
"Akhirnya mereka keluar juga," gumam anak buah Alkan.
Tanpa menunda kesempatan, Anak buah Alkan langsung menghajar kedua orang tersebut hingga tak sadarkan diri. ya mereka adalah Pak Adijaya dan Pak Abraham.
Anak buah Alkan segera membawa mereka ke sebuah tempat yang terpencil, ternyata di sana sudah ada Leo dan Alkan yang tengah menunggu.
"Tuan, saya membawa mereka." ucap anak buah Alkan.
"Kenapa kau membawa keduanya? Bukankah aku hanya memerintahkanmu untu membapa pria itu saja?" Alkan menunjuk Pak Abraham.
"Jika sudah begini, berarti keduanya harus tiada" Leo tersenyum smirk
"Kalian mau apa?, lepaskan saya! Saya tidak tahu apa-apa" ucap Pak Adijaya.
"Benarkah itu? Lalu siapa diantara kalian yang membuat lerusahaanku merugi?"
"Kelvin mengatakan setelah kejasama dengan kalian, perusahaan saya merugi hingga miliaran"
"Tapi saya tid-"
"Dia! Dia pelakunya, dia sudah mengakali semuanya. Dia sangat licik" Pak Abraham menuduh Pak Adijaya yang saat itu tidak tahu apa-apa.
"Dia telah menggelapkan dana, jangan ampuni dia!" ucap Pak Abraham
Pak Abraham menuduh Pak Adijaya demu menyelamatkan hidupnya, dia tau saat itu hidupnya tengah terancam.
"Bohong! Dia berbohong. Saya tidak melakukan apapun, dia yang te-"
Dorr'
Dorr'
Dorr'
Belum sempat Pak Adijaya menyelesaikan ucapannya, Leo telah men3mb4k dad4 dan kepala Pak Adijaya.
"Bereskan mayat ini. Dan jika bisa, antarkan saja kerumahnya" ucap Leo.
"Apa kau gil4k? Jika dia di pulangkan kerumahnya, bisa-bisa keluarganya mencari pelaku pembunuhannya." Alkan benar-benar tak habis pikir dengan Leo.
"Kau pikir aku siapa? Mereka tak akan menangkapku" tutur Leo.
––
"Dahh Kay," Gisel melambaikan tanganya kaarah Kayla.
__ADS_1
"Besok kita pulang bareng lagi ya," ucap Kayla.
Gisel adalah sahabat Kayla, mereka telah bersahabat sejak duduk di bangku Smp, bahkan sekarang merekapun masuk di unifersitas yang sama.
Kayla berjalan menuju gerbang rumahnya, ia sangat heran ketika melihat banyak orang disana.
"Ada apa ini?" gumamnya
Kayla segera masuk dan melihat tubuh yang ditutupi kain putih berwarna putih dengan banyak bercak darah di kain itu.
"Siapa dia?" tanya Kayla pada Bi Sri pembantu di rumahnya.
Pembantu itu sama sekali tidak menjawab perkataan kayla, ia hanya menangis dan menutup mulutnya.
Kayla mendekati tubuh tak bernyawa itu, ia membuka penutupnya dengan perlahan-lahan.
"Papaaaaaahhhhh" teriak Kayla setelah membuka kain penutup itu.
"Pah, bangun! Pah ini kayla, ayok bangun pah, bangun!" tangis Kayla pecah saat mengetahui ternyata tubuh tak bernyawa itu tubuh ayahnya sendiri.
"Pah, jangan tinggalon Kayla! Papah, Kayla mohon Pah jangan" Kayla menggoyang-goyangkan tubuh tak bernyawa itu.
"Neng udah neng, neng yang sabar" Bik Sri memeluk erat tubvh Kayla.
"Papah, siapa yang tega sama papah? Hiks"
"Mamah, dimana mamah Bik?"
"Mamah gak boleh tau, nanti penyakit mamah kambuh Bik"
"Neng, Buk Sandra di bawa ke Rumah sakit, penyakit jantungnya kambuh saat liat Bapak" tutur Bik Sri.
Tringgg'
Terdengar suara telpon rumah yang berbunyi nyaring, saat itu yang mengangkat telpon adalah Bik Sri.
"Hallo, kami dari rumah sakit pelita memberitahukan bahwa Buk Sandra telah wafat karna serangan jantung,"
Bik Sri sangat kaget dan langsung menatap kosong kearah Kayla, ketika mendengar penuturan pihak rumah sakit, apa yang harus ia katakan pada Kayla? Ini benar-benar buruk.
"Bik, ada apa lagi ini?" lirih Kayla.
"Nyonya, nyonya" lirih Bik Sri
"Mamah kenapa Bik? Katakan! Mamah kenapa" Kayla menggoyangkan bahu Bik Sri
__ADS_1
"Nyonya, e–nyonya terkena serangan jangtung dan–"
"Ada apa Bik? Bilang ke Kayla! Ada apa?"
"Nyonya meninggal" lirih Bik Sri
Kayla menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rasanya, Kayla juga ingin ikut m4ti. Hatinya benar-benar hancur saat dipaksa menjalani kenyataan pahit.
–––
Kini Kayla sedang berada di pemakaman kedua orang tuanya. Makan Almh. Buk Sandra dan Alm. Pak Adijaya di letakan berdampingan.
Kayla duduk di tengah-tengah makam kedua orang tuanya, di sisi kanan adalah makan ayahnya, dan sisi kiri makan ibunya.
"Kay, lu yang sabar, gue tau lu kuat. Kay ada gue. Disini, gue siap kok saat lu butuh gue" Gisel mengelus-elus punggung Kayla.
"Sel, lu inget gak waktu lu main kerumah gue waktu itu? Mamah sama Papah bilang kalo mereka pengen liat kita jadi sarjana, dan datang ke acara wisuda nanti" lirih Kayla
"Tapi, mereka tega. Mereka bohong! Mereka ninggalin gue disini sendirian Sel, gue gak punya orang tua lagi Sell." sambung Kayla
Orang tua Kayla memang menginginkan anaknya menjadi sarjana. Sukses dimasa depan, dan mampu meneruskan perusahaan orang tuanya.
Tapi ini adalah takdir tuhan. Belum sempat mereka lihat Kayla jadi sarjana, mereka berdua sudah di panggil oleh yang maha kuasa.
–––
"Untuk malem ini, gue bakal tidur disini Kay. Nemenin lu" ucap Gisel.
Gisel sangat mengkhawatirkan sahabatnya, jadi dia memilih untuk menginap di rumah Kayla agar bisa menenangkan Kayla.
––
Sementara itu, Leo sedang menghajar anak buah Alkan habis-habisan. Bukan tanpa alasan, ini semua karna anak buah Alkan yang tak becus menjalankan peintah dari tuannya.
"Si4lan! B4ngs4t! Bodoh, kau sangat bodoh!" Leo terus menghajar Anak buah Alkan tanpa ampun.
"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Alkan datang.
"Orang yang ditembak kemarin, bukanlah pelakunya, bodoh!" Leo beralih menarik kerah baju Alkan
"A-apa? Bukankah Abraham sudah mngatakan semuanya?" tanya Alkan.
"Alkan, si tua Abraham adalah pelaku sesungguhnya. Dia membohongiku dengan mengatakan tuan Adijaya adalah pelakunya," Leo melepaskan tangannya dari kerah baju Alkan
"Lalu dimana Abraham berada" tanya Alkan
__ADS_1
"Dia kabur, entah kemana. Akan ku pastikan dia akan mati di tanganku" Leo mengepalkan tanganya dengan kuat.