
Demian Bellamy berdiri di bawah lampu jalan. Sebatang rokok tersemat di mulutnya, bara menyala merah. Asap bergumul tipis di sekitar wajahnya dan perlahan-lahan memudar di bawah cahaya.
Sementara Demian berada di sana, merenung tanpa suara, sebuah motor besar bewarna merah muncul dari persimpangan jalan dan berhenti tepat di depannya.
"Aku dengar kau akan kembali besok, ada apa dengan perubahan yang tiba-tiba?" seorang pria--Adam--turun dari motor tersebut. Ia melepaskan helm yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Demian.
"Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu," sahutan Demian membuat Adam mengernyit tak senang.
"Baiklah, terserah." Adam mengantongi tangannya di saku jaket kulit yang ia kenakan. Matanya memperhatikan pergerakan Demian yang sekarang mendaki ke motor merah yang sebelumnya ia kendarai.
Motor itu adalah motor Demian. Tadi, ketika Adam sedang menikmati sekaleng bir di bibir jalan, seseorang menghubunginya dan meminta ia mengantarkan motor Demian ke sini. Adam, tanpa mampu membantah pada orang itu, segera menurut dan di sini lah dia sekarang.
"Oscar menunggumu di Bronze," kata Adam.
"Aku tau."
Setelah menimpali Adam, Demian pun menyalakan motornya. Sebuah helm hitam sekarang membingkai wajahnya. Raungan dari mesin motor itu menyapa telinga Adam dan dalam sepersekian detik setelah raungan itu terdengar, Demian sudah melesat laju di jalan. Kibaran flanel hitamnya adalah hal terakhir yang Adam lihat sebelum Demian menghilang di kejauhan.
*
Sebuah tas kulit dengan brand mahal melekat di sampulnya masih teronggok di lantai kamar Jessica. Ia tidak menyentuh tas itu sama sekali, tidak pula ia penasaran terhadap isinya. Di dalam pikiran Jessica, isi tas itu sudah pasti adalah uang. Demian memberikannya uang atas jasanya selama ini.
Sungguh arogan sekali!
Apa dia mengira dia bisa membalas budi kebaikan orang lain dengan uang? Hanya karena dia punya uang!
"Kalau kau mempunyai uang, kau seharusnya tidak menginap di sini." Jessica mendumel kesal kepada tas hitam tersebut. Seakan-akan tas itu adalah pengganti Demian.
"Aku mengerti karena kau sudah aman dari incaran keluargamu atau siapa lah itu, hidupmu sudah kembali normal dan sekarang kau bahkan berbaikan dengan cinta sebelah tanganmu. Uh, romantis sekali."
"..."
"Tapi sialan, hanya karena kau sudah mendapati duniamu kembali berputar dengan normal, kau mencampakkan orang yang sudah membantumu di masa sulit begitu saja? Melemparkan uang ke lantai, apa dia ibu mertua jahat di drama-drama? Kau seharusnya belajar berterima-kasih dengan tulus, keparat!"
Jessica berdiri dari tempat tidur. Kakinya yang terbalut kaos kaki bermotif panda, menyenggol tas hitam itu. Omong-omong, tas itu cukup berat. Apa karena bahan kulitnya atau karena isinya?
Jessica menyeret tas itu dengan kakinya sebelum menendang tas itu ke bawah tempat tidurnya.
Sebagai gadis dengan ego dan moral yang setinggi burj khalifa, Jessica menolak untuk menggunakan, menyentuh atau sekedar menengok uang yang diberikan Demian kepadanya. Jika suatu-waktu ia bertemu pria itu, Jessica bersumpah akan melempar tas itu kembali ke kaki Demian.
__ADS_1
'Pria tidak tau diri, aku harap dia tersedak liurnya sendiri!'
Jessica membatin frustasi.
Sekarang situasinya sudah kembali seperti sedia kala. Namun, tidak seperti Jessica akan merayakan kebebasannya dengan menari zumba atau apa pun, ia malah merasa kesal. Sangat kesal dan menyesal. Amarah menumpuk di dadanya seperti pakaian kotor.
Rasanya seperti kebaikan yang ia berikan pada Demian selama ini malah pria itu ludahi. Ia tidak dihargai sama sekali.
"Keparat! Agh!" Jessica mengacak rambutnya geram. Mengapa bersikap baik kerap membawanya kepada kesialan?
Andai saja ia dididik jahat sejak kecil, mungkin ia tidak perlu merasakan remasan kuat dan menyakitkan di jantungnya ketika ia berbuat kejam.
Andai saja ia bisa menjadi sosok kuat yang tumbuh tanpa empati, dia tidak akan perlu merengek atas perlakuan tidak adil ini. Dia tidak perlu bersedih hanya karena ia tidak diapresiasi.
Sungguh kekanakan.
*
Bronze--salah satu casino terbesar di Vegas tersebut masih menyala terang-benderang, tidak peduli kalau sekarang sudah pukul dua dini hari. Alunan musik R&B menggaung di dalam ruangan bernuansa keemasan tersebut. Meja-meja perjudian terbentang luas di kiri dan kanan ruangan, pelayan berlalu-lalang.
Dealer menyebar di setiap meja, menemani para tamu bermain hingga pagi datang.
