
Author POV
Zico melajukan mobilnya menuju ke apartemen dengan senyum yang mengembang di bibirnya, tangannya tidak lepas dari genggaman tangan wanita yang berada di sampingnya.
Setelah berciuman panas di dalam mobil tadi, akhirnya pertahanan Zivana luluh lantak oleh pesona Zicko yang selalu sanggup menggetarkan hatinya.
Zivanna merasakan perasaan yang seperti di ombang-ambing oleh badai, niat hati untuk melepaskan Zicko menjadi tidak bisa, Karena bagaimanapun dia berusaha untuk membuat Zicko lepas darinya, tapi hatinya mengatakan tidak bisa. Tidak mau dan tidak akan pernah bisa.
Wanita itu terlalu dalam cintanya untuk Duda muda di sampingnya itu. Zivanna benar benar ingin memastikan bagaimana perasaannya terhadap pria muda di sampingnya itu, karena wanita berusia 25 tahun itu takut tentang perasaannya. "Sayang, jangan melihatku seperti itu?" ucap Zicko.
"Aku ingin memastikan bahwa apakah aku ini benar benar mencintaimu atau hanya si obsesi belaka." Ucap Zivanna serius dan Zicko. hanya terkekeh mendengarnya.
"Jawabannya sudah sangat jelas sayang, bahwa kamu sangat mencintaiku dan aku pun juga mencintaimu, jadi jangan mengatakan ini adalah obsesi kita, karena aku memang ingin selalu bisa bersamamu," ucap Zicko tersenyum.
Akhirnya mereka telah sampai di apartemen dan disambut oleh Mommy Liora dengan raut wajah khawatir. Malam-malam mereka tiba-tiba pergi begitu saja.
"Sebenarnya kalian ini dari mana sih? Aku mencari kalian tidak ada di dalam kamar?" tanya Liora memicingkan matanya.
"Ini mah, tadi Zivana minta dianterin ke supermarket tapi ternyata supermarket nya sudah tutup jawab," jawab Zicko asal.
"Memangnya tengah malam seperti ini mau membeli apa sayang?" tanya Liora yang masih kepo.
"Ah tidak kok Mom, hanya mencari sesuatu yang mendesak .. eghem,, Ya sudah ya? aku mau istirahat dulu Mommy, aku ke kamar dulu ya, Zicko," ucap Zivanna mengalihkan pembicaraan.
Tentu saja dia tidak akan bercerita bahwa tadi mereka baru saja pergi ke club malam. Zivanna tidak mau Mommy nya khawatir.
Kemudian dia berlalu pergi dari hadapan Liora dan juga Zico.
Mommy langsung menjewer telinga Zicko pada waktu saat Zivanna sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian tadi baru saja keluar dari mana? Aku tidak percaya kalau kamu mengantarkan Zivanna ke supermarket?" bisik Liora.
Zicko mengaduh tapi tidak berani keras-keras.
"Aduh,, Iya Mah, tadi kita memang keluar ke supermarket, tetapi supermarket itu tidak buka 24 jam. Ya, jadi akhirnya kita terpaksa kembali lagi tanpa membawa apapun." Jawab Zicko masih berbohong.
__ADS_1
Sedangkan Liora semakin memicingkan matanya terhadap sang putera.
"Kalian tidak pergi ke klub malam atau bar kan?" Liora masih tidak percaya karena dia mencium bau menyengat dari tubuh Zivanna.
Zicko sedikit terkejut dengan pertanyaan sang Mama yang benar 100 persen. Zicko akui memang Mamanya adalah wanita hebat yang memiliki insting kuat.
"Ya terserah mama deh mau percaya atau enggak, aku ngantuk mah, mau tidur dulu," Zicko pergi dari hadapan Mamanya dan merebahkan diri di sofa ruang tamu.
Liora hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian dia pergi ke kamar untuk meneruskan tidurnya.
Zivanna duduk dipinggir ranjang, dia termenung sendiri dengan semua kejadian yang telah dialaminya. Lalu bagaimana dia memutuskan untuk hidup kedepannya?
Apakah dia harus menerima pinangan dari Zicko yang mengajaknya untuk pulang ke Amerika dan langsung akan menikahinya?
Lalu apa kata orang nanti, sedangkan orang tua mereka Nicholas Ferguson adalah orang yang terpandang di kota itu dan tentu saja mereka tahu siapa Zivanna dan juga Zicko.
