
Happy Reading
Pov Zicko
Malam itu aku begitu bahagia saat mengetahui bahwa wanita yang sangat ku cintai akan kembali. Semuanya sudah ku persiapkan untuk menjemputnya di bandara.
Rasanya sudah tidak sabar ingin segera memeluknya erat, merasakan kehangatan dan kenyamanan dari tubuhnya. Mungkin sebentar lagi pesawat yang akan di tumpangi Zizi akan segera mendarat di bandara internasional Florida.
Ya, aku sudah sangat merindukan Zizi, selama setahun ini banyak yang ku lalui, bahkan sebuah tragedi di mana aku harus bertanggung jawab terhadap seorang wanita yang tidak ku kenal. Wanita yang tiba-tiba sudah ada di pelukan ku tanpa sehelai benangpun saat terbangun. Entah kesialan apa yang ku dapatkan ini, aku sendiri merasa bahwa sebenarnya aku telah di jebak, tapi setelah penyelidikan berbulan-bulan tidak ada bukti sama sekali.
Namun aku harus sabar, setidaknya sampai anak itu lahir, akan ku pastikan anak itu bisa mendapatkan akta kelahiran dan mungkin aku akan menceraikan Sonia.
Saat ini aku harus mengenyahkan pikiran ku tentang Sonia.
Aku sudah berpakaian sangat rapi ketika itu, menyemprotkan parfum dengan aroma kesukaan Ziziku.
Tampan!
Itulah kata-kata yang sering Zivana ucapkan saat aku sudah berdandan seperti ini. Memang semenjak aku menikah dengan Sonia, aku jarang sekali merawat penampilan ku, untuk apa juga aku berpenampilan rapi kalau Zizi tidak ada di sini.
Bagiku tidak ada yang harus di tampilkan dari diriku untuk Sonia.
"Mau kemana Zicko?" Tiba-tiba sonia menghadang ku.
"Bukan urusan mu!"
Aku terus melangkah menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba ada sebuah lengan memelukku dari belakang.
"Kenapa kamu berdandan sangat tampan seperti ini? Aku tidak pernah melihatmu berpakaian rapi sebelumnya?"
"Lepaskan Sonia, bukankah sudah jelas peraturannya kalau kamu dilarang menyentuhku!" Aku melepaskan tangan Sonia dengan kasar.
Entah kenapa rasanya sangat jijik saat di sentuh oleh wanita yang sudah sah sebagai istri ku ini.
"Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini Zicko, aku juga butuh kehangatan dari suamiku sendiri!" Sonia terlihat mengeluarkan air matanya.
"Jangan pernah mengharapkan itu dariku, ingat pernikahan ini tidak di dasari oleh cinta! Aku hanya bertanggung jawab saja pada bayi itu, pernikahan ini adalah sebuah kesalahan!"
__ADS_1
"Tidak Zicko, aku mencintaimu, pernikahan ini atas dasar cinta dan bayi kita yang menyatukannya!"
Aku hanya tertawa sinis mendengar ocehan wanita yang sedang hamil itu. Perutnya sudah terlihat membesar, padahal menurut dokter usia kehamilan Sonia baru memasuki tujuh bulan.
"Apakah kamu memiliki wanita lain! Kamu berselingkuh Zicko!" Teriak Sonia di hadapanku.
"Bukan urusanmu! Jangan sampai aku meninggalkan mu sebelum bayi itu lahir, ingat Sonia, aku mempunyai kekasih atau tidak kamu tidak perlu ikut campur!"
Tiba-tiba Sonia menarik lenganku kuat, sepertinya dia tidak akan membiarkanku pergi.
Aku sudah sangat muak dengan tingkah laku wanita itu yang semakin berani saja. Dengan sekuat tenaga aku mendorong Sonia hingga wanita itu jatuh ke lantai.
"Aaakk! Zicko tolong aku!"
Aku tidak memperdulikan teriakannya, kalau dia terus saja seperti itu aku akan menceraikannya segera dan hak asuh anak akan aku ambil.
"Perutku sakit sekali! Zicko aku berdarah, tolong!"
Mendengar teriakan Sonia aku pun membalikkan badan.
"Astaga! Sonia!" Berapa terkejut nya ketika melihat kaki dan baju bawah Sonia sudah berwarna merah.
"Sakit, perutku Zicko!"
"Tenanglah, kita akan segera ke rumah sakit!" Meskipun aku sangat tidak menyukai wanita ini tapi melihat kondisinya yang seperti itu rasanya tidak tega.
