
Karena banyak pikiran Lily yang berjalan menuju lantai dua saat melewati tangga tiba-tiba kepalanya pusing dengan sekuat tenaga Lily bersandar didinding.
Kepala Lily kini makin sakit Lily sudah tidak kuat lagi untuk menopang badannya tapi dia masih bicara memanggil James dengan lemah.
"Kak... Kak James tolong Lily" Lily yang sudah mulai tidak kuat mendudukan badannya ditangga.
Mendengar ucapan Lily james segera berlari dari ruang tamu menuju tangga dimana Lily sedang menutup matanya sambil bersandar didinding, dan duduk diatas tangga.
"Kamu kenapa dek?" dengan rasa panik James menggedong Lily menuju lantai dua tepatnya kekamar Lily.
"Lily kenapa?" Derson ikut panik saat melihat James melihat Lily digendong oleh James.
"Aku nggak tau, tadi aku lihat dia ditangga sedang memejamkan matanya dan minta tolong padaku" ucap James sambil melanjutkan jalannya.
Derson mengikuti langkah kaki James menuju kamar Lily, Derson langsung meangambil hpnya dari kantong celananya dan menghubungi dokter pribadinya
Setelah selesai menelfon Derson mendekati Lily yang sudah terbaring diatas ranjang, dengan lembut Derson membelai rambut Lily.
"Sebentar lagi dokter akan sampai. kamu kenapa dek jangan buat kakak kwatir?" melihat sang kakak ada didepannya Lily bukannya senang Lily malah membuang muka.
"kamu kenapa hmm....? marah sama kakak karena kakak nggak ngasih kamu jumpai mama? yaudah nanti malam kamu bisa bertemu dengannya kakak akan menjemputnya untuk mu" ucap Derson membuat Lily segera menoleh kearah Derson.
"Kakak serius? nggak berbohongkan?" tanya Lily dengan ceria walau kepalanya masih berdenyut.
"Iya kakak serius, kenapa kamu bisa seperti ini apa kamu ada sakit yang tidak kakak ketahui? selama seminggu ini kakak selalu memperhatikanmu kamu sepertinya kurang sehat" ucap Derson menggemgan tangan Lily.
"Aku hampir setiap hari pusing kak, mungkin karena kurang tidur".
"Mulai hari ini tidur yang cukup, kalau ada tugas kerjakan saat siang hari, kakak nggak mau kejadian seperti ini terulang kembali" ucap Derson.
James yang melihat keadaan Lily sudah mulai was-was, James takut kalau dugaannya benar, itu artinya dia harus menikahi Lily.
"Astaga kalau itu sampai terjadi itu artinya aku sudah menjadi calon ayah" batin James.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
James berjalan kearah pintu dan membukakan pintu untuk siapa yang mau masuk, ternyata dokter Aldo datang dokter pribadi aderson yang akan memeriksa Lily.
"Silahkan masuk dok" ucap james ramah mempersilahkan dokter Aldo masuk. dokter berjalan menuju dekat kasur untuk memeriksa Lily.
"Dok periksa adik saya, saya tidak mau kalau dia sampai kenapa-napa".
Dokter Aldo mulai memeriksa keadaan Lily, setelah selesai memeriksa Lily dokter Aldo langsung bicara kepada derson hasil meperiksaanya.
"Saya hanya menduga saja tapi biar lebih pasti nona Lily silahkan dibawa kerumah sakit saja, dari pemeriksaan saya nona Lily sedang mengandung".
Deg....
Jantung Lily dan James berdetak bersamaan saat mendengar ucapan dokter Aldo bersama Derson, yang dipikirkan oleh James ternyata benar itu artinya dia harus siap-siap untuk menjadi ayah.
"Terimakasih ya dok, dokter boleh pulang saya akan mengurus Lily" ucap Derson dengan senyum dibibirnya, kini laki-laki dingin itu lebih sering tersenyum dari sebelumnya.
"James aku mau kamu menikah dengan Lily, sekarang kamu pergi ke kantor KUA besok pagi kamu akan menikahinya ucap Derson serius.
