
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
"Menyayangi dan mencintai seorang perempuan, tidak cukup hanya bermodalkan sayang saja!" ucap Om Za pada Wisnu.
Selepas permasalahan di ruang kepsek, om Za membawa masalah ini di luar dari sekolah, ia pikir pemuda seperti Wisnu tidak akan pantang menyerah sebelum ia merasa puas, maka om Za akan melayani bocah yang hampir setengah dari umurnya ini. Om Za menawarkan pada Wisnu, apa yang ingin ia pertandingkan. Tentu saja Wisnu memilih apa yang ia mampu, untuk mengalahkan om Za.
"Bang, abang yakin?" tanyaku mendongak menatap om Za.
"Insyaallah," jawabnya mengusap kepalaku.
Dan disinilah kami saat ini, aku sedikit terkejut ternyata bukan hanya memiliki mobil, tapi aku baru tau jika om Za memiliki sebuah motor gede yang biasa anak muda pakai untuk balapan, ini mah om om keren versi majalah Salwa. Ia mengencangkan sarung tangan dan helm nya. Sudah seperti pembalap profesional, gaya nya ... pembalap asal Italia saja kalah cakep dengan om om pria hot milikku itu. Andai rasa maluku hanya sebesar biji semangka sepertinya aku ingin berteriak histeris bahwa om Za adalah suami terkeceku. Sayangnya image istri camat yang melekat memaksa ku untuk tidak bersikap seperti gadis cabe cabean dempet 3.
"Om Ramli, sejak kapan abang bisa mengendarai motor balap?" tanyaku pada om Ramli, seraya tanganku yang memegangi jas om Za.
"Bapak, memang senang mengendarai motor gede bu, sejak remaja," jawab om Ramli tersenyum. Memang tangan kanan yang satu ini mencopy paste atasannya, sama sama kaku. Apa harus ku siram biar muka kanebo ini jadi lembut dan tidak kaku lagi. Atau harus ku rendam dalam pelembut yang dijual di warung warung.
Satu lagi yang baru saja kutau, om Za memang paket komplit. Lihatlah ia sekarang yang tak kalah keren dengan Wisnu, pesona om om pria matangnya malah mengalahkan cowok cowok muda lainnya. Jika samudra Pasifik isinya adalah bermilyar milyar kubik air, maka sebanyak itulah tanda cintaku untuknya, aku sudah jatuh.. jatuh pada pesona dan lembah cinta si om om pria matang yang dulu kubenci, jangankan untuk mencintainya, yang ada..ingin segera aku pergi ke toko kimia dan membeli sianida untuk kuseduh bersama kopinya.
Aku duduk di kursi penonton, kurasakan gerakan gerakan kecil di dalam perutku. Sepertinya di dalam sana om bayi ingin memberikan semangat untuk abi nya.
"Apa ada yang ibu perlukan?" tanya om Ramli.
"Om, kalo boleh Salwa mau minum," jawabku.
Om Ramli mengangguk lalu pergi untuk membelikanku minum.
Wisnu tersenyum senang, melihat om Za tertinggal di belakangnya. Ia yakin setelah ini ia akan terbebas dari Vita dan berpacaran denganku.Namun, ia tak tau jika ini memang strategi om Za.
Om Za mengatur gas dan kecepatan sesuai kelokan dan kondisi ban motornya.Alhasil di belokan selanjutnya ia berhasil memperpendek jaraknya dari Wisnu, lalu pada jalan lurus om Za menambah kecepatannya, Wisnu pun begitu. Ia tak bisa mengontrol, karena ambisinya yang ingin menang menggebu gebu ia tak melihat jika kecepatannya masih sangat tinggi untuk sebuah tikungan tajam. Bannya slip dan goyang, saat ia memaksakan memiringkan sepeda motornya.
"I gotch u !!" gumam om Za.
Om Za dengan mudah menyalip Wisnu, motor Wisnu tak mampu menahan keseimbangan dan terjatuh.
