
Oscar selalu menemukan cara untuk membuat Demian kerepotan. Seperti sekarang saja, ketika ia memperoleh informasi kalau segerombol anggota dari kelompok Inferno (kelompok besar dan cukup berkuasa di jalanan Vegas) disewa oleh seseorang dari Italy untuk menyingkirkan Demian, Oscar tidak langsung menghubungi Demian.
Oscar membiarkan waktu berjalan sementara ia menerima laporan kalau orang-orang dari Inferno telah menemukan lokasi Demian. Oscar tidak merasakan urgensi sama sekali dalam situasi yang terbilang kritis tersebut.
Hanya ketika ia mendengar kabar kalau orang-orang itu sudah mendekat, barulah Oscar menghubungi Demian.
Hasilnya, Demian sekarang berlari di jalanan yang ramai. Delapan, tidak, mungkin sepuluh orang mengejarnya beberapa meter di belakang.
Demian berlari dan berlari, mencoba menemukan jalan tercepat untuk menuju lokasi yang sudah Oscar berikan padanya. Lokasi aman untuk bersembunyi sekarang.
Ugh, menjengkelkan!
Demian menengok ke belakang dan menyadari orang-orang yang mengejarnya tidak tertinggal jauh di belakang. Sialan, dibayar berapa mereka sampai-sampai mereka berlari sekuat tenaga?
Sementara Demian terus berlari dengan flanel merahnya yang berkibar seperti jubah super hero, sebuah taksi berhenti tepat di sampingnya. Mengklaksonnya.
Demian menoleh dengan keterkejutan yang berpadu dengan kebingungan. Ia tidak ingat Oscar menyinggung bantuan lain selain lokasi aman itu.
Dari kaca jendela taksi yang terbuka, Jessica--Jessica dari semua orang di dunia--melambaikan tangan kepada Demian. Menyuruhnya masuk. "Naik," seru Jessica, "Cepat!"
Tanpa menemukan alasan rasional mengapa Jessica berada di sana, di sebuah taksi, bersama Dania di sebelahnya, Demian masuk dan memadatkan dirinya di sana.
"Woaaaah..." Dania yang pertama mengembuskan napas lega ketika taksi itu berjalan meninggalkan segerombol pria yang mengejar Demian. "Ada apa barusan?"
Demian mengatur napasnya. Ia memperhatikan Jessica dan Dania bergantian. Ia mengira dua gadis ini sudah pulang, apa yang terjadi? Mengapa mereka di sini?
"Apa kau baik-baik saja?" Jessica menyentuh lengan Demian, suaranya menyiratkan kecemasan.
"Lumayan," jawab Demian. Setelah napasnya berembus dengan stabil, barulah Demian mempertanyakan Jessica dan Dania mengenai bagaimana kedua gadis ini menemukannya. Mereka bisa terlibat dalam bahaya bila timing bantuan mereka tidak tepat waktu.
"Kami sedang menunggu taksi ketika kami melihatmu tiba-tiba berlari keluar dari Terrace." Jessica memberikan penjelasan.
"Aku tidak menyangka menemukan taksi di sana cukup sulit." Dania mengeluh.
"Mungkin karena jalanannya yang ramai." Jessica mengendikkan bahu.
"Tunggu, tunggu...," kenapa mereka berdua bicara sangat santai? "Jadi, kalian melihatku berlari dan berinisiatif membantuku, begitu saja?"
"Itu ide Jessica." Dania menunjuk Jessica yang duduk di tengah mereka. "Dia tidak mau idolanya kenapa-napa."
"Dani..., jangan mengutarakan omong kosong." Jessica jadi bersemu merah. "Aku ingin membantu karena kau sudah membantu kami di cafe tadi. Terima kasih."
Begitu rupanya. Jika itu inisiatif Jessica, Demian tidak akan heran. Gadis itu mempunyai terlalu banyak empati dibandingkan kewarasan. Dia terlalu gampang melunak di situasi yang menyentuh emosi, dan melupakan rasionalitasnya.
"Kau menyelamatkan nyawaku," kata Demian akhirnya.
