MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
106. Trauma.


__ADS_3

Jessica mempercayai Demian, karena itu, meskipun Hestia mencemooh kepercayaannya sebagai hal naif dan bodoh, Jessica tidak akan meragukan Demian.


Jessica sudah mengikuti Demian sejauh ini hingga ke Italy, Jessica tidak akan meragukan Demian hanya karena wanita penyihir seperti Hestia datang dan meracaukan omong kosong di depan wajahnya.


Sampai mulut Hestia berbusa sekalipun, Jessica tidak akan terpengaruh.


Tidak!


Jessica tidak akan membiarkan dirinya terpengaruh.


'Wanita itu benar-benar merusak mood-ku,' batin Jessica.


Sambil bertopang dagu di balkon kamarnya, Jessica menatap kepada pemandangan pantai yang terbentang luas di depan sana. Jessica ingin pergi ke pantai. Namun, terima kasih pada Hestia, Jessica memilih menikmati waktunya di kamar saja.


Jessica memutuskan membaca. Setidaknya, sebelum tercenung Jessica memutuskan membaca.


Sekarang, yang Jessica lakukan hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Merenungi hidupnya di Italy yang terasa seperti mimpi.


'Sungguh tidak masuk akal!' pikir Jessica.


Dirinya di awal tahun tadi tidak akan pernah membayangkan dirinya berada di balkon keluarga yang tersohor ini. Jessica di awal tahun tadi tidak pernah berpikiran akan jatuh cinta.


Apa yang Jessica di awal tahun tadi lakukan setiap harinya, jika Jessica mengingat-ingat, maka itu adalah menjadi fangirl di cafenya sendiri. Jessica ingat begitu mengagumi drama romansa yang terjadi di antara Demian, Angela dan Jake Allendale.


Jessica ingat sering mengomentari keberadaan Demian sebagai sosok yang harusnya Angela pilih, dan Dania akan membantahnya.


Itu adalah momen-momen tersantai di hidup Jessica. Setiap harinya, Jessica menjadikan masalah orang lain, terutama Angela sebagai masalahnya karena Jessica tidak punya masalah apa pun selain cafe. Jessica tidak punya kehidupan apa pun di luar Elixir.


Jessica menikmati pemandangan Angela yang dilanda dilema, merana dan kasmaran. Jessica menganggap segala emosi yang di luar jangkauannya itu menghibur.


Jessica tidak menyangka, ketika hal-hal yang selama ini ia anggap hiburan malah terjadi dalam hidupnya. Menimpanya seperti karma. Jessica tidak merasa situasi ini menghibur sama sekali. Perasaan gundah-gulana, dilema dan risau yang menghimpit dadanya, Jessica sangat tidak menginginkan ini semua.


"Mengapa jatuh cinta sangat sulit?" Jessica bergumam pada dirinya sendiri. "Mengapa aku perlu berurusan dengan beragam masalah hanya untuk bisa bersama pria yang aku sukai? Apa aku salah dalam memilih pria atau bagaimana?"


Sejak Jessica melibatkan dirinya pada Demian, Jessica sudah dihadapi beragam masalah unik yang tidak terasa nyata. Setiap pertemuannya dengan Demian selalu penuh warna. Jessica kembali teringat pada saat Demian pertama kali menapak di balkon kamarnya. Jessica begitu panik sampai kehilangan kesadaran, itu menakutkan.


"Aku penasaran apa yang Demian lakukan sekarang?" Jessica meraih ponselnya dari saku sweater yang ia kenakan. Ia membaca nama Demian di kontaknya, dan berniat menghubungi Demian. Namun..., sebelum ia menekan Dial, Jessica membatalkan niatnya.


"Aku datang kemari untuk menemani Demian mengakhiri permasalahannya, aku tidak boleh egois dan memintanya menemuiku."


Bahkan bila Jessica merindukan Demian, Jessica tidak ingin menjadi beban. Demian akan datang nanti sore, dan itu cukup. Jessica tidak di posisi untuk meminta ini itu pada Demian. Tidak ketika Demian sedang dilanda problema yang barangkali lebih sulit daripada yang Jessica bayangkan.


