
Happy Reading.
Aku termenung sambil menatap langit-langit di kamarku. Cerita dari Mommy masih terus berkeliaran di otakku ini.
Mommy mengatakan bahwa Sonia hanya memanfaatkan Zicko saja, dan bayi itu adalah anaknya Orlando, pria yang mengejar ku dan sudah ku tolak berkali-kali. Mommy mengatakan bahwa mereka bersekongkol karena sama-sama merasa sakit hati.
Itu artinya mereka sudah tahu hubungan ku dengan Zicko sejauh apa.
Ya Tuhan! Apakah semua ini benar kenyataannya? Apakah aku hanya bermimpi? Ku pukul kepalaku untuk membangunkan ku, siapa tahu aku memang sedang bermimpi buruk.
Selama aku bekerja dengan Javier aku memang merasa sedang bermimpi, pria itu selalu memberiku mimpi buruk.
Ah, kembali pada cerita dari Mommy yang sangat mengejutkan. Mengenai Orlando dan juga Sonia yang menjebak Zicko, sebenarnya aku tidak begitu paham dengan semua masalah ini. Apabila ini memang penjebakan, berarti mereka telah berhasil membuat hatiku terluka parah. Sungguh drama yang mereka suguhkan sangat jelek.
Aku mengingat Sonia, gadis itu adalah teman Zicko di kampus, sebenarnya bukan teman karena mereka memang tidak dekat. Seingatku bahkan tidak pernah.
Sonia sejak awal bertemu Zicko di kampus memang sudah menyukainya, wanita itu tidak berani mendekati Zicko ataupun hanya sekedar menyapa, mengingat Zicko yang selalu bersikap datar dan dingin terhadap setiap wanita.
Ya, sikap Zicko akan lembut hanya padaku, makanya aku begitu percaya padanya bahkan tidak pernah terbesit dalam pikiran ku bahwa Zicko akan berselingkuh.
Kembali ke cerita Mama. Karena tidak bisa memiliki Zicko, dan Orlando tidak bisa memiliki ku, akhirnya pada saat Sonia hamil karena telah menjadi pelampiasan dari Orlando yang juga sama-sama sakit hati karena penolakan ku berkali-kali, pria itu mengajak Sonia bekerja sama untuk menghancurkan hubungan ku dan Zicko dengan cara menukar sample rambut Zicko dengan sample rambut Orlando.
Itu cerita versi Mommy, aku tidak tahu cerita yang sebenarnya seperti apa. Meskipun Mommy mengatakan berkali-kali kalau Zicko tidak mencintai Sonia tapi apa kabarnya setelah mereka menikah?
Ah, iya, inilah yang ku takutkan, pernikahan mereka hampir setahun, 7 bulan tepatnya.
Aku yakin pasti mereka sering melakukan hubungan suami istri, ya itu memang hal yang sangat wajar, mengingat mereka sudah sah untuk melakukannya
Bahkan Zicko berhak atas tubuh Sonia terlepas dari wanita itu menjebaknya.
Kenapa memikirkan itu membuat hatiku sakit kembali. Ya Tuhan Zizi, kenapa kamu begitu egois, pernikahan mereka sudah berjalan hampir tujuh bulan, tentu saja mereka pasti membutuhkan sentuhan hangat dan kebutuhan biologi sebagai pria dan wanita.
Apa wajar bila aku sakit dan cemburu, meskipun pernikahan mereka karena jebakan dan Zicko tidak mencintai Sonia.
Sedangkan selama ini mereka telah menyembunyikan kejadian itu dariku. Zicko, aku sangat mencintaimu, tapi entah kenapa kebohongan itu masih belum bisa aku terima.
Malam ini aku larut dalam pemikiran yang sangat menguras otak, pikiran dan hati. Sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam mataku tetap tidak bisa terpejam.
Mommy tidur di kamar satunya karena apartemen ini hanya mempunyai dua kamar tidur. Aku tahu perjuangan Mommy untuk sampai ke sini juga tidak mudah.
Selama sebulan lebih aku sudah memutuskan komunikasi terhadap keluargaku. Tapi meskipun begitu aku tahu kalau Daddy Nick selalu mengawasi ku.
__ADS_1
Kata Mommy, Kenzo masih belum bisa menemuiku karena harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Sonia dan Orlando yang sudah mendekam di penjara.
