
Happy Reading.
POV Zicko
Aku tahu bahwa keputusan ku untuk tidak memberitahu Zizi dari awal memang salah, seharusnya aku jujur dan menceritakan semuanya pada Ziziku.
Mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini, hal yang seharusnya tidak terjadi, aku begitu yakin kalau Zizi pasti tidak akan pernah tahu tentang kebenarannya. Tapi sekarang lihatlah sekarang, ini adalah hal ku pilih, kenapa waktu itu aku tidak jujur tentang masalah ku ini pada Zizi.
Tapi pada saat itu aku terlalu takut untuk mengatakannya, aku takut Zizi akan marah padaku dan meninggalkan ku. Memang aku terlalu pengecut sebagai seorang pria, aku takut Zizi akan memilih mengalah dan meminta pisah dengan ku.
Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan Zizi, aku tidak ingin menyakiti hatinya, tidak, aku tidak bisa. Aku pasti akan lebih sakit saat Zizi terluka. Di sini memang aku yang patut di salahkan. Aku tahu aku pengecut, merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Aaaggrrrkk!!"
"Zizi!! Jangan pergi!! Aku salah, aku pengecut, Zizi aku benar-benar minta maaf!!
Aku berteriak memanggil nama Zizi berkali-kali, pasti semua orang sudah menganggap ku gila. Aku tidak peduli dengan tatapan semua orang yang melihatku aneh.
Rasanya hati ini sudah hancur sehancurnya, tapi aku yakin bahwa Zizi yang paling sakit dan hancur di sini.
Oh Tuhan! Rasanya kepalaku ingin pecah! Hatiku sesak, seperti di hantam bebatuan besar, sakit sekali rasanya! Aku hampir tidak bisa bernafas, tidak! Tidak mungkin! Aku masih tidak percaya bahwa Zizi menemukan ku sedang menggendong seorang bayi, dan dari raut wajah cantiknya, Zizi sudah tahu semuanya tentang masalah yang ku hadapi.
Aku yakin Zizi juga merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari rasa sakit yang ku rasakan.
Ingin rasanya aku berteriak sekuat tenaga untuk mengeluarkan beban di kepalaku, tapi kurasa semuanya pasti akan sia-sia.
"Zicko! Nak, bersabarlah!" Mama menyentuh pundak ku sambil menangis. Cairan bening itu mengalir di sudut matanya. Sungguh aku tidak tega melihat keadaan Mama yang seperti ini Sejujurnya aku merasa kasihan dengan kedua orang tuaku. Tentu saja mereka tidak pernah menginginkan hal seperti ini menimpa putranya, sudah mencoreng nama baik keluarga karena menghamili anak orang dan sekarang bertambah masalah yaitu Zizi sudah tahu semuanya.
Pasti Mama juga merasa sangat bersalah kepada Zizi, Mama ikut menyembunyikan semua masalah ini dari Zizi karena aku yang meminta.
"Mama yakin pasti akan ada jalan untuk masalah ini," aku hanya mengangguk dan pasrah.
"Bagaimana dengan Zizi? Apa dia tidak mau mendengar penjelasan mu, nak?"
__ADS_1
Aku pun menggeleng lemah, Mama berusaha membantuku untuk berdiri, meskipun masih terasa berat aku tetap berusaha mengangkat tubuhku karena Mama pasti tidak akan kuat menopang nya.
Rasanya aku hampir tidak bisa bernafas, aku harus kehilangan Zizi lagi, dia pasti akan sangat marah padaku.
"Ma,," lirih ku panggil Mama yang sudah menghapus air matanya. "Iya, nak!"
"Zizi, zizi ... dia pergi lagi Ma." rasanya aku ingin menumpahkan air mataku saat ini.
"Tenang sayang, Mama yakin kalau Zizi pasti akan kembali, aku akan menyuruh orang untuk melacaknya dan juga mencari tahu tentang Sonia!"
Aku menatap Mama yang mengatakan hal itu.
"Apa Mama juga merasa curiga dengan wanita itu?" Mama mengangguk.
"Mama sudah curiga saat melihat kehamilannya yang sudah sangat besar itu, Mama akan bertanya kepada dokter terlebih dahulu, sekarang ayo kita masuk ke dalam dan berpamitan pada Sonia," Aku langsung berhenti ketika Mama mengatakan nama Sonia.
