
Pov Zicko.
Happy Reading.
Hari ini aku akan menyusul Mama yang telah pergi duluan ke Australia untuk menemui Zizi dan meminta maaf padanya.
Setelah beberapa minggu menyelesaikan urusan ku dengan Sonia dan menggugat cerai dirinya, kali ini aku sudah berani menampakkan diri di hadapan Ziziku. Aku juga sudah memenjarakan mereka berdua, Orlando dan Sonia.
Awal mula Sonia dan Orlando mengelak dan tidak mengakui perbuatan mereka. Tapi aku menyuruh Orlando untuk tes DNA lagi di bawah pengawasanku.
Dan hasilnya 99,99% benar bahwa bayi itu adalah darah daging pria brengsek yang bernama Orlando. Benar-benar penjahat licik yang tega menghancurkan hidupku dan juga Zivana. Darahku langsung mendidih dan ku lampiaskan amarahku dengan memukul Orlando membabi buta.
Hanya karena sakit hati di tolak Zivana berkali-kali dan juga Sonia yang memendam rasa cinta untukku mereka merencanakan niat busuk dengan menggunakan kehamilan Sonia.
Sungguh pasangan yang sangat serai, aku bertepuk tangan selebrasi untuk mereka.
Akhirnya aku menjebloskan kedua penjahat itu di penjara dan anak Sonia masih ku rawat dengan memakai jasa pengasuh. Biar bagaimanapun Keanu tidak tahu apa-apa dengan masalah kedua orang tuanya.
Meskipun Sonia masih tidak terima dengan perceraiannya tapi dia tetap harus mendapatkan ganjaran yang telah di lakukan. Ya, dia menipu hasil tes DNA itu, membuat nama baik keluarga ku malu dan juga masih banyak lagi kejahatan yang harus dia tanggung jawabkan.
Saat ini aku sudah mendaratkan kakiku di bandara internasional Canberra, Australia. Langit masih gelap karena baru pukul 3 pagi. Aku langsung dijemput oleh orang suruhan Mama dan meluncur menuju apartemen Zizi.
Sungguh rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihku itu. Tuhan memang sangat baik, berkat kasus ini aku bisa menyuarakan perasaan dan isi hatiku terhadap kakak angkat ku sendiri pada Papa dan Mama.
Dulu kami mengira pasti hubungan kami akan sangat di tentang, hubungan cinta terlarang antara adik dan kakak yang benar-benar tidak lazim. Tapi dengan adanya masalah ini ternyata malah membuat Mama dan Papa sangat kasihan terhadap nasibku dan juga Zizi.
Yah, mereka merestui bahkan mendukung ku untuk bisa mengajak Zizi kembali pulang dan menikahinya. Ah, sungguh tidak sabar rasanya ingin memeluk Ziziku.
Tidak kusangka bahwa ternyata sudah sampai di depan gedung apartemen Zizi. Kakiku berasa sangat ringan ketika melangkah menuju lift dan memencet tombol 10 di mana letak apartemen Zizi berada.
Setelah keluar dari dalam lift, aku langsung segera mencari di mana keberadaan pintu apartemen itu. Sebelumnya memang belum pernah aku datang ke tempat ini, hanya Mama dan Papa yang sudah pernah ke sini dan menempati apartemen itu.
Aku langsung membuka kunci sandi yang memang sudah diberitahu oleh Mama sebelumnya. Pintu terbuka, suasana ruangan sangat tenang dan sunyi. Saat ini pasti Mama dan Zizi masih terlelap.
__ADS_1
Kuputuskan untuk melihat wanita ku di kamarnya yang aku yakini berada di sebelah kanan itu.
Ceklek!
Mataku berbinar kala melihat sosok di balik selimut yang tidur dengan tenang. Padahal selama berbulan-bulan aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak sampai kadang mengkonsumsi obat tidur. Ku dekati ranjang itu, ku sibakkan rambut yang menutupi wajah cantik Zivana. Senyum mengembang terukir di bibiku, hatiku sungguh bahagia melihat Zizi baik-baik saja di sini.
Cup, cup, cup!
Ku cium bibirnya berkali-kali tanpa menimbulkan suara agar Zizi tidak terganggu. Ku tatap wajahnya yang sangat cantik itu.
Zizi, aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu lagi. Setelah puas melepas rindu ini, aku melangkah keluar dari kamar dan merebahkan tubuhku di sofa ruang tamu.
