
Sorry gak sempat update kemarin, jaringan internet di tempat author bermasalah seharian kemarin...:((( Gak tau apa masalahnya...anyway, selamat membaca...
...*...
Keesokan harinya, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Jessica bersama Demian dan Hestia akhirnya sampai di bandara. Dua buah mobil Jeep hitam menunggu kedatangan mereka, siaga dengan beberapa bodyguard juga.
Jessica turun berdampingan bersama Demian. Mereka hendak menuju mobil yang sama ketika dari belakang, Hestia menarik lengan Jessica.
"Aku akan membawa Jessica bersamaku," ujar Hestia.
Demian spontan meninggikan alisnya. "Aku akan ikut mengantar Jessica bersamamu."
"Tidak, Demian. Kau seharusnya menemui ayahmu sekarang. Kau sudah membuat beliau menunggu terlalu lama. Masalah Jessica, aku yakin dia tidak akan keberatan berpisah denganmu barang sejenak saja. Bagaimana Jessica?"
Ditatap tajam oleh Hestia, Jessica merasa wanita itu akan melahapnya hidup-hidup. "Bibimu benar, Demian. Lagipula..., aku dan bibimu akan mempunyai waktu yang panjang untuk mengakrabkan diri satu sama lain."
Itu dusta.
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku mengikutimu kemari bukan untuk menjadi ekormu. Pulanglah terlebih dahulu dan temui aku ketika kau mempunyai waktu luang." Jessica meyakinkan.
Demian sebenarnya tidak berniat melepaskan Jessica dari rangkulannya, tetapi, ketika ia melempar tatapan ke arah Hestia, Demian tidak bisa tidak menuruti permintaan wanita tua itu. Hestia bersungguh-sungguh.
"Aku percayakan Jessica padamu," Demian berujar pada Hestia, sebelum ia berlalu dari sana, sebuah kecupan di pipi ia berikan pada bibinya tersebut. "Aku mohon padamu." tambahnya, seperti bisikan.
"Jangan meragukanku, Demian." Hestia melepas keponakannya tersebut dengan seringai bosan. "Jessica akan sangat aman bersamaku."
"Terima kasih."
Selepas kepergian Demian, Hestia dan Jessica melempar lirikan ringan. Wanita paruh baya itu secara tersirat menyuruh Jessica menuju satu buah mobil yang masih menunggu mereka.
"Perjalanan dari bandara menuju Sorrento bisa memakan waktu satu jam-an." Hestia memberikan penjelasan.
"Apa rumahmu berdekatan dengan mansion Bellamy, Hestia?"
"Maaf meruntuhkan harapanmu, tapi..., Rhoden manor berada cukup jauh dari kediaman utama Demian."
"Ah..., aku juga tidak berharap mereka berdekatan, sebenarnya. Itu melegakan." Jessica tidak mau tanpa sengaja menemukan Erthian di dekat rumahnya, itu menakutkan. Jessica ingin berada sejauh mungkin dari pria bajingan itu.
"Apa kau sudah menceritakan pada Demian mengenai apa yang terjadi padamu dan Erthian malam itu, Jessica?"
Jessica mengerutkan keningnya, ia tak menyukai topik yang sudah Hestia ungkit di depan wajahnya. "Aku tidak tau apa yang kau maksudkan. Tidak ada yang terjadi di antaraku dan Erthian." Ujaran Jessica penuh kepastian.
"Haaaa, aku akan menyerahkan situasi itu padamu saja kalau begitu." Hestia--tanpa ada niat melanjutkan ucapannya--mulai menyandarkan kepala di bangku. Ia mengistirahatkan diri sementara Jessica di sebelahnya termenung sambil menatap keluar jendela.
Jessica--kendati berada di kota yang mempunyai keindahan alam yang memukau mata--merasakan kehampaan yang luar biasa. Jessica merindukan kawan-kawannya.
