MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
28. Menepati Janji.


__ADS_3

Seperti yang Jessica janjikan pada dirinya sendiri, bahwa, ia tidak akan terlena pada keberadaan Demian dan perlakuan unik pria itu padanya, hari untuk ia menepati janji itu akhirnya tiba.


Hari itu hari Kamis, sepuluh menit sebelum jam tujuh malam. Demian dengan skill laba-labanya, mendaki kamar Jessica dan mendarat di balkon.


Suara pendaratan pria itu sudah tidak membuat Jessica terkejut. Yang ada, Jessica meningkatkan kewaspadaannya. Dia, demi apa pun, tidak akan membiarkan pertahanannya runtuh.


Demian bukan siapa-siapa. Dia tidak seharusnya membiarkan pria itu mencuri ciumannya, mengendusnya, dan meninggalkan sentuhan panas di tubuhnya. Itu tidak wajar dan sangat tidak masuk akal.


Mereka bukan pasangan, demi Tuhan!


Pokoknya, kejadian seperti itu tidak boleh terjadi lagi!!!


Berbeda dari Jessica yang menjadi was-was pada kedatangan Demian, Demian tidak tahu-menahu menyangkut apa pun. Ia memasuki kamar Jessica dan mengangkat sebelah tangannya. Ia melambai santai ke arah Jessica yang masih mengaduk kopi di balik meja kitchen set-nya.


"Buatkan aku satu," kata Demian enteng.


"Apa aku budakmu? Buat sendiri!" Jawaban Jessica ketus.


"Aku tidak ingat sudah mengatakan kalau kau adalah budakku? Kenapa kau tiba-tiba galak?"


"Kenapa, ya?" Jessica mendenguskan tawa gerah. "Mungkin karena aku bosan melihatmu muncul di sini sesuka-hatimu."


"Aku pikir kita sudah deal menyangkut masalah itu," Demian menatap Jessica dengan sedikit heran.


Apa yang terjadi sekarang? Mengapa gadis yang ia pikir sudah ia jinakkan sekarang bertingkah dingin dan kejam? Apa yang merasukinya lagi?


"Sejujurnya, sulit untuk mengatakan kalau perjanjian itu valid. Saat itu aku sangat mengantuk dan tidak begitu ingat kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri."


Jessica selesai mengaduk kopinya. Ia membawa mug biru tua itu menuju tempat tidur. Melewati Demian yang masih setia mengamatinya, dan menaruh mugnya di atas nakas. "Aku akan bekerja sekarang, kau sebaiknya tidak mengajakku bicara."


Tau kalau Jessica sedang dalam suasana hati buruk, Demian pun tidak mengejar topik itu lagi.


Demian merasa, bila ia terus mengulik alasan kejanggalan sikap Jessica, ia akan ditendang keluar dari sana dan tidak akan diterima lagi selamanya.


Bukan berarti Demian tidak bisa memaksakan dirinya untuk masuk di kehidupan Jessica lagi, akan tetapi..., memaksa masuk dan diterima masuk adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Demian tidak ingin memamerkan sisi beringasnya pada Jessica, tidak ketika gadis itu sudah memperlakukannya dengan baik selama ini.


Sesuatu hanya sedang terjadi di kepala Jessica sekarang. Demian perlu amarah dan kewaspadaan gadis itu mereda agar ia bisa menemukan petunjuk dari sikap ketusnya yang menyeruak secara tiba-tiba.


Demian berani bertaruh ia mampu menakhlukkan api amarah gadis itu, cepat atau lambat. Ia tidak perlu tergesa-gesa. Biarkan Jessica merasa menang sudah mengintimidasinya.


*


Mengapa Tuhan menciptakannya dengan empati yang tumpah-ruah?


Sebuah pertanyaan muncul di benak Jessica ketika ia menyibukkan dirinya membaca laporan keuangan Elixir yang disetorkan Dania untuknya.


Jessica, kendati memaksakan dirinya untuk fokus, terbenam dalam perasaan berdosa. Rasanya seperti dihimpit oleh dinding raksasa, Jessica panik ketika diam-diam, ia memperhatikan Demian beristirahat di sofa.


Jessica merasa prihatin pada Demian. Jessica tidak menyangka, perasaan bersalah yang muncul dari bersikap dingin dan tegas akan sangat mempengaruhinya. Jessica ingin berlari ke mesin kopinya dan membuatkan Demian kopi.


Demian sudah membuatkannya kopi malam itu, tapi bukannya membalas budi Demian, Jessica malah bertingkah arogan.


Jessica ingin menangis.


Di satu sisi, ia menyadari kalau yang ia lakukan sekarang adalah bentuk pertahanan diri. Namun, di sisi lain, Jessica dilahap oleh perasaan bersalah yang menusuk dadanya, menciptakan nyeri tak kasat mata.


Demian..., dia bukan pria yang sepenuhnya jahat. Mungkin dia hanya iseng-iseng menggoda Jessica, dia tidak mempunyai maksud terselubung di sana?