Tidak terasa mataku menjadi semakin berat dan akhirnya aku masuk ke alam mimpi dengan bayangan Zivanna yang memenuhi mimpi ku.
"Zicko, bangun sayang, kamu sudah datang!" Aku yang baru saja terlelap dan bermimpi sedang bermesraan dengan Zizi mendengar suara Mama yang menyebut namaku berkali-kali, ku buka mata dan melihat Mama yang sedang berdiri di sampingku itu.
"Apa Zizi sudah bangun, Ma?"
Ku lihat jam di pergelangan tangan, Ah, benar-benar tidak menyangka waktu bisa secara ini. Aku pun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Dan setelah aku mandi dan badanku menjadi lebih segar, aku menemui Mama yang berada di dapur.
Kita sedikit bercengkrama sebentar sebelum Zizi datang ke dapur dan terlihat terkejut dengan kedatangan ku.
"Zicko!"
Mendengar suaranya yang memanggilku rasanya hati ini sungguh bahagia. Reflek tanganku langsung menarik tubuh mungil itu dan ku dekap erat.
Nyaman sekali rasanya, tubuh ini begitu kurindukan. Rasanya hatiku membuncah bahagia.
Tapi tiba-tiba Zizi melepaskan pelukan itu dan mendorong kuat tubuhku. Sakit sekali rasanya di perlakuan seperti itu. Tapi aku sadar bahwa apa yang di lakukan Zizi karena dia masih sakit hati karena kebohongan ku selama ini.
Kami sedikit berdebat hingga terdengar suara ketukan di pintu depan. Zivana langsung berjalan membuka pintu dan aku mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Terlihat seorang pria berdiri di depan pintu dan menatap ku lekat. Entah kenapa ada rasa tidak suka di hati saat Zizi tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengan pria itu.
Akupun langsung menarik tangan Zizi dan memeluknya erat, tapi Zizi menolak dan mengatakan akan segera berangkat bekerja. Hatiku perih saat melihat pria itu menarik tangan Zizi, seperti di hujam ribuan anak panah yang menusuk ke dalam jantungku.
Aku hanya bisa mengepalkan tanganku kuat, aku harus menerima semua perlakuan Zizi yang seperti ini.
Aku yakin bahwa dia hanya membuatku cemburu dan sakit hati. Setelah melihat mereka masuk ke dalam lift, aku langsung berteriak memaki diriku sendiri.
Aku benar-benar seperti pecundang yang telah di abaikan oleh kekasihnya bahkan dia lebih memilih menggandeng pria lain. Zizi, jangan kamu lakukan pembalasan yang seperti ini. Aku tidak akan sanggup.
"Zicko, kamu harus sabar dalam menghadapi Zivana, sepertinya dia masih mencintaimu, Mama bisa melihat dari tatapan matanya untukmu benar-benar penuh cinta dan kerinduan, meski terkadang ada tersirat tatapan kecewa tapi cintanya lebih mendominasi." Mama memegang tanganku memberi semangat.
"Iya Ma, aku tahu dan aku paham bagaimana perasaan Zizi, sebaiknya aku tidur saja seharian untuk menunggu Zizi pulang.
###
Aku memeluk Zizi erat, tapi dia hanya diam saja tanpa membalasnya. Aku meminta maaf padanya dan ingin bisa kembali seperti dulu. Aku melarangnya untuk menyentuh pria lain selain diriku. Tidak sanggup jika harus melihat Zizi yang menempel dengan pria lain seperti tadi.
Akupun melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya yang masih diam saja.
"Lucu sekali! kamu saja boleh menikah dan menyentuh wanita lain lalu kenapa aku tidak boleh.!" Aku terkejut mendengar ucapan Zizi yang seperti itu.
"Siapa yang menyentuh wanita lain? aku memang menikahi Sonia tapi selama ini aku belum pernah menyentuhnya sama sekali sayang, kamar kami terpisah juga.!"
Zizi terlihat sedikit terkejut, aku langsung menarik tengkuknya dan mencium bibir seksi itu, Ya Tuhan, sungguh rasanya masih berdebar-debar saat kurasakan bibir kami bertautan.
"Apa benar kamu tidak pernah menyentuh Sonia?"
"Kenapa kamu masih bertanya? tidak ada wanita lain yang bisa membuatku nyaman selain dirimu sayang!"
Aku mencium bibirnya kembali, kali ini akan ku curahkan semua rasa rindu di hati ini dengan memeluk, mencium dan menjamah Ziziku, aku benar-benar sangat mencintainya.
Bersambung.
__ADS_1