Mencintai Adik Angkat

Mencintai Adik Angkat
60. ke kampungnya Arif


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Arif tentang tawaran kakek Azzam dan Arief akhirnya setuju mereka pun kembali ke kamar masing-masing karena malam sudah larut.


" Mas kalau kamu libur lagi nggak apa-apa mas?." Tanya Luna karena rencananya mereka akan pulang ke kampungnya Arif untuk mengurus kepindahan keluarganya Arif.


" Aku juga belum tahu di izinkan atau nggak, apalagi aku juga baru saja masuk lagi. Tapi aku juga nggak enak kalau izin lagi apalagi kalau memang benar di izinin bukannya bakal jadi iri yang lainnya." Ucap Arif.


" Terus gimana masa mas nggak ikut ke kampung." Tanya Luna lagi.


" Mau gimana lagi mas kan harus kerja."


" Mas nggak mau gitu buka usaha sendiri."


" Mau lah tapi mas duit dari mana coba."


" Gimana pakai uang angpao dari nikahan kita kekurangannya mas pinjam sama Luna gimana?."


Arif tampak berpikir


" Mas Luna tahu mas nggak enak sama Luna tapi Luna bukan mau merendahkan mas Arif. Luna itu istrinya mas Arif, toh Luna meminjamkan dan mas Arif harus mengganti itu. Jadi nggak merasa nggak enak toh bukan mas yang meminta." Ucap Luna.


" Memang nggak apa-apa, nanti keluarga kamu." Tanya Arif


" Mereka justru senang nggak akan masalah, kalau nanti usaha mas sukses sudah pasti akan memberikan lapangan pekerjaan dan juga bukannya bisa mengatur waktunya nanti kalau Allah memberikan kita keturunan." Ucap Luna.


" Hahaha..." Arif tertawa.


" Kenapa mas Arif ketawa?." Tanya Luna yang bingung kenapa suaminya padahal mereka sedang bicara serius.


" Kamu itu lucu ya, sudah bicara tentang keturunan. Bobol gawang kamu aja belum sudah bicara keturunan." Kekeh Arif.


" Maaf..." Luna tertunduk lesu karena sampai saat ini dia belum memberikan haknya.


" Luna bukan nggak mau ngasih hak mas loh tapi Luna malu masa Luna duluan yang bilang duluan." Ucap Luna tersipu malu dengan wajah yang merah padam.


" Yakin mas boleh minta hak mas." Goda Arif.


Luna mengangguk.


" Kalau sekarang."


" Hah..." Luna kaget tapi setelah itu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.

__ADS_1


" Kita pelan-pelan saja sekarang kita saling mengenal dulu baru mas akan meminta hak nya mas. Masih banyak yang kita harus tahu satu sama lain, agar nantinya kita bisa ada chemistry. Anggap saja kita lagi pacaran cuma kita pacaran halal." Ucap Arif.


" Jadi kita pacaran, oh iya gimana mas mau ya buka usaha. Lagi pula kan bukanya di depan pesantren jadi ibu bisa bantu kamu dan nggak harus ke sawah.' ucap Luna.


" Baiklah mas terima tawaran kamu, mas besok bilang ke pemilik restoran kalau mas mau mengundurkan diri." Ucap Arif.


" Oh iya mas nanti pas di kampung nya mas Arif kita buat acara syukuran pernikahan kita. Kan aku bakal ikut mas apa kata orang nanti minimal kita beri mereka bingkisan gitu mas."


" Kamu atur sama ibu aja."


********


Memakai mobil luna mereka pun berangkat menuju kampung halaman Arif. Perjalanan memakan waktu cukup lama hampir sepuluh jam perjalanan darat. Arif dan pak Nurcholis gantian menyetir, mereka sengaja berangkat habis isya agar sampai sana pagi hari.


Berapa kali berhenti untuk istirahat akhirnya mereka pun sampai di rumah Arif. Arif pun memarkirkan mobil istrinya di samping rumah mereka.