Aku langsung melarikan Sonia di rumah sakit khusus untuk Ibu dan anak.
Dan ternyata keadaan pendarahan Sonia cukup buruk, harus ada tindakan segera dari dokter.
Aku pun menyetujui operasi untuk mengangkat bayi itu untuk menyelamatkan nya.
Dan ya karena kejadian itu aku melupakan untuk menjemput Zizi, aku hanya mengabari Mama bahwa aku sedang menunggu Sonia melakukan operasi.
Setelah hampir dua jam akhirnya operasi itu berhasil, bayi berjenis kelamin laki-laki itupun telah lahir dengan selamat, begitupun dengan Sonia.
Sungguh aku tidak pernah bermaksud melupakan Zizi waktu itu, aku akan menemuinya setelah urusan ku dengan Sonia selesai. Aku tidak memberi pesan padanya karena aku takut dia bertanya lebih. Aku tidak ingin menyakiti hatinya dulu, mungkin setelah ini aku akan mengatakan semuanya pada Zizi dan berharap dia akan mengerti.
__ADS_1
Aku ingin tahu bahwa hanya dia yang aku cintai dan hanya Zizi pemilik hati ini.
Beberapa saat kemudian Sonia telah di pindahkan ke ruang perawatan VIP, aku hanya menuruti keinginan Sonia yang ingin di rawat di ruangan paling mahal itu.
Mama mengabari bahwa akan datang menjenguk tapi aku menyuruh Mama untuk merahasiakan semuanya. Aku yang akan mengatakan sendiri pada Zizi nanti. Kalau ada yang bertanya apakah Mama dan Papa tahu tentang hubunganku dengan kakak angkatku itu, jawabannya 'iya' aku sudah mengatakan semua perasaan ku pada kedua orang tuaku.
Sebenarnya Papa sangat menyesalkan musibah ini, karena setelah Papa tahu aku dan Zizi saling mencintai merekapun setuju untuk merestui kami. Tapi Mama tidak mau melukai perasaan Sonia, jadi semua orang memang saling menutupi, tidak berniat untuk merahasiakan, hanya masalah waktu saja yang belum tepat untuk mengungkapkan.
Mama datang ke rumah sakit untuk melihat cucunya yang baru lahir, entah kenapa aku masih sangat sulit untuk mengakui anak itu. Mama menyuruh ku untuk menggendongnya agar aku terbiasa.
Di usiaku yang menginjak dua puluh tahun ini aku telah menjadi seorang Daddy? Aku pasti akan senang apabila Zizi yang menjadi Mommy dari anak-anaku.
Sonia terlihat sangat bahagia ketika aku mau menggendong bayinya. Ku tatap wajah bayi tak berdoa itu. Tampan, tapi wajahnya sama sekali tidak mirip denganku.
Hampir sembilan puluh persen sangat mirip dengan Sonia. "Kenapa tidak ada yang mirip dengan ku?"
Sonia terlihat sedikit terkejut ketika aku bertanya seperti itu.
"Itu hal wajar nak, memang setiap anak tidak harus mirip dengan Daddy-nya," Mama yang menjawab.
"Iya benar, aku saja sangat mirip dengan Mama," Sonia ikut-ikutan.
Mama dan Sonia tertawa seakan mengejekku, tapi aku tidak mempedulikan mereka.
Aku masih mengamati wajah bayi yang masih berada di pelukan ku itu. Tiba-tiba terdengar pintu ruangan terbuka.
"Zizi!" Betapa terkejutnya saat aku melihat siapa yang ada di pintu itu!
Aku melihat wajahnya yang datar tanpa ekpresi apapun. Zizi tidak mau mendengar penjelasan ku dan menepis tanganku kasar. Mama juga terlihat sangat sedih dan merasa bersalah.
"Tidak Zizi sayang, aku bisa menjelaskan, tolong dengarkan lah penjelasan ku!"
Zizi tetap tidak mau mendengarkan ku, dia mendorong tubuhku kuat menyebabkan ku terjatuh. Zizi berlari dengan sangat cepat, akupun mengejarnya sambil berteriak memanggilnya.
Tidak, aku tidak mau Zizi salah paham padaku, mungkin dia akan membenciku selamanya, tapi ku mohon sayang, dengarkan penjelasan ku dulu.
Aku bersimpuh sambil menarik rambutku kasar ketika mobil yang di tumpangi Zizi pergi meninggalkan area rumah sakit.
__ADS_1
"ZIVANA!! AKU SANGAT MENCINTAIMU!! JANGAN PERGI LAGI SAYANG!!"
Bersambung.