Garis finish sudah dilewati, om Za menyunggingkan senyumnya, ia memaklumi ego anak muda yang masih labil, hingga ia tidak bisa tenang dan berfikir jernih.
"Yeee !! abinya om bayi menang !!" seruku turun dan menghampiri om Za.
Aku menyerahkan satu botol air mineral yang tadi sempat ikut dibeli om Ramli.
"Minum dulu !" ucapku menyodorkan minum.
"Makasih sayang !" jawabnya.
Om Za mendekati Wisnu dan membantunya,
"Saat tikungan tajam, sebaiknya kecepatan motor dikurangi agar tidak slip dan terjatuh, seimbangkan motor dan berat badanmu!" ucap Om Za.
__ADS_1
"Ban motor mu juga sudah harus kau ganti," tambahnya. Wisnu menatap kesal pada om Za, namun ia juga terkejut, ternyata profesi Camat tak membuat om Za menjadi laki laki yang tak tau dunia luar selain daripada urusan warga.
Adzan ashar berkumandang,
"Sudah adzan, kalau begitu ini tantangan saya untukmu!" ucap om Za. Jangankan Wisnu, aku saja tak mengerti maksud om Za. Entah aku dan Wisnu saja yang otaknya cetek.
Laki laki pria matang itu, mengajak kami untuk ke mushola yang ada di dekat sini.
"Jas dan tasmu simpan saja di mobil, Ram..kunci mobil !" pintanya, aku dan om Ramli mengangguk.
"Tunggu om, mukena Salwa ada di dalam mobil!" aku menahan om Ramli yang hendak mengunci mobil.
"Biar saya ambilkan , bu !" jawabnya.
Om Za dan om Ramli duluan mengambil wudhu, ia membuka kancing di tangannya lalu melinting lengan bajunya. Belum habis pesona pria matangku. Air wudhu yang membasahi wajahnya seperti sebuah glitter yang ditaburkan, membuat om Za semakin glowing.
"Adek sudah ambil air wudhu?" tanya nya, aku menggeleng.
"Cepat wudhu, abang tunggu di dalam !" titahnya.
Wisnu yang melongo, tak tau akan di tantang apa oleh om Za, hanya bisa mengekor.
"Wisnu, ini tantangan saya untukmu. Menyayangi seorang perempuan bukan hanya sebatas perasaan cinta dan *****, tapi apakah kamu mampu membawanya ke jalan Allah, maka dari itu di sinilah semua dimulai !" ucap om Za.
"Saya menantang kamu untuk menjadi imam shalat !" tambahnya lagi. Wisnu melongo, seketika ia lemas, jangankan menjadi imam, jujur saja shalatnya pun banyak lubang, alias belang belang.
Gleuk....
Aku melihat wajahnya yang langsung pias, dan mengulum bibirku, tak tahan ingin segera meledakkan tawaku saat itu juga, sepertinya kadar gula dalam darahnya langsung turun drastis. Sedangkan om Ramli hanya diam dan tersenyum, melihat kelakuan pemuda ini. Terang saja yang dilawannya adalah juara satu Qira'at pada jamannya se-kota Banda Aceh.
"Ayo, Wisnu silahkan!" om Za mempersilahkan Wisnu untuk maju ke shaf paling depan, menjadi imam.
Melihatku yang sudah memakai mukena, Wisnu merasa tertantang. Ia maju ke depan namun, baru ia membaca basmallah ia sudah berhenti.
"Maaf saya tidak bisa pak," jawabnya.
Om Za tersenyum dan menepuk pundaknya, " kamu yakin??" tanyanya.
Akhirnya om Za lah yang mengambil tempat menjadi imam. Seperti biasa lantunan bacaan do'anya begitu syahdu.
"Wisnu, sekarang saya ataupun Salwa tidak harus khawatir lagi masalah status seperti sebelumnya," Om Za mengeluarkan buku kecil berwarna coklat, menunjukkan nama, tgl, foto, dan mahar sepasang manusia yang sudah mengikat janji di depan Allah.