Bagaimanapun, memutuskan ikatan dari keluargamu bukanlah hal gampang. Baik itu secara fisik maupun mental, kau tidak bisa menghindari tekanan, keragu-raguan dan ketidak-relaan.


Jessica mencemaskan kondisi mental Demian, sebenarnya. Apa dia baik-baik saja dengan segala isi kepalanya? Mungkin karena kecemasan itu juga, Jessica jadi enggan menekan Demian dengan pertanyaan mengenai masalah keluarganya. Jessica takut Demian terbebani.


Jessica hanya bisa bersabar dan menunggu Demian membuka cerita duluan. Jessica ingin Demian merasa nyaman.


Jika ada hal yang ingin Jessica lakukan ketika bertemu Demian, maka itu adalah memastikan Demian kalau Jessica akan selalu mendukungnya. Berada di sisinya.


"Aku harap dia bisa beristirahat barang sejenak."


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan muncul di pintu kamar Jessica, membuat lamunan Jessica terjeda. Jessica menoleh ke arah pintu dan bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya siang-siang begini. Tak berselang lama setelah ketukan itu tiba, Lisa memasuki kamarnya. Bodyguard wanita yang selalu tampil ramah kepada Jessica itu masuk sambil membawakan Jessica sebuah kotak hadiah.


"Maaf sudah mengganggu istirahatmu, Miss. Jessica." Lisa bicara. Ia menghampiri Jessica di balkon dan menyerahkan kotak kado itu. "Aku membawakan bingkisan untukmu."


"Untukku?" Apa Demian?


"Dari siapa?" tanya Jessica lagi.


Lisa mengendikkan bahu. "Hadiah ini datang dari keluarga Bellamy, kemungkinan ini adalah hadiah dari tuan Demian."


"Oh..., terima kasih, Lisa."

__ADS_1


Kehangatan menyebar di dada Jessica. Memikirkan kalau Demian masih sempat-sempatnya mengirimi ia hadiah, Jessica begitu terkesima.


Apa Demian bisa membaca kalau suasana hatinya agak buruk sekarang, jadi dia mengirimi hadiah ini? Oh, andai saja Demian tau suasana hati Jessica teramat buruk hari ini. Mungkin Demian sendiri akan datang dan mengantarkan bingkisannya sendiri.


"Miss. Jessica..." Lisa yang belum beranjak dari sana kembali bersuara.


"Ya?"


"Aku pikir kau mungkin akan bosan sendirian. Jadi..., umm, bagaimana kalu berjalan-jalan?"


"Aku sudah berjalan-jalan kemarin. Aku tidak yakin aku masih punya energi untuk keluar." Tidak hanya itu, Jessica juga kehilangan minat melakukan apa pun hari ini, terima kasih pada Hestia yang sudah merusak mood-nya. Jika bisa, Jessica berharap sore segera tiba saja. Dengan begitu, setidaknya, ia bisa berjumpa dengan Demian kembali.


"Terima kasih atas tawaranmu, Lisa. Aku hanya ingin beristirahat hari ini."


"Baiklah, kalau begitu. Aku ada di luar kalau kau membutuhkanku."


"Mm. Terima kasih."


Setelah Lisa pergi meninggalkan Jessica dan kotak kadonya, Jessica pun menarik pita yang membungkus kado itu. Ia meluruhkan satu-persatu objek yang menutupi kado tersebut. Mulai dari pita, kertas kado, dan terakhir..., tutup dari kotak tersebut. Seusai membuka kado itu pula, Jessica menemukan sebuah dress berwarna merah muda terlipat elegan di dalamnya.


Jessica mengeluarkan gaun tersebut dan mengurainya di depan muka, memindai tiap inci kemewahan dan keanggunan yang dress itu tampilkan.


Jujur saja, dress itu sangat indah. Sangat-sangat indah dan Jessica merasa terpana atas keindahannya. Namun, yang tidak Jessica mengerti adalah mengapa Demian menghadiahinya sebuah dress?


