
Sudah tengah malam. Tapi, Kayla belum bisa tidur. Ia bergulat dengan pikirannya sendiri. Ia sedang membenci nasibnya. Mengapa seburuk ini?
Kayla turun kelantai bawah. Ia melihat Alkan yang tengah duduk di kursi dengan di temani secangkir kopinya.
"Dimana Maf1a itu?" tanya Kayla.
"Leo? Dia ada di ruangannya" jawab Alkan.
Kayla melangkah pergi meninggalkan Alkan dan hendak menghampiri Leo di ruangannya. Tapi, saat dia akan membuka pintu ruangan itu, samar-samar ia mendengar suara tangisan seseorang. Ya, suara itu tak lain adalah suara Leo.
(Ceklek)
Tangis Leo terhenti kala mendengar pintu terbuka. Ia melihat Kayla di ambang pintu. Menghampiri Kayla dengan langkah tetatih. Kayla melihat tatapan Leo yang sendu, penuh luka, penuh penyesalan. Leo terlihat hancur saat ini.
"Kayla" lirih Leo.
"Berhenti disana! Jangan lagi melangkahkan kakimu" ucap Kayla dengan suara serak.
"Aku, ingin kita bercerai" ucapan Kayla mampu mematahkan hati Leo yang saat ini sedang kacau.
"Apa? Tidak Kayla, itu tidak akan terjadi" ucap Leo.
"Aku akan membuatnya terjadi" tekan Kayla.
"Bunvh saja aku Kayla. Aku mohon bvnuh saja aku" ucap Leo yang kini bersipuh di kaki Kayla.
"Aku bukan p3mbvnuh sepertimu. Aku bukan p3mbunvh!" pekik Kayla.
"Aku mohon Kayla. Aku mohon... aku tidak ingin berpisah denganmu. Hukum saja aku. Hukum saja"
"Aku membencimu. Sangat membencimu. Asal kau tau, aku juga menyesali semuanya! Mengapa aku harus mengandung anakmu? Anak dari seorang p3mbvnuh" lirih Kayla.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi Tuan Leo Syam Algantara!" bentak Kayla sebelum pergi meninggalkan Leo di ruangannya sendirian.
———
Hari sudah menjelang siang, tapi Leo tidak melihat Kayla keluar dari kamar. Ia sangat menghawatirkan Kayla. Dia takut Kayla berbuat nekad.
Untuk memastikan Kayla–nya baik-baik saja, Leo memilih untuk menunggu di ruang tamu. Belum 1 jam Leo menunggu Kayla keluar. Tiba-tiba, ada 3 orang polisi yang menggrebek rumah Leo. Ia langsung menangkap Leo yang tengah berada di ruang tamu. Polisi itu langsung memborgol kedua tangannya.
"Ada apa ini?" tanya Leo yang kebingungan.
"Pak polisi, jangan lepaskan dia! Dia adalah pembunuh" ucap Kayla yang baru saja turun tangga.
"Kayla?"
Kayla belum puas. Ia kini melaporkan Leo pada polisi atas kasus pembunuhan dan meminta polisi segera menangkapnya dan mengurungnya di balik jeruji besi.
"Jadi, semua ini..." Leo menggantung ucapannya ketika Kayla mengangguk kepadanya.
"Kau meminta hukuman? Aku akan memasukanmu ke dalam jeruji besi. Agar aku tidak pernah melihat wajahmu lagi!" ucap Kayla kasar sembari menunjuk-nunjuk Leo.
"Ikut kami ke kantor polisi!" ucap polisi itu sambil menyeret Leo dengan paksa. Dan pergi membawanya ke kantor polisi.
"Apa kau gila? Kau memasukan suami–mu sendiri kedalam jeruji besi!" pekik Alkan.
"Apa salahku? Apa aku tidak boleh membela ayahku?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Tapi Leo itu suami–mu"
"Aku tidak peduli! Sekarang aku akan pergi dari rumah ini dan kembali ke rumahku!" ucap Kayla.
———
Kini Kayla tengah mengemasi semua barang-barang. Ia memasukan baju-bajunya kedalam koper. Ia sibuk sendiri, dan tidak menghiraukan Alkan yang sedari tadi memanggil-manggil namanya, untuk membujuknya mencabut tuntutan atas Leo.
"Ada apa? Kau pikir kau akan berhasil membujukku, begitu?" ucap Kayla yang baru saja membuka pintu kamarnya.
"Kayla, apa kau tidak pernah menyadari? Dia sangat mencintai–mu." Alkan berusaha untuk membujuk Kayla.
"Ya! Aku tau. Tapi, apa kau tidak pernah tau? Aku lebih mencintai ayahku daripada Maf14 itu!" pekik Kayla.
"Lalu sekarang kau akan kemana?" tanya Alkan.
"Ck. Harus berapa kali aku katakan padamu? AKU AKAN PULANG KERUMAHKU" tekan Kayla.
Kayla berlalu meninggalkan Alkan. Ia kini bersiap untuk meninggalkan rumah mewah ini.
"Antarkan aku pulang" pinta Kayla kepada Pak sopir.
"Baik, Nona"
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya Kayla tiba di rumahnya. Rumah tempat ia di besarkan, rumah penuh dengan kebahagiaan, dan titik kebahagiaan Kayla.
