
Saat ini Alakn, dan Zea tengah berada di rumah sakit. Ya, mereka sedang menunggu Leo menyelesaikan tesnya.
"Alkan, apa masih lama??" tanya Zea. Wajahnya sudah terlihat bosan.
"Tunggu saja, kau itu cerewet sekali." Alkan menatap Zea dengan tatapan tak suka. Sebenarnya, ia j7ga sudah bosan menunggu Leo, tapi apa boleh buat.
Selang beberapa lama, akhirnya Leo datang bersama suster yang tenafh menggendong bayi yang dicurigai anak dari Leo.
Leo menatap Alakan dengan mata sedikit berbinar, dan bibir yang terangkat. Ya, Leo tersenyum. Pertanda apa ini?
"Dia anakku," ucap Leo tersenyum kearah Alkan dan Zea.
"Aku sudah menduganya," kata Zea.
"Apa itu?" tanya Alkan melihat kertas yang sedari tadi di geenggam oleh Leo.
"Bukti Tes. Aku akan memberikan ini pada Kayla. Sekarang, kita pulang. Oh ya, Zea, tolong bawa anakku." Leo berjalan mau ke kearah pintu.
"Aku?" beo Zea.
"Iya, kau," ucap Alkan.
Eengan terpaksa Zea menuruti keinginan kedua proa menjenkelkan itu. Sebenarnya, Zea sudah di buat kesal sejak pagi oleh Alkan. Entah apa yang pria itu inginkan.
-—
"KAYLA!"
Suara bariton itu terdengar sangat keras, seolah suaranya mengisi ruangan rumah megah itu. Ya, suara milik Leo seolah tidak ada tandingannya.
Kayla terperanjat kaget juga heran. Apa ada dengan suaminya Leo? Mengapa ia memanggilnya dengan keras seperti itu?
Kayla segera bergegas pergi menghampiri Leo di ruang tengah. Dia sana ia melihat Leo, Alkan, juga seorang wanita yang menggendong bayi.
"Tuan, ada apa?" tanya Kayla bingung.
Kayla sedikit mendekat kearah Leo, ia mendongakkan kepalanya menatap Leo penuh tanya, ia tidak mendapatkan respon dari Leo, pria itu hanya tersenyum tipis karah Kayla dan menyodorkan sebuah kertas putih.
"Tuan, jangan membuatku takut," pinta Kayla.
"Buka," pinta Leo.
Kertas putih itu diambil dan dibaca oleh Kayla hingga usai. Ada banyak tanya di kepalanya. Tes DNA? Bayi? Perempuan itu? Ada apa ini sebenarnya?.
"Tuan, ada apa? Tes ini milik siapa?" tanya Kayla.
"Milikku, Kay. Lihat, bayi itu adalah anak kita." Leo menunjuk kearah bayi yang digendong oleh zea.
__ADS_1
"Apa? A—anakku, 'kan,"
"Ssttt." Jari telunjuk Leo menempel di bibir Kayla.
"Dave menculik anak kita, dia menggantikan bayi itu dengan bayi orang lain yang sudah meninggal," lirih Leo. Refleks Kayla menutup mulutnya, membulatkan matanya, sungguh ia tidak percaya.
Kayla masih saja diam di tempat memandang Leo penuh tanya, sesekali milihat Zea yang menggendong bayi.
"Gendong dia, Kayla. Dia anak kita," pinta Leo, dianggukinpelan oleh Kayla.
"Kemari, Zea." Tangan Leo melambai, mengisyaratkan untuk mendekat.
Kayla mengulurkan tangannya untuk menyentuh bayi mungil itu. Zea yang mengerti keinginan Kayla, langsumng mengalihkan gendongannya kepada Kayla.
Matanya menatap manik kedua manik bayi kecil itu. Persis seperti mata Leo. Ini benar-benar anaknya.
"Kisah kita segera berakhir dengan senang, ya?"
"Iya."
Setelah hari dimana Kayla ditemukan dengan bahagianya, ia tak bisa lepas dengn itu. Iya, kebahagiaannya adalah anaknya. Siapa lagi?
Ini membuat Leo merasa disingkirkan, merasa di acuhkan, dan berfikir bahwa Kayla hanya memperdulikan anaknya saja dan melupakannya.
"KAYLA!" suara bariton milik Leo terdengar sangat keras. Tentu saja membuat Kayla kaget.
"Apa?"
"Tidak, aku tidak mengacuhkanmu." Kayla melangkahkan kakinya kearah Leo.
"Kau ini kenapa? Tiba-tiba seperti ini, seperti orang marah saja," ucap Kayla santai.
"Aku memang sedang marah. Kau mengabaikanku setelah putra kita kembali." Leo menyedekapkan tangan di dadanya.
"Cemburu pada anak sendiri. Dasar!"
"Kay, ayoklah ... "
"Apa?"
"Aku sedang ingin itu," ucap Leo dengan mata berbinar.
"Itu apa?"
"Itu pokoknya,"
"Itu itu apa?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Itu loh, Kay ..."
"Apa?"
___
Saat ini Alkan merasa sangat resah. Seharian Zea belum menelpon dirinya. What, menunggu Zea? Apa jangan-jangan Alkan ....
Ting'
Suara notifikasi dari ponsel Alkan. Siapa itu?
Alkan membuka layar hp miliknya, lalu memiringkan kepada seraya tersenyum.
Sepertinya manusia yang satu ini tengah kasmaran. Entahlah, dari banyaknya wanita yang dekat dengan Alkan, hanya Zea yang menurutnya menarik. Gadis tomboy yang menjadi incarannya.
"Hmm Zea, ya?" tanya seorang perempuan di belakang Alkan. Perempuan itu menggendong bayinya, juga di sampingnya ada suami yang badannya sangat tegap. Ya, siapa lagi jika ukan Kayla dan Leo.
"Setelah bermain dengan banyak wanita, akhirnya kau menemukan yang cocok, ya?" goda Leo pada adiknya itu.
"Kalian datang hanya untuk menggangguku, kan?" kata Alkan kesal.
"Tidak, aku hanya ingin merancanakan satu penembakan saja," jawab Leo.
Kayla yang mendengar itu menjadi sangat kaget. Bukankah Leo sudah berjanji kepadanya untuk tidak akan menghabisi nyawa seseorang lagi?
"Tuan, apa maksudmu?" tanya Keyla dengan raut wajah cemas.
"Dave. Api kemarahanku, tidak akan padam jika dia belum tiada," ucap Leo.
"Jangan menghabisinya, aku mohon," pinta Kayla.
"Maksudmu apa, Kay? Kau membelanya?" tekan Leo.
"Tidak aku tidak membelanya, Tuan. Bukankah kau ingin berubah? Lalu, kenapa kau merencanakan ini?"
"Aku marah kepadanya, aku membencinya, aku juga sama sepertimu, memiliki dendan pada Dave. Tuan, jangan menghabisi nyawa seseorang lagi, kau bisa saja melaporkannya kepada polisi," ucap Kayla.
"Jangan! Kita tidak akan melaporkan apapun kepada polisi. Kau tau? Suamimu ini adalah mantan seorang mafia. Dia menghabisi nyawa orang lebih dari satu atau dua kali. Jika Dave membongkar masa lalu Leo, maka dia akan dipenjara dengan waktu yang lama." peringat Alkan.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan kepada Dave?" tanya Kayla.
"Aku masih bingung, tapi aku kan segera menemukan cara," kata Alkan.
"Apa aku harus melaporkan semua yang terjadi kepada pamanku?" tanya Kayla,
"biarkan dia saja yang menghukumnya," lanjut wanita itu.
__ADS_1