
"Dave, tolong jaga rahasiaku. Akau akan pergi, aku mungkin akan tinggal di rumah Tuan Leo. Tapi tenang saja, aku akan selalu berkunjung kerumah ini. Bagaimanapun, ini adalah rumahku, tempat pulangkuyang sebenarnya " tutur Kayla.
"Baik Nona. Mari, aku antarkan" ucap Dave
––
Setelah sampai dirumah Leo, Kayla langsung diminta untuk menggnti pakaiannya dengan kebaya putih sederhana. Ini bukan keinginan Leo tentunya. Tapi, ini karna keinginan Kayla untuk menikah dengan cara sederhana.
Setelah selesai mengganti baju dan berias, Kayla turun dan mempersiapkan dirinya untuk acara ijab qabul yang akan berlangsung beberapa menit lagi.
"Maafkan aku. Seharusnya kau memakai gaun yang indah, bukan kebaya sederhana seperti ini" ucap Leo
"Tidak apa-apa. Ini kan keinginanku"
Setelah melangsungkan ijab qobul, tidak ada lagi pesta. Bahkan, makanan yang disiapkanpun hanya sedikit. Karna tidak ada tamu yang mereka undang. Disana hanya ada Dave, Alkan, dan para anak buah Leo.
––
Saat ini Leo tengah membuat jus alpukat untuk Kayla. Kayla memang tidak meminta jus, tapi ini keinginan Leo untuk memberinya jus alpukat.
Setelah selesai membuat jus alpukat, Leo segera naik ke lantai dua, tepatnya pergi kemar. Namun, setelah berada di kamar, Leo melihat Kayla tengah menangis. Jus yang tadinya akan ia berikan, ia simpan di atas meja. Ia menghampiri Kayla dan berusaha untuk menenagkannnya.
"Kenapa?" tanya Leo.
Leo duduk di samping Kayla, ia perlahan mengusap kepala Kayla agar ia bisa menenangkan Kayla.
"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Leo
"Tidak ada, hanya saja aku merindukan orang tuaku" lirih Kayla.
"Sudah, jangan menangis lagi. Besok aku akan mengantarkanmu kepada orang tua mu" Leo mengusap lembut pucuk kepala Kayla.
"Maksudmu? Apa kau akan membvnvhku? Dan mengantarkanku ke syurga begitu?" Kayla yang tadinya sedih, kini menjadi kesal dengan pertanyaan Leo.
"Hah? Jadi, orang tuamu ... " Leo menggantung ucapnnya sendiri.
Leo memang tidak mengetahui tentang orang tua Kayla, yang ia tahu hanyalah Kayla, Kayla, dan Kayla. Memang terlihat bodoh, tapi beginilah Leo jika sudah mencintai seorang gadis.
"Aku kan tidak tahu, jadi maafkan aku" ucap Leo
"Hmm ... tidak apa-apa tuan" lirih Kayla.
"Jangan memanggilku 'Tuan'," ucap Leo
__ADS_1
"Lalu?"
"Eum ... sayang?" saran Leo.
"Tidak, untuk apa memanggilmu sayang? Aku kan tidak menyayangimu ahahah" tawa Kayla pecah saat mengatakan itu pada Leo.
Leo menanggapi gurauan Kayla dengan wajah datar, tapi dia juga bahagia bisa melihat Kayla tertawa puas dihadapannya.
"Apa aku akan tinggal disini bersamamu?" tanya Kayla
"Tentu saja" jawab Leo
"Apa kau akan memperlakukanku seperti orang lain?"
"Maksudmu?" Leo tidak bisa mencerna perkataan Kayla.
"Seperti suami kepada istrinya"
"Tentu saja, aku akan menjadi suami yang baik untukmu"
"Sudahlah, ini sudah malam."
"Aku tau, aku tidak bodoh!" ketus Kayla.
--- --- ---
"Ekhem" Alkan berdehem, berusaha untuk mengganggu ketenangan Leo.
"Hmm, ada apa?" tanya Leo.
"Apa kau bahagia?" tanya balik Alkan seraya duduk di samping Leo.
"Ya, tentu saja."
"Memangnya kenapa?" tanya Leo sebelum ia menyeruput kopinya.
"Tidak ada, aku ikut bahagia jika kau bahagia." jawab Leo.
"Lalu, kapan kau akan menyusulku?" goda Leo.
"Sesegera mungkin. Aku harus mencari wanita yang cocok dengan dengan kepribadianku," jelas Alkan.
"Apa aku boleh pindah rumah?" tanya Alkan.
__ADS_1
"Mengapa kau ingin pergi dari rumah ini? Kau akan tinggal sendirian begitu?" tanya Leo.
"Aku akan tinggal bersama anak buahku. Di rumah yang baru saja kau beli satu tahun lalu," tutur Alkan.
"Aku tidak enak jika harus serumah dengan sepasang suami istri. Sedangkan aku saat ini belum punya kekasih" sambungnya.
"Hahaha ... jadi, itu alasannya?" Leo tertawa geli ketika mendengar penuturan adiknya.
"Lalu siapa yang akan merepotkanku nanti?" tanya Leo.
"Apa? Maksudmu aku merepotkan? Tidak! Aku tidak pernah merepotkanmu" elak Alkan.
Leo dan Alkan adalah kakak beradik yang kompak, jadi ketika salah satu dari mereka terluka maka, salah satunya lagi akan ikut terluka.
Sejak kecil mereka memang di didik untuk saling menjaga satu sama lain. Jadi, mereka akan selalu terlihat kompak ketika bersama. Meskipun, selalu ada pertengkaran perihal masalah sepele. Tapi itulah mereka, pertengkaran dalam hubungan mereka dijadikan sebagai pernghias semata.
"Baiklah, jika kau ingin pindah. Tapi, kau harus selalu berkunjung kesini" ucap Leo menepuk bahu Alkan.
"Tentu saja. Aku akan kesini untuk melihat perkembangan keponakanku di dalam perut ibunya, dan ..." Alakn menggantung ucapannya.
"Apa?" tanya Leo.
"Aku akan meminta sebagian uangmu untuk keperluanku" lirih Alkan.
"Dasar manusia tidak berguna" ketus Leo.
––
Kini Alkan dan Leo mengemas barang-barang milik Alkan.
Alkan akan pindah sore ini. Jadi, Leo dan para anak buah Alkan membantu mengemas barang-barang milik Alkan yang akan di bawa pindah.
"Eh, ada apa ini? Mengapa barang-barangmu dikemas?" Kayla tidak sengaja melihat Leo dan alkan memasukan baju kedalam koper.
"Dia akan pindah rumah," jawab Leo
"Ya, aku akan pindah rumah. Tapi aku tetap akan berkunjung kesini" ucap Alkan.
"Oh, jadi seperti itu ya"
"Hmm ... jadi kau bisa leluasa ketika bersama Leo hahah" tawa Alkan.
"Diam kau!" Leo melempar baju Alkan yang ada di dekatnya.
__ADS_1