"Ngomong-ngomong, mengapa orang-orang itu mengejarmu? Kau..., kau tidak terlibat dalam hal ilegal, kan?" Dania--daripada Jessica--adalah sosok yang cukup rasional di sana. Dia mungkin membantu Demian, tapi di satu sisi, juga mencemaskan situasinya sendiri.
"Oh, itu..." Demian tersenyum palsu, "Hanya rentenir."
"Rentenir?"
Jessica tau itu kebohongan. Jika itu menyangkut Demian, Jessica percaya sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Mengingat ini bukan pertama kalinya Demian melarikan diri dari kejaran orang-orang.
Huft. Jessica jadi mengingat kali pertama Demian menapak di balkon kamarnya. Itu adalah malam dari relasi mereka bermula.
"Oh, turunkan aku di depan." Dania orang pertama yang sampai di depan gedung apartemennya.
"Pastikan temanku sampai ke rumah dengan selamat, oke?" Dania berujar sambil turun dari taksi. Demian menanggapinya dengan anggukan.
"Pasti," ucap Demian. Matanya melirik Jessica dengan seulas seringai tipis bermain di parasnya.
"Sekarang, Pak..." Demian menepuk bangku si supir taksi, "Bawa kami ke Hotel Emperor."
"Baiklah," jawab si supir.
Jessica, di samping Demian mengernyit heran. "Kau akan tidur di hotel?"
"Apa maksudmu dengan kau?"
__ADS_1
"Hah?"
"Aku tidak pergi sendirian," sahut Demian. "Kau akan ikut bersamaku."
"Eh, apa?" Kenapa?
*
Jawaban Demian adalah, akan berbahaya bila ternyata ada musuh memata-matai mereka dari belakang. Demian tidak ingin lokasi persembunyiannya--Elixir, ketahuan. Selain ia akan kehilangan tempat minum kopinya yang berharga, Demian juga mengatakan pada Jessica kalau bisnisnya bisa dalam bahaya.
Mendengar penjelasan Demian, Jessica jadi ketakutan.
Elixir adalah nyawa Jessica sekarang. Ia rela kehilangan apa saja asal tidak cafenya tercinta. Ia membangun karirnya di sana, ia bahkan rela bertemu alumni sekolahnya demi bisa mempromosikan Elixir. Jadi, menginap semalam di hotel, bersama Demian..., Jessica rela.
Serius.
"Tapi kenapa di Emperor?" Jessica bergumam setelah taksi yang mereka tumpangi pergi.
Jessica sekarang berdiri di depan Emperor. memperhatikan bagaimana bangunan itu berdiri tinggi menjulang menantang langit malam.
Hotel Emperor, sepengetahuan Jessica, merupakan salah satu hotel yang terkenal dan terbesar di Vegas. Bermimpi untuk menapakkan kakinya di tempat itu saja Jessica tidak pernah, apalagi menginap di dalamnya.
"Ini namanya bersembunyi di depan mata," jawab Demian. Ia meraih tangan Jessica dan menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya.
Berbeda dari Jessica, Demian terlihat cukup antusias. Ia sesekali menoleh ke arah Jessica dan memberikan seulas senyum tipis yang membuat Jessica tersipu heran. Maksud Jessica, ada apa dengan Demian dan suasana hatinya?
Mungkin karena penampilan mereka berdua yang terkesan basic dan jauh dari kata high class, Demian dan Jessica diberikan tatapan heran oleh para pekerja di lobi hotel tersebut.
Hanya ketika Demian menyebutkan reservasi atas nama Adam Elgan, barulah senyum mengembang di paras para pekerja di sana.
Sungguhan, apa ini yang dinamakan diskriminasi?
"Maafkan kami, tuan Elgan. Biarkan kami menuntunmu ke kamar--"
"Tidak perlu," tukas Demian. "Aku tidak membutuhkan petunjuk jalan, hanya berikan aku kuncinya."
"O-oh, baiklah." Sebuah kunci kemudian diserahkan ke arah Demian. Tangan yang menyerahkan bergetar ketakutan. "Presidential suite berada di lantai 65."
Mata Jessica melebar syok.
"Bercanda, ya?" Ia berjinjit dan berbisik pada Demian.
"Tenang saja, kita tidak akan membayar apa-apa."
