
Happy Reading.
Pagi menyapa dengan wajah yang cerah, ku hirup aroma kopi hitam yang baru saja ku buat. Sudah resmi kemarin aku berpamitan kepada para karyawan perusahaan. Stefano memelukku erat, seakan tidak ingin membiarkan ku pergi. Tapi tentu saja aku tidak bisa berlama-lama di sini, mengingat aku harus segera kembali ke Amerika siang ini juga.
'Zicko, tunggu aku sayang, aku benar-benar rindu!'
Ku langkahkan kakiku berjalan memasuki pesawat, aku harap perjalanan yang memakan waktu puluhan jam ini bisa sedikit mengurangi kegugupan ku.
Florida USA
Pesawat telah mendarat dengan selamat di kota kelahiran ku ini, rasanya sangat mendebarkan ketika aku melangkah kan kakiku di sepanjang lobi Bandara. Antara gugup dan tidak sabar untuk bertemu dengan Zicko, ya Tuhan, kenapa aku merasa jantung ku semakin deg-degan tidak karuan. Aku bukan remaja labil yang baru saja jatuh cinta dan akan bertemu dengan sang pujaan hati.
Tapi biar bagaimanapun jujur dalam hati aku sudah sangat merindukannya.
__ADS_1
Senyum merekah selalu ku tampilkan membuat semua orang memandang ke arahku, sedari kecil aku sudah memiliki kecantikan yang natural, banyak lelaki yang menyukaiku dan memuja kagum padaku, dengan tubuh proposional padat berisi membuat mata kaum para adam tidak bisa teralihkan untuk memandangku.
Bahkan banyak pria yang tidak segan-segan mengajakku berkencan dengan terang-terangan, tapi aku bukanlah wanita murahan yang gampang mereka goda dan termakan godaan. Aku sama sekali tidak pernah tertarik terhadap pria-pria itu.
Tapi hanya Zicko yang bisa menguasai hati ini, entah kenapa aku tidak bisa melihat pria tampan, selain dia. Menurut ku memang hanya Zicko pria tertampan di dunia ini. Entahlah mungkin efek cinta atau memang Zicko sangat tampan, hanya saja mungkin kedua spekulasi ku itu benar!
Hari ini dia berjanji akan menjemput ku di bandara.
Sungguh rasanya tidak sabar untuk segera bertemu dengannya, jantungku masih saja berdegup kencang sedari tadi. Ya Tuhan bahagia sekali rasanya akan bertemu dengan sang pujaan hati. Selama di Australia banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku ajukan pada Zicko. Tapi sebenarnya aku ingin dia membuatkan ku coklat hangat di musim dingin ini.
Langit sore yang tiba-tiba mendung membuat angin sepoi-sepoi menerpa wajahku. Masih dengan setia aku menunggu jemputan dari Zicko.
Ku lihat jam di pergelangan tanganku lagi, sudah hampir lima puluh menit aku menunggunya dengan perasaan yang tidak menentu. Entah kenapa tiba-tiba perasaan ku menjadi tidak enak. Apalagi nomer ponselnya tiba-tiba tidak aktif.
__ADS_1
"Zicko, kamu kemana, sih? Apa kamu lupa kalau aku mendarat hari ini?" masih ku otak-atik ponselku, entah kenapa tiba-tiba menjadi semenyebalkan ini melihat nomer Zicko tidak aktif.
"Kenapa jadi sedih gini, ya? Seharusnya kamu mengabari ku kalau memang tidak bisa menjemput?" rasanya ingin menangis.
"Hai, apa kamu sedang menunggu jemputan?"
Aku melihat ke arah suara pria di sampingku yang sedang menyapa.
"Paman Antony! Kenapa Paman ada di sini?" Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya.
Paman Antony sudah seperti Paman ku sendiri, dia adalah suami dari pengasuh ku sewaktu kecil yang bernama bibi Bella.
"Aku di sini mau menjemput tuan putri Zivanna," Jawab-nya tersenyum lebar. Dahiku pun mengernyit tidak paham maksudnya.
__ADS_1
"Kenapa Paman yang menjemput? Di mana Zicko?"
Bersambung.