MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
100. Yang Terpenting.


__ADS_3

Ekspresi Jessica lebur dalam kelegaan begitu ia menemukan Demian melenggang memasuki lobby. Langkah Demian lebar dan panjang, dan ketika ia menemukan Jessica di ujung tatapannya, Demian spontan saja berlari dan menghampiri Jessica.


Tangan tak kasat mata yang sudah mencekiknya seperti melonggar seketika. Demian menemukan napasnya, Jessica.


Demian menemukan Jessica kembali ke dekapannya.


"Maafkan aku sudah terlambat, maafkan aku." Demian spontan saja memohon maaf begitu Jessica sampai ke dekapannya, menubruk dadanya dengan tubuh rapuh yang bergetar ketakutan.


Tangan Demian naik dan memberikan Jessica usapan menenangkan. Ia berusaha meredakan ketakutan Jessica yang kentara, menenangkan isakan Jessica yang meledak di dadanya. Demian saat itu juga, melempar tatapan tajam ke arah Erthian yang berdiri berdampingan dengan Hestia.


"Aku sudah ada di sini, Jesse. Kau tidak perlu takut pada apa pun. Aku sudah ada di sini." Demian mengucapkan kata-kata itu seperti mantra, ia membisikkannya di telinga Jessica, berulang-ulang agar gadis itu tenang.


Setelah tangis Jessica mereda, setelah ketakutan menyusut di dadanya, Jessica pun melonggarkan dekapannya. Ia menatap Demian tepat di mata.


"Terima kasih sudah ada di sini," ujaran Jessica begitu menyayat hati Demian.


Bukan karena ekspresi gadis itu begitu sendu dan sayu, tapi karena Demian lah yang membuat ekspresi Jessica menjadi sendu dan sayu. Demian merasa gagal sebagai pria. Ia tidak mampu melindungi Jessica yang sudah berarti banyak baginya. Demian sudah gagal. Namun, bukannya menyalahkannya, Jessica malah berterima-kasih.


Kebencian menyebar di dalam diri Demian saat itu juga. Kebencian besar pada dirinya sendiri yang sudah menciptakan luka pada diri Jessica. Dia sudah membuat Jessica menghadapi hal-hal mengerikan seorang diri, dia sudah menciptakan masalah ini kepada Jessica. Jika bukan karena moral tak bergunanya yang menolak membunuh Erthian, Jessica tidak akan...


Dia tidak akan...


"Apa Erthian melakukan sesuatu padamu, Jesse?" Demian menangkup pipi Jessica. Kendati basah air mata Jessica mengotori telapak tangannya, Demian tidak peduli. Demian hanya ingin Jessica jujur padanya sekarang dan Demian akan dengan suka-cita menyingkirkan Erthian dari muka bumi ini.


"Dia tidak melakukan apa pun padaku," Jessica menjawab dengan sungguh-sungguh. "Untungnya, dia tidak melakukan apa pun."


"..."


"Demian?"


"A-apa kau yakin?"


"Dia membiusku dan mengurungku..., tapi hanya itu." Jessica sangat yakin dan mantap dalam jawabannya, Demian terjebak dalam dilema. Ini bukan tentang Demian yang tidak mempercayai Jessica, tapi tentang Demian yang tau terlalu baik bagaimana busuknya seorang Erthian Bellamy.


Demian tahu benar kalau saudaranya itu iblis. Dia tidak akan...


"Demian," Jessica mengeratkan pegangannya di telapak tangan Demian, matanya masih terkunci kepada sepasang manik hitam itu. "Kau tidak perlu mencemaskan apa pun. Aku baik-baik saja."


"Belum Jessica," Demian mengecup pipi Jessica dan tersenyum tipis setelahnya. "Aku harus menyingkirkan bajingan keparat itu terlebih dahulu."


Hanya dengan itu mereka bisa berbahagia.


Demian sudah membulatkan tekadnya, ia tidak akan membiarkan Erthian melukainya lagi. Ia akan menghapus keberadaan pria itu dari hidupnya. Menghancurkannya.


"Apa yang kau katakan?" Jessica mengerutkan keningnya heran. "Kau..."


Apa Demian hendak membunuh Erthian sekarang? Tanya itu menyeruak di benak Jessica, menghantuinya.


