MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
83. Ucapan Selamat


__ADS_3

Jessica merasa sangat konyol dalam balutan dress merah yang Dania berikan. Ia memakai gaun tersebut sambil meringis sesekali.


Secara menyeluruh, tentunya, tidak ada yang salah dari selera Dania. Gaun itu indah memikat mata, sangat pas juga dengan tubuh ramping Jessica. Akan tetapi, selalu ada tapi, Jessica merasa tidak nyaman dengan belahan panjang di rok gaun tersebut.


Setiap kali Jessica melangkah, kaki kanannya terekspos hingga ke paha. Setiap kali Jessica melangkah juga, Jessica merasakan malu luar biasa.


"Daripada malu pada kakimu yang terekspos seperti itu, kau seharusnya malu pada mata cekungmu itu. Ini hari ulang tahunmu dan kau malah berpenampilan lesu. Aku hampir meratakan seluruh concealer-ku ke wajahmu, asal tau saja."


"Tsk, aku sudah terlahir seperti ini. Mau bagaimana lagi? Hanya karena ini hari ulang tahunku, bukan berarti aku bisa tiba-tiba berubah menjadi Bella Hadid yang cantiknya luar biasa." Jessica balas mengomel.


"Kalau kau tidak bisa menjadi Bella Hadid, setidaknya normal lah sedikit. Siapa yang menyuruhmu minum alkohol berliter-liter sebelum acara ulang tahunmu? Kau juga tidak tidur? Sekarang pori-pori wajahmu terbuka semua. Kantung matamu juga..., ugh. Aku mau menangis, seriusan."


Mendengar rengekan bawel Dania, jujur saja, Jessica juga merasa ingin menangis. Sialan, mengapa ia menyetujui event ini sebelumnya? Kalau dia tau dia harus memakai sepatu heels yang membuatnya setinggi burj khalifa, Jessica lebih baik tidak merayakan ulang tahunnya sama sekali.


"Ayo turun," ajak Dania.


Menuruti kemauan kawannya tersebut, Jessica pun akhirnya pergi.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 lewat lima belas. Pesta sudah di mulai dan beberapa tamu juga sudah hadir di Elixir. Kebanyakan tamu yang datang adalah rekan-rekan bisnis Jessica, beberapa lagi merupakan teman-temannya yang menetap di Vegas dan beberapanya lagi adalah tamu reguler di Elixir yang mendapat invitasi istimewa dari Dania.


Ketika Jessica turun dari kamarnya dan bergabung di keramaian, berpasang-pasang mata yang berada di sana spontan menyambutnya dengan keantusiasan. Senyum bermekaran penuh kemeriahan.


Tepat ketika Jessica turun juga, beberapa orang bergantian maju menyapanya. Memberikan ucapan selamat yang disertai doa-doa dan pujian ramah.


"Terima kasih sudah datang," sahut Jessica. Kali ini kepada Samuel dan Miura--teman alumninya saat SMA--yang datang bergandeng tangan.


Melihat kedekatan keduanya, Jessica mau tidak mau curiga. Apa ada sesuatu yang dia lewatkan dari group chat alumni sekolahnya? Well, pada dasarnya, Jessica memang membisukan group chat itu, tapi ia tidak menyangka pembisuan itu membuatnya buta akan kedekatan keduanya.


Sejak kapan Miura dan Samuel bersama?


"Oh, Jessicaaaa..., selamat sudah berusia 29 tahun. Kau sudah hidup selama ini tapi aku tidak melihat siapa pun di sisimu sama sekali. Apa ini berarti kau masih setia melajang sampai tua?" Miura bicara dengan nada suara jenaka, tapi Jessica tau dia tidak bercanda. Miura hanya senang mengusiknya.


"Lebih baik melajang, kan, daripada mempunyai pacar dengan wajah pas-pasan." Dania ikut bicara. Walau dia tidak kenal baik siapa Miura dan Samuel.


"Tampan itu hanya sementara," ujar Samuel juga. Sepertinya tersinggung. "Mendapatkan pria dengan pekerjaan yang mapan adalah hal paling utama. Aku semisalnya, adalah pengacara. Kalau kau mau bekerja sama denganku, kau bisa mengontak firma hukumku di nomor ini.."


Samuel lalu menyerahkan kartu namanya pada Dania. "Jangan sungkan, untuk masalah harga jasa, aku cukup ramah kepada teman-temanku yang membutuhkan."


