
[Kondisi kesehatan Erthian memburuk.]
Sebuah laporan masuk ke ponsel Demian dalam bentuk pesan singkat. Setelah membaca pesan tersebut, Demian pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
Hari ini adalah hari ketiga Demian berada di tempat Jessica, dan meskipun ia tidak melakukan apa-apa, informasi terus berdatangan menyapa ponsel Demian. Laporan itu tidak lain dan tidak bukan datang dari Arden, rekan Demian yang dapat ia andalkan dalam apa pun, termasuk menggali informasi menyangkut keluarga Bellamy yang berada di Italy.
Erthian Bellamy adalah saudara Demian, dan informasi mengenai kesehatan Erthian yang memburuk cukup menjelaskan mengapa Demian sekarang diburu.
Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka ingin ia kembali dan menggantikan posisi Erthian yang melemah. Kedua, mereka ingin menyingkirkan Demian agar Erthian tidak mempunyai peluang untuk tersingkirkan.
Yang mana pun itu, Demian tidak menyukai keduanya. Demian tidak mau kembali ke Italy dan melakukan perebutan tahta ketika jelas-jelas, Erthian masih bernapas di sana.
"Apakah ini ulah Selina lagi?" Demian bergumam rendah.
Selina Bellamy, wanita berusia setara dengan Demian tersebut adalah ibu tiri Demian. Dia adalah sosok yang menolak Demian sebagai penerus keluarga Bellamy. Seolah-olah ia mempunyai pengaruh besar di Bellamy saja!
Demian mau muntah setiap kali ia mengingat arogansi wanita yang sempat menjadi teman sekelasnya tersebut.
Selina membenci Demian karena Demian tidak pernah mau memandangnya sebagai sosok ibu, dan Demian membenci Selina karena wanita itu sok berlagak seperti ibunya. Dua kutub yang berlawanan ini, daripada menciptakan daya yang tarik menarik, malah menciptakan permusuhan kental yang melewati kontinen.
Bahkan ketika Demian memutuskan melarikan diri ke Vegas, teror Selina yang berusaha menyingkirkannya masih datang silih berganti.
Demian jengah, tentunya. Namun, ia tidak ingin semerta-merta menyingkirkan Selina. Ia ingin wanita itu frustasi karena keberadaannya. Itu menyenangkan ketika ia bisa membuat wanita sinting itu meraung garang.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Demian saat itu juga. Ia beranjak dari posisi berbaringnya.
Dari arah pintu, Jessica muncul sambil membawa senampan makanan yang dari aromanya, membuat nafsu makan Demian tergugah.
"Kau sepertinya bersenang-senang sendirian," Jessica menyapa. Ia memperhatikan bagaimana ekspresi Demian cukup santai dan bahagia. Seakan-akan ia bukan pria yang sedang diteror keluarganya.
'Yah, terserahlah. Itu bukan urusanku!' Jessica mengendikkan bahu.
"Anyway, aku membawakanmu chicken wings karya chef Elliot Ambrose." Jessica menaruh semangkuk besar chicken wings dengan taburan daun bawang tersebut ke atas meja. Satu gelas besar jus lemon juga berada di sana.
"Waah..." Demian terpana. "Jika aku diperlakukan dengan baik seperti ini, aku tidak masalah bersembunyi seratus hari."
"Hanya seratus hari?" Jessica protes.
"Lebih lama dari itu, aku akan mati obesitas." Demian kemudian tersenyum.
Jessica benar-benar gadis baik hati, Demian sampai tidak tau sudah berapa kali ia memikirkan betapa baiknya Jessica.
__ADS_1
Padahal mereka baru bersama dalam kurun waktu tiga hari, tapi Demian sudah terkesan luar biasa atas perhatian yang gadis itu tumpahkan kepadanya.
"Apa kau baik-baik saja menyelundupkan makanan sebanyak ini ke kamarmu?"
"Tidak," jawaban Jessica jujur. "Elli sekarang mencurigaiku. Karena itu, aku harap satu minggu segera berlalu agar kau bisa lekas pergi dari sini. Setidaknya, dengan begitu situasinya akan kembali ke seperti semula."
"Wah, wah, wah. Aku baru saja memujimu di kepalaku, tapi sepertinya aku akan menarik kembali pujian itu."
Jessica mengendikkan bahu. "Makanlah."
"Bagaimana denganmu, apa kau sudah makan?"
"Aku akan makan nanti sore."
"Kenapa tidak sekarang?" Demian mencomot satu ayam dari mangkuk. Ia memberikan ayam itu satu gigitan sebelum kembali menatap Jessica yang masih berdiri berkacak pinggang di dekat sofa. Sepasang iris emerald-nya bersembunyi di balik kacamata baca bundar.
"Aku akan makan setelah aku selesai bekerja," kata Jessica. Ia mengacu pada berkas-berkas pekerjaannya yang sekarang menumpuk di tempat tidur.
Semenjak Jessica membiarkan Demian menginap di rumahnya, area sofa sekarang adalah milik Demian. Jessica, di sisi lain, memindahkan pekerjaannya ke tempat tidur.
"Kau bisa makan sekarang dan bekerja berikutnya," komentar Demian.
Demian bukan penggemar dari orang yang bekerja keras sampai lupa makan. Orang-orang seperti itu mengingatkan Demian pada Erthian, saudaranya yang sekarang menderita banyak penyakit di tubuhnya lantaran ia yang kurang merawat kesehatan.