"De-Demian..." Jessica berbalik mengikuti punggung Demian yang melaluinya.


Saat itu, mata Demian hanya terkunci pada satu orang. Kepada Erthian yang masih memasang ekspresi senang di wajahnya. Demian ingin meremukkan Erthian di dalam genggamannya, menghancurkannya tanpa sisa. Demian tidak akan memberikan pria itu pengampunan lagi.


Cukup. Demian sudah cukup menoleransikan kegilaan pria itu!

__ADS_1


"Demian," Hestia menyadari ekspresi Demian yang menakutkan, ia spontan menyela jarak antara Demian dan Erthian. "Hentikan apa pun yang sedang kau pikirkan!"


"..."


"DEMIAN!!!"


Tanpa memedulikan Hestia yang melindungi Erthian di balik punggungnya, Demian dengan entengnya menggapai leher sweater Erthian. Ia menarik saudaranya itu maju sebelum...


Bugh!


Satu tinjuan kuat mendarat di wajah Erthian. Si pucat Bellamy itu tersungkur di lantai, darah mengalir keluar dari hidungnya. Tumpah ke lantai bersama saliva.


"Demian, cukup!" Jantung Hestia seperti berhenti begitu saja. Ketakutan kalau Demian akan menghabisi Erthian menerornya, mengisi kepalanya dengan bayangan-bayangan bak merah darah.


"Demian..., hentikan, Demian..." Hestia memohon dengan suara yang putus asa. Ia tidak bisa membiarkan pertumpahan darah terjadi di antara keduanya. Namun..., sekali lagi, Hestia terhempas ke lantai oleh dorongan Demian.


Keponakannya itu tidak mempedulikannya sama sekali. Bahkan bila ia berseru dan menangis di sini, suara Hestia tidak akan mencapai telinga Demian.


Keberadaan Hestia tidak cukup.


Demian akan membunuh Erthian dan tidak ada siapa pun yang mampu melindungi Erthian.


Bahkan Carlos yang baru saja bergerak maju, terpukul mundur akibat tendangan Demian. Carlos tersungkur tidak jauh dari bosnya. Carlos kembali maju walau perutnya begitu ngilu. Ia berusaha melindungi Erthian tetapi tendangan yang kembali menghantam wajahnya spontan menuai kesadarannya. Carlos tumbang begitu saja.


Erthian memperhatikan sekitarnya dan tidak merasakan ketakutan apa-apa. Ia menunggu Demian menghampirinya, menantang adiknya dengan seringai iblis yang jenaka.


Ia siap menerima satu pukulan lagi.


Erthian tidak takut mati.


"Demian..." lirih serak suara disertai dekapan erat dari belakangnya membekukan waktu Demian seketika. Langkah Demian terjeda, amarahnya dan amukannya menyurut sirna. Ia--saat itu juga--merasakan Jessica mendekapnya dari belakang. Gadis itu menyandar di punggungnya, hangat tubuhnya samar-samar terasa. "Please, Demian..."


Suara Jessica seperti bisikan.


"Jangan melakukan sesuatu yang akan merugikanmu." Jessica berbisik di dadanya. "Aku tidak mau kau sama kotornya dengan mereka."


"..."


"Demian, please..., bawa aku pulang sekarang juga."


Suara memohon Jessica memadamkan api di dadanya, dan seperti itu saja, Demian menanggalkan segala murkanya. Ia berbalik menghadap Jessica, tangannya yang sempat terkepal kuat, memberikan usapan halus di surai hitam Jessica. Seakan-akan gadis itu adalah sebingkai kaca yang dapat remuk bila ia tak berhati-hati di sana.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang. Kau pasti sangat kelelahan, bukan?" Demian berujar sambil memberikan Jessica seulas senyuman.


"Mm."


Begitu Jessica berada di rangkulan Demian, siap beranjak keluar meninggalkan hotel itu, Hestia yang sudah kembali berdiri di atas dua kakinya menyerukan sesuatu yang diabaikan Demian sepenuhnya.


"Kita harus berbicara setelah ini, Demian!"


"..."


Demian?!"

__ADS_1


"..."


*


Sembari melenggang meninggalkan lobby, Jessica menemukan wajah familiar menyambut mereka di luar. Seorang pria jangkung berwajah babyface dan iris sapphire yang teduh, satu-satunya pria bernama Oscar Brown.


