
🌛🌛🌛
"Nggak kok, siapa juga yang ingin tertawa?" ucap via berbohong.
"Kalau kakak bohong gimana?".
"Terserah kamu aja".
Kedua perempuan itu turun dari mobil ketika mereka sudah sampai dirumah, sesampainya dirumah Via tidak lupa mencuci baju yang ia beli tadi sebelum dipakai.
Setelah selesai aktivitasnya Via bersantai dibalkon kamar, sambil chatingan dengan sahabatnya Marta dan juga Bela.
Ketiga perempuan itu langsung membuat grup chatingan, seperti biasa kelakuan mereka berbicara dengan bar-bar tanpa ada yang sakit hati.
Seperti saat ini dengan tidak malunya bela bertanya soal ranjang Derson.
"Via gimana rasanya dipeluk pria ganteng setiap malam, kami penasaran nih" seru Bela.
"Iya Via, tapi kalau aku lebih penasaran dengan keperkasaan suami mu itu, apa dia sangat hot diranjang?" tambah Marta lagi.
"Kalian nikah dulu baru aku ceritain bagaimana hotnya suamiku, nanti kalian pengen susah juga itu" jawab Via kepada dua orang itu.
"Kalau begitu kasih tau dong gimana besarnya juniornya" seru Bela dengan tidak tau malunya.
"Nggak bisa bela ku sayang, besar dan kecilnya hanya aku yang bisa mengetahuinya" jawab Via sambil tersenyum membalas chatingan itu.
Sudah mulai bosan duduk disana Via kembali berjalan kedalam kamar, Via melirik jam sudah pukul 5 sore. via juga mengakhiri chatingannya dengan Marta dan Bela.
"Sebentar lagi dia pulang aku kebawah saja ach, sekalian buat teh untuknya" batin Via dan segera keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Dugaan Via betul setelah Via selesai membuat teh dan membawanya kemeja tamu, Via melihat Derson dan James memasuki rumah.
"Ngapain disini sayang?" Derson mendekati Via yang sudah duduk diatas sofa.
"Aku nungguin kamu sayang, kamu mandi dulu ya aku udah buat teh untuk mu".
"Terimakasih sayang, aku naik dulu ya" seru Derson lalu pergi dari sana menuju kamarnya untuk mandi agar lebih segar.
🌛🌛🌛
__ADS_1
Dikamar lain Lily saat ini bersantai disofa sambil membaca majalah, majalah baju yang ber merk. Lily menoleh ka arah pintu saat mendengar suara pintu dibuka.
Ternyata yang masuk James sepulang dari kantor, walau badan terlihat lemas karena kecapean kerja james tetap tampan dan menawan ditambah lagi pakaian yang ia pakai pakaian ber merk semua.
"Sayang sudah pulang?".
James mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan baru Lily yang terlihat manis dan manja, tapi james sedikit heran ada angin apa sehingga Lily memanggilnya dengan sebutan sayang.
James bukannya menjawab pertanyaan Lily tapi langsung mendekat ke arah Lily dan menempelkan tangannya di kening Lily.
"Kamu nggak sakit kok" ucap James.
"Aku nggak ada bilang sakit" ucap Lily sambil membuang tangan James dari keningnya.
"Terus kalau tidak sakit, tadi kok manggil aku dengan sebutan sayang, biasanya panggil kakak" protes James lalu meletakkan tasnya diatas meja.
"Suami pulang bukannya minta tasnya atau ditawarkan minuman kek, ini malah buat suaminya syok" tambah james lagi.
"Hay kenapa diam?" tanya James saat melihat Lily hanya diam dan tidak menyahut.
"Aku kesel kak, tadi di mall ada yang kirim salam buat kakak. iya... aku nggak terimalah" omel Lily.
"Nggak sih cuman aku bilang kalau kakak sudah ada yang punya".
"Baguslah nanti hilang semua pengagum ku" ucapan James ini mengundang perang dunia ketiga didalam kamar itu.
Bantal sofa yang ada didekat Lily saat itu juga terlempar ke wajah James dan juga kelantai, lalu Lily berteriak dengan keras tepat didepan James.
