Mencintai Adik Angkat

Mencintai Adik Angkat
Bab 26


__ADS_3

POV Author.


Dentuman musik memekakkan telinga, sorak sorai dan suara saling tertawa bersahutan. Aroma alkohol dan nikotin sudah bercampur menjadi satu di ruangan gelap remang-remang itu. Seorang pria menuangkan anggur ke dalam gelas, kemudian meminumnya sekali tenggak.


Seorang wanita cantik, seksi dan memakai pakaian kurang bahan mendatangi pria itu, terlihat menggoda dengan menawarkan tubuhnya. Namun belum sempat sang wanita penghibur itu duduk, sang pria langsung mengibaskan tangannya menolak.


Wanita itu tahu kalau pria ini sedang tidak mau di ganggu, dia sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, jika pria itu sudah menatapnya tidak berminat, lebih baik dia mencari mangsa lain dari pada terus merayu namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya wanita itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Javier yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan jengah.


Pria itu masih ingin sendiri karena dia sedang menunggu wanita yang dulu pernah mencampakkan nya di meja yang sudah ia pesan. Suara musik yang begitu memenuhi telinganya, semakin berdetum keras di iringi dengan sorak sorai pengunjung yang saling berjoget bergoyang di panggung.


Javier melihat pemandangan yang selalu membuat nya muak dan jijjk, para pria dan wanita saling bercumbu dan berada di pengaruh alkohol, bahkan ada yang terang-terangan membuka Bra dan menyuruh kekasihnya untuk mencium kuncup merah itu.


Namun entah kenapa saat tadi dia melihat Zivanna berciuman dengan pria muda itu, Javier tidak merasa jijik sama sekali, bahkan ada sedikit rasa tidak tenang di hatinya.


Javier memejamkan matanya, berusaha untuk tidak memikirkan Zivanna kembali, wanita itu benar-benar bisa mengalihkan dunianya sekarang. Belum lama dia putus dari pacarnya akibat penolakan lamaran itu, namun sekarang hatinya sudah di penuhi oleh wanita lain yang bahkan mungkin saja dia sudah memiliki kekasih.


Lampu di tempat itu redup terang sesuai dengan alunan musik DJ yang menggema. Semakin malam tempat itu semakin ramai pengunjung. Tadi Lolita mengajaknya bertemu, dan Javier yang memang sedang kalut ingin pergi ke club memutuskan untuk mengajak Lolita bertemu di tempat ini.


Dunia malam bagi Javier memang bukan hal yang baru, namun dia sangat jarang pergi ke club kalau tidak sedang kalut. Lebih baik dia istirahat tidur di rumah setelah menyelesaikan aktivitas nya seharian penuh.


"Hai, Javier! Apakah kamu sudah lama menunggu ku? Maaf tadi aku harus kembali ke restoran karena ada yang tertinggal," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Lolita, sang mantan dengan raut wajah yang benar-benar tidak enak, mungkin dia merasa bersalah karena membuat seorang Javier menunggu nya.


"Tidak masalah, lagian memang tujuanku ke sini sebelum kita janjian ketemu, jadi aku gak merasa rugi nunggu kamu!" Lolita tersentak mendengar jawaban dari pria yang masih di cintai nya itu.


Awalnya dia pikir Javier sengaja mengajaknya bertemu di tempat ini, bahkan dia akan dengan senang hati menerima tawaran pria itu jika nantinya mereka berakhir di atas ranjang.


'Tapi aku yakin, niatmu mengajak ku bertemu di sini pasti karena kamu masih patah hati dan ingin memperbaiki hubungan kita, kan?' batin wanita itu.


"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Javier to the point.


Dia sudah merasa sedikit pusing karena minum beberapa gelas anggur. Maklum, toleransi alkohol pria itu sengat rendah.


"Sebenarnya aku ingin kita kembali seperti dulu, Javier. Aku masih sangat mencintai mu," wanita itu memegang tangan Javier, membuat pria itu tersentak.


"Hahahaha, apa kamu bercanda? Oh, ayolah Lolita, kali ini aku tidak sedang ingin bermain dengan mu!" seru Javier.


"Tapi aku tahu kalau kamu masih mencintai ku! Aku tahu kamu akan memaafkan ku, Javier!"


BRAK!!