Demian ingin membangkang, tapi disaat bersamaan, ia menyadari dirinya dan Jessica tidak cukup dekat untuk bertukar kecemasan. Berbeda dari Jessica yang memiliki empati tinggi, Demian bukan tipe pria yang gampang peduli dan menunjukkan kepeduliannya.
Bukan urusannya bila Jessica memutuskan akan makan atau tidak. Memang, seharusnya, ia tidak peduli pada apa pun keputusan yang Jessica buat. Namun, menyaksikan bagaimana gadis itu bekerja dengan perut kosong di seberang sana, Demian merasa sedikit cubitan di hatinya.
Semangkuk chicken wings yang Jessica berikan padanya menjadi tidak selezat sebelumnya.
*
Dingin tetesan air menyapa wajah Jessica. Ia yang sejak entah kapan terlelap di tempat tidur, spontan membuka mata saat tetesan air itu tidak berhenti menyapa wajahnya. Jessica membuka mata dan disaat bersamaan, sepasang iris hitam obsidian berada setara dengan matanya. Menatap tepat ke arah iris emerald-nya yang baru saja terbuka.
"Sudah bangun?" suara baritone itu menyapa, dan alih-alih menimpali, Jessica bangkit dan Bugh!
Demian termundur dengan hidung yang mengernyit sakit.
Jessica menyeruduk wajah Demian dalam sekali gerakan. Demian yang tidak siaga sama sekali mendapati kening dan hidungnya merasakan kekuatan dahi Jessica yang sekeras batu.
"What the F?" Demian meringis dan mengumpat berkali-kali. "Keparat, agh..., apa yang kau lakukan! Sheesh, aku bisa gegar otak karena kepalamu!"
Jessica--uniknya--tidak merasakan sakit yang seberapa. Karena rasa sakit yang sedikit di keningnya, Jessica jadi mengira Demian hanya mengada-ada.
__ADS_1
"Jangan berlebihan," tukas Jessica. "Salahmu sendiri karena sudah mengejutkanku."
Sementara Jessica duduk di bibir tempat tidur dan mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit, Demian masih mengusap batang hidungnya yang perih.
"Ah, apa aku ketiduran?" Jessica mengecek jam dan menyadari sekarang sudah jam setengah enam sore. Setelah mengecek jam, Jessica kembali menatap Demian yang berdiri tegap dalam balutan jubah mandi putih. Tangan sibuk mengusap hidung.
"Apa yang kau lakukan barusan?" Jessica jadi teringat kembali saat ia menemukan wajah Demian berada sejengkal dari wajahnya. Pria itu nyaris membuat Jessica jantungan dan mati dadakan.
Melihat wajah tampan ketika membuka mata adalah sesuatu yang baru bagi Jessica, dan langka.
"Aku..., mm, aku hendak membangunkanmu." Demian menimpali acuh tak acuh. Sumber air yang menetes dan membasahi wajah Jessica barusan datang dari surai ikalnya yang sampai sekarang belum ia keringkan.
"Apa kau lapar?" tanya Jessica.
"Huh?"
Hanya ada satu alasan mengapa Demian membangunkannya, dan dipikiran Jessica itu adalah makanan.
"Aku akan membawakanmu makan malam sebentar lagi," ujar Jessica. Ia beranjak sambil mengusap mata. "Sementara itu, makanlah apa yang ada di lemari pendingin. Aku akan mandi."
Tidak, adalah sanggahan yang tersangkut di kerongkongan Demian. Tidak sempat ia utarakan karena sekarang Jessica sudah berlalu dari hadapannya. Tidak, maksud Demian, ia tidak membangunkan Jessica agar ia memperoleh makanan atau apa pun, Demian hanya mencemaskan Jessica yang sudah tidur tanpa menyantap apa pun.
Demian hanya ingin Jessica membuka mata, menemaninya di sana. Demian hanya ingin menatap Jessica barusan, dan entah mengapa, tetesan air dari rambutnya yang basah malah membangunkan gadis itu.
Sialan!
Hampir saja ia menciptakan kesalah-pahaman. Untungnya, Jessica bukan gadis yang gampang curiga dan mendramatisir keadaan.
'Apa yang harus kulakukan sekarang?' Demian membatin bosan.
Kendati ia menyadari dirinya sedang dalam bahaya, tidak melakukan apa-apa seharian juga membuat Demian tidak nyaman. Demian ingin keluar dari persembunyiannya, berkelahi dan minum sampai pagi. Melakukan apa pun itu selain duduk di sofa sambil memantau seorang gadis asing bekerja.
Demian benci terkurung tanpa mampu melakukan apa-apa.
Demian benci kekosongan yang menciptakan pikirannya merayap ke area berbahaya setiap kali ia berada di dekat Jessica.
Demian benci aroma strawberry yang menguar di sekitarnya, meracuni benaknya dengan dahaga yang tidak akan pernah terobati terkecuali ia meraup gadis itu di dalam genggamannya.
"Sejak kapan aku menjadi serendah ini?" Demian, lagi-lagi, mengutuk pikirannya sendiri.
Tempat yang ia kira menjadi perlindungan sempurna, nyatanya menaruh bahaya tersendiri untuknya.
*
__ADS_1