
Happy Reading.
Mommy terlihat sudah rapi.
"Mommy juga mau pergi?"
"Iya, Mommy mau pergi sebentar." Jawabnya.
"Baiklah, Zizi pergi dulu Mom."
Setelah itu aku langsung melajukan mobilku ke sebuah Cafe out door tempat yang dulu sering aku buat nongkrong sama teman-teman masa kuliah.
Bahkan sampai sekarang (sebelum ke Australia) aku masih sering ke sana bersama Zicko, tempatnya sangat indah dengan view yang begitu bagus dan asri membuat semua orang betah berlama-lama duduk di sana sambil menghabiskan kopi dan Red Velvet.
Ku lajukan mobil merah kesayangan ku dengan kecepatan sedang, melihat pemandangan kota yang sudah setahun ini aku tinggalkan. Tidak banyak yang berubah, kota ini tetap ramai dan sibuk.
Diri ini menginginkan segera kembali ke kota ini, tapi entah kenapa aku merasakan kehampaan di hati. Huft, sepertinya memang yang ku butuhkan adalah spa relaksasi.
Drrttt ..! Drrttt ...!
Kulihat layar ponselku menyala dan nama Stefano nampak di layar.
Aku pun segera mengangkat telepon itu dengan menggunakan sambungan bloetooth.
"Halo, Fano, ada apa?"
__ADS_1
"Halo, Zi, aku hanya ingin menanyakan keadaan mu, apakah kamu sudah sampai ke tempat tujuan?"
Ayolah, pria ini pasti berusaha bergurau dengan ku, tapi aku senang setidaknya Stefano mau mengabari ku dan menanyakan keadaan ku, tidak seperti Zicko. Huft! Lagi-lagi duniaku penuh dengan nama itu. Nama yang melupakan ku sampai detik ini belum ada kabar!
"Ah, tentu saja aku sudah sampai, bagaimana keadaan perusahaan setelah ku tinggal?"
"Perusahaan baik-baik saja, tapi ku rasa hatiku yang tidak baik-baik saja, entah kenapa setelah kamu pergi, rasanya ada yang kosong, entah iti hati atau pikiranku, Zi!"
"Hahaha, ayolah Stefano, jangan mengatakan hal konyol lagi! Apa kau benar-benar sesuka itu padaku? Hem?"
"Zizi, kalau seandainya aku mengatakan iya apakah kamu akan kembali? Tidak bukan?"
"Ya, itu kamu menyadarinya, jadi lebih baik kita tetap berteman, deal!"
"Selamat siang, Fano!"
Huft, Fano begitu lembut dan menyenangkan, kenapa aku tidak bisa menyukainya, setidaknya bisa mengalihkan pikiran ku dari Zicko.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di cafe out door itu, sekitar dua puluh lima menit aku telah sampai, segera ku parkirkan mobilku dan keluar dari dalam. Ku edarkan pandanganku dan menatap cafe itu sedikit lama. Mengingat memori yang terpatri dalam ingatanku.
Di sana sudah ada seorang wanita yang melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lebar.
"Zizi, aku sangat merindukanmu!" Sasha langsung memelukku erat.
"Aku juga Sasha, sudah lama sampai sini?"
__ADS_1
"Baru sepuluh menit yang lalu, ayo kemarilah," Sasha menarik tanganku untuk duduk di salah satu kursi di sana.
"Aku sudah memesan kopi latte kesukaanmu." Ucap Sasha tersenyum. Sahabat ku ini memang sangat tahu kesukaan ku.
"Terima kasih ya, kamu masih ingat minuman kesukaanku!" aku menarik pipi Chubby Sasha gemas.
"Aww!"
Sasha mengaduh karena merasa sakit pastinya, yah aku memang mencubit pipinya sedikit keras.
"Ih, sakit tau, Zi!" Aku hanya terkekeh pelan melihatnya mendengus kesal.
"Habisnya pipi kamu tuh nge-gemesin banget!"
"Zizi, tau tidak ada berita besar untukmu, aku juga belum lama tahu soal ini, sih." ucap Sasha.
"Berita besar apa Sha? jangan membuatku gugup!"
Duh, kenapa tiba-tiba aku merasa deg-degan.
"Bukan hanya gugup tapi kamu harus menyiapkan mental!" ujar Sasha kali ini benar-benar membuat kaki ku lemas seketika.
Bersambung.
Jangan lupa dukung karya othor ya
__ADS_1