Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Nyawa Saalwa belum kumpul


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


"Salwa ?!" pekik Zidan. Seandainya aku tidak takut, jika ucapan adalah do'a, maka aku akan berucap, mau pura pura tuli saja, jika bertemu dengan pemuda ini. Menyumbatkan headset di telinga sepertinya lebih asik daripada harus mendengar ocehannya.


"Sal !" pekiknya mengejarku, tanpa berniat menghentikkan langkahku. Aku justru santai saja mengobrol dengan Alisha. Menganggap jika suara Zidan hanyal bisikan ghoib yang tak perlu kudengar.


"Sal, sorry masalah kemarin !" ucapnya, berdiri tepat di depanku.


"Minggir ! " sarkasku. Apa perlu kutabrak pake stum agar lelaki ini menepi dari jalanku.


"Jawab dulu Sal," pintanya.


"Udah dimaafin !" ucapku ketus, tak ingin berlama lama dekat dengannya, bisa bisa perempuan dsngan mulut nyinyir level nenek sihir itu menebarkan lagi gosip gosip murahan dan tuduhan tuduhan tak bermutunya, aku mencoba mengambil arah lain, karena badan tegapnya ini menghalangi jalan ku, sudah seperti tembok beton penyangga jalan layang, besar, menghalangi pandangan dan yang jelas keras..jika beton keras memang definisi keras sebenarnua, jika Zidan keras pada keinginannya, alias keras kepala.


"Udah lah ka Zidan, ga usah ganggu Salwa lagi. Toh Salwa juga udah maafin kan ?!" ucap Alisha mencoba membantu.


"Loe apa apaan sih ?!" sarkasku, saat ia dengan sengaja menggeser posisinya menghalangi jalanku.


"Aku tau kamu belum maafin, " ucapnya. Hey, cabelita...ga usah drama drama melow bin lebay ala ala sinetron yang ga kelar kelar, karena jujur aku tak suka laki laki lebay.


"Loe budek ya ?! kan udah gue maafin. Allah aja pemaaf, gue hambanya bisa apa?" jawabku.


Ia menarik senyuman.


"Minggir ngga?! atau mau gue colok mata loe ?!" ancamku.


"Gue ga butuh senyum loe, bikin gue sakit mata, minggir !!" sarkasku.


"Tapi jujur, aku belum bisa percaya kalo kamu emang udah nikah Sal, " ucapnya.


"Terus masalah gue?? masalah ibu gue? serah loe, mau loe percaya apa engga, bukan urusan gue, sekarang loe minggir, tuh laki gue ! udah siap cincang loe !" jawabku, melihat si ganteng kalemku sudah berdiri di depan mobilnya, di parkiran.


Zidan berbalik badan, saat aku melambaikan tangan pada seorang lelaki dewasa nan tampan, ia menurunkan kacamata hitamnya.


"Sal, seriusan kan itu pak Zaky?" tanya Alisha.


"Iyalah, terus siapa? " jawabku.


Zidan hanya bisa diam terbengong tak percaya.


"Bang, kenalin ini Alisha..temen sekelas Salwa !" ujarku mengenalkan Alisha.


"Wah, ternyata beneran lohhh ! ganteng Sal !" kekeh Alisha.


"Bapaknya anak gue !!" rangkulku di lengannya.


"Kalo gitu gue duluan ya Sha, " pamitku.


"Oke, gue juga langsung pulang ko !"


"Hati hati ya Sha, "


.


.


"Siapa dia??!" tanya om Za.


"Hah?? Alisha, kan barusan kenalan," jawabku membeo, apa jangan jangan om Za sudah mulai menjadi pelupa. Masa iya, umurnya kan belum terlalu tua.


"Bukan Alisha, lelaki tadi !" tunjuk om Za ke belakangku, aku menoleh masih ada Zidan disana.


"Dia?! Zidan, " jawabku.


"Jaga sikap !" om Za menunjuk kedua bola matanya lalu bergantian ke mataku.


"Ihhh, Salwa ga pernah lirik lirikan ya, emangnya abang !" jawabku.


"Masuk, " pintanya menghalangi kepalaku dari pintu mobil.