"Kak aku belum mau menikah" Lily menjawab derson dari kasurnya.
"Dek apa maksud kamu, apa kamu mau h*mil tanpa suami, kalau kamu menikah dengan James dia akan merawat mu sampai lahiran nanti" ucap Derson.
"Aku bisa kok menjalani hari-hari ku tanpa kak James, lagian aku tidak mau menikah dengan asisten kakak, apa kata orang nanti" kali ini ucapan Lily betul-betul menyakiti hati James.
"Kakak nggak mau dibantah kamu h*mil karena kekerasan kepala kamu, kalau kamu dengarkan kakak dari dulu ini tidak bakal terjadi" kini Derson menaikkan volume suaranya melihat tingkah Lily yang keterlaluan.
"James kamu urus ke KUA sekarang biar aku yang urus Lily" kali ini Derson tidak mau dibantah oleh siapa pun.
Dengan sakit hati James pergi kekantor KUA dia sudah menanamkan dalam hatinya kalau dia akan menjadi orang sukses nantinya, Lily juga tidak mengetahui kalau saat ini James juga sudah punya perusaan sendiri yang bergerak dibidang pembuatan minyak, tapi tidak se maju perusaan Aderson.
"Aku akan buktikan kepadamu kalau aku layak kamu jadikan suami Lily, apa kamu tidak ada rasa bersalah kepada ku telah memaksa ku malam itu dan tidak sengaja akulah yang membantu mu dari orang-orang jahat itu" batin Derson.
__ADS_1
🌛🌛🌛
Saat ini Mawar dengan hati yang senang berangkat dari rumahnya menuju rumah Aderson, Mawar tidak menduga kalau tadi siang Derson memintanya datang kerumah karena Lily ingin bertemu dengannya.
Tapi malan ini Mawar pergi hanya seorang diri dan diantar oleh Jhosua karena derson meminta mawar datang sendiri tanpa suaminya atau anaknya. saat melihat mamanya, Jhosua ikut senang karena wajah mamanya sangat riang dan terlihat bahagia.
"Nanti kalau mama sudah mau pulang telfon Jhosua, biar Jhosua jemput mama" ucap Jhosua menghentikan mobilnya didepan rumah yang megah bak istana itu.
"Iya sayang nanti mama telfon, kamu hati-hati pulangnya" jawab Mawar lalu turun dari mobil, setelah memastikan Mawar masuk kedalam rumah, Jhosua kembali menjalankan mobilnya.
Saat Mawar sudah masuk digerbang rumah Derson, Mawar sangat tapjup luasnya taman didepan rumah membuat rumah ini semakin indah, teras rumah berwarna emas membuat rumah itu terlihat sangat cerah, dan lampu-lampu disetiap sudut rumah membuat malam ini terasa berada ditaman yang indah.
Mawar melanjutkan jalannya dituntun oleh pelayan rumah, mawar dibawa sampai keruang makan disana sudah ada Via, Derson, Lily dan juga James.
"Silahkan duduk kita makan malam dulu" ucap Derson dingin, Derson sengaja menyuruh pelayan memasak banyak malam ini untuk menyambut kadatangan Mawar tapi masakan itu untuk membuat hati Lily senang.
"Mah, mama duduk disamping Lily" pinta Lily penuh harap sambil menepuk-nepuk kursi yang kosong.
"Ayok kita makan" ucap Derson.
Dengan hati senang Mawar mengisi piring Lily dengan nasi dan mengambil lauk kesukaan Lily tanpa Lily katakan.
"Mama kok tau Lily mau makan ini?".
"Mama sangat ingat kalau ada lauk ini sudah pasti kamu akan memilih yang ini walau masih banyak lauk yang lebih enak" ucap Mawar menunjukkan ikan gembung bakar.
"Makasih mama, Lily sayang mama".
"Lily makan dulu nanti bicara lagi" ucap Derson dengan ekspresi yang susah untuk ditebak.
🌛🌛🌛
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1