"Hahaha..." Oh, betapa Dania ingin meninju teman Jessica yang satu ini. Arogan sekali, demi Tuhan. Dania ingin meludahi dan menamparnya sampai mati.


"Tahan dirimu, Dania..." Jessica menoleh ke arah Dania sambil berbisik rendah. Setelah membisik Dania, Jessica pun menoleh ke arah Samuel.


"Terima kasih atas tawaranmu," ujar Jessica. Ia menyambut kartu nama Samuel yang omong-omong, sudah ia terima di hari reuni SMA mereka beberapa bulan lalu. Apa pria ini lupa atau dia hanya mempunyai kartu nama terlalu banyak di kantongnya?


Sementara Jessica kembali membaur di antara tamu-tamu, berbasa-basi mengenai ini dan itu, Jake Allendale datang dari pintu depan. Dia membawa janette Allendale bersamanya. Saat itu juga, kehadiran keduanya--tanpa usaha apa pun--sudah berhasil menarik perhatian seisi ruang. Kepala-kepala berpaling ke arahnya, menyuarakan tanya yang tidak jauh berbeda, sama.


"Siapa dia?"


"Tamu Jessica?"


"Bukankah itu Jake Allendale?"


"Tunggu, tunggu...., itu..., Janette?"


Tanya-tanya bersahutan di udara, meragu dalam samar sementara Janette dan Jake melenggang santai menghampiri Jessica.


"Happy birthday," ucap Janette duluan. Ia memberikan kecupan singkat di pipi kanan dan kiri Jessica sebelum menyerahkan sebuah tas besar berwarna merah muda. "Hanya ini bingkisan kecil yang dapat kuberikan. Aku tidak mampu mempersiapkan hadiah karena adik tololku yang satu ini baru mengabariku mengenai ulang tahunmu tadi pagi."


"Waah, astaga..." Jessica speechless. Bagaimana bisa goodie bag yang mampu menampung satu manusia itu dia katakan sebagai bingkisan kecil? Apa Janette memberikan hadiah pesawat pada kawan-kawannya yang berulang tahun?


"Terima kasih, Jane. Aku sangat mengapresiasi ini. Aku tidak menyangka kau akan datang juga."


"Karena aku menyukaimu, aku pasti datang."


Setelah bicara dengan Jane, secara natural, giliran Jake lah yang mengajak Jessica bicara. Ia memberikan gadis itu kecupan manis di pipi kiri dan kanan Jessica, dan setelah memberikan pujian atas penampilan Jessica hari ini yang dianggapnya begitu mempesona, Jake pun menyerahkan sebuah kotak hadiah yang disertai sebuket bunga itu kepada Jessica.


"Aku harap kau menyukai hadiahku," bisikan Jake ditanggapi Jessica dengan senyuman.


"Kau harusnya tidak repot-repot," ujar Jessica sebagai balasannya. "Terima kasih."


Ketika pertukaran ucapan dan hadiah terus berjalan, Ethan yang bersandar di dinding, sesekali menatap ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Ethan berharap Demian akan datang dan membuktikan pada semua orang kalau dia bukan bajingan. Ethan percaya pada Demian, karena itu ia terus memberikan pria itu kesempatan.


Namun, hingga pukul sembilan malam, Demian tak kunjung datang.


Jessica yang sejak tadi berbaur bersama tamu, tampil ceria dan gembira, perlahan-lahan kehilangan warnanya. Keantusiasannya telah merosot ke jempol kaki. Gadis itu--hanya menunggu waktu--sebelum ekspresinya memudar layu.


"Aku tau apa yang kau tunggu," ujaran Elliot menyapa telinga Ethan. Dia bergabung dengan kawannya sambil menyesap segelas tequila. "Kau seharusnya tidak melakukan itu," tambah Elliot lagi.


"Aku hanya ingin mencoba," jawab Ethan.


"Apa kau pikir dia pria yang pantas untuk Jessica?"


"Apa itu posisi kita untuk menentukan?" Ethan balik bertanya.


"Tsk..., aku tau kau akan melakukan hal semacam ini." Elliot merengut tak senang. "Kau hanya akan menyia-siakan malammu dengan harapan kosong itu, Ethan. Buka matamu dan lihatlah pria itu sebagaimana aslinya. Dia hanya bajingan egois yang memanfaatkan kebaikan Jessica."


"..."


"Dia tidak akan datang."


"Kurasa, kau ada benarnya." Ethan menatap ke arah pintu sekali lagi dan merasa sudah dikhianati.


"Setidaknya kau sudah berusaha," ujar Elliot, menasihatinya. "Jangan terlalu kecewa."