Apa akan ada acara atau sesuatu?


"Aku tau dia kaya tapi..., ini terlalu mewah..." Jessica bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Masalahnya, sekarang Jessica kembali teringat pada Janette, saudara perempuan Jake yang memberikannya hadiah terlampau mahal. Jessica ingat sudah mengeluhkan hal seperti ini pada Demian kalau dia tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tapi, mengapa pria itu masih memberikannya hadiah seperti ini? Kemana dia berharap Jessica akan memakainya?


"Apa aku tamu presiden?" Jessica bergumam heran.


Saat itu juga, ketika Jessica hendak memasukkan hadiah itu kembali ke kotaknya, Jessica menemukan sebuah kartu ucapan terlipat rapi di dasar kotak itu. Jessica meraih kartu ucapan itu dan menemukan aroma harum menguar dari kartu itu.


"Menakjubkan, apa tinta mereka terbuat dari kelopak mawar?"


...'*Anggap ini sebagai ganti rugi sudah merusak bajumu hari itu. Aku harap kita bisa bertemu lagi. ...


...Musim gugur di Italy cukup dingin, aku tidak keberatan membagikan kehangatan padamu kalau kau membutuhkanku lagi. EB*.'...


...*...


Demian tidak datang.


Bahkan hingga hari menggelap hitam, Demian sama sekali tidak menunjukkan kedatangannya di depan gerbang Rhoden manor. Dia juga tidak memberikan kabar apa pun.


Jessica yang sangat menunggu kedatangan Demian menyerah ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jessica beranjak dari sofa dan melenggang menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


Jessica butuh menyegarkan dirinya.


Terlalu banyak hal yang menimpanya hari ini dan semua itu menjadi beban yang menghimpit dadanya dalam kepenatan. Jessica butuh kewarasan dan kewaspadaannya tetap dalam mode siaga sebelum memulai hari esok yang entahlah, Jessica hanya memikirkan kemungkinan terburuk sekarang.


Setelah Erthian mengirimkannya hadiah nista itu, Jessica dilanda ketakutan. Ia takut Erthian akan datang dan menemuinya. Jessica takut pada makanan yang tersaji di meja. Bagaimana bila Erthian menanam racun di sana dan melakukan sesuatu yang hanya akan menambah ketakutan Jessica?


Jessica paranoid pada setiap ketukan, bunyi klakson mobil yang memasuki gerbang depan. Jessica..., tidak tau harus bagaimana.


Kamar yang seluas lapangan bola itu seperti kardus kecil dan ia berada di dalam kardus itu, sesak napas dan takut. Jessica merasa jantungnya masih berdegup liar setiap kali tatapannya jatuh kepada gaun merah muda yang masih berada di lantai balkon.


Jessica begitu ketakutan sampai ia mempertanyakan perlindungan yang Demian berikan padanya. Sehandal apa Lisa dan Robin untuk mencegah Erthian? Apa Hestia akan benar-benar melindunginya ketika wanita itu begitu ambisius untuk menyingkirkannya? Apa ada orang yang bisa dipercaya di tempatnya berada sekarang?


Di antara hal-hal yang menakutinya sekarang, Jessica juga dilanda kesedihan.


Kembali lagi, Demian tidak datang!


Jessica tau kalau ia seharusnya menjadi sosok yang pengertian terhadap kondisi Demian. Namun, ucapan Hestia mengenai Demian yang akan melupakannya membuat Jessica merasa..., peluang itu bisa saja ada. Bagaimana kalau Demian mencampakkannya seorang diri di sini?

__ADS_1


"Aku ingin kembali ke Vegas..." Pada akhirnya, meringkuk di tempat tidurnya, Jessica kembali terisak dengan dada yang sesak.


Jessica berbaring di kamar tidurnya, di atas ranjang dengan seprei yang beraroma seperti wisteria. Mata Jessica menatap langit-langit kamarnya, memandang kepada satu titik hitam yang menodai warna putih di dinding plafon itu.


Jessica memutuskan untuk tidak tidur malam ini. Ia tidak mau lengah sedikit saja.