Tidak, Jessica bukan menanyakan siapa yang akan membayar, walau sebenarnya itu pertanyaan yang cukup menarik. Jessica menanyakan mengapa..., dari semua kamar mereka akan menginap di presidential suite?
Bukankah itu kamar termahal dengan pelayanan elite? Mengapa mereka yang tidak elite sama sekali menginap di sana?
Siapa Demian Bellamy sampai-sampai dia memiliki akses atas segala kemewahan ini?
"Apa kau antusias?" Demian merangkul pinggang Jessica dan menarik gadis itu rapat ke arahnya.
Di dalam elevator yang membawa mereka menuju lantai 65, Demian memperhatikan ekspresi Jessica yang penuh tanya. Dia terlihat menggemaskan ketika dia dipenuhi kebingungan. Demian jadi ingin mencubit pipinya, menarik gadis itu ke dalam dekapannya, duduk di pangkuannya.
Oh, betapa ide itu terlihat indah di benaknya.
"Jessica," ujar Demian tenang.
"Y-ya?"
"Apa kau gugup?"
"Apa itu perlu dipertanyakan?" Telapak tangan Jessica dingin sekarang.
"Jangan terlalu gelisah, aku bersamamu sekarang."
Ting.
Pintu elevator kemudian terbuka. Mereka melenggang keluar menuju kamar yang sudah disediakan untuk mereka. Sebuah kamar yang dipesan atas nama Adam Elgan, dibiayai oleh seorang pria bernama Oscar Brown dan akan dinikmati oleh Demian.
__ADS_1
Saat itu, ketika pintu kamar hotel itu terbuka, Jessica dan Demian menapak ke dalamnya bersama-sama.
Jessica--dalam kegugupan yang membuncah--meneguk ludah. Sepasang iris emerald-nya memindai kamar itu dengan seksama, kepada ruang tamu, balkon dari jendela itu dan pemandangan yang tersaji di luar sana, dapur yang mewahnya terlalu menyilaukan mata, dan lantai.
Oh, bagaimana bisa Jessica menutup mata pada karpet lembut yang sekarang berada di bawah kakinya. Sangat tidak masuk akal!
"Apa baik-baik saja bila aku di sini?" Jessica bergumam, rasanya seperti bermimpi.
"Tidak ada yang lebih baik daripada kau di sini."
"Huh?"
Jessica tidak yakin ia mendengarkan Demian dengan benar. Ia menoleh ke arah pria itu untuk mengonfirmasi ulang apa yang sudah Demian ucapkan. Namun, alih-alih menerima jawaban, ia memperoleh sebuah kecupan.
Demian, tanpa peringatan atau tindakannya yang mencurigakan, melabuhkan sebuah kecupan di bibir Jessica. Tangannya menangkup wajah gadis itu agar tidak lepas dari jangkauannya. Agar Jessica tidak melarikan diri darinya.
Merasakan kalau selain keterkejutan, Jessica tidak memberikan reaksi ekstrim semacam menendang dan menginjaknya sampai mati, kecupan lembut Demian berubah menjadi lebih dalam. Lebih agresif dan penuh penuntutan.
Seperti anak kecil yang diberi izin oleh orang tuanya untuk bermain sepuas-puasnya, Demian menafsirkan kalau tidak adanya penolakan dari Jessica berarti ia telah memperoleh konsen di sana.
Jessica--kendati merasakan keterkejutan luar biasa, ketika ia tau ia seharusnya mundur di sana--malah meraih tengkuk Demian. Ia bergelayut di leher jenjang Demian yang beraroma lembut dan menyegarkan. Meraup pria itu dan menerima dekapannya tanpa perlawanan.
Hingga kecupan itu terlepas untuk beberapa detik, sepasang iris emerald Jessica bertemu tatap dengan mata Demian yang kelam.
"Kenapa tiba-tiba?" suara Jessica berbaur dengan desau napasnya yang bergemuruh panas.
Demian menyapu dagu Jessica dengan ibu jarinya. Gairah menepikan kejernihan pikirannya. Menutupnya dengan sebuah keserakahan yang membabi-buta. "Apa aku membutuhkan alasan ketika kau berada di depanku?" Ia berbisik rendah.
Jawaban itu membuat Jessica terpaku. Panas yang membakar tubuhnya semakin membara, merayap di sekujur kulitnya dan menciptakan reaksi menggebu-gebu di jantungnya.
