
Happy Reading
Sasha menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam, tapi kakiku rasanya tidak bisa di gerakkan. Entah kenapa aku malah tidak ingin bertemu dengan Zicko, jujur aku belum siap. Bagaimana kalau kenyataannya aku akan sangat sakit hati dan membunuh wanita itu, Sonia, ya namanya adalah Sonia, istrinya Zicko!
Aku bukan perempuan yang memiliki rasa sabar saat orang yang ku cintai di rebut orang lain. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus bersembunyi, bukan?
"Ayo Zi, kita interogasi Zicko saat ini juga!" Ucap Sasha menarik lenganku untuk terus berjalan.
"Sha, aku belum siap!"
"Belum siap kenapa lagi?? Apa kamu tidak akan mencari kebenaran? Apa kamu tetap akan membiarkan semua ini terjadi? Aku sahabat mu, Zi, aku tidak tega melihat kamu di khianati seperti ini, apalagi semuanya juga menutupi kasus ini darimu, ku dengar Zicko memang telah menghabiskan waktu bersama semalaman penuh di Hotel bersama Sonia, apa kamu masih akan tetap diam saja?"
Deg!
Lagi-lagi kenapa ucapan Shasa sangat menusuk ke ulu hati? Akhirnya aku pasrah saja saat Shasa menuntunku, dia benar-benar memberikan ku semangat untuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rasanya kaki ini seperti tidak tertapak, hanya raga kosong yang berjalan begitu berat, seperti membawa bebatuan besar di dada dan kepala.
Lagi-lagi hati ini terus bertanya-tanya, apakah aku akan kuat saat melihat Zicko bersama wanita lain yang sudah sah menjadi istrinya itu?
Padahal dulu tempat itu selalu ku impikan, bermimpi untuk menjadi istri Zicko, menjadi pendamping nya sampai maut memisahkan.
Tapi ternyata semua itu hanyalah angan yang sia-sia.
"Aku sudah di beritahu oleh kekasih ku kalau Zicko dan Sonia sudah berada di ruang perawatan." Ucap Sasha tanpa menoleh ke arahku dan tetap terus berjalan.
Jantungku berdegup sangat kencang, rasanya hati tubuh dan pikiran ini tidak sanggup untuk bertemu dengan mereka.
Sungguh, aku ingin lari saja keluar, aku takut dengan kesehatan jantung dan hatiku kalau seperti ini bisa-bisa aku yang di rawat di ruang perawatan itu. Huh, sangat menjengkelkan!
"Sha, aku takut!" ujarku.
Shasa menoleh dah berhenti, dia memegang kedua pundak ku dan menatapku dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Tidak boleh takut Zi, kamu harus mempunyai semangat yang menggebu untuk melabrak mereka!"
Kenapa Shasa yang lebih semangat sekarang?
__ADS_1
"Sha, kamu begitu semangat, tapi apakah kamu paham apa yang ku rasakan?"
Shasa mengangguk mantap, "tentu saja aku paham dan tidak, aku paham kalau kamu pasti akan sakit sekali hatinya, namun aku tidak paham bagaimana dalamnya rasa sakit itu karena aku tidak mengalaminya sendiri, tapi aku tau bahwa mencari tahu semua ini sendiri lebih baik daripada tahu dari orang lain!"
Ya, memang benar apa yang di katakan Sasha, aku harus kuat dan tidak boleh berhenti sampai di sini untuk mengetahui semuanya. Zicko dan istrinya harus tahu bahwa ada hati yang mereka sakiti!!
Mereka harus sadar jika aku bukan wanita yang lemah!
Akhirnya aku pun pasrah dan terus mengikuti Shasa berjalan.
"Lihat Zi, itu ruangannya!" Sasha menunjuk sebuah ruangan rawat VIP di depan ku.
"Apa benar itu ruangannya?"
Shasa mengangguk mantap, "betul Zi, pacarku tidak mungkin salah!"
