Mencintai Adik Angkat

Mencintai Adik Angkat
Bab 7


__ADS_3

Happy Reading


Dengan tergesa aku langsung berlari ke basement dan segera membuka kunci mobil. Suara bip bip terdengar disertai lampu send mobilku menyala berkedip. Dengan begitu aku tidak susah untuk mencari mobilku.


Membuka pintu mobil dan duduk di depan kemudi, menyalakan mesin tiba-tiba terlintas di pikiran ku adalah suara Zicko dan suara wanita yang tadi malam mengusik pikiran ku.


Ya Tuhan, aku harus mengeyahkan pikiran ku tentang Zicko.


Aku pun memacu mobilku dengan sedikit cepat, keinginan ku hanya satu saat ini, aku harus segera pulang ke Amerika untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ya, itu sudah pasti karena kalau aku masih di sini tentu saja tidak akan membuktikan apa-apa.


Daddy dan Mommy pasti tidak ingin bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Zicko sampai mengabaikan ku berbulan-bulan, apakah karena dia memang sangat sibuk.


Huft! Lagi-lagi aku memikirkan pria muda itu, cintaku padanya memang tidak bisa terkikis dengan mudah. Aku di sini belum ada setahun, tentu saja aku tidak akan begitu saja lupa akan cinta Zicko padaku.


Tapi nyatanya tidak dengan Zicko yang bisa semudah itu melupakan ku dan mengajak wanita lain masuk ke dalam kamarnya. Mengingat hal itu benar-benar membuat ku kesal dan ingin melabrak mereka.


Itulah yang kurasakan saat ini, penuh kecurigaan dan ketakutan akan semua hal yang terjadi tanpa ku ketahui. Nanti aku akan menelepon Mommy untuk mencaritahu ada kabar apa di Amerika


Akhirnya aku sampai di perusahaan lima menit lebih cepat.


"Zivanna! Kenapa nomer mu tidak aktif? Semalam aku menelepon mu," aku melihat Stefano yang datang ke arahku dengan wajah yang terlihat sangat khawatir?


"Maaf, tadi malam batrei ku habis, sekarang sudah aktif kok, tapi belum sempat buka ponsel juga," Jawabku sambil berjalan cepat menuju ke lift.


"Syukurlah, aku khawatir kalau ada apa-apa sama kamu," Stefano memegang pundak ku dan menatap mata ini dengan tatapan kekhawatiran.


"Aku tidak apa-apa," jawabku masih menatap mata pria itu.


"Tapi matamu mengatakan lain, sepertinya kamu semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak?"


Kenapa Fano terlihat khawatir sekali? Ah matanya juga menatapku seperti itu. Aku kan jadi tidak enak!


"Sepertinya sebentar lagi kita harus meeting," Aku mengalihkan pandangannya sambil melihat jam di pergelangan tanganku.


"Oh iya, aku harap kali ini bisa berjalan dengan lancar!"

__ADS_1


Akhirnya aku terbebas dari tatapan Fano yang begitu menusuk itu, tatapan khawatir untuk seorang pria kepada wanita yang di cintai. Mungkin benar dia menyukai ku tapi hati ini sudah ada yang memiliki.


Hanya Zicko pria muda itu yang merajai hati ini. Lagi-lagi memikirkan Zicko, padahal semalam dia sudah membuatku kesal sekali.


"Ada apa Zizi? Kenapa melamun?"


"Eh aku tidak melamun hanya sedang memikirkan meeting kita," Stefano tersenyum ke arahku.


Sebenarnya pria ini sangat tampan, kenapa juga dia belum menikah? Padahal banyak gadis dan wanita di luar sana yang mau dengannya.


Aku terkekeh membayangkan bagaimana pria dingin ini berpacaran, kaku dan monoton pastinya. Berbeda sekali kalau berpacaran dengan pria muda seperti halnya aku dan Zicko.


Zicko terkesan banyak bicara dan selalu membuatku tertawa, Hari-hari bersama Zicko selalu berwarna karena memang dia sangat pintar membuat mood ku baik.