"Aku tidak menaruh harapan tinggi padanya, tapi aku tidak tau dengan Jessica." Ethan menatap ke arah Jessica dengan iba. "Kurasa, jauh di dasar hatinya, dia mungkin menaruh harapan yang lebih besar kepada Demian."


"Meskipun dia kecewa, dia tidak akan bisa berhenti berharap." Elliot tersenyum masam. "Serius, ya? Apa yang harus aku lakukan supaya dia melupakan si bajingan itu?"


"Mungkin kau bis--" ucapan Ethan tiba-tiba terpotong ketika seorang pria membuka pintu Elixir dari luar. Suara pintu yang terbuka spontan menyita perhatian orang-orang yang berdiri di dekat pintu itu.


Ethan--dengan harapan yang nyaris mati--seketika menaruh harapan yang tinggi. Sepasang iris kopinya meneduh lega, hangat menjalar di dada.


Demian akhirnya datang, pikir Ethan. Sama sekali tidak menyangka ketika pintu yang terbuka lebar itu malah menunjukkan seorang Erthian Bellamy.


Erthian Bellamy, dalam balutan tuxedo putih yang lembut, tampil serasi dengan wanita yang berada di gandengannya kini.


Mengenakan gaun biru muda dengan belahan dada yang terpampang nyata, Angela Lancaster dengan arogannya menapak di sebelah Erthian.


"Oh, oh? Bagaimana mereka bisa datang?" Elliot tercengang.


Saat itu juga, kendati kehadiran keduanya sama sekali tak diantisipasi, Erthian tetap melenggang dengan percaya diri. Ia mendekati Jessica yang berdiri di tengah ruangan. Tangan Erthian membawa sebuah goodie bag berwarna hitam dengan pita emas yang elegan.


"Selamat ulang tahun," ujar Erthian. Suaranya lembut membuat Jessica enggan menyemprotnya dengan cacian.


"Terima kasih sudah datang," sahut Jessica, untuk kesekian kalinya. Ia lalu menoleh ke arah Angela, senyum miring terlukis di paras Jessica seketika. "Kau nampak jelita, Angela."


"Semua ini terima kasih atas perhatian Erthian padaku. Dia sangat pengertian, aku menjadi mengerti dari mana sikap baik hati Demian selama ini."


"Tentu, tentu." Membelikanmu gaun mahal sudah pasti bentuk perhatian yang kau maksud, huh?


"Karena kau sudah datang, apa kau tidak mau menyapa Janette?" Jessica sengaja mengungkit sosok yang paling Angela benci. "Dia datang hari ini, bersama Jake."


"Ja-Janette?" Mata Angela melebar terpana. Wanita yang ia kenal sebagai perwujudan iblis itu bisa juga merayakan pesta ulang tahun orang lain? Mereka datang?


"Aku bisa mengantarnya kepadamu kalau kau mau." Jessica menambahkan lagi.


Mengerti kalau Jessica sedang bersikap picik, Erthian tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Ia tidak begitu peduli pada kondisi mental Angela karena Erthian hanya mengharapkan hal lain.


"Apa Demian datang?" Erthian bertanya sambil memindai wajah-wajah seisi ruang.


"Sayang sekali, tapi kami tidak memasukkannya dalam daftar tamu." Kau juga tidak, tambah Jessica dalam hati.


"Aaah, begitukah? Kupikir dia akan datang."


"Dia tidak akan datang," tukas Jessica. "Untuk apa dia datang?"


Erthian terkekeh. "Benar juga. Aku lupa kalian bukan apa-apa."


"Erthian, bagaimana bisa kau mengatakan itu ketika pacar Demian berada di rangkulanmu." Angela merengek manja, protesnya yang kekanakan membuat Jessica ingin mematahkan leher gadis itu sekarang.


Sialan, kan?

__ADS_1


Bagaimana bisa dia berbahagia bila iblis-iblis ini berkeliaran di pestanya?


"Selamat menikmati acaranya," ujar Jessica. Ia melenggang meninggalkan Erthian hanya untuk menggapai segelas tequila di meja. Jessica menyantap minuman beralkohol itu demi meredakan amarahnya. Meredakan ketidak-nyamanan yang mulai merayap di kulitnya.


"Bersabarlah sebentar, Jesse..., sedikit lagi." Jessica menyemangati diri sambil menatap kepada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sepuluh.


Sebelum kembali bersosialisasi, Jessica mengambil satu gelas lagi dan meneguk isinya sampai habis.