Ya Tuhan, sebegitu sayangnya Zicko terhadap wanita itu, sampai-sampai dia memberikan ruang VIP, kenapa Daddy dan Mommy tidak memberitahuku semua ini. Ya Tuhan!
Apa memang Zicko telah merahasiakan pernikahan ini dari semua orang?
"Ayo Zizi kita kesana, kamu harus lihat sendiri apa benar Zicko telah menghianati mu!"
Akhirnya aku melangkah dengan semangat yang sedikit berkobar, berjalan mendahului Sasha menuju ruangan VIP itu.
Perlahan aku mendekati pintu dan mulai memegang handlenya, ku dengar sayup-sayup suara-suara orang yang aku kenal.
Deg, deg, deg.
Tidak, ini tidak mungkin, aku mendengar suara Mommy di dalam sana. Ya Tuhan! kebohongan apa lagi ini! Hatiku panas membara mendengar mereka tertawa di dalam sana.
Dengan segala emosi yang sudah meluap aku pun memutar handle pintu itu dan membukanya lebar.
JEDER!!
Bagai tersambar petir yang langsung mengenai tubuh ini, mataku melotot sempurna ketika melihat pemandangan di dalam itu.
Seakan ribuan anak panah yang tiba-tiba menghujam jantung, sakit tapi tidak berdarah!
__ADS_1
Hening tiba-tiba saat aku membuka pintu ruangan ini lebar-lebar. Terlihat Zicko sedang menggendong bayi dalam dekapannya dengan wajah yang sangat terkejut, air mataku sudah tidak ada yang keluar, wajahku hanya berekspresi datar melihat seorang wanita di ranjang dengan pakaian pasien melihat ke arahku, dan yang paling menyakitkan yaitu adanya Mommy Liora di dalam sana juga terlihat terkejut.
"Zizi!" Zicko langsung memberikan bayi itu pada wanita yang ku rasa adalah Mama dari bayi itu dan tentunya istri Zicko.
"Sayang, aku .. aku bisa menjelaskan semuanya!" Zicko memegang lenganku tapi aku langsung menepisnya kasar.
"Zivana, nak kenapa bisa sampai di sini?" ucap Mommy yang juga terlihat begitu panik.
"Semuanya sudah jelas! aku sudah tahu segalanya, selamat Zicko dan Sonia yang telah menjadi orang tua baru, permisi!"
Aku membalikkan badan karena merasa sudah tidak tahan dengan pemandangan yang sangat bahagia itu.
"Tidak Zizi sayang, aku bisa menjelaskan, tolong dengarkan lah penjelasan ku!" Aku bisa merasakan Zicko bersimpuh dan memeluk kakiku erat.
Aku tidak menjawab dan segera melepaskan tangan Zicko yang berada di kakiku.
"Tidak Zizi sayang, aku mohon dengarkan penjelasan ku!"
"Lepaskan kakiku Zicko!" Aku berusaha kuat mendorong tubuh Zicko hingga terjerembab ke lantai.
Setelah tangan Zicko berhasil terlepas aku pun langsung berlari kencang sambil menahan sesak dan perih di dada.
Sungguh tidak pernah ku bayangan ternyata Mommy dan Zicko menyembunyikan rahasia sebesar ini. Sebenarnya apa tujuan mereka? Apakah Mom dan Dad sudah tau tentang hubungan terlarang ku dengan putra kandungnya sehingga mereka memilih kan calon istri untuk Zicko?
Aku masih terus berlari keluar dari rumah sakit, ku dengar suara Zicko yang terus memanggilku dari belakang.
Sepertinya dia sedang mengejar ku, aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan ku kali ini.
Sasha sudah menunggu di samping mobilnya dan membukakan pintu untukku.
"Ayo Zi, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" Ucap Sasha.
Aku langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Zicko tampak menggedor kaca jendela di sampingku itu.
Aku sudah terlanjur sakit hati dan tidak ingin mendengarkan penjelasannya.
"Bawa aku pergi ke suatu tempat yang bisa membuatku melepaskan segala beban yang menusuk hati ini!"
__ADS_1
Bersambung.