Ibu-ibu yang kebetulan sedang berbelanja di tukang sayur yang tak jauh dari rumah Arif. Melihat ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depan rumah Arif. mereka pun Langsung penasaran siapa yang datang. karena mereka tahu Arif dan keluarganya termasuk keluarga yang pas-pasan. Maka mereka jadi penasaran saat ada mobil bagus berhenti di depan rumah keluarga Arif.


" Eh..siapa tuh?." Ucap salah satu ibu-ibu.


" Iya siapa ya? Mobilnya bagus ya."


" Eh itu si Arif yang keluar." Ucap ibu-ibu yang melihat Arif keluar dari dalam mobil.


" Iya itu pak Nurcholis,Bu Nurma, Anin sama si aga, terus perempuan itu siapa?."


" Iya cantik banget lagi."


" Maaf loh nak Luna kalau rumahnya kecil." Ucap Bu Nurmadiah saat mempersilahkan Luna masuk.


" Nggak apa-apa Bu, seperti nyaman dan sejuk di sini udaranya.' ucap Luna yang langsung duduk lesehan di bawah karena rumah Arif tak punya sofa.


Tak lama Arif masuk bersama pak Nurcholis membawa barang-barang mereka.


" Rif ajak istrimu istirahat di kamar kamu sudah ibu ganti kok seprei nya."


" Yuk istirahat di kamar, nanti sore aku ajak keliling desa." Ajak Arif.


Luna akhirnya mengikuti Arif ke kamarnya.


" Maaf ya kamarnya kecil dan mungkin kamu nanti nggak nyaman."

__ADS_1


" Nggak kok ini nyaman."


Habis ashar Bu Nurmadiah bersama pak Nurcholis berkeliling ke para tetangga untuk datang ke tasyakuran pernikahan Arif.


" Jadi si Arif sudah menikah di kota."


" Pantesan Bu Nurmadiah seminggu ini nggak ada."


" Apa perempuan cantik yang tadi keluar dari mobil bersama Bu Nurmadiah istrinya Arif."


Begitulah pertanyaan para tetangga yang kepo.


" Iya kemarin kami ke kota karena Arif menikah di sana."


" Wah beruntung banget Si Arif dapat perempuan kota."


" Mungkin memang sudah jodohnya dan kami juga sekeluarga sekalian mau pamit pindah ke kota." ucap Bu Nurmadiah.


" Oh mau tinggal di tempat menantunya ya."


" Nggak, kalau Arif dan istrinya akan tinggal di rumah istrinya. karena istrinya Arif anak bontot jadi diminta tetap tinggal di rumah itu."


" Lalu Bu Nurma nanti tinggal dimana?."


" Nanti saya akan tinggal di pesantren Al hikmah, kemarin kami di tawarin untuk mengawasi sawah dan perkebunan milik pesantren."


" Wah... pesantren Al hikmah kan pesantren yang terkenal itu kan." ucap tetangganya Arif.


" Iya kalau nggak salah cucu dari pendiri pesantren itu nikah sama anak konglomerat keluarga al-fathir." ucap ibu-ibu yang lainnya.


" Iya kok bisa kenal Bu Nurma."


" Jadi menantu saya itu kan piatu dari kecil dan saya juga kurang paham gimana ceritanya. Dia sama kakak-kakaknya sudah di anggap anak oleh pak Gibran al-Fathir Sama Bu Khayra. Karena tahu Anin dan Aga pingin banget bisa mondok di sana. di ajaklah sama menantu saya ke sana dan ke temu pak kyai Azzam Abi nya Bu Khayra istrinya pak Gibran al-Fathir. Di tawarin lah pekerjaan itu karena memang mereka sedang mencari orang." cerita Bu Nurmadiah.


" Oh lalu sekolahnya Anin dan Aga."


" Mereka di suruh pindah dan masuk ke pesantren Al hikmah."


" Wah... enaknya Bu Nurma, Si Arif benar-benar bawa rezeki buat keluarga juga."


Setelah ngobrol banyak dengan para tetangga Bu Nurmadiah pun kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2