Saat itu juga, Demian yang baru tiba di sana segera menuju sebuah meja yang cukup renggang jumlah pemainnya.
Dealer tersebut sedang mengocok kartu ketika Demian datang menyapanya. Para penghuni meja seketika membubarkan diri ketika mereka menyadari siapa yang bergabung dengan mereka.
Demian--dari semua orang, adalah orang yang tidak ingin mereka lawan. Perjudian jadi tidak menyenangkan bila pria itu muncul dan memenangkan segala pertaruhan.
"Seseorang sepertinya sudah bisa bernapas dengan lega," dealer ber-nametag Oscar Brown tersebut bicara sambil mengurai kartu di atas meja. "Apa kau akan bermain?" tanya Oscar kembali.
"Let's play blackjack." Demian menimpali tanpa minat yang berarti.
Sementara permainan kartu berjalan, Demian dan Oscar sesekali bertukar obrolan. Tidak ada perbincangan yang berarti. Kebanyakan topik obrolan mereka adalah mengenai situasi yang terjadi di Bronze ketika Demian bersembunyi. Kondisi di jalanan, di Bellamy dan ya..., satu-satunya hal yang tidak menyenangkan Demian adalah ketika Oscar menanyakan tempat persembunyiannya.
"Jessica Cerise, bukan?" Oscar bertanya tenang.
Demian spontan mengangkat wajahnya menuju Oscar. "Aku tidak ingat memintamu menggali informasi menyangkut Jessica."
"Aku hanya melakukan persiapan," ujar Oscar. "Sebelum kau meminta, aku sebaiknya mempersiapkan informasi tersebut. Bukankah aku sangat pengertian?"
__ADS_1
"Jangan melewati batas, Oscar." Demian menutup permainan itu dengan menyerahkan dua kartu berjumlah 20. Ia tidak mendapat blackjack (kartu yang berjumlah 21), tapi ia lebih dekat daripada Oscar yang memegang kartu berjumlah 23.
"Kau tidak perlu begitu overprotektif," ujar Oscar. Ia memanggil pelayan yang berdiri di dekat mereka. "Panggil seseorang untuk menggantikanku, dan siapkan kamar untuk tamuku."
Oscar Brown, kendati berpenampilan layaknya dealer yang bekerja di Bronze, merupakan pemilik Bronze itu sendiri. Oscar tidak punya niat apa-apa dengan berbaur sebagai dealer di casinonya, jujur saja. Ia hanya senang berjudi. Oscar senang mempertaruhkan hidupnya di atas meja, menguji keberuntungannya.
Demian tidak menyukai Oscar, tapi ia sudah menjadi partner pria itu dalam mengelola Bronze. Sebagaimana Demian adalah tangan kanan Oscar, Oscar pun berada di posisi yang sama dengan Demian. Simbiosis mutualisme.
"Rasanya sudah lama sekali sejak aku melihat wajahmu bersih begini." Oscar bicara sambil menyinggung penampilan Demian yang sekarang lebih baik daripada sebelum-sebelumnya.
Biasanya, Demian selalu muncul di hadapan Oscar dengan wajah babak belur. Plester di sana-sini, aroma alkohol dan tembakau, rambut kering dan kacau.
"Karena aku harus bersembunyi, aku tidak bisa berkeliaran dan membuat keributan, kan?" Demian membela diri. Ia, kendati merasa risih dengan penampilannya sekarang, merasa cukup terkesan juga.
Maksud Demian, hei, ternyata dia bisa bertahan hidup tanpa memukul orang dan bergelut di jalanan.
"Kau dirawat dengan baik," tambah Oscar lagi. Ia dan Demian melenggang menuju sofa yang berada di area VVIP. Mereka duduk berdampingan, tiga botol wine tergeletak di atas meja kaca, menemani perbincangan mereka.
"Mengenai keluargamu," Oscar mengungkit kembali topik yang tidak mampu mereka bicarakan dengan suara besar dan santai. "Aku merasa sesuatu yang besar akan menghampirimu."
Demian juga merasakan hal yang sama, tapi ia tidak menyangka kalau Oscar pun merasakan hal yang serupa. Apa itu insting penjudinya yang selalu waspada?
"Mengapa kau berpikir begitu?" tanya Demian, memancing penjelasan.
"Sebuah zat beracun ditemukan dalam tes darah Erthian."
"..." Itu informasi baru.
"Kendati Erthian mengonsumsinya dalam jumlah sedikit. Jika ia mengonsumsinya rutin, zat tersebut mampu merusak organnya." Dalam kata lain, Erthian bisa meninggal dunia.
Oscar menyesap wine yang dituangkan pelayan untuknya. Ia melirik perubahan ekspresi Demian yang berubah kelam. "Kau adalah tersangka nomor satu dalam kasus ini, Demian."
"..."
"Walaupun kau tidak melakukan apa-apa, kau adalah orang yang mempunyai alasan yang paling masuk akal untuk melukai Erthian."
Karena Demian membenci Erthian.
Karena Demian tidak akan kembali ke rumahnya, tidak bila Erthian masih bernapas di sana.
__ADS_1
Demian menghela napas panjang. Malam ini menjadi lebih menjengkelkan.
*