Apa yang Ethan lakukan sekarang? Apa dia akan mengeluh karena sudah menerima tugas sebagai penanggung jawab sementara di Elixir? Oh, Jessica juga merindukan sarapan yang disajikan Elliot. Makanan di pesawat tadi tidak mempunyai ciri khas Elliot sama sekali. Dania juga..., Jessica rindu racauan gila sahabatnya.
'Aku harap Demian segera menyelesaikan masalahnya.' Jessica membatin sambil menatap kepada cakrawala.
Semakin cepat masalahnya terselesaikan, semakin cepat mereka pulang.
...*...
Seperti yang dikatakan Hestia, perjalanan menuju Sorrento memang memakan waktu satu jam-an. Jadi, selama satu jam di mobil bersama Hestia, Jessica terpaksa bungkam karena ia tidak mau memancing obrolan dengan wanita penyihir itu.
Setelah satu jam dan beberapa menit berlalu, mobil yang mereka kendarai akhirnya menapak di depan sebuah bangunan megah bergaya eropa. Pagar tinggi melingkupi bangunan itu dan beberapa pengawal seketika berlarian membuka pagar ketika mobil mereka mendekat.
"Selamat datang di kediaman Rhoden, Jesse." Hestia berujar sambil meluruskan punggungnya. "Aku harap kau menikmati waktu menetapmu di sini."
"O-oh, terima kasih."
Apa-apaan ini? Jessica tau keluarga Demian kaya-raya, tapi..., memiliki pekarangan yang lebih luas dari lapangan bola? Bangunan megah yang seperti kastil? Air mancur dengan beberapa patung cupid? Apa ini negeri fiksi?
"Tidak jauh dari sini ada pantai. Kalau kau sudah puas beristirahat, kau bisa mengajak pelayanku untuk berjalan-jalan. Aku akan memberikanmu beberapa escort juga."
"E-eh?" Seketika saja, penampilan Hestia yang seperti penyihir, berubah seperti malaikat di mata Jessica. Mengapa wanita itu tiba-tiba baik hati padanya? Apa dia kesurupan?
"Selamat datang, Miss. Hestia." Seorang wanita dengan jas hitam membingkai tubuhnya membukakan pintu untuk Hestia. Di sisi lain, pintu Jessica di buka oleh seorang pria muda dengan setelan jas yang sama.
"Selamat datang di Rhoden Manor, Miss. Cerise."
"O-oh, Jessica saja."
Begitu Hestia dan Jessica menapak di depan Rhoden manor, Hestia memperkenalkan Jessica sebagai tamu di kediaman Rhoden untuk beberapa jangka waktu ke depan. Hestia juga memberitahu Jessica kalau pria dan wanita yang tadi membukakan pintu untuk mereka akan ditugaskan sebagai pengawal Jessica.
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi, Hestia." Jessica berujar dengan perasaan tak nyaman. Jessica bagaimanapun tidak ingin menjadi beban.
"Aku melakukan ini untuk keponakanku," ujar Hestia. "Jika kau berterima-kasih, silakan berterima-kasih padanya."
"Well..., baiklah."
Seusai bertukar kata dengan Jessica, Hestia lalu melenggang meninggalkan Jessica bersama dua pengawal barunya.
"Perkenalkan, aku Lisa dan ini Robin. Kami yang akan bertugas menjadi escort-mu, Miss. Cerise. Jika kau membutuhkan sesuatu atau ingin pergi ke suatu tempat, kau bisa memberitahu kami."
"Uhm,,, terima kasih. Sebelum itu, aku akan merasa lebih nyaman bila kalian memanggilku Jessica."
"Baiklah, Miss. Jessica."
Tidak, sebenarnya, Jessica hanya ingin dipanggil Jessica saja tanpa ada embel-embel Miss di belakangnya. Jessica tidak berniat diperlakukan seperti puteri raja ketika ia hanya tamu di sini. Namun, mungkin itu adalah aturan yang sudah diberikan pada mereka. Jadi Jessica tidak mau memberikan penekanan pada apa pun lagi.
