
🌛🌛🌛
Ting.....
Suara hp Bowo tanda ada masuk pesan Bowo langsung memeriksanya ternyata pengirimnya adalah Harry.
"Kita main ditempat biasa aku sudah ada modal" begitulah pesan singkat dari Harry untuk Bowo, Harry mengajaknya malam ini untuk bermain judi lagi.
"Ok tunggu saja" jawab Bowo singkat.
Terang sudah berganti jadi malam, seorang paruh baya itu sudah menunggu disalah satu ruangan VIV tempat ia biasa bermain bersama kawan-kawannya. dia adalah Harry, setelah menerima uang dari konpensasi dari perusaan Ia bukannya jera sudah dipecat dari kerjanya, tapi malah bersenang-senang dengan mainannya.
"Waw sudah banyak uang sobat? apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Bowo yang baru masuk kedalam ruangan itu.
"Baru juga datang, aku menantang mu hari ini dengan jumlah yang lebih besar" ucap Harry dengan bangga.
"Tidak masalah kawan, aku sanggup melawan mu. bagaimana dengan yang lain?" tanya Bowo pada laki-laki lainnya yang sudah biasa main judi bersama mereka.
"Haha kami siap. berapa pun kami siap" jawab salah satu dari mereka.
Permainan pun dimulai Harry sampai diakhir Harry mulai tegang detik-detik dia sudah mau kalah dengan semua uangnya.
"Ini terakhir, uangku sudah habis" seru Harry menyerahkan taruhan yang diambil dari saku celananya.
Tapi entah keberuntungan dari mana Harry malah menang diputaran terakhir ini, sampai ia menang dengan jumlah yang banyak.
"Wahhh aku punya banyak uang, aku tidak menyangka bisa menang malam ini" guman Harry merasa senang.
"Bagaimana? mau dilanjut?" tantang Harry.
"Kita bertemu besok lagi, malam ini aku butuh istirahat besok mau kerja lagi" jawab mereka sambil meminum minuman keras didepannya.
"Baiklah mari kita pulang".
Malam ini Harry pulang dengan uang yang banyak, ia mengendari mobilnya menuju kontrakannya. sepertinya Harry tidak memikirkan anak dan istrinya lagi padahal dia dan Marry belum resmi bercerai.
Harry masuk kedalam kontrakan kecil itu tanpa membuka sepatu dan bajunya ia langsung merebahkan badannya dikasur yang kurang empuk itu, tidak memunggu lama ia sudah terlelap.
🌛🌛🌛
__ADS_1
Matahari sudah mulai masuk kedalam kamar James dan Lily melalui celah-celah horden yang bagus itu, james mengerjapkan matanya dan melihat jam sudah jam 7 pagi, ia bangkit dari tidurnya dan tidak melihat Lily disampingnya.
"Kemana dia pagi-pagi begini?" batin James tapi tetap melanjutkan aktifitasnya pagi ini dengan mandi terlebih dahulu baru bergegas keluar kamar.
Saat James keluar dari kamar dia berjalan kedapur untuk mengambil air minum, disana Ia melihat Lily sedang berkutat dengan masakannya.
Rambut yang dikucir kuda membuat leher mulusnya terlihat menggoda James, dan jangan lupakan tangan lincahnya sangat menarik untuk dipandang dalam memasak.
"Sayang kamu sudah bangun? mau minum kopi?" tanya Lily.
"Kamu lanjut masak dulu aja aku minum air putih saja" jawab James dan mengambil air dari dispenser lalu duduk dikursi yang ada didalam dapur.
"Sayang kok makin cantik ya saat kamu memasak" puji James lalu meminum air dalam gelas yang ia pegang.
"Nggak masak pun aku tetap cantik".
"Hmmm benar juga sih" James manggut-manggut.
"Kak boleh nggak kita disini lagi lagi hari ini? besok pagi kita pulang" tanya Lily tanpa melirik karena ia sibuk dengan kuali dan sendoknya.
"Nggak apa-apa nanti aku berangkat kekantor dari sini saja, kamu ada bawa baju kantorku kan sayang?".