'Mungkin aku yang salah karena sudah terbawa perasaanku sendiri dan kecewa? Dari awal aku mengetahui kalau hati Demian hanya diperuntukkan untuk Angela, lantas mengapa aku mengira sekilas godaan Demian memiliki arti yang mendalam?'


Rasanya sangat menyakitkan. Jessica merasa ia sudah memperlakukan Demian tidak adil.

__ADS_1


Haaaa~


Selagi Jessica terbenam dalam perasaan bersalahnya sendiri, Demian yang berbaring di sofa menyibukkan diri dengan bermain game online di ponsel.


Sejujurnya, kedatangan Demian kemari adalah untuk bersantai, atau dalam kata lain, bersantai sambil mengganggu Jessica?


Sayangnya, karena gadis itu sedang dalam mood buruk, aktivitas bersantai Demian jadinya hanya sebatas benar-benar bersantai.


Keheningan mengatmosfir di kamar itu untuk beberapa waktu yang terbilang lama. Demian pun mulai bosan dengan game online-nya. Demian tidak tau harus melakukan apa. Bergerak sesuka-hati di kamar Jessica juga menjadi tidak nyaman karena si tuan rumah sekarang dalam mode marah.


Karena keheningan itu, pikiran Demian jadi kembali menanyakan hal yang sama untuk ke sekian kalinya. Apa yang sudah ia lakukan, atau setidaknya, apa yang sudah terjadi sampai Jessica mengambil jarak darinya kembali?


Padahal, berdasarkan kalkulasi Demian, ia sudah mendekati Jessica secara persisten. Gadis itu seharusnya menari di atas telapak tangannya sekarang, bukan malah menikamnya dengan delikan.


Apa yang terlewatkan?


Demian terus berpikir dan berpikir.


Hingga akhirnya secangkir kopi dengan kepulan uap panas diletakkan di atas meja, bersebelahan dengan ponsel Demian yang tak terpakai. Jessica yang menaruh kopi itu di sana. Demian spontan saja terpana. Dia beranjak bangun.


"Minumlah," kata Jessica, suaranya ketus.


"???" Demian terheran-heran.


"Kenapa?" tanya Jessica. Ia menjadi semakin tersinggung saat Demian menatapnya seperti menatap makhluk luar angkasa.


"Tidak..., aku pikir kau..." masih marah, adalah kata yang tersangkut di ujung lidah Demian. Tidak ia katakan karena ia sekarang sudah menemukan jawaban dari keheranannya.


Oh, bagaimana bisa ia melupakan jati diri Jessica yang sebenarnya? Gadis penuh empati itu mana mungkin bisa bertingkah kasar tanpa merasa berdosa.


Menjadi baik adalah hal yang natural bagi Jessica. Melakukan hal jahat adalah tantangan dan kemustahilan tersendiri yang walau mampu ia lakukan, akan sangat sulit ia terapkan.


Ahahahaha..., betapa menggemaskan.


"Terima kasih," kata Demian. Ia mati-matian menahan senyuman. "Jadi, apa amarahmu sudah sedikit mereda?"


"Aku tidak marah. Siapa yang kau tuduh marah?" Jessica melenggang meninggalkan sofa dan kembali menuju tempat tidurnya. "Aku hanya sibuk."


"Yakin?" Demian menggoda Jessica dengan senyum jenaka.


"Itu pertanyaan tolol," sahutan Jessica datar.


Alih-alih menyahut ucapan Jessica dari tempatnya berada, Demian beranjak dari sofa dan menghampiri Jessica di tempat tidur. Ia melabuhkan tubuhnya di tempat tidur gadis itu dan bertiarap di atasnya. 


Posisi ini lebih nyaman, pikir Demian. Dengan begini, ia bisa mengamati Jessica bekerja dengan jarak yang lebih dekat.


"Mau kubantu?" Demian menawarkan diri membantu pekerjaan Jessica yang penuh angka di mana-mana.


"Kalau kau mau membantu, kau sebaiknya diam."


Saat itu pula, kendati Jessica sedikit melunak pada Demian dan membuat pria itu kembali bertingkah sesuka-hatinya, Jessica merasa lega. Dinding yang menghimpitnya, remasan tak kasat mata di jantungnya, semua itu memudar reda.


Memang benar, menjadi jahat lebih sulit bagi Jessica. Semua ini adalah salahnya. Demian menjadi manja padanya sudah pasti karena dia gampangan.


"Aku harap aku bisa menjadi bajingan sepertimu," kata-kata itu lolos dari bibir Jessica. Ia menatap Demian dan kembali merasakan desiran tak nyaman di dadanya. Sesuatu yang salah sudah tumbuh di sana. Berbahaya.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin menjadi bajingan? Padahal aku lebih suka kau yang seperti ini, baik hati." Ucapan Demian dimaksudkan sebagai godaan, tapi Jessica menanggapinya dengan seulas senyum masam.


