
Sebelum naik ke tempat tidur Ayra mengambil ponselnya terlebih dahulu di dalam ponsel jadi dia sama sekali belum mengecek ponselnya.
Ayra membuka ponselnya yang pertama dia buka adalah grup kampusnya karena takut ada tugas atau pengumuman yang penting. Setelah itu baru dia membuka pesan-pesan yang lainya dan membalas pesan yang memang harus di balas.
Dan yang terakhir baru Ayra membuka pesan grup keluarga yang ternyata banyak notifikasi yang masuk. Ayra pun mulai membaca percakapan di group keluarga yang sepertinya memang ada berita yang terjadi dengan banyak keluarga yang notif.
Deg.....
Ayra langsung meneteskan air matanya saat membaca chat-an keluarga dan hati Ayra seakan di remas saat melihat cuplikan video yang Keluarga kirim ke grup keluarga.
Mezzaluna : selamat sepupu aku Breeze akhirnya di lamar sama mas Ghaizan. Aku nggak nyangka bakal jadi adik ipar kamu.
Arkha : selamat kembaran aku akhirnya di lamar semoga semuanya berjalan lancar sampai hari H.
Andra : Selamat Zee akhirnya di lamar ternyata jodohnya orang dekat.
__ADS_1
Argha : Selamat kembaran bungsu ku. Kenapa jadi kamu duluan yang merit padahal aku yang lahir duluan.
Sakha : Om Rayyan Argha pingin nikah juga tuh.
Masih banyak lagi chat-an di grup keluarga, Ayra meletakkan ponselnya dan tak melanjutkan membacanya. Karena Ayra nggak sanggup lagi untuk membaca semuanya. Tapi sebelum Ayra meletakkan ponselnya dia mengetik pesan untuk mengucapkan selamat ke sepupunya.
Semalaman Ayra menangis, menangisi cinta Ayra ke kakak sepupunya yang selama ini bertepuk sebelah tangan. Karena Ayra memilih untuk menyimpan rasa cintanya sendiri dan nggak ada yang tahu dengan perasaannya ke kakak sepupunya.
Pagi harinya Fatimah mencoba untuk membangunkan Ayra karena biasanya mereka akan membuat sarapan bersama. Tapi kali ini Ayra tak kunjung keluar kamar dan beberapa kali Fatimah mengetuk pintu dan juga memanggil Ayra. Tapi tak ada jawaban dari dalam, karena Fatimah khawatir dia pun langsung membuka kamar Ayra menggunakan kunci cadangan.
" Kamu sakit Ay?." Tanya Fatimah saat Ayra mulai membuka matanya.
Ayra menggeleng
" Terus kenapa kamu menangis?" Tanya Fatimah lagi.
__ADS_1
Ayra kembali menggeleng.
" Baiklah kalau kamu nggak mau cerita sekarang tapi aku siap kapanpun menjadi tempat curhat kamu. Terkadang berbagi akan membuat kita lebih baik dari pada hanya memendamnya sendiri." Ucap Fatimah.
Ayra bimbang dia ingin cerita ke Fatimah siapa tahu Fatimah bisa membantunya untuk mengatasi perasaan ini. Tapi jujur Ayra malu kalau sampai ada yang tahu tentang perasaannya terhadap kakak sepupunya sendiri. Walaupun Ayra percaya bahwa tidak ada yang salah dengan perasaannya karena antara dirinya dan kakak sepupunya tidak ada ikatan darah.
" Fat...hem... Kamu yakin mau dengarkan curhatan aku." Tanya Ayra ragu.
" Iya aku akan dengar curhatan kamu, mumpung hari ini kita libur jadi aku punya waktu banyak untuk mendengarkan curhatan kamu." Jawab Fatimah.
Ayra mencoba untuk menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya berlahan. Ayra berusaha untuk meyakinkan diri untuk bercerita
" Fat, kamu pernah nggak suka sama lawan jenis." tanya Ayra.
" pernah." jawab Fatimah.
__ADS_1
" Pernah kamu menyukai laki-laki tapi hanya kamu simpan di hati tanpa ada niatan untuk memberitahukan perasaan kamu."