Meskipun masih muda tapi dia selalu bisa mengimbangi ku, selalu tahu apa yang aku inginkan. Seakan dia benar-benar menyelami duniaku dan masuk ke dalamnya hanya untuk bisa mengerti apa yang ku pikirkan.


Ah, Lagi-lagi Zicko.


Sayang, aku sangat merindukanmu, mudah-mudahan kamu tidak macam-macam di sana. Aku percaya kalau kamu pria yang setia dan masalah suara wanita itu hanyalah kesalahan pahaman ku.


"Eh, tidak ada, aku hanya sedang senang dan sedikit gugup tentunya, hehe.." ya Tuhan! Apakah pria ini sejak tadi memperhatikan ku?


Bunyi lift berdenting menandakan kita sudah sampai di lantai tujuan.


Aku dan Fano masuk ke dalam ruangan tempat kami meeting nanti.


Fano masih memperhatikan ku, tapi aku berpura-pura tidak tahu dan aku tidak peduli.


'Haah ... Lelahnya, tapi aku harus semangat!'


Ku sandarkan tubuhku di sofa, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nafas perlahan.


"Zizi, apa kamu merindukan kekasihmu? Tanya Fano duduk di sofa depanku. Ah pria ini kebapa sikapnya semakin hari semakin berani.


"Tentu saja aku merindukannya, dia adalah cinta pertamaku, dan kami sudah lama bersama." Jawabku tegas tanpa bertele-tele.

__ADS_1


Ku harap dia mengerti bahwa aku sudah ada yang memiliki.


"Beruntung sekali ya kekasihmu itu, dia bekerja sebagai apa?"


Aku menoleh ke arah pria itu dengan tatapan datar. Fano seakan mengerti dengan raut wajah ku dan akhirnya dia berkata.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Fano saat aku hanya diam saja dengan tatapan yang tidak suka.


Huh, syukurlah kalau dia mengerti. Apa aku harus memberitahu bahwa kekasih ku masih anak remaja yang sedang kuliah.


Ah, tentu saja itu tidak mungkin, aku tidak sedekat itu dengan Fano. Dia hanyalah partner yang bisa di andalkan. Stefano pria yang baik, bagiku tidak ada kesan dingin sama sekali, dia selalu penuh perhatian terhadap ku. Mungkin rumor-rumor yang beredar di kantor bahwa Stefano seorang yang dingin, kejam dan galak tidak berlaku untukku.


Apakah karena aku adalah putri dari pemilik perusahaan ini.


Tidak lama beberapa orang masuk ke dalam ruangan ini dan akhirnya kita mulai rapat yang akan menentukan masa depan perusahaan.


Setelah berjalan selama dua jam lebih akhirnya rapat selesai dengan keputusan yang sangat tepat menurut ku. Aku pun merasa puas, tapi tentu saja aku tidak akan berleha-leha dahulu karena satu jam lagi ada meeting dengan klien dari salah satu perusahaan yang akan menyokong dana perusahaan demi menutupi lubang agar tidak mengalami kerugian.


"Zi, apa mau ku pesankan kopi? Bersantai lah dulu sebelum bertemu klien," ujar Stefano.


"Ah, boleh juga, temani aku ngopi di ruangan ku, ya? Aku juga mau mempelajari lagi bahan-bahan untuk presentasi dengan klien nanti."


"Oke, aku pesan dua kopi hitam kalau begitu," Stefano memanggil seorang office boy lewat interkom dan memesan sesuai pesanan ku tadi.


*****


Aku menatap kalender dengan senyuman yang lebar.


Ini adalah tanggal terakhir yang ku lingkari, akhirnya besok aku akan kembali ke Amerika, sudah tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan Zicko dan tentunya Mommy dan Daddy.


Setelah masalah tentang telepon itu akhirnya aku menerima permintaan maaf dari kekasihku itu, dia mengatakan bahwa wanita itu bukan siapa-siapa.


Yah aku percaya padanya, setelah itupun hubungan ku dengan Zicko semakin membaik, esok aku akan terbang dan meminta Zicko untuk mengabulkan ucapan nya setahun lalu yang mengatakan akan melamar ku dan segera menikahi ku.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2