Kayla keluar dari mobil dan menatap sekeliling rumah milik ayahnya yang kini telah berastakan namanya. Rumah itu tidak berbeda. Masih rapi, bersih, dan nyaman. Para pembantu di rumah itu juga masih setia menjalankan tugasnya masing-masing.
"Bagus Dave! Kau menjaga rumahku dengan baik" gumam Kayla.
Kayla melangkan memasuki rumah mewah ini. Para maid yang melihat kedatangan Kayla segera memberi salam kepadanya.
"Dimana Bik Sri?" tanya Kayla.
"Dia, di pecat oleh tuan Dave karna mencuri barang" jawab maid itu.
"Mencuri? Itu tidak mungkin." Kayla merasa ada yang aneh di rumah ini.
"Dia mencuri Arloji milikku" ucap Dave yang tiba-tiba datang.
"Kapan?"
"Kemarin malam" jawab Dave.
–—–
Kini Alkan tengah kebingunga. Dia harus segera membawa Leo kembali ke rumah. Tapi, bagaimana jika Leo menolak untuk di bawa pulang?
"Aku akan menyiapkan uang tebusan" gumam Alkan.
"Tapi, apakah polisi akan menyerakan Leo kepadaku?"
"Bagaimana ini?"
15 menit alkan berpikir ditemani dengan keheningan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan niatnya terlebih dahulu kepada Leo.
Alkan segera bergegas pergi ke kantor polisi. Sedih sekali rasanya ketika melihat Leo menderita seperti ini. Dia dipenjara, dan itu atas keinginan istrinya sendiri.
__ADS_1
"Aku akan membawa–mu" ucap Alkan
"Jangan mencoba untuk mengeluarkanku dari sini!"
"Aku sedang menerima hukuman dari Kayla. Aku tidak ingin membuatnya marah lagi. Jika aku keluar dari jeruji ini, mungkin dia akan sangat marah" jelas Leo.
"Berhenti memikirkannya. Sekarang, kau harus mementingkan dirimu!" ucap Alkan.
"Jika niatmu kesini hanya untuk membujukku, maka pergilah. Alkan, aku tidak akan terbawa bujukkan–mu" tutur Leo.
"Ayok, kita pulang saja. Aku akan menyiapkan uang agar kau bisa keluar dari sini" lirih Alkan. Ia menunduk di hadapan Leo. Ia tidak ingin Leo menderita seperti ini.
"Pulang!" usir Leo, Alkan menggeleng.
"Pulang, atau aku patahkan lehermu?" ancam Leo. Tentu saja Alkan masih diam. Karna, dia tau, Leo tidak akan setega itu pada dirinya.
———
Kini Kayla tengah menyenderkan dirinya di tembok ia menatap kearah luar dari jendela. Ada yang berbeda. Kali ini tidak ada Leo lagi, tidak ada yang akan memperhatikannya lagi.
"Bagaimana ini? Aku mencintai dia, aku juga membencinya." gumam Kayla yang menyeka air matanya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Dave yang tiba-tiba masuk.
"Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Kayla kesal.
"Maaf... Nona, apa kau menangis?" tanya Dave yang melihat hidung Kayla memerah. Dengan cepat, Kayla menggelengkan kepalanya.
"Nona Kayla begitu malang," batin Dave.
"Ceraikan dia Nona, aku mendukungmu sepenuhnya" ucap Dave.
"Apa kau pikir itu mudah bagiku?" Kayla menatap lamat wajah Dave.
"Nona, apa kau akan membersamai p3mbunuh?" tanya Dave. Kayla melotot kearah Dave yang baru saja menuturkan kata-kata yang menyinggungnya.
"Apa maksudmu Dave?"
Kayla memutar bola matanya malas. Ia menutup jendela yang terbuka disana. "Kau ini kenapa? Aku tidak mungkin bercerai dengan Leo. Kau lihat, kan, aku sedang hamil"
"Kau bisa melakukan Ab0rs1" ucap Dave.
"Apa kau gila?" sentak Kayla.
"Aku tidak gila. Apa kau tidak bisa berfikir? Anakmu akan menyusahkanmu!"
"TAPI AKU TIDAK AKAN MELUKAINYA SEDIKITPUN!" bentak Kayla.
"Kalau bukan kau, berarti aku" kata Alkan.
"Apa maksudmu? Kenapa kau menjadi lanjang terhadapku?"
Alkan melangkah maju mendekati Kayla di dekat jendela. Ia melihat Kayla dengan mata panasnya. "Aku mempunyai tujuan, sekarang tidak ada yang menghalangiku. Leo, dia sudah aku singkirkan dengan mudah. Kini, kau sendiri. Tidak dengan siapa–pun. Aku akan mudah menyingkirkan wanita tak berguna sepertimu"
Kayla menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sungguh tidak menyangka bahwa semua ini adalah rencana dari orang yang dekat dengannya. "Jadi, kau adlah pria beetopeng itu?"
Dave menanggapi perkataan Kayla dengan anggukan kecil dan senyuman smirk–nya, lalu mengusap perlahan bahu Kayla. "Bersiaplah untuk menderita". Setelah mengatakan itu, Dave pergi meninggalkan Kayla dikamar.
__ADS_1
Kayla merasakan sesak di dadanya kala mendengar ucapan Dave yang sangat menusuk itu. Laki-laki itu ternyata sangat jahat. Kayla pikir Dave itu baik. Tapi, memang baik. Tepatnya, baik untuk harta.
"Aku keliru. Aku keliru!" teriak Kayla di dalam kamar