Wisnu tersentak, ia saja yang bo*doh tidak mau melihat dan mendengar kenyataannya, bahwa aku sudah menikah.
"Salwa istri saya," ucap om Za.
Wisnu menatap nanar tak percaya jika ini kenyataan.
"Tolong cabut dan konfirmasi berita bohong itu, sesuai kesepakatan kita. Laki laki itu yang dipegang adalah ucapannya, maka be gentle !" ucap om Za. Bukannya mengiyakan Wisnu malah pergi tanpa salam ataupun pamit.
"Dihhh, ga sopan banget loe !!" sarkasku ditahan om Za.
"Biarkan saja dia pergi, kita lihat apa yang akan terjadi setelahnya !"
.
.
__ADS_1
Nasi sudah menjadi bubur, kabar berita yang tidak benar itu sudah menyebar menjadi konsumsi publik. Wisnu pun tak ada kabarnya, ia seakan menghilang ditelan air sungai yang keruh.
"Dek besok sekolah?" tanya om Za. Aku menggeleng. Sepulang dari bersaing dengan Wisnu, aku jadi malas untuk datang ke sekolah. Pastinya semua menganggapku bagai si Hello kitty from Jakarta.
"Engga! males !" jawabku sambil rebahan di sofa memainkan ponsel, meningan rebahan, nonton si ganteng dari negri ginseng yang kalo senyum bikin hati dag dig dug serr kaya lagi ujian nasional. Ia menaikkan alisnya.
"Kenapa?" tanya nya.
"Abang kan tau sekarang orang orang liat Salwa kaya mandang cewek rendahan, cewek pelakor !!" jawabku ketus.
"Pelakor?" tanya om Za.
"Iya, perebut calon laki orang !!" jawabku lagi.
Om Za duduk di sampingku, langsung saja aku menaruh kepalaku di pahanya. Meminta tangannya untuk mengelus elus kepalaku.
"Abang kan sudah menyuruh dia untuk menarik informasi salah itu dan mengkonfirmasi berita bohong itu," jawab om Za. Tangannya naik turun dari atas kepala sampai ujung rambut. Namun tak tinggal diam, tangan lelaki seperti tau kemana harus pergi. Saat sampai di punggungku, tangannya meraba ujung pengait bra lalu masuk menelusup melalui ujung kaos bawah, dengan sekali gerakan pengait itu terlepas.
Ternyata selain, pintar dalam bisnis om Za sudah lihai dalam urusan begini.
"Tangan abang diem ya, jangan sampai nanti Salwa gigit !!" ancamku, ia terkekeh namun tidak menghentikan aksi mesumnya.
"Abang !!" pekikku. Saat tangannya sampai di kembar sintalku yang ukurannya semakin yahud.
"Iya sayang," jawabnya mendayu.
"Abinya om bayi jangan nakal ya ! Salwa lagi cape bang !" keluhku.
"Adek kan hanya tinggal diam saja di bawah, menerima dan menikmati," jawabnya mengesalkan.
Ingin rasanya ku ketuk kepalanya menggunakan tongkat kasti, biar keluar jin mesumnya.
"Bang," lirihku.
"Hemm,"
"Sejak kapan abang suka balapan motor? ko Salwa ga tau?" tanyaku.
"Adek mau tau?" tanyanya.
"Ada bayaran untuk sebuah jawaban !" katanya.
Aku menaikkan alisku sebelah, roman romannya aku mencium bau bau kelelahan dan bergadang sambil toples.
"Perhitungan banget sih," sewotku.
"Abang ini pengusaha...jika ingin mendapatkan yang diinginkan maka ada harga yang harus dibayar ataupun ditukar."
Mataku menyipit lalu berdecih " Masa sama istri sendiri itungan !!" omelku tak terima.
"Abang hanya mengajarkan adek.." kilahnya seraya menarikku masuk ke dalam selimut.
"Abang !!!"
.
.
__ADS_1
.