"Tapi, Ma..!"
"Nak, kita harus belajar menjadi artis saat ini, tahu maksud Mama kan?"
"Betul sekali, selama ini kamu selalu mengabaikannya dan tidak pernah ingin tahu siapa dia dan seluk beluknya, kamu hanya percaya pada tes DNA yang keluar dengan hasil yang 99% menyatakan kamu adalah Papa biologis bayi itu, tapi setelah Mama melihat bayi itu lahir dengan sehat dan seakan dia bukan bayi prematur Mama jadi semakin curiga!"
Ya, memang benar apa yang di katakan oleh Mama, selama hampir enam bulan ini aku sama sekali tidak memperhatikan Sonia, meskipun kami tinggal di apartemen yang sama tapi aku jarang sekali pulang, kalaupun aku pulang, kita sama-sama tidak pernah bertegur sapa, sebenarnya hanya aku yang mengabaikan karena dia masih sering menyapaku.
Ternyata Mama selama ini sedikit memperhatikan wanita itu, padahal aku sama sekali tidak pernah berpikir ke sana.
"Baiklah Ma, aku menurut saja, yang pasti aku hanya ingin bertemu dengan Zizi dan menjelaskan semuanya."
"Iya Zicko, Mama tahu, tapi kita harus menyelesaikan semua ini terlebih dahulu, antara kamu dengan Sonia."
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih sekarang, pikiranku hanya tertuju pada Zizi saja.
Akhirnya Mama membawaku kembali masuk menemui Sonia dan anaknya, entah kenapa aku sama sekali tidak bisa berpikir bahwa itu adalah anakku, wajah kita tidak ada miripnya, meskipun dia laki-laki tapi bayi itu lebih mirip dengan Sonia.
__ADS_1
Dan mulai hari itu aku harus berdamai dan berpura-pura baik pada Sonia. Demi Zizi dan juga kedua orang tuaku.
Mama mengatakan bahwa Zizi pergi dari rumah. Sempat aku pulang ke rumah dan ingin bertemu dengan Zizi, tapi dia tidak mau keluar dari dalam kamar sampai seharian penuh.
Aku memilih menyerah dan pergi, tidak mau Zizi sakit karena belum makan sama sekali selama aku di rumah Papa.
Aku harus bersabar, setidaknya Zizi baik-baik saja di rumah.
Saat ini aku akan berangkat ke kantor dan berjalan keluar dari dalam kamar. Penampilan ku entah sudah seperti apa, yang pasti mungkin semrawut karena beban pikiran. Beberapa hari aku sedikit demi sedikit mendekati Sonia dengan alasan Keanu, bukan karena luluh, melainkan aku ingin tahu sebenarnya ada motif apa di balik dengan sikap wanita itu.
Saat menuruni tangga, Aku melihat Sonia yang sedang menyusui bayi-nya di sofa ruang tamu, aku memalingkan wajahku ketika melihat pakaian Sonia yang terbuka semua, memperlihatkan sebagian dadanya itu.
'Cih, meskipun kamu telanjang di depanku, aku tidak akan pernah tertarik!'
Sepertinya dia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatianku, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk melihatnya. Hampir setiap hari Sonia selalu berpakaian terbuka tapi menurut ku itu malah membuat ku sangat risih.
"Kamu akan berangkat, Zicko?" Sonia menyapa seperti biasa sambil memamerkan giginya.
"Hem!"
"Tidak mau berpamitan dengan Keanu?"
Wanita itu berdiri dan berjalan ke arahku dengan dada yang menggelantung seperti itu. Aku malas sekali sebenarnya tapi aku harus berpura-pura agar Sonia tidak curiga.
Akhirnya terpaksa aku membalikkan badan dan menatap bayi kecil tidak berdosa itu.
"Lihatlah putra kita, dia tersenyum ke arahmu!"
Cih, putra kita! aku ingin sekali menyangkalnya tapi aku harus menahan.
"Baiklah, sampai jumpa Keanu, jangan nakal ya!"
Terlihat bayi itu tertawa senang, saat ini usianya sudah hampir sebulan, melihat senyum dari baby Keanu, rasanya kekesalan di hati ini sedikit reda. Ya, menurut bayi suci ini bisa membuat ku bertahan sebentar lagi, karena aku pasti akan menceraikan Sonia, tidak lama lagi!
__ADS_1
Bersambung.