"Oscar..." Jessica menatap Oscar dengan kebingungan. Apa ini hanya kebetulan? Bagaimana bisa ia bertemu Oscar di sini, terlebih di jam 2 pagi?


"Jesse," Oscar menyapa Jessica, ia melayangkan seulas senyum ramah. "Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"


"Eh, ya?" Mengapa pertanyaan Oscar terasa agak personal?


"Jesse," Demian turut bicara. "Si bajingan ini adalah temanku."


"Ah..., a-apa?" Jessica terpana. Ia tidak menduga itu sama sekali.


Maksud Jessica, bila mereka memang berteman..., berarti selama ini Jessica berinteraksi dengan Oscar bukan hanya karena sebuah kebetulan? Dia..., teman Demian?


"Maaf sudah tidak mengungkapkan identitasku dengan jelas." Oscar membukakan pintu untuk Jessica, "Untuk sekarang, sebaiknya kau beristirahat saja. Cerita ini bisa kita lanjutkan di lain waktu."


"Oh, iya..." Tapi, sungguhan..., Oscar Brown adalah teman dari Demian?


"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Demian. Ia menyerahkan selimut untuk Jessica. Entah dari mana ia mendapatkannya. Ia juga memberikan Jessica satu botol air mineral. "Oscar adalah pemilik Bronze. Maafkan aku tidak pernah memperkenalkannya secara langsung padamu.--


Karena dia menjengkelkan, aku tidak mau kau mengenalnya. Namun, dia malah menemuimu tanpa memberitahuku. Dia memang agak menjengkelkan, tapi tenang saja, dia tidak berbahaya kok."


Setidaknya, tidak untuk Demian dan Jessica. Oscar sudah seperti senjata bagi Demian. Seperti kunci jawaban bila ia kehilangan arah dan tujuan. Oscar adalah aladin di lampu ajaibnya. Pria itu bisa memberikannya apa saja.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Memilih melupakan topik Oscar, Demian kembali membahas kondisi mental Jessica yang jujur saja, ketika Demian melihatnya, Jessica menampakkan ekspresi syok yang kentara. Demian takut Jessica memendam lukanya sendirian, karena itu, Demian ingin Jessica jujur padanya.


Namun...


"Aku baik-baik saja sekarang." Jawaban Jessica lagi-lagi tegas dan lugas. Tidak ada ruang untuk Demian memberikan pertanyaan atau sekedar menyuarakan keraguan. Jawaban Jessica seperti titik di akhir topik, untuk melanjutkan pembicaraan, maka mereka akan berujung membuka topik yang berbeda.


Demian menghela napas saja, akhirnya. Ia menerima ucapan Jessica saat itu juga sebagai kebenaran baginya.


"Baiklah, aku lega kau tidak kenapa-napa. Selama kau merasa baik-baik saja, itu sudah cukup untukku, Jessica."


"Demian...," Jessica menyandarkan pipinya di lengan Demian, matanya perlahan-lahan terpejam. "Kau akan selalu mempercayaiku, kan?"


"Tentu saja, Jesse. Aku harap kau juga selalu mempercayaiku."


"Terima kasih, Demian." Jessica merasa ia bisa sedikit tenang dan aman sekarang.


Demian merupakan sosok yang sangat Jessica butuhkan. Terutama sekarang, ketika dunia seperti meragukannya.


Demian adalah satu-satunya orang yang mampu mempercayai Jessica, dan meskipun seluruh dunia menentangnya, bila Demian tetap menaruh kepercayaan padanya, Jessica akan baik-baik saja. Jessica tidak butuh siapa pun selain Demian untuk mempercayainya. Ia tidak perlu membuktikan dirinya di depan siapa pun.


Jessica tau ia tidak melakukan apa pun, Erthian tidak melakukan apa-apa padanya, apa yang sudah terjadi adalah kebohongan yang dibuat Erthian saja. Semuanya adalah rekayasa.


Jessica tau apa yang ia pikirkan adalah kebenaran, karena itu, ia tidak membutuhkan pembenaran.


Selama Demian mempercayainya.

__ADS_1


Selama Demian percaya.


...****************...


__ADS_2