"Mungkin karena itu melelahkan."


Menjadi baik itu melelahkan. Jessica tidak bisa melawan keinginan hatinya untuk berbuat baik, walau secara logika, ia tau kebaikannya akan menjadi bumerang yang akan menghancurkannya sendiri.

__ADS_1


Di mulai dari ini, perasaan asing yang tumbuh di dadanya saat ini..., perasaan yang akan menghancurkannya bila ia tidak segera memangkasnya.


*


Sesuai perjanjian yang Jessica buat dengan Jake, di hari Jumat yang mendung itu, Jessica menunggu kedatangan Jake di depan Almond street. 


Jessica mengenakan sebuah kemeja oversize berwarna coral, dan celana jeans berwarna ash grey. Rambut hitam Jessica yang lebat diikatnya satu dengan beberapa anak rambut jatuh membingkai wajahnya di bagian depan. Sepatu boots hitam menjadi pemanis penampilan Jessica hari itu.


Setelah bertukar pesan delapan menitan yang lalu, sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Dia--Jake Allendale muncul dengan mengendarai sebuah mobil sport hitam yang menarik perhatian orang-orang. Well, mobil itu tidak akan menarik mata bila bukan brand-nya yang sangat terkenal mahal.


"Apa-apaan?" kata Jessica. Ia menghampiri mobil Jake yang atapnya terbuka, matanya menyorot pria itu penuh ketakjuban. "Apa kau pangeran dari Arab?"


Jessica tau Jake Allendale adalah pria yang cukup kaya, hanya saja..., tidak sekaya untuk mampu membeli satu ferrari.


Well, damn.


"Masuklah," kata Jake. "Aku pikir cuacanya cukup bagus untuk berkendara dengan atap yang terbuka, apa kau tidak masalah?"


"Aku mengendarai ferrari untuk pertama kali, apa yang bisa kupermasalahkan?" Jessica masih terpana. "Serius, aku terkejut."


"Ini hanya hadiah ulang tahunku. Kalau aku sendiri, aku tidak akan membelinya." Jake berupaya merendah diri di hadapan Jessica, tapi ucapannya malah membuat Jessica semakin takjub.


"Haruskah aku memanggilmu 'yang mulia' dari sekarang? Rakyat jelata sepertiku merasa sangat tersentuh."


"Jesse.."


"Baiklah, baiklah." Jessica mengibaskan tangan. "Aku hanya bercanda. Ahahaha."


"Pasang sabuk pengamanmu," kata Jake kemudian. "Aku akan membawamu bersenang-senang seharian."


"Kau harus memegang ucapanmu," ujar Jessica. "Aku akan memukulmu kalau aku berujung tidak senang."


"Apa kau MMA Fighter?"


Jessica mengerling jenaka ke arah Jake. "Apa kau penasaran?"


"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau dipukul."


Menutup topik itu sampai di sana, Jake lalu melajukan mobilnya di jalanan kota Vegas. Langit mendung membuat suhu di musim panas itu menjadi tidak sepanas biasanya.


Jessica merasa baik-baik saja dengan atap mobil yang terbuka. Setidaknya, tidak ada matahari yang akan menyengat kepalanya.


Di pagi hari menjelang siang itu, mereka menghabiskan beberapa jam untuk berkendara saja. Jessica menatap setiap pemandangan di kota Vegas berkilas di matanya. Tertinggal di belakang mereka yang terus melaju di jalan raya.


"Rasanya sudah sangat lama aku tidak berjalan-jalan." Jake bernostalgia. "Terakhir kali aku pergi, aku bersama Angela dan itu..."


Kata-kata yang hendak meluncur keluar dari bibir Jake memudar dalam kebisuan. Pria itu mengembuskan napas panjang.


"Aku juga sudah lama tidak jalan-jalan." Jessica mengambil alih arah pembicaraan itu, ia tidak mau Jake memulai perjalanan mereka dengan gundah-gulana.


"Oh, apa kau suka ice cream semangka?" Jake melakukan hal yang sama. Dia, sepertinya, juga tidak ingin bersedih hari ini.


"Aku lebih senang memakan semangkanya langsung," jawab Jessica.


Saat itu, Jessica menyadari..., walaupun Jake terlihat santai dan segar hari ini, hatinya masih jauh dari kata sembuh. Kenangan yang sudah menyakitinya masih sulit untuk ia keluarkan.


'Angela, walau hubungan itu hanya bertahan dua bulan lamanya, apa yang sudah kau lakukan sampai Jake Allendale kehilangan cahaya dari matanya? Kehidupan macam apa yang kalian jalani berdua? Aku pikir kalian akan berbahagia...'


"Aku mengetahui sebuah cafe yang menjual buah-buahan segar dan dessert enak, aku akan mengajakmu mampir ke sana."


"Mm..., ayo membeli strawberry juga."

__ADS_1


Semoga hari ini berakhir dengan baik.


*


__ADS_2