
🌛🌛🌛
"Mah.... apa Derson masih bisa diselamatkan?".
"Mama nggak tau sayang, mama juga sedih melihat keadaan ini, kamu tau sendirikan mama dan dia baru juga baikan tapi sekarang mama dan dia berpisah lagi. mama hanya berharap ia bisa ditemukan dengan keadaan masih hidup itu sudah menjadi sesuatu yabg mujijat bagi Mama. Mama takut kalau ia sudah meninggal dan dibawa arus air deras, rasanya mama tidak bisa membayangkannya" ucap Mawar tidak kalah sedih dengan Via.
"Bukan cuma mama dan Via yang merasa kehilangan, Lily juga merasa kehilngan kalau sampai hal itu terjadi aku tidak tau harus berbuat apa, kak derson adalah segalanya bagi ku, ia kakak yang sempurna, selama ini kak Derson yang selalu ada untukku hiks... hiks...." ucap Lily.
Ketiga perempuan itu menangis dalam diam, dan juga Via sadar bukan hanya dia yang merasa kehilangan tapi Mawar dan juga Lily.
Ketika mobil itu sudah sampai ditempat kejadian mereka langsung turun untuk menanyakan hasil pencarian Derson.
"Bagaimana dengan hasil pencariannya pak? apa ada kemajuan?" tanya Alfi kepada mereka yang bertugas diatas.
"Sampai saat ini belum ada titik terang untuk menemukan tuan Derson, sepertinya sangat sulit untuk menemukannya apalagi kemaren air dibawah sana pasang dan kemungkinan arusnya lebih deras dari biasanya, tim kami mengalami kesulitan untuk menemukan tuan Derson harap bersabar sedikit ya pak" seru salah satu yang bekerja disana.
"Lakukan yang terbaik pak, kalau bisa hari ini kerahkan semua timsar, kami akan membayar biaya berapa saja asalkan Derson bisa ditemukan" ucap Alfi mengambil keputusan ia juga tidak tega melihat istrinya sedih lagi saat kehilangan anaknya untuk kedua kalinya apalagi dengan cara mengenaskan begini.
"Baiklah pak, akan kami usahakan".
Pencarian terus berlanjut hingga malam hari, anggota timsar sudah dikerahnya sebanyak-banyaknya, halikopter milik Derson menoropong dari atas dan menuyusuri air mengalir itu tapi hasilnya nihil.
****
Hari ini tepat seminggu mereka mencari Derson tapi tidak juga ditemukan, anggota timsar sudah angkat tangan dan mereka sudah menghentikan pencarian, hal itu membuat keluarga terpuruk dalam kesedihan.
__ADS_1
Malam ini dilakukan tahlilan dirumah Derson karena mereka menduga Derson sudah meninggal dunia, semua orang sudah berkumpul termasuk beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak sudah ada disana yang akan mengikuti acara tahlilan.
Semua keluarga sudah berkumpul disana, termasuk Amelia dan suaminya, Marry dan Harry juga ikut disana.
Marry duduk disampaing Via dan sampai saat ini ibu hamil itu belum mengiklaskan kepergian suaminya itu, seminggu ini ia juga lebih sering diam, makan tidak bersera ia lebih suka melamun tersenyum sendiri lalu menangis layaknya orang yang stress.
Beberapa kali Via mengahapus air matanya dan mengusap perutnya yang buncit itu.
"Sayang ternyata kamu akan lahir tanpa daddy, daddy mu tidak menyayangi kita ia pergi meninggalkan kita untuk selamanya tanpa menunjukkan wajahnya didepan kita saat ini".
"Kamu tau nggak sayang? mami pikir daddy mu menyayangi mami dan ternyata mami salah, ia tidak menyayangi mami dan juga kamu, ia pergi tanpa pamit, dulu juga mami sudah melarang dia untuk tidak pergi tapi ia tidak mau mendengarkan ucapan mamy. kamu jangan marah ya kalau mulai hari ini mami akan membenci deddy mu itu. mami sangat benci, dan mami paling benci dengan keadaan kita saat ini. mami benci melihat keadaan saat ini dimana para tetangga berdatangan bukan untuk meyampaikan selamat melainkan mengucapakan turut berduka cita, apa mami usir aja mereka sayang?"
