"Done, " seperti mendapat jackpot aku senang tak terkira. Namun bukannya keluar dari desakan, aku malah terdorong dorong oleh ibu yang saling rebutan, padahal pihak supermarket menyediakan dalam stok banyak, sampai sampai keranjangnya menubruk badanku yang kecil dan menggores tanganku.
"Awww !!" ucapku.
"Ehh, maaf dek.. saya tidak melihat !" ucapnya.
"Aduhhh, ati ati dong bu !" jawabku.
Ternyata berbelanja membuatku berkeringat, "lumayan cape juga, untung aja baby Al ga ikut, kalo engga bayi gemoy gue bisa lecet !"
.
.
Beberapa keresek belanjaan sudah di dapat.
"Pukk !!"
Aku menyimpan belanjaan di depan om Za yang sedang asyik bermain bersama baby Al, untung saja aku segera menghampiri mereka, lihat lah mata mata haus akan belaian, laki orang yang jelas jelas lagi gendong bayi aja di liatin sampe ileran.
"Adek sampe keringetan gitu?!" tanya om Za. Aku duduk di samping om Za membuka plastik belanjaan dan membuka salah satu minuman yang tadi dibeli.
"Hufftt !! alhamdulillah !!" setelah meneguk airnya.
__ADS_1
"Iya bang, uhh besok besok kalo belanja jangan awal bulan gini ! udah berjubel aja orang orang di dalem, mentang mentang abis gajihan sama ada diskon awal bulan!" jawabku mengomel. Om Za mengambil tisue dan terulur mengelap keringat di dahiku.
Ia tertawa kecil, melihatku bersungut sungut menjelaskan supermarket yang di dominasi oleh the power of emak emak , tapi sedetik kemudian ia melihat lecet di tanganku.
"Tanganmu kenapa?" tanya nya.
"Oh ini, tadi kegores sama keranjang ibu ibu, dia buru buru karena takut keabisan, rebutan pula sama yang lain !" jawabku jujur.
"Ga apa apa kan ? kita obatin !" jawab om Za.
"Salwa ga apa apa, Salwa kan strong momy bang, lebih sakit kalo liat abang sama cewek lain !!" jawabku, om Za mencebik.
"Kapan abang dengan wanita lain?" katanya.
"Kan kalo bang, Susan??" tanyaku.
"Sudah jangan dibahas , ayo kita pulang..dari tadi Al haus," Om Za memberikan baby Al padaku, lalu meraih beberapa kresek belanjaan. Demi kesejahteraannya ia tak mau membahas Susan.
.
.
.
"Oh iya, Salwa lupa bang. Niatnya kenalan sama tetangga biar ga dikatain sombong, tapi berhubung lagi ngerubunin tukang sayur makanya Salwa beli, biar ga terlalu malu !" jawabku yang menidurkan Al. Sepulang dari supermarket Al tertidur.
"Mau dimasak apa?" tanya om Za. Jangankan om Za, aku saja tak tau akan diapakan sayuran yang kubeli tadi.
"Ga tau, buang aja kali ya ?" jawabku menghampiri lelaki hot yang sedang merapikan barang belanjaan.
"Jangan mubadzir," jawabnya singkat. Benar kan kataku, besok besok aku akan menjadi anak buah Roy kimoshi bisa menebak apa yang belum terjadi.
Disini tidak akan ada bibi yang merapikan belanjaan, maka lelaki inilah yang merangkap asisten rumah tangga ku, suami yang fleksibel dan multi. Selain partner hidup, partner ranjang ia pun partner di dapur.
Tanganku melingkar di perutnya, memeluk lelaki matang ini dari belakang.
"Ga usah mancing mancing dek, " ucapnya tanpa berbalik.
"Salwa ga mancing mancing ! cuma pengen peluk aja. Ga boleh ya ?" tanyaku mencium aroma tubuhnya memang sudah menjadi canduku, obat penghilang rasa rindu.
"Tapi tangan kamu ngelitikin abang," jawabnya ketauan jika tanganku sedang usil mengganggunya.
__ADS_1
"Abang lama banget sih, lagi apa emangnya ?" tanyaku celingukan penasaran.