Jessica percaya, orang yang mampu melindunginya sekarang hanya dirinya sendiri. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun. Tidak terkecuali Demian datang dan berada di sisinya. Namun, karena Demian tidak datang, Jessica akan sebisa mungkin bertahan sendirian.


Tik! Tik! Tik! Tik! Tik!


Bunyi detik jarum jam di dinding terdengar nyaring di kamar Jessica, berpadu dengan samar suara binatang malam di luar jendela. Keheningan itu menghanyutkannya.


Jessica mengedipkan mata dan entah bagaimana, ia menemukan dirinya di tempat yang berbeda. Kaki dan tangannya terikat kuat. Jessica..., dengan jantung yang kembali berdegup kencang, mencoba memperhatikan sekeliling ruang.


Ini bukan tempatnya berada barusan. Bagaimana bisa ia berada di tempat ini?


Ini mimpi, kan?


Sudah pasti..., ini sudah pasti mimpi!


Apa aku ketiduran? Jessica bergumam di dalam kepalanya, bertanya-tanya dengan perasaan risau membuncah di dadanya. Jessica menarik-tarik pergelangan tangannya, berusaha bangkit kendati tubuhnya terbelenggu.


Jessica mencoba membangunkan dirinya, kembali pada realita. Namun, sosok yang paling tidak mau ia temui telah datang menyapa. Seringai iblisnya merekah dengan jelita.


"Kau tidak bisa melarikan diri, Jessica..." Erthian Bellamy berada di hadapannya, merangkak naik ke atas tubuhnya. Keberadaan pria itu membuat sekujur tubuh Jessica dilanda perasaan nista.


Menjijikkan, melihat wajah itu sangat menjijikkan. Demi apa pun, Jessica ingin menghilang dari hadapan pria itu. Jessica ingin bangun.


"Terima kasih sudah datang jauh-jauh untuk menemuiku," Erthian kembali berbicara, jemarinya berlabuh di pipi Jessica. Keberadaan jemarinya saat itu pula layaknya sebilah pisau yang menyentuh permukaan kulit Jessica. Jessica merasa begitu terancam atas keberadaannya.


"Apa kau menyukai hadiah pemberianku?"


Jessica meronta-ronta dalam kepanikan. Ia tidak mempunyai suara untuk membalas ucapan Erthian.


"Kau memikirkanku, bukan? Aku datang untuk memenuhi janjiku..."


Lepaskan aku!


Lepaskan aku!


Isi kepala Jessica hanya dipenuhi dua suku kata itu.


"Aku akan memberikanmu kehangatan Jessica, karena kau sekarang hanya sendirian..., hahahaha."


"Hahahaha..."


"Hahaha..."


"HAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"


Berteriak sekeras tenaga, Jessica beranjak bangun dari tidurnya dengan peluh mengalir deras di wajahnya. Berkat teriakannya itu juga, Robin dan Lisa mendobrak masuk ke kamarnya. Menemuinya yang berada di tempat tidur dengan wajah yang pucat pasi dan ngeri. Air mata tumpah di pipinya, berbaur dengan keringat.


"Miss. Jessica, apa yang terjadi?" Lisa berusaha menenangkan tubuh Jessica yang bergetar dan terguncang, gadis itu seperti habis bertemu kematian. Lisa mencemaskan Jessica, tapi, belum sampai tangannya menyentuh pundak Jessica, tangannya ditepis begitu saja.


"Menjauh..." lirih Jessica.


"Tapi, Miss..."


"Menjauh! Aku bilang menjauh!!!"


Kendati Jessica telah menapak di realita, Jessica tidak menemukan ketenangan sama sekali di sana. Seluruh penghuni ruangan itu seperti musuh baginya. Jessica tidak mampu mempercayai siapa-siapa. Jessica merasa dikelilingi oleh monster.


Segala raut cemas yang tertuju kearahnya, Jessica tidak mampu mempercayai itu semua.


Jessica..., kemungkinan akan gila sebelum dia kembali pulang ke tanah airnya.

__ADS_1


...*...


__ADS_2