Terserahlah. Jessica hanya ingin beristirahat sekarang.
"Bisa kau tunjukkan di mana aku bisa beristirahat, Lisa?"
"Ah, benar. Kau pasti sangat kelelahan." Lisa lalu membuka langkah di depan Jessica. "Aku akan menuntunmu ke kamarmu, Miss."
"Terima kasih."
Jessica pun mengikuti Lisa dari belakang. Selama mereka melenggang menuju kamar yang diperuntukkan untuk Jessica, mereka mendaki tiga tangga dan melenggang melewati beberapa ruang yang pintunya tertutup rapat. Jessica mengamati kediaman Hestia dengan kerongkongan mengering dalam ketakjuban. Jessica tidak bisa membayangkan berapa banyak uang yang harus ia investasikan, berapa tahun dan berapa jam ia mampu kumpulkan untuk bisa membangun tempat semegah ini.
"Apa itu..., emas asli?" Jessica sampai berhenti melangkah ketika ia melihat sebuah guci antik yang terpajang di dekat tangga. Ia melihat kilau guci itu tidak biasa, Jessica jadi curiga.
"Begitulah."
"Waaah, bagaimana dengan lukisan itu?"
"Pendahulu sir Rhoden memperolehnya saat pelelangan sebelum perang dunia kedua."
E-eh?
"Apa barang-barang di sini serba antik?"
"Pajangan-pajangan di sini adalah peninggalan keluarga Rhoden turun-temurun, jadi kebanyakan memang barang-barang antik. Namun..., baru-baru ini miss. Hestia memesan chandelier baru itu..." Lisa menunjuk lampu gantung yang menjuntai jelita di tengah ruangan. Chandelier kaca itu berkilauan jelita seperti kristal.
"Miss. Hestia mempunyai selera yang luar biasa, memang. Dia sendiri yang mendesain setiap keping dari chandelier itu."
"..."
"Karena keluarga Rhoden sangat menyukai hasil karya yang authentic, mereka senang melibatkan tangan mereka dalam setiap urusan."
"Ah...," Jessica agak mengerti bagian itu karena Hestia memang terkesan seperti orang yang suka ikut campur. "Ngomong-ngomong, di mana kamar Hestia?"
"Kamar Miss. Hestia berada di lantai bawah."
"Oh, itu mengejutkan." Jessica mengira wanita itu akan menetap di puncak tower rumahnya.
"Beliau mempunyai tubuh yang tua, jadi sebelum dia menciptakan bencana seperti nyonya rumah sebelumnya, Hestia memutuskan pindah ke lantai bawah." Tunggu, apa itu artinya pendahulu di rumah ini sempat celaka karena tinggal di lantai atas?
"Situasinya akan lebih baik bila Hestia membangun elevator di rumah ini." Dengan begitu, dia tidak perlu takut apa pun, kan?
"Hahahaa..., itu ide yang menarik." Lisa dan Robin lalu tertawa. "Moyang keluarga Rhoden akan bangkit dari tanah kalau situasi itu sampai terjadi, Miss. Jessica."
"Ah..." Jessica sepertinya sudah berkomentar terlalu gampang. Bagaimana bisa ia melupakan fakta kalau rumah ini adalah warisan turun-temurun. Merenovasinya dengan gaya modern sama saja seperti melakukan penistaan.
"Kamarmu di sini, Miss." Lisa berhenti melangkah di depan sebuah ruang dengan pintu yang terbuat dari kayu dan berwarna cokelat tua. Robin membuka pintu kamar itu dan mempersilakan Jessica masuk duluan ke dalamnya.
Setelah itu juga, ketika Jessica menapakkan kakinya di sana, Jessica dikejutkan oleh pemandangan kamar yang luas dan lebar. Ornamen-ornamen antik dan mahal terpajang di dalam kamar itu, menyatu elegan dengan dinding yang berwarna kuning pudar.
