
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Leo pada Alkan yang berada di sampingnya.
"Kau harus keluar dari sini" jawab Alkan.
"Kau pikir mudah? Aku bisa saja keluar dari sini, tapi, bagaimana dengan hukuman Kayla terhadapku?"
Alkan memutar bola matanya malas, "lalu, kau akan membiarkan istrimu terluka, begitu?" tekan Alkan. "Dave, kau tau? Dia mengurung istrimu"
"Bagaimana kau tau?" tanya Leo.
"Aku mengirim mata-mata kesana."
Alkan memang sudah mengirim seorang maid ke rumah itu. Maid itu di tugaskan untuk memantau setiap gerak gerik Dave dan Kayla.
"Pintar" Leo bangkit menatap Alkan kagum. "Tidak sia-sia aku memenuhi setiap kebutuhanmu" lanjutnya lagi. Alkan berdecak kesal dan memalingkan pandangannya dari Leo.
———
Setelah berhasil membujuk Leo untuk keluar dari penjara, Alkan menunjukan beberapa bukti tentang kejahatan Dave. Dia juka menunjukan foto Dave yang tengah menarik tangan Kayla.
"Sialan!" umpat Leo kala melihat foto Dave yang tengah menarik paksa tangan wanitanya.
"Tunggu, aku akan menyusun beberapa strategi" ucap Leo sebelum berlenggang pergi dari hadapan Alkan.
"Kemana?" tanya Alkan.
"Menyiapkan strategi–nya. Tunggu. Belajarlah, menjadi manusia sabar" seru Leo.
"Aku akan menjalani hukumanku, dan menyelamatkan Kayla. Aku bisa mengatur semuanya. Tenang saj! Aku hanya butuh waktu sendiri" lanjutnya.
———
Kayla sejak tadi berada digudang. Penuh debu dan banyak sekali sarang laba-laba. "Tuan... aku takut" lirihnya. Berharap Leo datang untuk menemuinya.
"Andai saja, waktu bisa berputar kembali."
Ada kalanya manusia itu terpuruk karna dirinya sendiri. Memang benar, sebuah keputusan itu, dipikirkan oleh kepala tenang, agar dampaknya juga ketengan.
Kayla duduk diantara barang-barang yang sudah tak terpakai. "Di perlakukan seperti ini, dirumahnya sendiri. Hahaha lucu sekali dirimu Kayla." gumamnya pelan.
Brak'
Tiba-tiba, Dave membuka pintu gudang secara kasar. Ia kemudian menatap kayla tajam. Sorot matqnya penuh dengan kebencian.
"Ikut aku!" sentak Dave sembari menarik paksa tangan Kayla.
Dave menarik tangan Kayla secara paksa dan menyeretnya untuk keluar. Ternyata, lelaki itu sudah menyiapkan mobil. Ia memasuka Kayla secara paksa kedalam mobil itu, dan membawanya pergi.
Dunia Kayla sekarang memang begitu jahat. Untuk sekarang bahagia saja terasa sulit. Apalagi, ia telah mengetahui bahwa Leo adalh pembunuh.
Dia membenci dirinya sendiri. Takdirnya, ucapannya, dan harapan-harapannya. Itu membuatnya sakit. Bahkan teramat sakut. Jika Kayla mengharapkan Leo lagi, bagaimana dengan ayahnya?
"Tuhan, bagaimana ini?" batin Kayla.
__ADS_1
———
Leo keluar dari ruangannya menghampiri Lakn yang tengah menunggunya di ruang tengah. Dengan aksi santai, Leo duduk di depan Alkan, "Aku, akan menjaga Kayla. Tapi, dari jauh". Alakan menautkan kedua alisnya, "Maksudmu?".
"Menjaga itu, bukan berarti harus dengan menyentuh'kan? Aku akan menjaganya, tanpa sepengetahuannya." jelas Leo.
"Sepengecut itu?" Alkan menayap Leo dengan ratapan meremehkan.
"Sialan! Aku bukan pengecut. Kau tau'kan? Kayla sudah tidak ingin melihat wajah tampanku! Jdi ini adalah cara satu-satunya" jelas Leo.
"Memangnya, kau tampan?" tanya Alkan dengan pandangan datar kearah Leo.
**
Mobil yang di kendarai oleh Dave berhenti di depan sebuah rumah kecil. Dia turun dan membawa Kayla masuk kedalam. Ternyata, di sana, sudah ada dua wanita paruh baya. Mungkin itu adalah pembantu.
Kayla di tarik paksa oleh Dave untuk memasuki salah satu kamar di rumah tersebut. "MASUK!" sentak Dave. "Kalian, harus menjaganya. Jangan biarkan dia kabur. Paham?" ucapan Dave diangguki oleh kedua wanita paruh baya itu.
"Dave, aku akan membalas semuanya!" ucap Kayla.
Plak
Tamparan mendarat mulus di pipi putih milik Kayla, sampai ujung bibirnya berdarah. Kayla memegang pipinya yang terasa panas itu, ia menatap Dave dengan tatapan yang penuh benci.
"Oh, ya. Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Sebenarnya, Leo tidak sengaja membvnvh ayahmu. Dia membunuhnya karna sedang keliru saja. Mungkin, bisa diartikan 'salah sasaran'. Apa kau paham manis?" jelas Dave dengan nada yang di main-main kan.