Jessica Cerise memejamkan mata, menyerah sekali lagi ketika Demian menghujaninya dengan kecupan yang tidak hanya berujung di bibirnya tapi juga menyentuh rahang dan dagunya.
Lidah pria itu bermain di kulitnya, menyapu dan menyesapnya penuh damba seolah-olah ia adalah sebongkah gula.
"Demy..." Jessica menggigit bibir ketika gigitan Demian menciptakan sedikit rasa sakit di kulitnya, menciptakan ribuan kepakan kupu-kupu di perutnya. Membuatnya semakin resah dan terengah.
Tubuh mereka merekat satu, masih di depan pintu. Demian mendekap Jessica begitu erat dan rapat, tak membiarkannya mengambil langkah mundur seinci pun. Ia merasakan gadis itu di dadanya. Suara decakan saliva, helaan napas yang terengah, dan tangan yang bergerak naluriah.
Untuk pertama kali setelah Demian kehilangan momen pertamanya, baru sekarang Demian merasa begitu tidak sabaran dan dihimpit oleh keagresifan. Ia kehilangan kata-kata, buta oleh gairahnya.
Bahkan dalam detik-detik setelah pagutan mereka terpisah, Demian kembali menyerang Jessica dengan pagutan yang membuat Jessica kewalahan. Pipi merah padam.
Tanpa begitu memproses apa yang sedang mereka lakukan, Jessica sudah kehilangan pijakan. Ia berada dalam dekapan Demian, masih berpagutan, ketika pria itu membawanya ke sebuah kamar yang berbeda. Ke sebuah kamar dengan aroma mawar dan paduan delima.
Jessica terjatuh dengan punggungnya menabrak sebuah tempat tidur yang selembut sutera. Ia tidak merasakan sakit sama sekali. Sebaliknya, Jessica merasakan kenyamanan yang luar biasa. Sangat nyaman, terlebih ketika Demian kembali memberikan kecupan di wajahnya. Di sepasang kelopak matanya, pipinya, dagunya, sudut bibirnya dan keningnya.
"Jessica Cerise," bisik Demian di depan wajahnya. Senyum merekah tipis di sana.
"Mau melakukannya?"
"Huh?" Jessica merasakan panas luar biasa membakar wajahnya. Ditatap oleh Demian ketika ia sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri membuat Jessica merasa malu. Ia merasa begitu rentan dan lemah di bawah tatapan kelam itu.
"Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dari ini," Demian berujar sambil memberikan Jessica kecupan ringan di bibir. Tangannya yang berada di perut Jessica, menyelip perlahan ke dalam blouse hitam yang Jessica kenakan tadi malam. Sebuah blouse tipis berbahan ringan.
"I want you."
"Ku-kurasa..." Jessica menurunkan pandangannya dari wajah Demian, ia menghindari tatapan pria itu yang begitu intens dan menakutkan. Jessica takut pada pantulan dirinya di mata kelam itu. Ia takut menemukan kalau sama seperti Demian yang menunjukkan wajah yang penuh dahaga, ia akan menunjukkan ekspresi yang sama.
"Kau rasa?" Demian menggodanya dengan sengaja, bibirnya berlabuh di daun telinga Jessica. Memberikan gigitan-gigitan ringan di kulit Jessica yang membuat gadis itu menggeliat gelisah.
"Kau mau aku pulang?" Jessica mengancam.
"Pffftt..." Demian menarik wajahnya dari tengkuk Jessica dan kembali melabuhkan tatapannya pada wajah Jessica yang merona. Peluh menyeruak membasahi kening Jessica, membuatnya terlihat lebih indah dan jelita.
Tidak ingin berputar-putar terlalu lama dan menyiksa Jessica di sana, Demian pun mengakhiri godaannya dengan memberikan Jessica satu kecupan lagi di bibirnya. Kecupan dalam yang memakan waktu cukup panjang. Saliva berpadu-padan, tubuh saling melingkupi dalam kehangatan.
Dalam pakaian yang berguguran, erangan dan desau napas yang berantakan. Demian berbisik di telinga Jessica, suara rendah jenaka. Seperti mantra.
"Jangan pulang..."
__ADS_1
*