Meskipun Zicko mengatakan kepada Zivanna bahwa dia tidak perlu khawatir karena pasti Dad dan Mommy akan mengurus semuanya.
Zivanna merebahkan tubuhnya di atas ranjang, akhirnya dia terlelap sendirinya karena memang malam itu telah larut.
Zivanna menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Javier yang tentu saja hal itu membuat Javier sangat terkejut.
"Zivanna, Kenapa kamu melakukan ini semua? maafkan aku karena tadi malam aku berlaku buruk padamu, tapi jujur pada waktu malam itu aku berada di bawah pengaruh obat yang diberikan Lolita padaku."
"Oh, jadi anda sedang memanfaatkan saya tuan?"
Javier membelalakkan matanya. "Tidak!! bukan seperti itu Zivanna."
Zivanna tersenyum kemudian dia berdiri dari duduknya.
"Maaf tuan Javier, sebenarnya keputusan ini aku ambil bukan karena masalah itu, tapi karena orang tuaku dan juga kekasihku menginginkan aku untuk kembali ke Amerika, jadi aku memutuskan untuk ikut mereka kembali," ucap Zivanna.
"Apa yang kau maksud kekasihmu adalah pria yang tadi malam bersamamu itu di bar itu?"
Zivanna mengangguk, sepertinya dia memang akan mengakui Zicko sebagai kekasihnya. Memang saat ini Zivanna yakin bahwa Zicko juga sangat serius terhadap nya.
__ADS_1
Dia tidak akan peduli dengan ucapan semua orang, apabila ada yang menggunjing mereka karena setahu mereka dia dan juga Zicko adalah saudara.
"Maaf tuan, saya akan segera membereskan barang-barang saya dan saya akan berhenti hari ini juga, saya sungguh minta maaf."
Zivanna membungkukkan badan dan pergi berlalu dari hadapan Javier.
Dengan langkah yang ringan akhirnya Zivanna mengambil keputusan itu yang memang dari isi hatinya itu.
"Tunggu dulu Zivanna!" Zivanna menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Javier yang menyuruhnya untuk berhenti.
"Ada apa lagi Tuan Javier?" Zivanna menolehkan kepalanya.
"Kumohon jangan pergi dari perusahaan! Aku sangat membutuhkanmu di sini," ucap Javier.
"Tapi ini keputusan saya sudah sangat bulat, maafkan saya yang telah banyak mengecewakan Anda, padahal baru beberapa hari ini saya bekerja di perusahaan ini, tolong maafkanlah saya Tuan," Zivanna segera pergi dari tempat itu. Diapun kembali melangkah menuju pintu dan membukanya.
Akhirnya keputusannya adalah dia akan pergi ke Amerika bersama Zicko dan juga Mommy Liora.
Sebenarnya Javier tampak tidak senang dengan keputusan ini, tetapi dia harus berbuat apa karena memang semua itu adalah keputusan Zivanna. Mungkin saja kalau malam tadi Javier bisa tidak memperlihatkan sikap buruknya pada Zivanna. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.
###
Lolita mendatangi kantor Javier dengan tatapan sayu, apakah dia masih bisa berharap dengan hubungan nya bersama Javier? Sepertinya kesalahan yang sangat fatal ia buat dengan menolak lamaran dari Javier sehingga membuat pria itu membencimu setengah mati.
Tidak, Lolita tidak mau di benci oleh Javier, karena jujur setelah melihat tatapan Javier yang sudah tidak berbinar lagi saat menatap tentu membuat hatinya berasa di iris pisau tajam. Perih dan sakit! Apakah ini yang di rasakan Javier saat dia menolak lamaran nya?
"Permisi, apakah Tuan Javier ada di ruangannya?" tanya Lolita pada resepsionis.
Resepnya itu tahu siapa wanita yang ada dihadapannya saat ini. Dia adalah kekasih atasannya tapi mereka sudah putus sejak wanita ini menolak lamaran sang bos.
"Ehm, sebentar saya akan memberitahu tuan Javier dulu," jawab Resepsionis itu.
Tentu dia tidak akan berani menyetujui keinginan Lolita untuk bertemu bosnya sebelum Javier sendiri yang mempersilahkan.
Bersambung
__ADS_1