"Apa kau menyukai kamarnya?" Robin bertanya seraya menyengir tipis. "Kalau kau merasa tidak nyaman, kami bisa memindahkanmu ke kamar lain."
"Eh, ugh..., kurasa ini lebih dari cukup." Jessica menanggapi sambil melenggang menuju balkon kamarnya yang terbuka. Cahaya lembut dari matahari menyusup masuk dari sana.
Setiba di balkon, Jessica merasakan tiupan angin laut berembus menyapa wajahnya. Memberikan ia kenyamanan dan ketentraman.
Tempat itu begitu indah dan menakjubkan.
Di kejauhan, Jessica bahkan bisa melihat pesisir pantai dan laut biru.
Rasanya seperti masuk ke dalam lukisan...,
"Kami akan meninggalkanmu untuk beristirahat, Miss. Setelah ini juga, pelayan akan mengantar makanan ke kamarmu. Nyamankan dirimu di sini. Kalau kau membutuhkan hal lain, silakan hubungi aku melalui radio ini."
__ADS_1
"Ah, ummm..., terima kasih." Menanggapi Lisa, Jessica pun menutupi ucapannya dengan seulas senyuman. Jessica masih belum terbiasa pada pelayanan yang ia terima. Apa ini kehidupan orang kaya yang sesungguhnya?
Anyway...
Mengesampingkan segala kemewahan dan keanggunan tempatnya berada sekarang, selepas Lisa dan Robin pergi, Jessica langsung mendaratkan tubuhnya ke tempat tidur. Jessica sangat lelah sekarang. Jadi, alih-alih berganti pakaian dan bersiap-siap untuk berpetualang di Sorrento, Jessica seketika terlelap.
Jessica butuh merilekskan tubuhnya, menenangkan pikirannya. Jessica butuh istirahat yang panjang sebelum memulai hari-harinya yang akan rumit ke depan.
...*...
Demian datang keesokan harinya.
Dia membawa sekeranjang buah-buahan untuk Jessica.
"Aku memetik semua ini tadi," Demian berujar bangga, senyumnya merekah bahagia begitu ia melihat Jessica-nya sedang menikmati sarapan di halaman belakang Rhoden Manor. Di bawah pepohonan yang rindang, meja makan tempat Jessica berada sekarang dipenuhi oleh makanan-makanan lezat yang terbentang dengan berbagai varian. Jessica--di sana--tampil seperti peri dengan elok rupa dan teduh suasananya. Demian lagi-lagi terkesima.
Jessica ditemani oleh dua orang pengawal, dan ketika Demian datang, dua orang pengawal itu membungkuk hormat padanya.
"Ini banyak sekali..., terima kasih." Jessica menerima keranjang buah yang diserahkan Demian dengan agak takjub. Di mana Demian memetik apel sebanyak ini?
"Anyway, Jesse...., bagaimana rasanya menginap di sini? Apa kau suka? Apa kau tidak takut tidur sendirian?"
"Itu pertanyaan yang menggemaskan. Apa aku bocah yang akan takut tidur sendirian?"
"Well, tempat ini cukup suram, kan?"
"Sepertinya pendapatmu dan pendapatku mengenai hal yang 'suram' cukup jauh berbeda."
Meskipun Rhoden manor merupakan bangunan tua, tempat itu tidak serta-merta menjadi hunian makhluk tak kasat mata. Tidak pula tempat itu memancarkan aura seram dan suram. Lagipula, hantu mana mau menetap di manor yang sepenjuru ruangannya terang-benderang? Rumah itu memiliki terlalu banyak cahaya daripada tempat gelapnya.
"Tidak ada hal yang bisa menakuti orang yang sudah menetap lama di Vegas," ujar Jessica lagi.
