MAFIA KEJAM JATUH CINTA

MAFIA KEJAM JATUH CINTA
Luka Dari Alam Semesta


__ADS_3

Kayla berjalan sendirian di koridor rumah sakit dengan air mata yang selalu meluncur dari tadi, menyebut-nyebut nama Leo. Seperti orang gila.


Ia berjalan ke arah taman rumah sakit, di sana ada bangku kosong, ia berjalan kearah bangku itu dan duduk di sana. Hari semakin larut, sementara ia masih menangis di sana, hujan ikut turun seakan mendukung suasana hatinya kala itu.


"Tuan Leo, aku benar-benar membutuhkanmu." Kayla mengusap wajahnya yang basah terkena air dengan kasar.


Dari jarak yang cukup jauh, Alkan memperhatikan Kayla, rasa khawatirnya memuncak, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, Kayla memang memerluka waktu untuk sendiri.


"Sedang apa kau disini?" tany seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


"Kau, aku kira kau sudah pergi dari rumah sakitu ini," ucap Alkan pada Leo.


"Belum," jawab Leo.


"Lihat, apa kau tega membuatnya menderita? Dia benar-benar menginginkanmu sekarang," ucap Alkan.


"Aku menyayanginya, tapi banyak sekali rasa takut ku ketika ingin berhadapan langsung dengannya," kata Leo.


"Kalau kau tidak bisa membahagiakannya, apa boleh aku menggantikan posisismu sebagai suaminya?" kata Alkan.


Bugh'


Tanpa aba-aba Leo meninju perut Alkan dengan keras. Ia tidak ingin Alkan berkata lancang seperti itu lagi. Terutama jika menyangkut Kayla. Alkan ingin menggantikan posisinya? Apa maksud perkataannya itu?


"Akh, aku hanya bercanda," ucap Alkan. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Aku tidak suka jika kau mengatakan itu!" bentak Leo.


"Aku hanya bercanda. Dan kau tau? Ada tujuan di balik candaan itu," kata Alkan.


"Apa?"


"Agar kau menemuinya, menenangkannya, kembali menjanya. Kau tau? dia mungkin akan sangat terluka jika kau tidak ada di sampinya, apalagi kalian baru saja kehilangan anak," ucapan Alkan mampu membuat Leo terdiam.

__ADS_1


"Apa aku berlebihan?" batin Leo.


———


Kayla masih dengan posisi yang sama, duduk di bangku meskipun hujan tengah menimpa diriny. Basah, dingin, sedih, sakit, rindu, marah, semua ada pada dirinya.


"Apa aku harus menyusul kedua orang tuaku?" lirih Kayla.


"Aku tidak punya harapan lagi. Anakku, suamiku, mereka pergi dariku. Apa yang salah denganku?"


"Bahkan ketika aku membutuhkan suamiku, dia tidak datang untukku. Kenapa hidupku seperti ini?"


"SEMESTA, APA KAU TIDAK PUAS MELIHATKU SE–MENDERITA INI? APA KAU MASIH BELUM PUAS?" teriak Kayla.


Tiba-tiba seorang pria yang menggunakan scraf dan topi datang kepadanya, ikut duduk di sebelah Kayla.


"Ka–kau, anak buah Alkan, yang menyelamatkanku saat perutku kesakitan waktu itu?" tanya Kayla pada pria yang berada di sampingnya, pria itu hanya mengangguk.


"Terima kasih untuk pertolonganmu hari itu. Sekarang, kau bisa pergi meninggalkan aku sendirian disini. Aku sedang ingin sendiri, kau tidak berhak menggangguku," ucap Kayla.


Kayla mematung setelah mendengar perkataan Pria itu. Siapa dia? Suaranya, sangat di kenal oleh Kayla. Postur tubuhnya juga seperti seseorang yang sedang Kayla rindukan.


"Su–suara itu? Si–siapa kau?" Kayla berdiri menjauhkan dirinya dengn Pria itu.


"Ini aku, Kay." Pria itu membuka topi dan scraftnya, untuk memperlihatkan wajah aslinya kepada Kayla.


"Tu–tuan Leo," Kayla begitu gugup kala melihat Leo yang kini ada di hadapannya.


"Maaf, aku menampakan diriku di hadapanmu. Aku merindukanmu, Kayla." Leo berdiri untuk mendekatkan dirinya dengan Kayla.


"Kau bisa menghukumku lagi setelah pertemuan ini. Aku akan me–"


"Diam! Aku tidak akan menghukummu lagi," ucap Kayla. Suaranya terdengar bergetar.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku mohon, Kay," lirih Leo.


Leo merentangkan tangannya, "apa aku boleh memelukmu? Sekali ini saja, aku–"


Belum sempat Leo menyelasaikan ucapannya, Kayla sudah memeluknya erat, tangisnya pecah di dalam pelukan Leo. "Jahat! Kau itu jahat! Kau membuatku menderita, aku membencimu Tuan, aku mencintaimu, aku merindukanmu. Antara cinta dan benci, aku—aku hancur Tuan, Aku hancur." Kayla memukul-mukul dada bidang Leo.


"Pukul, Kay. Keluarkan semua kemarahanmu," ucap Leo lembut.


Hampir tak terhitung lagi berapa kali pukulan yang Kayla daratkan di dada Leo, tapi Leo sama sekali tak merasa sakit. Toh, dia 'kan kuat.


"Kay?" panggil Leo, pria itu tak merasakan lagi pulakan di dadanya. Apakah Kayla sudap puas memukulnya?


"Sudah?" tanya Leo.


"Hangat," lirih Kayla yang berada di dekapan Leo.


"Aku mencintaimu, Kay." Leo mengelus lembut pucuk kepala Kayla yang basah.


"Kay, ayo kembali menjadi kita yang utuh, menjadi kita yang saling menguatkan, menjadi kita yang tak pernah usai, dan menjadi kita yang akan abadi," ucap Leo.


"Kay, hidup itu kata lain dari misteri. Kita tak akan pernah tau apa yang ada di dalamnya. Contohnya, seperti kita, aku tidak menyangka akan bersamamu,"


"Kayla, ini keputusan semesta, kau tudak boleh mengutuk takdir dengan alasan apapun. Itu sudah jadi rencana Tuhan,"


"Kay, langit mendukung kita. Saat kita berpelukan seperti ini, langit berhenti menangis. Itu karna dia merestui kita," ucap Leo.


"Kau tau? Segala hal tentangmu akan ku perjuangkan dengan sungguh. Karna bagiku, kau adalah hidup yang sesungguhnya," lanjutnya.


"Tuan, kau salah karna mengatakan bahwa 'Langit merestui kita', buktinya langit mengambil Leo kecilku. , itu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kehilangan malaikat kecilku, langit mengambilnya. Mengapa?" lirih Kayla.


"Bukan di ambil, Kay. Mungkin langit ingin menjaganya, tapi aku tidak yakin dengan kepergian anak kita," ucap Leo.


"Maksudmu?" beo Kayla.

__ADS_1


"Entahlah, rasanya ada hal aneh dibalik kematiannya. Aku yakin itu."


__ADS_2