
Di kamar tamu pak Nurcholis beristirahat bersama istrinya dan juga kedua anaknya.
" Pak tak nyangka ya mbak Luna itu ternyata orang kaya. Beruntung banget ya pak, Bu mas Arif dapat mbak Luna. Mereka orang kaya tapi tidak sombong." Ucap aga adik bungsu Arif.
" Iya pak, Ibu tadi sempat takut begitu sampai sini melihat rumahnya yang besar takut mereka sombong. Tapi ternyata mereka baik semua." Ucap Bu Nurmadiah.
" Pak, Bu mas Arif kan ke kota buat kuliah dan setelah lulus kan mas Arif bercita-cita untuk bisa bekerja di perusahaan al-Fathir corp. Karena yang Anin tahu perusahaan al-Fathir corp itu gajinya besar. Tapi mas Arif akan tetap menggapai cita-citanya masuk ke perusahaan al-Fathir corp. Atau kerja di perusahaan orang tuanya mbak Luna." ucap Anin
" Itu terserah mas kalian aja." ucap pak Nurcholis.
" Memang perusahaan apa tadi kamu bilang Anin." Tanya Bu Nurmadiah.
" Perusahaan al-Fathir corp."
" Iya itu, memang sebesar apa?."
" Besar banget Bu, ibu ingat kemarin kita nonton di TV itu Bu. Yang ibu bilang kalau orang kaya mah memberi santunan ke seribu anak yatim mah memang sudah seharusnya."
" Oh yang itu toh jadi wanita itu yang punya."
" Bukan Bu perusahaan al-Fathir corp punya keluarga suaminya. Kalau dia cucu dari kyai Ibrahim pemilik pesantren Al hikmah."
" Tempat mbak anin ingin sekolah di sana." Tanya aga.
" Iya di sana itu kalau orang nggak mampu biayanya bisa ringan ada beasiswa juga doain Anin nanti bisa dapat beasiswa."
" Katanya pesantrennya besar banget ya mbak."
" Iya."
Habis shalat Dzuhur dan makan siang mereka pun berangkat ke rumah sakit.
" Mas Arif bisa bawa mobil." Tanya Luna.
" Alhamdulillah bisa." jawab Arif.
__ADS_1
" Ya udah mas Arif aja yang bawa." Luna memberikan kunci mobilnya ke Arif.
Mereka pergi menggunakan dua mobil, Satu mobil berisikan Aji, ayah Rudi, Jihan, anaknya Dirly dan juga pengasuh Dirly.
Sedangkan mobil Luna ada dirinya, suaminya Arif, kedua mertua Luna dan juga kedua adik iparnya.
Menempuh perjalanan dua puluh menit mereka pun sampai di rumah sakit Al hikmah. Setelah memarkirkan mobilnya mereka pun langsung masuk dan berjalan menuju ruangan VVIP.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan VVIP ternyata keluarga besar dari Zafira masih berkumpul.
" Assalamualaikum..."
" Walaikum salam." Jawab mereka semuanya.
Setelah menyalami semuanya baru Luna menghampiri kakak iparnya.
" Selamat ya kak." ucap Luna.
" Terima kasih ya, dan selamat menempuh hidup baru ya semoga samawa." ucap zafira memberikan selamat ke adik iparnya.
" Ini suami kamu ya lun." Tanya Zafira.
" Salam kenal kak saya Arif." Arif memperkenalkan diri.
" Salam kenal juga, Selamat ya."
" Terima kasih."
"Mommy, Deddy kenalin ini mas Arif suami Luna! Mas Arif kenalin mereka selain mertua mas Bagas mereka juga orang tua angkat kami. Nanti aku ceritakan bagaimana kami bisa menjadi anak angkatnya." Ucap Luna memperkenalkan Mommy khayra dan Deddy Gibran ke suaminya.
" Salam kenal nak Arif, selamat ya buat kalian semoga samawa. Maaf ya kalau kami tidak bisa datang." ucap Mommy khayra.
" Nggak apa Tante yang terpenting doanya saja." ucap Arif.
" Jangan panggil Tante, panggil Mommy dan Deddy aja sama kaya Luna."
__ADS_1
" Iya Mommy."
" Oh iya Mommy dan Deddy kenalin ini orang tua mas Arif dan juga ke dua adiknya." Ucap Luna memperkenalkan keluarga suaminya.
" Salam kenal bapak, ibu." Ucap Mommy dan Deddy.
" Iya Bu nyai dan pak yai." Ucap pak Nurcholis.
" Akhirnya bisa lihat langsung karena cuma bisa lihat di tv." ucap Bu Nurmadiah.
" Jangan panggil Bu nyai dan pak yai. panggil bapak atau ibu saja." Ucap Mommy khayra sopan.
Setelah memperkenalkan ke Mommy dan Deddy nya. kini giliran Luna memperkenalkan suami dan keluarga suaminya ke keluarga besar Zafira.
" Andra tumben nggak mau main sama kak Dirly." Ucap Jihan yang melihat keponakannya itu diam duduk di dekat adiknya.
" Nda te anda akut Dede anda iyang di uyik." ucap Andra.
" Memang siapa yang mau nyulik."
" Ate Maya." ucap Andra sambil menunjuk ke Amara.
" Dedenya nggak akan di culik sudah sana main gih. Ada Mommy sama Deddy yang jagain biar nggak di culik." ucap Zafira ke anaknya.
Andra menggeleng tapi matanya terus melihat ke arah Dirly dan Ghazan yang sedang bermain.
Bagas yang melihat anaknya ingin bermain tapi takut adiknya di ambil. Bagas menghampiri anaknya lalu berjongkok di hadapannya.
" Andra mau main tapi takut adiknya diambil " tanya Bagas.
Andra mengangguk.
" Ya udah Andra main aja papi jagain adiknya ya."
" benelan."
__ADS_1
" Iya papi jagain adiknya."
Setelah menatap papinya setelah yakin kalau papinya akan menjaga adiknya. Barulah Andra menghampiri para sepupunya.