Vegas bagaimanapun, mempunyai gang-gang suram yang menakutkan. Bukan karena hantu, tapi orang yang berkeliaran di tempat itu lebih mengerikan daripada hantu. Oh, Demian juga pernah menjadi orang-orang yang menakutkan itu, bukan? Jessica ingat pernah bergidik ketakutan melihat Demian menghajar orang.
'Mungkin karena itu aku tidak mau dia menghajar Erthian sampai mampus, melihatnya berkelahi begitu mengerikan.' Jessica membatin sambil tersenyum sendiri.
"Hmmmm, perasaanku saja atau kau sedang memikirkan hal lain?"
"Aku memang sedang memikirkan hal lain."
"Bagaimana bisa kau melakukan itu ketika aku berada di hadapanmu?" Demian merajuk. Baru sebentar dia meninggalkan Jessica dan sekarang perhatian gadis itu sudah teralihkan darinya. Sialan, haruskah ia membawa Jessica di kantongnya? Andai saja dia adalah penyihir yang bisa menyusutkan Jessica seukuran gantungan kunci, gadis itu akan ia penjarakan di dalam genggamannya seharian.
"Aku punya banyak waktu luang sekarang, jadi pikiranku dengan gampangnya melayang kemana-mana."
"Huh, begitukah? Jadi, apa yang kau pikirkan barusan?"
"Seseorang yang tampan," sahut Jessica, ia berujar sambil menusuk pipi Demian juga. "Kau tidak akan kenal."
"Apa-apaan itu? Apa kau tau, memikirkan pria lain ketika kau sudah mempunyai kekasih adalah bentuk perselingkuhan?"
"Waaaah, bagaimana ini? Sepertinya aku sudah mengkhianatimu?" Jessica berakting prihatin, matanya menatap Demian dan tak berselang lama, tawa Jessica pecah juga. Bagaimana Demian bisa terlihat begitu menggemaskan ketika kesal? Jessica sangat gemas! Ughh!!!
"Kelihatannya kau sangat puas sudah menggodaku, huh?"
Demian menopang lengannya di meja. Sambil menatap wajah Jessica yang tersenyum cerah, Demian merasakan sedikit beban di pundaknya terangkat. Demian pikir Jessica akan terbenam dalam frustasi dan depresi karena sudah dipaksa untuk mengikutinya ke sini. Namun, terima kasih pada pemandangan indah ini, Demian tau kalau kondisi mental Jessica tidak begitu buruk.
Dia sepertinya baik-baik saja.
"Berisik." Jessica menendang kaki bangku Demian sebelum kembali menyantap sarapannya yang sempat tertunda. Jessica memberikan beberapa sendok porsinya kepada Demian dan pria itu menyantap makanannya dengan lahap dan tanpa penolakan.
"Apa kau punya rencana spesifik hari ini?" Demian kembali bicara, kali ini setelah menyesap habis jus jambu Jessica di meja. Demian lalu berdiri dan berpindah ke belakang Jessica. Ia mengambil scrunchy Jessica di meja dan mengikat surai hitam gadis itu yang terurai panjang dan mengganggu wajahnya ketika angin datang.
"Karena sekarang musim gugur, angin menjadi lebih kuat. Aku harap kau selalu memakai pakaian tebal dan jangan lupa membawa syal."
Jessica menengok sebentar ke arah Demian, "Terima kasih."
Jessica mengakhiri sarapannya dan mengelap bibirnya dengan serbet. "Aku tidak punya rencana apa pun hari ini, bagaimana denganmu?"
"Aku juga tidak ada..." Demian seketika antusias. "Mau jalan-jalan bersamaku?"
"Apa ini tawaran kencan?"
Demian menunduk dan memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Jessica, "Ini sudah pasti kencan," ujarnya.
"Baiklah..." Jika itu bersama Demian, Jessica tidak keberatan. "Aku akan bersiap-siap sebentar.
...*...
__ADS_1