"Nih, potongin !" tiba tiba ia menyodorkan sayur yang kubeli untuk dipotong potong, dan ia sudah siap dengan berbagai macam bumbu dapur.
"Cihhh !!" niat bermanja manja ria malah berakhir jadi tukang bantu di dapur. Ga ada reward apa setelah seharian berjuang diantara para pejuang barang diskonan. Lelah...butuh spa !! pekik dalam hati.
"Astagfirullahaladzim dek !" serunya. Aku ikut tergelonjak kaget.
"Kenapa?" aku baru sadar sudah mencincang halus sayuran, saking kesalnya.
"Astaga bang, Salwa ga fokus ! maaf !"
.
.
Hasil masakan chef Zaky, jadi tak menentu bentukannya. Sudah terhidang di atas karpet, tak ada sofa mahal ataupun sekedar kursi kayu, hanya karpet saja agar tidak kedinginan. Sayang saja jika hanya dipakai selama 3 bulan. Kalo kata om Zaky mubadzir.
Walaupun bentukan sayurannya aneh, tapi dijamin rasanya tetap enak. Karena dimasak dengan cinta.
"Mulai besok belanja saja, biar tidak boros. Abang juga rindu dengan masakan adek !" ucapnya.
Aku mengangguk, bukan pelit katanya, memang ia mengajarkan memiliki harta bukanlah tolak ukur kemandirian, memiliki banyak uang bukan berarti menjadikanku seorang istri manja yang tidak bisa apa apa.
"Tok..tok..tok...!" aku dan om Za saling melirik.
"Biar abang saja, adek teruskan makan saja !" ucapnya, aku mengangguk.
"Asaalamualaikum, "kembali bu Surti datang ke rumah dengan membawa mangkuk tertutup kertas nasi.
"Wa'alaikumsalam !" jawab om Za. Aku diam diam mengintip rupanya kali ini bukan cuma bu Surti saja, melainkan ada ibu ibu lainnya membawa mangkuk dan piring. Penampilan mereka yang berdandan juga memakai parfum, karena bau parfum mereka tercium sampai ke dalam, sepertinya mereka bukan hanya menyemprotkan saja pada pakaiannya, melainkan mandi dalamnya.
Dengan bibir merah merona dan pakaian terbaik, mereka memberikan mangkuk mereka pada om Za dengan dalih sambutan selamat datang. Sepertinya baju mereka yang biasa mereka pakai untuk kondangan, teelihat dari payetannya yang blink blink, malah ada pula yang memakai baju ketat, entah biar apa coba !
"Selamat malam pak Zaky, ini ada sedikit makanan, saya sengaja loh pak buat ini untuk menyambut bapak sekeluarga, dicicip ya pak !" mesem mesem sendiri membuatku bergidik geli.
Rupanya tidak di Aceh tidak disini, deretan fans garis keras suamiku memang selalu nekat dan terang terangan, benar benar patit diacungi jempol rumput tetangga selalu terdepan, jangan sampai aku melakukan kesalahan. Sedikit saja aku menggeser posisiku maka mereka dengan senang hati siap menghakimi dan melengserkanku. Astaga sadarlah wahai ibu ibu, seburuk buruknya suamimu ialah arjunamu.
"Wah..wah..dek, lihat abi mu setelah ini harus umi kasih kiss sampai sesek. Biar peletnya tahan lama !!" gumamku terkekeh.
Assalamaualaikum gengs, maaf lama sekali, selain karena real life yang padat dan membagi waktu dengan cerita lain, tapi alasan alur yang belum mimin temukan menjadi alasan utama. Mimin hanya ingin memberikan alur yang berbeda dari cerita lain. Berhubung regulasi dari Noveltoon yang semakin mengetatkan seleksi novel berkualitas, maka mimin mengurungkan niatan mengakhiri cerita dengan cepat sebelum mencapai batas minimal jumlah karakter. Maka mimin minta dukungan dan do'anya ya untuk Salwa dan om Zaky, semoga mimin bisa update tiap hari dengan alur cerita yang menarik untuk readers semua. Tetep dukung Salwa dan om Za ya guys ππ
__ADS_1
salam sayang mimin dan keluarga love me please uncle camat β€