"Yaudah kamu lanjut masak dulu ya, aku mau ganti baju kantor dulu habis makan langsung pergi kekantor" ujar James sambil berjalan kearah Lily dan menc*um pipi Lily.
"Ehm... ini dapur bukan kamar" Jhosua datang kebetulan ingin mengambil air minum juga.
"Iri bilang boss" ucap James tanpa rasa malu, lalu pergi dari sana menuju kamar.
"Dasar bucin" ucap Hhosua dengan sedikit berteriak yang ditanggapi oleh James dengan melambaikan tangannya kebelekang.
"Mau minum apa kak, biar Lily buatkan?".
"Nggak usah dek, lanjut masak aja kakak cuman mau ambil air putih saja kok" jawab Jhosua dengan ramah berbeda saat berbicara dengan James.
"Dek lily kamu pernah nggak dengar dari Derson apa alasannya membenci mama?" Jhosua duduk dukursi tempat james duduk tadi.
"Aku tidak pasti seperti apa, tapi kakak sangat membenci mama karena mama meninggalkan kami dahulu bersama papa saat hidup susah" jawab Lily dengan menghentikan aktivitasnya.
"Apa kamu tidak ingin bertanya apa alasan mama meninggalkan kalian dek?".
__ADS_1
"Hmm aku tidak mau kak, hubungan ku dengan mama sudah membaik, aku tidak mau jika aku terluka nantinya saat tau kalau mama tidak menyayangi kami dahulu sehingga tega meninggalkan bersama kakakku dan papaku yang sedang sakit".
"Kakak cuma mau bilang kalau yang kalian tau itu bukan cerita yang sebenarnya, mama sering cerita padaku alasannya meninggalkan kalian" jawab Jhosua.
"Yaudah kakak pergi dulu, semoga kelak kalian bisa bersatu kembali terkusus buat kakak mu Derson, semoga Ia tau pokok masalahnya dan mau memaafkan mama" ucap Jhosua lalu pergi begitu saja meninggalkan Lily yang sedang serius mendengarnya.
"Kak...." panggil Lily tapi tidak dijawab Jhosua lagi.
Selama memasak Lily terus terbayang dengan ucapan Jhosua tanpa sadar ia memegang kuali yang panas.
Aaaaa.....
Teriakan Lily didengar oleh bibi yang ada didapur sedang mencuci piring tepatnya wasstafel.
"Non kenapa bisa seperti ini?" bibi itu mematikan gas lalu menuntun Lily untuk duduk.
"Bibi panggil James yang mengobatiku ya, biar bibi bisa lanjut memasak" ujar Lily sambil menahan sakit ditangannya.
"Baik non" bibi itu langsung pergi dengan berlari kecil menuju kamar tamu, dan kebetulan James hendak keluar.
"Ada apa bik?".
"Tangan non Lily melepuh tidak sengaja memegang kuali panas". tidak mau banyak bertanya setelah mendengar ucapan bibi itu James langsung menyusul Lily kedapur dan betul saja James melihat Lily sedang mengembus tangannya dan air matanya mengalir begitu deras.
"Sayang kenapa nggak hati-hati?" James langsung memegang tangan lily dan mengolesinya denga obat yang diberikan oleh bibi tadi.
"Maaf.... aku tidak hati-hati kak, ini sangat panas hiks... hiks...." jawab Lily sambil menangis.
"Sayang jangan nangis, udah kakak obati. sekarang kita kekamar kamu istirahat dulu ya" James langsung menuntun Lily kembali kekamar ia sangat kasian melihat ekspresi Lily yang menahan sakit.
Melihat lily sedang sakit laki-laki bucin ini kembali mengganti baju kantor dengan pakaian santainya, lalu menghubungi Derson.
"Boss hari ini aku tidak bisa kekantor, kamu handle perusaan ya, soalnya Lily sedang sakit" ucap James saat Derson audah mengankat tkefonnya. James membuat laki-laki diseberang sana langsung kuwatir.
"Sakit apa? sudah dibawa kerumah sakit? apa sakitnya parah?" karena kuawatir Derson melontarkan banyak pertanyaan.
"Tangannya hanya melepuh tidak sengaja memegang kuali panas".
🌛🌛🌛
__ADS_1