"Besok aku jambak semua perempuan-perempuan yang mengagumi mu, kalau bisa aku ulek-ulek mereka dengan tangan ku" ucap via sambil memperaktekkan tangannya seperti mengulek cabe.
" Aku mandi dulu ya, kamu berhayal lah dulu" seru James lalu pergi kekamar mandi meninggalkan Lily yang sedang kesal.
Lily terus mengomel mulai James masuk kekamar mandi sampai James sudah keluar dari kamar mandi, mulut lily tidak berhenti mengumpat kadang tangannya membuang sesuatu yang ada didepannya.
"Heiii kamu apain kamarku sudah seperti kapal pecah?" James memperhatikan kamar itu sudah berantakan berbeda saat ia masuk kekamar mandi tadi.
"Aku hancurin, sekalian dinding kamar ini aku hancurin" omel Lily.
"Jangan dong sayang nanti kakak dan kakak ipar mu melihat kita saat bermain hot diranjang kalau dindingnya sudah hancur, mereka pasti bakal iri melihat kita yang sangat lihai dalam bermain" James bukannya membujuk Lily malah menggoda Lily.
__ADS_1
Ternyata Lily sangat cemberuan padahal masalahnya hanya sepele, hanya seorang perempuan ingin kirim salam, itu saja Lily sudah mengamuk apalagi mendapati James berduaan dengan wanita sudah dipastikan perempuan itu cari mati.
"Aku nggak mau lagi bermain apapun dengan mu".
"Yakin nggak mau? kalau nggak mau terpaksa dong aku cari wanita di luar sana" ucap James menahan tawanya saat melihat mata Lily ingin menangis.
"Jadi kamu mau cari wanita lain, mulai malam ini aku tidur dikamar ku saja hiks...hiks..." kali ini Lily sudah menumpahkan air matanya dan langsung pergi kekamarnya.
Sesampainya Lily dikamarnya, Lily tambah kesal saat tau James tidak menahannya atau menyusulnya. Lily langsung menjatuhkan badannya dikasur menenggelamkan kepalanya sambil menangis.
"Aku benci kakak hiks.... hiks...." Lily menangis satu tangannya menepuk-nepuk bantal.
"Hey betulan nangis manja amat sih, siapa tadi perempuan yang kirim salam?".
"Cari tau sendiri, aku benci kakak" bentak Lily.
"Biar aku lakban mulutnya berani sekali dia membuat istri mungil ini menangis" seru James lalu merebahkan badannya dikasur sambil memeluk Lily.
"Sana kakak cari perempuan lain".
"Aku tidak butuh wanita lain, didepan ku sudah ada istri untuk apa cari wanita lain lagi".
"Sayang kita buat baby yok dikamar kamu ini! kitakan belum pernah buat baby disini".
Lily yang sudah merajuk sangat susah untuk kembali seperti semula, semua cara dilakukan James membujuk Lily tapi belum berhasil juga, setiap ucapan james Lily ada jawabannya dan sampai saat ini Lily merajuk dan tidak mau saat James mengajaknya pulang kekamar James.
"Ly kita kekamar kakak yok, masih ada kerjaan kakak yang perlu diselesaikan" ucap James serius.
"Kakak pergi aja, Lily mau tidur disini".
"Yaudah kita makan malam dulu sekalian aku ambil latope ku kita tidur dikamar mu malam ini" lagi-lagi ajakan James bagai angin lalu ditelinga Lily.
James keluar dari kamar Lily menuju kamar mengambil tas kerjanya, dan tidak lupa James menyuruh pelayan membawakan makan malam untuknya dan Lily kekamar.
Saat James masuk lagi kedalam kamar Lily, jemas melihat Lily sudah duduk diatas kasur dengan mata yang sembam, James yang merasa bersalah langsung menghampiri Lily dan memeluknya.
"Aku minta maaf jika bicara keterlaluan, semua yang aku ucapkan tadi hanya menggoda mu saja tapi kamu sudah ambil hati dan menangis sampai mata bengkak begini".
🌛🌛🌛
__ADS_1
Like, Komen, Favorite, Vote, Kasih Hadiah Mawar, Dan Juga Bintang 5nya Iya.