
Happy Reading.
Sinar mentari pagi telah menyambut ku dengan hangatnya.
Pagi ini aku akan melakukan interview di sebuah perusahaan yang cukup terkenal, mungkin dengan bekerja aku bisa sedikit melupakan masalahku.
Aku pun memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar tiga puluh menit akhirnya aku selesai mandi dan segera memakai pakaian formal ku.
Ponsel ku berdering kembali. Aku melirik sebentar dan kemudian mengabaikannya. Setelah selesai mengaplikasikan make up natural di wajahku ini, aku langsung mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku langsung keluar dari dalam apartemen dan dengan sedikit semangat. Aku harus move on, kamu pasti bisa Zizi.
Aku berjalan menyusuri lobi apartemen untuk mengambil mobil. Mataku menatap lurus ke arah depan karena merasa melihat seseorang yang tidak asing.
Zicko, apa aku tidak salah lihat? Apa benar yang di depanku itu adalah Zicko. Dia terlihat menyunggingkan senyuman lebar di bibirnya.
Jantungku bertalu kencang, jujur aku memang sangat merindukannya, rindu yang menyakitkan.
Kakiku berasa ringan untuk melangkah mendekatinya, Zicko merentangkan tangannya seakan menyambut ku.
Tapi aku pun langsung berhenti ketika mengingat segala kesakitan dan penghianatan yang telah dia berikan.
Tidak, aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh kalah dengan perasaan semu ini. Senyum Zicko memudar kala aku memundurkan langkahku.
Pada saat aku akan berbalik pergi meninggalkannya tiba-tiba ada seorang wanita dengan membawa bayi di gendongnya mendekati Zicko.
Seperti ada ribuan anak panah yang langsung menghujam ke dadaku, hatiku berasa sangat sakit, luka ini perih kembali.
__ADS_1
"Kalian! Pergi! Jangan pernah menggangguku! Aku membencimu Zicko!!"
"Hei Nona, kenapa kamu berteriak-teriak!"
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. Aku langsung sadar dan menoleh ke arahnya.
Seorang pria muda tampan melihatku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu kenapa berteriak seperti itu?" tanya pria itu lagi.
"Aku, aku tidak apa-apa!"
Pria itu tertawa melihat ekspresi ku yang seperti ini.
Aku langsung menoleh ke arah di mana Zicko tadi berdiri bersama wanita itu.
"Kamu sedang melihat apa? Apa barusan melihat hantu sehingga membuatmu berteriak-teriak?"
Aku berbalik menatap pria tadi. "Aku melihat seseorang di depan sana!"
"Hei Nona, dari tadi di sana tidak ada siapapun, oh sepertinya kamu memang baru saja melihat hantu penghuni lobi apartemen ya?" Pria itu tertawa lagi.
Aku pun mendengus kesal melihat ekspresinya yang seakan mengejekku. Tapi apa benar yang di katakan nya? Apa Zicko dan wanita tadi hanya bayangan khayalanku saja?
"Tapi aku tadi melihat mereka di sana!"
"Nona, sejak kamu berjalan kesini aku sudah memperhatikanmu dan tidak ada siapa-siapa di sana sejak sebelum kamu datang, wah benar-benar melihat penampakan sepertinya!"
__ADS_1
Apa benar yang ku lihat tadi hantunya Zicko!
"Aaakkk jangan menakuti ku!!"
Aku melompat seketika ke arah pria itu dan memeluknya erat, jujur aku begitu takut dengan yang namanya hantu.
"Hei Nona, jangan modus ya?"
"Eh maaf aku tidak sengaja!" Aku langsung melepaskan pelukan itu.
"Cantik-cantik modus!!"
"Siapa yang modus! Aku benar-benar takut dengan hantu!" Aku melengos pergi dari hadapan pria muda yang menyebalkan itu.
"Enak saja mengatakan aku modus! Tapi tadi aku benar-benar seperti melihat Zicko dan wanita itu di sana!"
Aku langsung masuk ke dalam mobil setelah membuka kunci pintu otomatisnya. Sepertinya kepalaku ini masih terisi penuh dengan Zicko.
"Nona, tunggu dulu!"
"Kenapa lagi! Sudahlah aku akan pergi dari hadapanmu, nanti di kira modus, enak saja mengatakan hal seperti itu!"
"Jangan percaya diri dulu! Aku hanya ingin mengembalikan brosmu yang jatuh!"
Kenapa wajahnya sungguh menyebalkan.
Bersambung.
__ADS_1
Double up ya 😁