"Jangan mimpi, aku memang sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali padamu, aku tidak! Cukup sekali penolakan dan aku tidak akan pernah mau kalau harus balikan lagi, jadi tolonglah Lolita, jangan berharap!" ujar Javier kembali meneguk anggurnya.

__ADS_1


Lolita mengepalkan tangan, entah kenapa kata-kata Javier benar-benar menusuk hatinya.


"Kenapa Javier!! Kenapa kamu tidak mau kembali padaku!! Apa hanya karena aku menolak lamaranmu, membuatmu sakit hati dan tidak mau di ajak balikan!"


Javier menggeleng. "Tidak, ku rasa mungkin karena aku memang sudah tidak mencintai mu lagi, apalagi setelah aku bertemu dengan seseorang yang bisa menyembuhkan sakit hatiku!!"


"Apa!! Siapa perempuan itu??"


Javier tersenyum, meskipun sudah mabuk parah, tapi sepertinya pria itu masih waras dan sanggup untuk bicara, "kamu sudah tau siapa wanita yang ku suka, Lolita! Bukankah aku sudah pernah membawanya di hadapan mu!"


Lolita menggeleng tidak percaya, tangannya semakin mengepal erat hingga kuku-kukunya menancap di kulit.


'Aku tidak akan membiarkan mu di miliki siapapun, Javier!!'


***


Pov Zivanna


Malam itu aku termenung di balkon kamar, memikirkan keinginan Mommy dan Zicko yang menginginkan ku harus tetap ikut mereka pulang ke Amerika.


Sungguh rasanya aku tidak ingin kembali ke negara di mana aku di lahir kan, bukan karena banyaknya kenang-kenangan di sana, namun aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan di perusahaan yang besar dan maju. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Aakk!"


"Ya Tuhan! Kenapa kau mengagetkan ku, Zicko?"


"Sayang, please...! jangan egois, pikirkanlah matang-matang keputusanmu itu."


Aku menggeleng pelan, ternyata pria ini masih kepikiran tentang keputusan ku untuk tinggal menetap di negara kangguru ini.


Kurasakan hembusan nafas Zicko yang hangat mengenai telinga ini.


"Zicko, ini sudah keputusanku, pulanglah ke Amerika bersama Mommy, aku di sini baik-baik saja," Kulepaskan tangan kekar itu dari perut.


Meskipun Zicko enggan melepas tapi aku tetap memaksa. Aku berbalik menatap Zicko yang sudah terlihat kacau.


"Tapi aku tidak akan kembali tanpa dirimu, sayang!" wajah Zicko begitu muram, sebenarnya aku sangat tidak tega melihat wajahnya yang terlihat sedih seperti ini.


"Kita masih bisa komunikasi lewat ponsel, masih bisa saling berkunjung," ku lihat Zicko menarik rambutnya.


"Zizi, jangan egois!!"

__ADS_1


"Zicko, sebenarnya kamu yang egois!"


Bentakku sedikit menyentak tangannya yang memeluk pinggangku.


"Tidak Zizi, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa jauh darimu!"


"Bisa, setahun kita bisa menjalani hubungan jarak jauh."


"Tapi ....!"


Tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi, ku lihat ponselku di atas nakas layarnya berkedip.


Ku berjalan masuk ke dalam kamar dan segera melihat siapa yang menelepon.


Javier, kenapa dia meneleponku malam-malam begini?


"Halo?"


"Zizi, tolong aku!"


Javier meminta tolong? memangnya dia kenapa?


"Ada apa tuan, Javier?"


Aku masih berbahasa formal karena biar bagaimanapun dia memang atasanku.


"Bisa kamu ke tempat club xx, aku sedang kesakitan! tolong aku!"


Aduh, ada apa ini, kenapa Javier meminta tolong padaku?


Tiba-tiba aku merasakan tangan Zicko melingkar di bahu dan dia merebut ponselku dan mematikannya.


"Aku tahu itu dari pria yang tadi pagi, kan?"


"Javier sedang dalam masalah, aku harus menolongnya, Zicko!"


"Tidak, buat apa menolong nya, lagi pula ini sudah malam! Sayang, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu!"


"Aku janji aku tidak akan apa-apa, please!" aku menatap Zicko penuh permohonan.


Terdengar helaan napas kasar dari mulutnya.

__ADS_1


"Aku ikut!"


Bersambung.


__ADS_2