"Dan, kau. Kau juga keliru. Karna, telah memasukan Leo kedalam penjara. Kau bodoh, Kayla. Sebenarnya, itu bagian dari rencanaku. Tapi kebodohanmu, sangat menguntungkan bagiku." lanjut Dave.
"Non ... kami akan menjaga non, disini." ucap salah satu dari kedua wanita tua yang berada di hadapan Kayla.
"Aku, tidak ingin disini."
"Aku ingin pulang." lirih Kayla.
Kini Leo dan Alkan telah sampai di rumah mewah milik Kayla. Tapi, mengapa rumah ini begitu banyak penjaga. Mungkin karna takut akan serangan tiba-tiba.
Leo dan Alkan mengintip di balik pohon, dan memantau pergerakan para penjaga itu.
"Alkan, sepertinya kita harus menyerang mereka," ucap Leo pada Alkan yang masih anteng memperhatikan para penjaga rumah Kayla.
"Tidak. Tidak mungkin kita langsung menyerang mereka. Lihat, mereka sangat banyak." kata Alkan sambil terus memperhatikan rumah Kayla.
"Oke, kalau begitu, panggil saja para anak buahmu." perintah Leo. Alkan merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih miliknya, "Aku, akan menghubungi mereka," ucap Lakn sebelum mengutak-atik ponsel miliknya.
Tidak berselang lama. Akhirnya, para anak buah Alkan telah sampai di lokasi yang telah Alkan kirimkan pada mereka. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dan mimiliki tubuh kekar.
Salah satu dari mereka mendekat kearah Alkan dan Leo. Ia adalah anak buah Alkan yang paling di unggulkan. Namanya Fiko, perawakannya sangat kekar.
"Kita akan melakukan penyerangan sebentar lagi" ucap Leo dengan santai.
Leo memberikan komando kepada para anak buah yang telah sampai. Mereka tak kalah banyak dengan para penjaga di rumah Kayla.
"Setelah menerima aba-aba dariku. Kalian serang mereka" ucap Leo.
__ADS_1
Leo memberikan aba-aba kepada para anak buah, yang sudah bersiap sejak tadi.
"Dalam hitungan ke 3. Kalian harus menyerang mereka."
"Satu ... dua ... "
"TIGA!"
Para anak buah Leo dan Alkan segera menyerang para penjaga rumah Kayla. Penyerangan tidak membutuhkan waktu lama. Karna, anak buah Leo dan Alkan cukup kuat untuk melawan mereka.
Leo menyelusup ke dalam rumah, ia hendak mencari Kayla di sana. Tapi, ia tidak menemukan Kayla. Ia mencari Kayla ke setiap ruangan. Tapi, ia masih belum menemukan Kayla.
"Dimana Kayla?" gumam Leo.
Leo mengedarkan pandangannya di rumah mewah itu. Sampai, sebuah ruangan yang tertutup pintu coklat menjadi pusat perhatiannya. Ia mendekat kearah pintu itu lalu ...
Brak'
Mata Leo membulat saat melihat Dave yang tengah duduk santai di kursi. Dave tersenyum ramah kearah Leo, "Hallo, tuan maf1a," Dave malambaikan tangan kearah Leo.
Dengan tangan yang terkepal kuat, dan amarah yang sangat bergejolak, Leo mendekat kearah Dave dan mencengkram kuat kerah baju Dave.
"Katakan, dimana Kayla?" tanya Leo dengan nada sedikit menekan.
"Katakan! Atau aku akan mem–"
"Apa?" tanya Dave memotong perkataan Leo. "Kau akan membunuhku? Ck, silahkan saja. Tapi, kau tak akan permah tau dimana istri kesayanganmu itu, haha." ucap Dave dengan tawa yang meremehkan.
Leo melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Dave ia sedikit menjauh, tapi ...
Bugh'
Tanpa aba-aba Leo meninju rahang tegas milik Dave, hingga membuat Dave tersungkur kebelanga. "Jangan main-main denganku." peringat Leo. "Atau, kau akan mat1"
Dave memutar bola matanya malas. Ia segera bangkit dan mendekat ke arah leo, "Jika aku mat1, kau tidak akan pernah tau, dimana Kayla berada" ucapnya.
"Sialan!" umpat Leo.
"Kau tau? Sebelum kau menyerang dengan cara seperti ini, aku telah membawa pergi Kayla ke tempat yang jauh. Sangat jauh." Dave melangkah maju kearah Leo yang terlihat sangat marah, "Aku sedah selangkah di depanmu, Leo"
———
Sementara itu, Alkan tengah sibuk mencari maid yang menjadi mata-matanya.
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya ia menemukan Zea—seorang mata-mata yang di kirim Alakn untuk memantau setiap gerak-gerik Alkan.
"Kau, apa kau tau dimana Kayla?" tanya Alkan dengan nada berbisik.
"Kayla di bawa pergi oleh Dave. Entah kemana, tapi yang pasti, Dave sengaja menyembunyikan Kayla dari Leo" jelas Zea.
"Tapi, kau akan segera mengetahui lokasinya. Karna, aku sedah menfhubungi beberapa temanku untuk memantau setiap pergerakan Dave" lanjutnya.
"Bagus," Alkan menepuk pundak Zea dengan lembut. "Sekarang kembali lagi bertugas!" titah Alkan.
__ADS_1