Entah sudah berapa lama aku berkutat dengan pikiran itu tiba-tiba mata ini pun terasa berat.
***
"Zizi, sayang!"
"Bangun nak, apa kamu tidak bekerja?"
Sayup-sayup aku mendengar suara Mommy yang berusaha membangunkan ku, kaki dan tanganku di gerakan.
"Aku masih ngantuk Mom!"
"Ini sudah hampir pukul 7 pagi, cepat bangun kalau tidak ingin terlambat sayang!"
Aku membuka mata dan mengucek nya perlahan. "Iya Mom, aku akan mandi dulu."
"Iya cepat mandinya, Mommy sudah membuatkan sarapan kesukaan mu!"
Dengan langkah malas aku masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.
Aku melangkah berjalan menuju dapur di mana Mommy sangat berisik di sana.
Eh, kenapa ada suara pria di sana dan suara itu sangat aku kenal. Tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Langkahku berhenti saat aku melihat seorang pria yang selalu menghantui pikiranku!
"Zizi, kamu sudah selesai mandi? Lihatlah Zicko sudah datang, dia juga sudah menyelesaikan urusannya di Florida," ucap Mommy Liora tersenyum lebar.
Aku terpaku menatap pria yang sedang melihatku dengan tatapan rindu dan perasaan bersalah ini.
Ya Tuhan, kenapa lagi-lagi aku di buat terkejut, sungguh aku tidak bisa berkata-kata.
Zicko ada di hadapanku? Kenapa hatiku merasa sedikit bahagia melihat pria ini berdiri sambil terus tersenyum.
"Zizi, aku sangat merindukanmu!" Kurasakan tubuhku di tarik dan menabrak dada bidang Zicko, dekapan hangat yang selama ini ku rindukan akhirnya ku rasakan kembali.
Aroma tubuh Zicko yang selalu membuatku tenang dan sangat nyaman. Ya, aku juga sangat, sangat merindukannya.
"Tolong maafkan aku sayang, aku menyesal karena tidak jujur dari awal, hampir saja aku kehilangan mu, aku tidak mau sayang, jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku!"
Aku mendongak menatap wajah tampan Zicko yang sudah basah. Degupan jantung kami saling menyambar. Tapi tiba-tiba sekelebat bayangan Zicko dengan Sonia terlintas.
__ADS_1
Zicko sudah menjadi suami orang.
Aku pun melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh Zicko.
"Sayang, kenapa? Apa kamu masih marah padaku?"
Ah, entah lah, bagaimana aku bisa menjabarkan dengan kata-kata, bagaimana perasaan ku saat ini.
"Zizi, sayang!"
"Jangan sentuh aku Zicko!"
Aku melihat netra matanya membulat sempurna. Rasanya hatiku masih tidak terima dengan perlakuan Zicko yang seenaknya saja itu.
"Sayang, ku mohon! Maafkan aku, bukankah Mommy sudah menceritakan semuanya, aku di jebak oleh Sonia dan Orlando."
"Aku tahu!"
"Lalu ada apa lagi?"
Mommy yang melihat perdebatan kami memilih diam, mungkin Mommy sengaja membiarkan kami saling bicara.
Tok, tok, tok!
Terdengar suara ketukan pintu di depan, tanpa menjawab pertanyaan Zicko aku segera membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu.
Zicko mengikuti ku dari belakang, aku tidak peduli, memangnya dia tidak tahu kalau hatiku masih sakit.
Ku buka pintu itu dan melihat siapa yang bertamu.
"Javier? Eh maksudnya tuan Javier," ucap ku sedikit terkejut karena kedatangan atasanku ini.
Javier diam menatap bukan ke arahku, melainkan ke arah Zicko yang berada di samping ku.
"Zizi, siapa dia?" Zicko bertanya.
Aku melihat tangan Zicko sudah mengepal. Sedangkan Javier masih tetap diam menatap pria yang ada di samping ku ini.
"Tuan Javier, kamu menjemput ku kan, ayo kita pergi," Aku langsung keluar dan memegang lengan Javier. Mungkin sekarang giliran ku untuk memperalat Javier dan ku ajak saja dia bersandiwara. Seperti dia yang sudah memperalat ku.
Bersambung.
__ADS_1