"Bang, Salwa lapar. Mampir dulu kesitu yu !" tunjukku pada sebuah rumah makan, tak jauh dari kampus.

__ADS_1


"Boleh deh, abang pun belum makan siang, " jawabnya memutar stir ke arah parkiran rumah makan.


"Nanti hari senin, abang pelantikan kembali. Adek harus menemani !" ucapnya.


"Pake seragaman lagi?" tanyaku mengingat rok span dan kemeja panjang, membuat gerakanku tak bebas. Om Za mengangguk.


"Salwa suka susah jalan bang, pake begituan !" keluhku.


"Hanya sekali sekali dek, " bujuknya.


"Mana upacara kan, bang ? tambah deh penderitaan kaki Salwa. Suka kesemutan !"


"Upacara dimana mana sama saja, memangnya dulu di sekolah kamu tidak pernah mengikuti upacara bendera?" tanya nya.


"Ya, sering lah ! meskipun seringnya sih telat ! terus di jemur deh di depan, jadi artis sekolah !" kekehku mengingat masa masa sekolah di Jakarta, saat sering terlambat datang.


"Bandel !" gumam om Za.


"Bandel bandel gini ngangenin bang, " jawabku.


Om Za menjiwir hidungku, "aduh !" aduhku.


Aku dan om Za masuk ke dalam rumah makan,


"Bang, Salwa pengen ke toilet dulu, ga kuat ! pesenannya samain aja !" aku segera berlari menuju toilet. Sedangkan om Za memilih tempat duduk, ia berpapasan dengan dua oramg mahasiswa lainnya.


"Eh, maaf !" ucap Windu, karena langkahnya menghalangi jalan om Za.


"Tidak apa, silahkan duluan," ucap om Za menerapkan prinsip ladiest first.


"Gilakk ! ganteng banget ! pria matang dewasa idaman yang begini, Fa !" bisik Windu, menatap kagum.


"Loe ga tau, itu kan pak Zaky.." jawab Fara temannya.


"Ha?! masa ?!" Windu segera mengambil ponselnya dan mengecek instagramnya. Melihat foto foto om Za, yang akunnya ia ikuti.


Bibirnya mengerucut, "iya, aslinya ganteng banget, " sesaat kemudian ia ingat, jika pak Zaky ini sudah memiliki istri dan si@lnya ia adalah aku, rivalnya di kampus. Mukanya langsung ditekuk hebat, tak terima jika setiap laki laki yang dikaguminya malah dekat denganku.


"Bukannya, istrinya itu...." tebak Fara.


"Gue yakin bukan deh. Atau engga, pak Zaky cuman maen maen kali ! dia maenan pak Zaky doang ?!" ucap Windu menuduhku yang bukan bukan.


Aku keluar dari toilet, mengedarkan pandangan mencari om Za, ponselku berbunyi, dan nama abinya Al lah yang tertera.


"Elah, bang ! tinggal teriak aja dikit keliatan, ga mesti nelfon juga !" omelku, "Buang buang pulsa," omelku. Definisi emak emak pengiritan, sudah melekat sejak aku memiliki anak. Dan kuikuti dari ajaran bu Surti.


" Terus abang harus teriak teriak kaya lagi di hutan??" baliknya bertanya.


"Ya engga kaya di hutan juga bang, dipikir Salwa tenyom, " aku duduk.


"Udah pesen?" tanyaku.


"Sudah, " jawabnya.


.


Saat akan beranjak pulang, kebetulan sekali aku berpapasan kembali dengan Windu, ia menatap tak suka padaku, yang semakin mengeratkan peganganku di lengan om Za.


"Cih, sugar baby !" gumamnya.


"Abaikan orang sirik Salwa ! sirik tanda ga cantik, sirik tanda ga sexy, " balasku.


"Kenapa dek?" tanya nya mendengar gumamanku.


"Engga bang, lalat masuk sini !" senyumku lebar. Om Za menggelengkan kepalanya, " mana ada lalat masuk cafe ber ac?!" tanya nya mengedarkan pandangan.


"Ada bang lalat nakal ! yu pulang Al udah nungguin !"


.


.


.


