
Setelah membereskan semua barang dan pilot juga menelpon kalau pesawat sudah siap. Papi bagas, Sakha dan Chiko membawa koper-koper itu ke mobil.
Sedangkan Fatimah hanya diam saja tanpa tahu apa yang terjadi. Setelah memasukkan semua kopernya papi Bagas, Sakha dan Chiko kembali ke apartemen.
Papi Bagas memanggil Fatimah untuk berbicara.
" Nak Fatimah, kami harus membawa Ayra pulang dan kamu tahu sendiri kejadian tadi sungguh membuat Ayra cukup trauma. Jadi malam ini juga kami memutuskan untuk pulang." Ucap papi Bagas.
Deg ...
" Ya Allah, Ayra benar-benar di bawa pulang, terus aku akan tinggal dimana? Aku nggak punya uang untuk bayar sewa?." Ucap Fatimah dalam hati.
" Oh iya, kamu juga sudah tahu kan Sonya akan pindah ke sini." Fatimah mengangguk.
" Besok aku akan pindah ke sini nggak jadi bulan depan. Supaya kamu ada temannya jadi nanti kamu nggak usah sungkan. Sahabat Ayra, sahabat aku juga jadi santai saja." Ucap Sonya.
Fatimah bernafas lega setidaknya dia bisa bernafas lega karena masih punya tempat tinggal.
__ADS_1
" Ya sudah ya nak Fatimah kami pamit, assalamualaikum." Ucap papi Bagas berpamitan dengan Fatimah di ikuti oleh yang lainnya.
Chiko dan Sonya mengantar sampai ke bandara.
Papi Bagas juga tak lupa untuk menitip salam ke sepupu istrinya yang memang tinggal di gedung apartemen yang sama. Karena keluarga sepupu istrinya sedang berada di luar negeri.
Sonya dan papi Bagas pergi ke rumah sakit terlebih dahulu menjemput ayra dan mami Zafira baru ke bandara. Sedangkan Chiko dan Sakha memilih langsung menuju ke bandara dengan membawa koper-koper mereka..
Papi Bagas dan Sonya pun sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan tempat Ayra di rawat.
" Assalamualaikum."
" Gimana mih?." Tanya papi Bagas.
Mami Zafira menggeleng.
" Tapi sudah tidak histeris seperti tadi cuma papi bisa lihat sendiri."
__ADS_1
Papi bagas langsung menengok ke arah putrinya yang sedang duduk tapi pandangannya kosong. Perlahan papi Bagas mendekati putrinya dan mengelus kepala putrinya.
Ayra mengangkat kepalanya melihat ke arah papinya setelah itu dia kembali ke semula.
Papi Bagas pun pamit untuk menemui dokter dan mengurus biaya rumah sakit. Dan setelah semua beres mereka pun bersiap untuk berangkat ke bandara. Papi bagas juga meminta satu perawat untuk ikut selama penerbangan untuk jaga-jaga.
Saat akan di bawa ke luar dari dalam kamar rawat, Ayra sempat ketakutan. Akhirnya mami Zafira mendekap tubuh putrinya agar tidak melihat orang-orang di sekitar. Walaupun sedikit kesusahan tapi mami Zafira akan melakukan apa pun demi putrinya.
Mereka pun sampai di bandara beruntung mereka memakai pesawat pribadi jadi mempunyai jalur khusus. Sehingga tidak menemui banyak orang.
Begitu masuk Papi Bagas meminta Ayra langsung istirahat di dalam kamar yang ada di dalam pesawat di temani oleh perawat.
Sedangkan papi Bagas, mami Zafira dan Sakha duduk di kursi penumpang.
" Mas kita ke rumah sakit atau pulang ke rumah." Tanya mami Zafira.
" Kita langsung pulang, biar Ayra di rawat di rumah saja." Mami Zafira pun setuju.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya mereka pun sampai di bandara. Dan beruntung selama perjalanan kondisi Ayra sangat kondusif.
Begitu turun pesawat mobil yang menjemputnya sudah berada. Karena permintaan papi Bagas yang meminta izin mobilnya untuk masuk ke dalam Runway