Jessica kembali bicara dengan tamu-tamunya. Bermuka dua di sana sini sambil menebar keramahan paksakan.


Jessica saat itu hanya ingin kembali ke kamar dan tidur. Jessica tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun. Namun, ini kewajibannya sebagai sosok yang berulang tahun dan sosok yang menjadi pemilik resmi Elixir.


Jessica tidak bisa melarikan diri dari pestanya sendiri dan...


Hitam!


Seluruh ruangan tiba-tiba menggelap padam. Sunyi redam. Jessica yang terkesiap atas matinya lampu, berusaha menemukan cahaya sedikit saja di sana. Ia menggapai-gapai udara kosong di hadapannya hingga...


"Happy birthday to you..."


Suara Dania menyapa telinganya, disertai cahaya lilin dari arah dapur.


"Happy birthday to you..." nyanyian itu disertai dengan suara-suara tamu. Jessica terpaku atas kejutan tiba-tiba itu. Ia menjadi sangat tersentuh.


Sementara semua orang mulai menyanyikan Jessica lagu selamat ulang tahunnya juga, bunyi gebrakan datang dan mengejutkan semua orang.


Nyanyian seketika terjeda, seluruh mata tertuju kepada pintu yang terbuka.


Ketika semua orang terpaku di sana, terbelalak atas kedatangannya, Demian Bellamy masuk ke dalam ruang yang berpencahayaan temaram.


"Jessica?" Seruannya lepas dengan keras di sana. "Jessica?"


"Aku di sini..." Jessica melangkah maju, perasaannya tak senang sama sekali.


Apalagi yang hendak Demian lakukan malam ini? Jessica bertanya-tanya dengan kejengkelan menumpuk di dadanya. Jangan bilang dia mau membuat onar!


Jessica tidak mau Demian mempermalukannya di depan tamu-tamunya. Jessica tidak mau Demian mempermalukan dirinya.


Menyadari arah suara Jessica, Demian seketika mengambil langkah lebar dan menghampiri Jessica di sana. Tamu-tamu terpaku bingung di dalam ruang gulita itu. Hanya mampu melihat siluet hitam yang bergerak di dalam kegelapan.


Siapa dan mengapa? Tanya itu mencuat di benak setiap kepala.


Tamu-tamu sama sekali tidak menyangka, ketika Demian berhasil menggapai Jessica, pria itu langsung melayangkan sebuah kecupan di bibir Jessica. Membekukan gadis itu dalam sentuhannya yang tiba-tiba.


Jessica sampai melebarkan mata. Apa yang Demian pikirkan, batin Jessica. Angela berada di ruangan ini dan bisa melihat aksinya dengan jelas. Apa dia gila? Apa dia ada masalah?


Jessica berusaha menemukan alasan rasional di kepalanya hingga...


Klik!


Lampu kembali menyala.


Pemandangan bibir mereka yang berpaguran kemudian tersaji jelas di depan mata semua orang.


Di sana, di tengah Elixir, Demian Bellamy memberikan Jessica ciuman yang dalam di bibirnya, tangan merengkuh tubuh gadis itu erat-erat di dalam dekapannya.


Saat pagutan itu terlepas juga, Demian menatap Jessica tepat di sepasang emerald-nya yang jelita.


"Happy birthday, Jessica..." Demian berbisik dengan bibirnya yang masih basah oleh saliva. Ia menatap Jessica dan sekali lagi memberikan gadis itu kecupan ringan di bibir.


Bingung melanda Jessica luar biasa, ia sama sekali tidak memahami ulah Demian hari ini. Apa yang terjadi dan mengapa dia seperti ini?


Jessica bertanya-tanya, dan dalam sepersekian detik ketika Demian mengambil jarak tipis darinya. Jessica mendapatkan sebuah jawaban yang sama sekali tidak ia pikirkan malam ini. Tidak terduga samacsekali.


..."Aku mencintaimu, Jessica Cerise. Maafkan aku sudah menunda waktuku terlalu lama untuk mengungkapkan ini."...


"..."


"Aku harap pengakuanku tidak terlalu lambat untukmu, aku harap kau masih mempunyai kesempatan untukku."


Demian meraih kedua pergelangan tangan Jessica, mata terkunci erat tepat di emeraldnya.

__ADS_1


..."Jessica..., meskipun aku sudah menciptakan terlalu banyak masalah..., maukah kau memaafkanku dan menerima pengakuanku?"...


...****************...


__ADS_2