
Pagi-pagi sekali, seorang lelaki tengah bersiap untuk pergi ke suatu tempat, ia begitu cepat menjalan mobilnya, hingga membuat bebrapa orang menggerutu.
"Maaf, aku harus cepat." lirih pria itu yang tetap fokus mengendarai mobilnya.
Akhirnya pria itu sampai di tempat yang ia tuju, disana ia melihat seorang lelaki dan seorang perempuan.
"Sejak kapan kau menungguku?" tanya Leo pada Alkan yang wajahnya terlihat sangat kesal.
"Satu jam yang lalu." Alkan menjawab dengan ketus.
"Maaf," ucap Leo.
Wah, sejak kapan manusia dingin ini hobi mengucap maaf?
"Hmm,"
Sementara Zea yang melihat interaksi kakak beradik ini menjadi sangat jengah, ia memutar bola matanya malas. Kalau saja ia tidak di paksa oleh Alkan, mungkin ia tidak akan berada di antara pria aneh ini.
"Aku tidak ingin membuang-buang waktu." Leo berjalan pergi kearah panti asuhan meninggalkan Alkan dan Zea.
Alkan menghela nafas panjang, lalu pergi menyusul Leo bersama wanita yang sejak tadi berada di sampingnya.
"Alkan, lepaskan tanganku!" bentak Zea.
"Kenapa? Semahal apa tanganmu, sampai aku tidak boleh memegangnya?" tanya Alkan.
"Sangan mahal." Zea mengusap-usap pelan lengannya.
"Kalau begitu, akan aku bayar. Berapa harganya?" Alkan menaik turunkan alisnya.
"No! Aku bisa dibeli dengan mahar saja," ucap perempuan itu.
"Oke kalau begitu aku ak–"
"Berisik!" bentak Leo, memotong perkataan Alkan.
__ADS_1
"Dia yang mulai." Zea menunjuk Alkan.
"Kau!" ucap Alkan tak mau kalah.
"CUKUP!" Leo menatap kedua manusia itu dengan tajam.
"Tujuan kita kesini hanya untuk mencari tahu tentang anakku! Bukan untuk berdebat!" sentak Leo.
Setelah memberi mereka gertakan, Leo berjalan mendahului mereka untuk masuk ke kantor panti asuhan. Ia mengetuk pintu kokoh yang ada di depannya.
"Lama sekali, apa tidak ada orang, ya?" Gumam Leo.
Tok'
Tok'
Tok'
"Sebentar," seru seseorang dari dalam kantor panti.
Pintu kantor itu terbuka, menampakan wanita paruh baya yang mengenakan jilbab putih. Wanita itu berdiri di hadapan leo dengan tatapan bingung. Mungkin, wanita paruh baya itu bingung dengan kedatangan Leo yang notabenya orang asing.
"Anda siapa, Pak?" tanya wanita paruh baya itu.
"E‐ aku, aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Leo gugup.
"Apakah, ada bayi berjenis kelamin laki-laki yang diantarkan kesini oleh seorang pria?" tanya Leo.
"Apakah pria yang anda maksud adalah tuan Dave?" tanya wanita itu.
"Ya. Apa dia membawa bayi dan menitipkannya disini?" tanya Leo. "Katakan! Dimana bayi itu."
"Ada di dalam, asisten kami sedang memberinya susu," terang wanita itu.
"Saya akan membawa bayi itu!" tegas Leo.
__ADS_1
"Tidak bisa Tuan,"
Leo menatap tajam wanita yang ada di depannya, "apa maksudmu?" tanya Leo.
"Jika ingin mengadopsinya, anda harus memenuhi persyaratan dulu, Tuan." Wanita itu berbalik, dan masuk kedalam. Setelah sepersekian detik ia kembali dengan mambawa selembar kertas.
Leo merebut kertas itu dan merobeknya secara kasar. "Apa kau akan memisahkan seorang anak dari orang tuanya? Bayi itu anakku! Aku yakin itu. Dan Dave sialan itu, adalah penjahat yang telah mwnculik anakku!" sentak Leo.
Tanpa permisi sedikitpun, Alkan yang sejak tadi berada di belakang Leo, langsung masuk kedalam kantor itu dan melihat perempuan yang tengah memberikan susu kepada bayi di gendongannya.
"Dia keponakanku! Serahkan kepadaku." Alkan merebut paksa bayi itu.
"Hati-thati Tuan, nanti dia terjatuh," peringat wanita itu.
Alkan membawa bayi itu keluar. Dia menyerahkannya kepada Zea yang sejak tadienunghu di luar bersama Leo yang tengah menghadapi kecerewetan ibu panti.
"Kita pergi." Leo berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu menuju kobilnya. Ia sudah merasa tenang. Bayinya sudah berada dalam dekapan Zea.
Kenapa tidak dia saja yang menggendongnya, ya?
Oh tentu tidak, Leo sempat ingin menggendong anaknya, tapi dia tidak bisa menggendong bayi, ia takut dekapannya tidak nyaman. Jadi, lebih baik ia belajar dulu menggendong daripada harus memaksakan diri.
"Kau yakin tidak akan menggendong anakmu?" tanya Alkan.
"Aku tidak bisa menggendong bayi," lirih Leo.
"Kau harus belajar pada istrimu!"
"Apa dia memang benar anakku?" tanya Leo.
"Kita lakaukan tes DNA sekarang!"
Maaf ya telat hihi
Biasa author males mikir alur nya.....
__ADS_1