Jika dulu om Za akan sibuk dengan laptopnya. Tapi sekarang, maka Al Fath lah yang akan mendominasi keseharian abinya itu. Lelaki matang ini telaten mengasuh Al, tak ada kata canggung untuknya. Bahkan ia menggendong Al Fath sambil berjalan jalan sore.


"Hay gantengnya umi !! sekarang Al diculik abi terus nih ! lupa deh sama uminya yang cantik ini !" ucapku mengajak bayi gemoyku bicara, ia hanya akan tersenyum lebar sampai matanya menyipit.


"Umi bau asemm ! Al mana mau, " jawab om Za.


"Enak aja, Salwa udah mandi ya !"

__ADS_1


"Mana coba ??!" om Za malah sengaja menciumi aroma tubuhku sambil mencuri curi kesempatan mengecupiku.


"Modus !" aku mendorong pelan jidatnya.


"Sini, Al sama umi..biar abinya mandi dulu !"


"Dek, mungkin nanti malam abang ijin keluar sebentar, meeting bersama klien sambil makan malam. Ada Mirza dan Ramli juga, " ijinnya.


"Iya bang, " jawabku meraih Al Fath.


.


.


Aku merapikan kemeja dan jas yang dipakainya.


"Jangan kemaleman, kliennya cewek apa cowok? kalo cewek mendingan abang batalin aja deh meetingnya, nunggu siang aja ! nanti digerebek massa, kan amsyong !" ucapku nyeroscos.


"Itu mulut kalo remnya blong, abang cium juga nih !" ucapnya. Mataku memicing,


"Itu mah emang udah hobby abang, nyosor nyosor kaya bebek !" jawabku.


"Cup !" kecupnya.


"Ga usah mulai, katanya mau meeting !" ujarku.


"Bisa abang batalkan, " jawabnya memeluk pinggang rampingku.


"Jangan ! itu tender besar kan? kalo abang pulang ga bawa untung, justru abang tidur di luar !" kekehku.


"Matre !" kecupnya lagi di bibirku.


"Kepalang tanggung disebut sugar baby, " jawabku.


"Ya sudah abang pergi dulu, jangan dulu tidur, " lirihnya.


Om Za pamit, ia keluar dari rumah menuju mobilnya, melajukan mobilnya hingga keluar dari gerbang rumah. Sedangkan aku, duduk di kursi dan mulai mengerjakan tugas tugas kuliahku.


Melirik Al yang sudah tertidur, membuatku tenang mengerjakan tugas tugasku. Sampai aku tak sengaja tertidur sambil mengerjakan tugas.


Om Za yang sudah selesai meeting langsung bergegas pulang.


"Yakin Za, ga mau diantar?" tanya om Mirza.


"Insyaallah ada Ramli, ini sudah malam. Kasian Aisyah jika harus menunggu terlalu lama. Seorang wanita hamil perlu ditemani suaminya !" ucap om Za berpengalaman.


"Sipp deh pak bos, terimakasih atas perhatiannya, kalo gitu gue duluan," pamit om Mirza.


**************


Mobilnya masuk ke dalam garasi. Ia membuka kancing jasnya.


"Baru datang bang?" Afrian yang sedang duduk dan menonton, berpangku laptop dan setumpuk berkas kantornya.


" Iya, loe belum tidur?"


"Belum, masih banyak kerjaan !" jasab lelaki itu.


"Oke, jangan sampai bergadang !" om Za naik ke lantai atas, ia membuka pintu kamarnya, senyumnya tertarik melengkung.


"Ya Allah Sal, belajar sampai ketiduran disini, anakmu di ranjang sendirian, " gumam om Za. Lantas ia menggendongku, tapi karena belum terlalu lelap, aku merasakan guncangan dan terbangun.


"Eh, abang !"


"Adek bangun? baru mau abang pindahkan. Maaf abang mengganggu !" ucapnya.


"Engga ko, iya Salwa ketiduran bang," jawabku masih berada di gendongannya.


"Karena kepalang tanggung, adek sudah bangun. Bagaimana kalau abang ajak olahraga malam ?!" tanya nya.


"Puk !!!"


"Nyawa Salwa belum ngumpul !!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2