
Leo dan Kayla sudah kembali ke ruang rawat, melanjutkan perawatan Kayla lagi, meskipun Leo dan Kayla sempat berdebat kecil karna Kayla ingin pulang. Namun, pemenang debat adalah Leo. Jadi, Kayla mau tak mau harus meng'iyakan kemauan Leo.
"Tuan, aku akan kembali ke rumahku. Aku harus membawa beberapa berkas penting, aku takut Dave mengambil alih semua aset milik ayah," ucap Kayla.
"Tidak!" tegas Leo.
"Tapi–"
"Kau tidak akan kembali, Kay. Dia bisa lebih gil4k dari sebelumnya, dia jahat. Aku akan mengatur rencana untuk itu," kata Leo.
–––
Dave kini telah sampai di panti asuhan. Dia menggendong bayi laki-laki yang sejak tadi menangis. Ia masuk ke bagian kantor perpustakaan itu dan terlihat mengajak bicara seorang pengurus panti.
Tanpa ia sadari ada perempuan yang sedang mengawasinya sejak tadi, sepertinya dia memang memiliki tujuan tertentu.
Wanita itu merogoh ponsel di saku celananya, lalu menghubungi nomor yang sudah lama tersimpan di ponselnya.
"Ada informasi apa?" tanya seorang pria di sebrang.
"Dave, dia membawa bayi ke panti asuhan. Aku mengikutinya sejak tadi," ucap Zea. Ya, perempuan yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Dave adalah Zea.
"Aku yakin, itu adalah anak Kayla," ucap Zea meyakinkan.
"Jika bukan?"
__ADS_1
"Jika bukan, siapa lagi? Musuh Dave adalah Leo dan Kayla. Ia ingin menghancurkan mereka berdua, apa kau tidak yakin?" tanya Zea.
"Aku akan menyelidikinya." ucapan itu mejadi penutup percakapan mereka.
———
Di sisi lain, Kayla kini sedang membujuk Leo untuk segera membawanya pulang dari rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit itu menyeramkan. Apalagi, ruangannya serba putih, itu menunjukan kesan hampa.
"Tuan, jika ada anak kita, mungkin aku tidak akan merasa kekurangan lagi," ucap Kayla dengan nada sedihnya.
"Kayla, aku akan melengkapi kurangmu, Ak—"
(Ringging)
Suarang nyaring dari telpon mampu memotong perkataan Leo. Ia menarik ponsel di saku celananya dan menganggkap panggilan yang masuk.
"Aku pikir anakmu itu tidak mati. Zea melihat Dave menyerahkan seorang bayi pada seorang pengurus panti. Mungkin saja itu anak mu, 'kan?" jelas Alkan.
"Silidiki!" ucap Leo mengakhiri panggilan.
———
Sesuai permintaan Kayla, ia akan segera pergi dari rumah sakit ini. Sebenarnya Leo sudah kukuh atas pendiriannya untuk tidak mendengarkan rengekkan Kayla, tapi ternyata Kayla mempu meruntuhkan pertahanannya.
"Baik, aku akan membawamu pulang, Kay. Dengan satu syarat," ucapan Leo terdengar tegas di telinga Kayla.
__ADS_1
"Apa?"
"Turuti kemauanku. Ini demi kebaikanmu, Kay." Leo mengusap lembut pucuk kepala Kayla.
Kayla mengangguk kecil, ada guratan senyum yang terukir di bibir ranumnya. Ini kebahagiaan sementara, atau sesungguhnya?
Pasangan suami istri itu mulai pergi meninggalkan rumah sakit, menuju rumah tentunya. Di sepanjang perjalanan sunyi menyertai mereka. Tidak ada percakapan, ataupun interaksi lainnya.
"Tuan, kenapa kau diam?" tanya Kayla berusaha memecah keheningan diantara keduanya.
"Kay, anak kita ... "
"Relakan dia, Tuan. Bukankah kau sendiri yang memintaku ikhlas? Aku tau ini berat, tapi kau pernah bilang, bahwa tuhan lebih menyayangi dia." papar Kayla.
"Mmm ... besok, mungkin aku tidak akan ada waktu untuk terus berada di ampingmu, Kay." ucap Leo.
"Kenapa?"
"Ada pekerjaan yang harus aku lakukan."
——
Maaf lama upnya ya...
Aku lagi nyiapin cerita baru hehe.
__ADS_1
Oh iya, kan sekrang udh menjelang lebaran ya, aku gk bakal up dulu 1 minggu. Lebaran itu istimewa. saatnya kita berbahagia. Dan ... aku up lagi 3 hari setelah lebaran.Selamat Hari Raya idul fitri🙏🏻