"Hm.... jawab mami sayang" batin Via kepada kandungannya Ia melamun sampai ia tidak tau kalau acara itu sudah dimulai dan sebentar lagi pasti bakal selesai.
****
"Biar aku aja yang mengantar Via" ucap Amelia yang ikut sedih melihat keadaan Via.
"Kalau kamu tidak keberatan temani Via dikamarnya ya, tante takut ia berbuat aneh-aneh didalam sana" ucap Mawar.
"Iya tante Amelia mau kok".
Amelia mengajak Via kembali kekamar, respon yang diberikan Via diluar dugaan Amelia, perempuan itu hanya menangis dan berdiri dari duduknya tidak ada respon sama sekali.
"Astaga Via, maaf jika dulu aku berniat merebut suami mu. melihat mu seperti ini aku menyesal pernah berniat tidak baik dengan hubungan kalian, ternyata kamu tidak bisa kehilangan suami mu itu" batin Amelia ia terus berjalan menuntun Via kedalam kamar milik Derson dan Via.
__ADS_1
Beberapa saat Amelia mengagumi kamar milik Derson da Via yang terlihat luas dan megah itu, kesadarannya kembali saat Via berbicara kepadanya.
"Amelia kamu boleh keluar, aku tidur sendiri saja" ucap Via dengan lirih.
"Aku nggak apa-apa kok walau sendiri, bagaimana pun aku harus terbiasa dengan kesendirian ini".
"Biarkan malam ini aku menemani mu".
"Nggak usah, kamar ini hanya aku dan Derson yang bisa menempatinya ini kamar kami jadi aku tidak mengijinkam siapapun yang tidur disini selain kami berdua, dan akan digantikan dengan anakku nantinya berarti hanya kami bertiga yang bisa tidur disini" ucap Via.
"Baiklah jika itu maumu, kamu tidur dan istirahat ya, jangan pikirkan yang aneh-aneh kasian anak kalian dia pasti ikut sedih melihat mamanya sedih".
"Hehe ia aku mengerti, makasih ya sudah mengantarku kesini" ucap Via tersenyum kecut.
"Baiklah aku pergi" Amelia langsung pergi dari sana ia tidak mau menambah beban pikiran Via karena memaksa Via untuk ditemani.
Via menutup kamarnya lalu berjalan keranjang, Ia duduk disana dan mengambil foto mereka berdua saat didubai, foto itu diletakkan diatas nakas dengan bingkai yang sangat bagus.
"I Hate You Darling, walaupun begitu aku tetap menunggu mu pulang. aku akan menghukummu dengan tidur dilantai tanpa bisa memelukku" ucap Via sambil mengusap wajah Derson yang ada dibalik kaca itu.
"Kalau kamu tidak pulang sampai anak kita lahir jangan salahkan aku, kalau aku katakan kamu itu laki-laki kejam meninggalkan anak dan istri tanpa pamit".
Via selalu berbicara kepada Derson lewat poto, itu yang ia lakukan dalam seminggu ini, dan sampai saat ini ia masih yakin kalau Derson bakal kembali, merasa lelah berbicara sendiri tanpa dijawab Derson Via merebahkan badannya dikasur yang biasanya menjadi tempat Derson, Via mencium kasur itu dalam-dalam disana ia mendapat aroma tubuh derson yang masih melekat, tanpa terasa air mata via jatuh lagi, air mata itu menjadi saksi betapa tulusnya cinta Via selama ini dan betapa ia merasa kehilangan sosok Derson saat Derson tidak ada lagi, kini air mata itu datang untuk menemani tidurnya Via.
🌛🌛🌛
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya