MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
18. Perjanjian.


__ADS_3

Jessica masih terduduk di sana, di hadapan Demian yang masih menangkup wajahnya dalam dekapan telapak tangan yang hangat dan besar. Masih terpaku dengan jantung yang sempat berhenti dalam waktu. Jessica masih..., terpana ketika Demian melayangkan sebuah ciuman di bibirnya.


Jessica menemukan napasnya kembali ke kerongkongan--kembali normal hanya ketika Demian menarik wajahnya mundur. Ciuman singkat itu terlepas, dan Demian pun menatap Jessica. Seulas senyuman terpatri di parasnya yang memukau mata.


"Jessica?" Suara Demian seperti air dingin yang mengguyur Jessica, ia tersadar dari keterkejutannya dan secepat kilat mendorong dada Demian mundur.


"Apa yang kau lakukan?!" seru Jessica.


Ia melebarkan mata, terpana dan murka.


Demian menciumnya!!! The heck? Apa..., tidak, kenapa? Kenapa pria itu menciumnya?


Jessica sangat kebingungan. Situasi itu tidak pernah muncul di pikirannya ataupun imajinasinya. Jessica lebih percaya bila suatu hari nanti Demian akan memukulnya daripada Demian menciumnya. Situasi ini sangat tidak masuk akal!!!


"Kenapa kau sangat terkejut?" Demian bersikap santai, terlalu santai. "Apa itu ciuman pertamamu?"


"Eeeeh??" Tidak, masalahnya bukan itu!


"Aku hanya tiba-tiba ingin menciummu..." kata Demian lagi. "Kupikir aku bisa meredakan kecemasanmu kalau aku membungkammu, begitu?"


Tidak, itu hanya alasan yang penuh kepalsuan. Demian tidak mempunyai alasan apa pun. Keinginan untuk mencium Jessica muncul di benaknya secara spontan. Ia melakukannya tanpa pikir panjang.


Mungkin karena aroma strawberry itu lagi-lagi menarik minatnya, menggugah hasratnya untuk membenamkan giginya di pundak pucat itu. Ia ingin mewarnai Jessica merah, buta dalam gairah. Keinginan itu menggumpal di benaknya, mengaburkan sisi rasionalnya. Cukup menakutkan, jujur saja.


"Apa kau pikir tindakanmu itu wajar?" Jessica masih tidak mempercayai situasi yang baru saja terjadi. "Kau..., apa kau waras?"


"Sangat waras," tanggap Demian.


Kendati Jessica menatapnya dengan ketakjuban dan kejengkelan yang berpadu-padan, Demian menjaga ketenangannya dengan baik. Ia--daripada memancing emosi Jessica, memilih berbaring miring di tempat tidur gadis itu. Sebelah tangannya menopang kepala agar tidak rebah sepenuhnya.


"Kau tidak bisa menciumku seenak hatimu, Demian." Jessica mengacungkan telunjuknya di depan hidung Demian. "Kau juga seharusnya tidak berada di sini! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menggangguku lagi? Kenapa kau malah kembali ke sini?!"


"Aku tidak ingat pernah mengatakan sesuatu semacam itu."


"Demian!!!"


"Aku serius. Aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu."


"Hei...!" Jessica mau berteriak, sumpah! Kenapa pria ini sangat menyiksa batinnya?


"Kau sebaiknya tidak menarik kesimpulan sendiri, Jesse. Aku mungkin mengatakan akan pergi dari sini, tapi aku tidak ingat pernah mengatakan tidak akan kembali. Lagipula, bagaimana bisa aku melupakan gadis yang sudah berjasa banyak padaku, hmm?"


Omong kosong. "Kau harus berhenti muncul di sini! Aku tidak suka kau datang ke sini! Aku akan benar-benar melaporkanmu ke polisi!"


"Jahatnya, kupikir kita sudah dekat belakangan. Kita bahkan berciuman..."


"Demian!" Jessica menarik pergelangan tangan Demian yang bebas. Ia ingin menarik pria itu dan melemparnya keluar jendela, andai saja ia mempunyai kekuatan dewa.


"Bangun. Jangan muncul seenakmu di sini. Kau bukan temanku atau apa pun itu! Aku tidak mau kau muncul di kamarku!"


Demian memperhatikan bagaimana Jessica berupaya menariknya agar bergerak dari tempat tidur beraroma seperti strawberry itu. Namun, kendati ia berusaha keras, Demian masih bertahan di posisinya. Ia terkekeh samar ketika memperhatikan raut jengkel Jessica. Gadis itu cukup lucu.


"Daripada kau melakukan sesuatu yang sia-sia, bagaimana kalau kau berbaring di sampingku saja? Sekarang sudah jam 3 pagi, Jessica. Kau membuang-buang waktuku dengan ribut di situ."


"Kau yang membuang-buang waktuku, keparat." Jessica berhenti menarik Demian dan mengganti serangannya dengan cubitan. Ia mencapit pinggang Demian dengan kuku-kukunya yang panjang. Kendati itu adalah serangan yang cukup membuat Demian meringis menahan sakit, Jessica tidak berani menyerang Demian lebih keras. Ia takut menyakiti pria itu.


Ugh!


"Jessica..."

__ADS_1


Dalam pergerakan tangan yang cepat, Demian menangkis cubitan Jessica dan disaat bersamaan menangkap pergelangan tangan gadis itu. "Kemari," ujar Demian, dan dalam satu sentakan, Jessica terjatuh di atas perutnya. Wajah menabrak dadanya yang beraroma darah.


"Haaa~" Jessica mendengus keluar aroma darah yang terhirup oleh hidungnya. "Apa kau monster?"


"Aku mendengar pertanyaan itu cukup sering."


"Apa kau bangga?"


"Tidak juga."


Jessica mendongak dan menatap wajah Demian yang berada dua jengkal dari wajahnya sekarang.


Jessica tau ia seharusnya segera bangkit dan menyingkir dari atas Demian, tapi sesuatu tentang keinginan piciknya yang tidak mau mengalah dari Demian membuat Jessica bertahan di atas pria itu. Jika dia bertingkah panik, Demian akan menertawainya kembali. Demian itu bajingan.


"Serius, Demian..." intonasi Jessica berubah menjadi lebih serius dan tenang daripada sebelumnya. Ia menatap Demian dengan sepasang iris hijaunya yang menyiratkan keingintahuan semata. "Mengapa kau melakukan ini?"


"Melakukan apa?" Demian balik bertanya, jelas sekali menggoda.


"Muncul di sini, apalagi? Kau tidak menyukaiku, kan? Apa kebaikanku selama seminggu kemarin meluluhkan hatimu? Apa aku orang pertama yang pernah memperlakukanmu dengan baik hingga entah bagaimana..., hatimu terpana?"


"Apa itu novel romansa?" Demian tertawa.


Jawabannya tentu saja tidak mungkin. Jessica tau itu.


Demian tidak mungkin jatuh hati kepadanya. Jessica--sebagai gadis yang mengenal Demian melalui pengamatan diam-diam selama beberapa bulan belakangan, sangat memahami di mana Demian menaruh hatinya.


Oleh karena itu, Jessica tau cinta bukan alasan mengapa Demian muncul kembali di kamarnya. Jika ada alasan lain, Jessica mau tau penjelasannya.


"Kalau begitu berikan aku alasan lain, yang lebih masuk akal."


"Apa aku tidak boleh bertemu denganmu tanpa alasan apa pun?"


"..."


"Bagaimana denganku? Apa kau tidak peduli pada pendapatku?" Jessica berguling turun dari perut Demian dan berbaring telentang di samping pria itu. Sebelum melanjutkan ucapannya pun, Jessica bangkit perlahan dan bersandar di kepala ranjang. "Jujur saja, aku tidak nyaman dengan keberadaanmu di sekitarku."


"Aku tau."


"Lalu...?" Kenapa kau masih datang kemari?


"Aku hanya melakukan apa yang aku mau," jawaban Demian membuat Jessica tanpa sadar menendangnya.


"Itu adalah jawaban paling brengsek."


"Apa yang kau harapkan?" kata Demian. "Aku bukan pria baik hati yang turun dari surga. Seminggu bersamaku seharusnya membuka matamu, aku bukan pria yang akan menuruti setiap kata-katamu."


"Tentunya. Aku tau kau hanya melakukan apa yang kau mau. Bajingan." Jessica mendengus. "Sekarang pun kau melakukan hal seenak hatimu. Membangunkanku dan menciumku sesuka hatimu. Kau psikopat gila!"


"Kau terlalu memikirkan masalah ciuman itu dengan berlebihan." Demian meraih tangan Jessica. Sementara Jessica memperhatikannya dengan waspada, Demian pun menautkan jari-jemarinya dengan jemari Jessica. Hangat tubuh mereka bertaut satu di sana. Di dalam genggaman tangan Demian.


"Kau adalah gadis yang tumbuh di Vegas. Tidakkah menurutmu..., satu kecupan tidak bernilai apa-apa dibandingkan kota yang banjir dosa ini?"


