
"Abang geli !!" tawaku.
"Jangan berisik, nanti Al bangun," jawabnya.
"Kumis sama jenggot abang udah mulai tumbuh tuh, cukuran sana !" pintaku. Kedua tanganku ditahan olehnya.
"Masa sih dek, bukannya perempuan lebih senang yang berkumis dan berjenggot?" tanya om Za.
"Engga juga, kalo kaya gitu... kasian pabrik alat cukuran jenggot dong ! bakal gulung tikar !" jawabku terkekeh.
"Abang minggir, badan abang berat !" pintaku sudah kepayahan tapi bukannya menyingkir, om Za malah semakin mendekapku dan membuatku kegelian dengan mengecupiku di seluruh permukaan wajah hingga aku terkikik. Untung saja Al Fath sudah dipindahkan ke ranjangnya sendiri. Jika tidak, sudah dipastikan tidurnya tak akan lelap karena ada gempa buatan yang akan mengganggu tidurnya.
"Abang tak akan lepaskan kamu lagi, sampai kapanpun, cukup yang kemarin saja, kita berjarak !" Hawa nafas itu membuatku meremang. Wajah bak dewa Yunani ini begitu mempesona di bawah temaram lampu tidur. Mengusap rambut ku lembut, menaikkan tingkat kesensitifanku.
(Harap bijak sayang, anak emak skip !!)
Om Za mengecup kedua kelopak mataku, lalu turun ke bibir, ci*uman itu lama lama menuntut dan panas. Om Za menurunkan bibirnya ke leher dan menggigit daun telingaku, hingga aku mengaduh.
"Abang !" mataku membulat, dan menepuk dadanya, ia malah tertawa. Tak butuh waktu lama untuk memulai semuanya, om Za sudah sampai saja di kedua bukit kembar sintalku mer3mas dan memainkannya, menyu*su like a baby. Ia lantas membuang semua pakaian yang menempel. Malam ini menjadi malam yang panjang yang penuh dengan suara suara kepua*san milikku dan om Za. Hingga beberapa kali pelepasan, om Za belum menyudahinya.
"Bang..euhh.., Salwa cah..pek !" ucapku di tengah perjalanan take off nya bibit om Za selanjutnya, Om Za menyeka keringat dari pelipisku, dengan punggung tangannya.
"Sebentar lagi," jawabnya. Hingga kali ini benar benar memenuhi dinding rahimku.
"Cup !"
"Makasih !"
Aku terlelap lebih dulu, seperti tak ingin melepaskan, ia memelukku seraya memejamkan matanya.
Tak selamanya cuaca akan terik dan panas, seperti hari ini. Dari subuh saja sudah turun hujan.
Aku celingukan mencari pakaian yang semalam dilempar om Za.
"Dih kejauhan, kenapa ga sekalian lempar aja sampe Monas?!! " akhirnya aku meraih yang paling dekat saja, kemeja putih milik om Za, dan aku memang tenggelam di dalamnya, karena kemejanya kebesaran dibadanku.
Belum masuk ke kamar mandi, aku sudah berdiri di depan jendela hanya membuka gordennya sedikit.
"Seumur umur gue disini, baru kali ini gue liat ujan," gumamku.
"Greeppp !!"
Aku terkejut, seseorang memelukku dari belakang.
"Assalamualaikum, pagi sayang," dengan suara khas orang baru bangun tidur. Aku memutar tubuhku.
"Waalaikumsalam, pagi juga abang sayang !"
"Kamu mau mancing lagi singa buas?" tanyanya membuatku mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Dengan berpakaian seperti ini, kamu sudah membuat junior abang kembali bangun, " ucapnya.
"Salwa ga niat bikin adek buat Al, ya bang !" jawabku, mengalungkan tanganku di lehernya. Bukannya melawan atau menolak, memang naluri manusiawiku yang menuntun untuk mengiyakan. Tubuh memang selalu berkhianat. Om Za mengangkatku hingga aku melingkarkan kakiku di pinggangnya.
"Satu kali lagi, Salwa diatas..setelah itu kamu mandi dan bersiap shalat subuh !" ucapnya. Tak tunggu waktu lama, suara hentakan otot tak bertulang yang menghentak * ****, kembali menggema.
******************
Al sudah belajar duduk, di meja makan, dia memiliki kursinya sendiri.
"Hari ini loe ke kampus Sal?" tanya Afrian.
"Iya, ambil mata kuliah siang. Setelah acara pelantikan abang !" jawabku.
"Pantesan, gaya semprul mu berubah jadi anggun !" goda Afrian.
"Gue ga semprul ! yang semprul tuh loe ! susulin sono, Acha mewek mewek mulu, jangan gantungin anak gadis orang kaya jemuran basah !" jawabku, melihat Acha galau rasanya seperti bukan Acha. Tak asik !
***************
Kembali di gedung ini om Za, menerima tugasnya sebagai camat. Diberikan sumpah setianya bersama beberapa puluh camat lainnya.
"Assalamualaikum pak Zaky, " sapanya.
"Waalaikumsalam,"
"Akhirnya kembali menjabat ??" tanya nya.
"Istri?" tanya nya menunjukku.
"Iya, " jawab om Za.
"Masih muda, " selalu ini jawaban mereka, apakah harus aku beruban dulu agar disebut matang.
Acara yang begini yang malas aku datangi, upacara sekolah saja banyak bolosnya. Apalagi yang begini, banyak bicara seperti obat tidur untukku.
"Bang, kalo kebanyakan acara formal beginian, besok besok Salwa pensiun jadi fans beratnya k pop, dan beralih aja jadi pahlawan negara."
"Iya terserah adek saja, asal tidak macam macam, " ucapnya tak ingin ambil pusing.
"Bang, abang ko betah sih, ikut acara beginian. Suntuk tau ngga ! "
"Terus maunya seperti apa, pelantikan sambil du*g3man?" bisiknya lagi.
"Apa susahnya sih, timbang sumpah setia terus pakein lencana, dah bubar jalan ! lama amat !!" kesalku sudah mulai rewel. Om Za hanya mengulas senyumnya, memang akan berakhir seperti ini jika membawaku.
Baru saja kembali menjabat, tugas berat sudah menanti. Om Za mendapat laporan jika di beberapa desa di wilayahnya, mulai diterjang banjir. Akibat hujan beberapa hari belakangan.
"Abang antar dulu adek ke kampus, setah itu balik ke kantor," ucapnya.
__ADS_1
"Baru juga dilantik bang, langsung kerja aja !" cibirku, sebegitukah loyalitas lelaki ini, padahal lihatlah camat yang lain, selametan dulu, tumpengan dulu, dangdutan dulu, kerjanya besok besok aja !
"Mau nunggu sampai kapan, memangnya? sampai abang selesai masa jabatan lagi?" tanya nya.
"Ck, iya..Salwa ganti baju dulu, ga mungkin kan Salwa ke kampus kaya mau penyuluhan gini ?!" jawabku melengos ke kamar mandi di dalam kantor om Za, dengan membawa pakaian ganti.
.
.
Setelah mengantarkanku om Za memang benar benar kembali ke kantornya.
"Sal, suntuk banget muka loe ?!" ucap Alisha.
"Iya, abis datengin pelantikan bang Zaky, "
"Wah, selamat ya..!"
"Hey sugar baby !" sapa Windu. Aku tak bergeming. Anggap saja radio yang transmisinya jelek.
"Salwa !!" tak mendapat respon, ia kemudian memanggil namaku.
"Loe manggil gue? sorry gue kira manggil orang lain, "
"Hee, mentang mentang suamimu camat, loe berani dan belagu, paling ujung ujungnya berlindung di ketek suami !"
"Apa loe bilang?!" aku mulai memajukan posisiku, dari awal aku tak pernah mencari cari masalah dengannya, tapi perempuan ini selalu saja menyenggolku.
"Loe punya masalah apa sih sama gue?! dari awal gue ga pernah cari masalah sama loe ! gue ga ngerasa punya hutang juga sama keluarga loe ! bahkan kenal loe aja engga ! loe ga suka sama gue?? atau gara gara loe kira, gue rebut cowok yang loe suka?" tanyaku menaikkan suaraku.
Alisha sudah menahan tanganku.
"Ada ya, istri camat tapi bar barnya ga ketulungan !" ucapnya lagi, jangan sampai aku pergi ke arena lapangan tembak dan mencuri salah satu pistolnya untuk ku tembakan tepat di mulut dan otaknya. Mulutnya ini sebenarnya terbuat dari apa? bisa sampai sejulid ini? apakah daricabe sekilo, terus ditambahin nyinyiran ibunya bawang merah??
"Untuk ukuran cewek, loe terlalu julid, loe juga nyebelin, dan loe jelek !" jawabku, Alisha mengulum bibirnya menahan tawa.
"Apa??!" cerobong asap di kupingnya mengepulkan asap hitam.
"Kalo loe ga jelek, cowok yang loe suka pasti bakal nyantol dari kemarin kemarin kan ? bukannya sama cewek bar bar kaya gue ?! gue emang ngangenin sih ! ga kaya loe !" jawabku lagi.
"Loe !!!" tunjuknya. Jika hanya berdebat begini, Windu bukan tandinganku.
"Dan satu lagi yang gue mau bilang, kalo emang gue jauh lebih muda dari bang Zaky, apa masalahnya buat loe ! loe suka sama Zidan kan? bukan sama suami orang ?!" ucapku sebelum pergi.
Windu mencak mencak kesal, bukan hanya Zidan alasan ia tak suka padaku, mungkin sikap cemburu dan irinya yang selalu membuat Windu, tak ingin kalah saing denganku.
.
.
__ADS_1
.