"Tidak semua orang yang tinggal di Vegas adalah pendosa."


"Tidak, tapi kebanyakan orang sudah terbiasa pada dosa yang terjadi di kota ini. Perjudian, pelacuran, dan sedikit ciuman..., kau mewajarkan kasino besar berdiri menguasai kota ini dan menganggapnya kewajaran, lantas..., mengapa satu ciuman membuatmu sangat kebakaran?"


"Karena ciuman adalah masalah personal. Aku tidak peduli pada apa yang terjadi di luar. Selama itu tidak melibatkanku."


Demian manggut-manggut seraya tersenyum. "Untuk orang yang sangat peduli pada orang lain, kau mempunyai pola pikir yang cukup egois."

__ADS_1


"Bukankah kau sama saja?" Jessica berupaya melepaskan tautan jemari Demian dari tangannya, tapi sia-sia. Jessica merasa risih luar biasa ketika sepasang iris kelam Demian menyorot ke arahnya. Teduh, tenang, berbahaya.


"Aku tidak tau...," kata Demian. "Aku cukup peduli pada orang-orang yang berkaitan padaku. Kau salah satunya..."


"..."


"Aku peduli padamu demi kebaikanku."


Apa maksudnya?


"Jessica...,"


"Ya?"


Demian menggeser dirinya lebih dekat. "Apa barusan itu ciuman pertamamu?" Obrolan serius itu berubah menjadi lelucon.


"Hah?" Jessica spontan meringis. "Apa-apaan?"


"Masalahnya, tidak mungkin kau akan memikirkan hal itu secara berlebihan kalau itu bukan ciuman pertamamu, kan? Apa kau remaja puber?"


"Tsk!" Jessica mendorong Demian yang merapat naik ke pangkuannya. "Jangan menarik kesimpulan seenaknya. Aku hanya mempunyai logika yang normal daripada kau yang mewajarkan hal-hal yang sinting dan keterlaluan."


"Logika normal, heh? Katakan padaku, apa arti omong kosong itu?"


"Bukankah sudah jelas? Aku tidak mewajarkan hal-hal semacam berciuman dengan sembarang orang. Kau sama saja seperti menyebar penyakit. Juga..., bukankah intimasi seharusnya hanya terjadi pada orang yang kau sukai? Aku hanya mau mencium pria yang kucintai, oke!"


"Ugh..., kau terlalu dramatis."


"Aku normal, idiot." Jessica melirik Demian yang menguap di dekat lututnya. Pria itu menahan kantuknya hingga sudut matanya basah oleh air mata.


"Begini saja. Aku tidak akan menciummu..." Demian mendongak kembali menatap Jessica. "Tapi, sebagai gantinya, kau akan membiarkanku mengunjungimu kapan pun aku mau."


"Kenapa aku harus menyetujui salah satunya?"


Demian mengendikkan bahu. "Karena aku sangat nyaman di sini, aku mau kau menerimaku sebagai tamu istimewamu."


"Bercanda, ya?" Jessica tidak mau mempunyai urusan lebih panjang kepada Demian, ya Tuhan. Kenapa pria ini tidak mau menyerah?


"Aku serius..., semakin kau menolakku, aku akan berlaku sesuka-hatiku. Aku mungkin akan melakukan lebih dari sekedar ciuman kepadamu..."


"Kau akan mati bersamaku kalau begitu."


"Bercanda, bercanda." Demian mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Jessica. "Aku berjanji..., aku tidak akan menciummu tanpa izin lagi. Bagaimana?"


Jessica menarik napasnya gerah. Demian tidak akan pernah mau mengalah. "Baiklah, tapi dengan satu syarat. Kau hanya boleh kemari selama aku ada di sini."


Jessica mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Demian. Sebuah perjanjian verbal tak kasat mata terikat di sana, di jari kelingking mereka.


Setelah kaitan itu terlepas pula, Demian tertawa lepas hingga matanya membentuk bulan sabit. Air mata keluar dari sudut matanya, jatuh mengalir di pelipisnya.


"Aaaahahahahahhaa."


"Hei, apa yang lucu?" Jessica mengerutkan dahinya.


Demian mengulum bibirnya, menahan tawa. Ia melirik Jessica dan enggan mengatakan apa-apa.


Serius, Jessica Cerise. Ciuman itu sudah pasti ciuman pertamanya!


Gadis mana yang masih percaya pada janji jari kelingking? Sungguh kekanakan..., ah, dia sangat menggemaskan!

__ADS_1


*


__ADS_2