MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
105. Lebih Baik Diam.


__ADS_3

Demian meninggalkan Rhoden manor keesokan paginya. Ia menyelinap keluar dari kamar Jessica, penuh kehati-hatian agar tidak menciptakan keributan. Demian tidak mau Jessica yang terlelap nyenyak, terbangun akibat pergerakannya.


Gadis itu masih sangat lelah akibat perjalanan mereka seharian kemarin. Oh, dan jangan lupakan juga aktivitas mereka semalam. Demian benar-benar sudah menguras energi Jessica seharian penuh, Demian sampai merasa bersalah.


Setengah jam setelah kepergian Demian, barulah Jessica mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit. Jessica membuka mata dan menemukan sebuah sticky notes merah muda menempel di bantal tempat Demian terlelap semalam.


...'Aku akan kembali nanti sore, beristirahatlah lebih lama. Love, Demian.'...


Membaca pesan itu, seulas senyuman terbit di wajah mengantuk Jessica. Ia mengangkat notes tersebut di depan wajahnya, membaca pesan itu berulang-ulang sementara kantuknya menyurut hilang.


Jessica tidak tau apa yang lucu atau menggemaskan dari pesan itu, tapi membacanya membuat Jessica merasa bunga sudah bermekaran di hatinya. Jessica merasa pipinya memanas hanya dengan membaca pesan singkat yang diberikan Demian. Ia merasa pria itu sangat menggemaskan dan perasaan gemas itu menjijikkan.


"Mengapa aku seperti ini?" Jessica bergumam malu pada dirinya sendiri. Dia bukan remaja lagi, demi Tuhan. Mengapa ia tersipu pada hal biasa seperti ini?


"Hmmmmmppp--" Jessica membenamkan wajahnya di bantal, meredam teriakannya dan kekehannya yang tak dapat ia tahan. Kakinya terayun gembira dan senang.


Jessica kembali mengingat kencannya dan Demian kemarin dan semua itu sangat menyenangkan. Jessica sampai tidak menyangka kalau semua yang sudah terjadi itu nyata. Rasanya terlalu sempurna. Jantung Jessica berdegup kencang hanya dengan mengingatnya.


Berkat hari indah yang sudah dijalani Jessica kemarin, Jessica bangkit dari tempat tidur dengan antusias. Musim gugur di luar, daun-daun yang melayu pudar, seperti tak kasat mata di hadapannya. Ia menatap dunia dalam lensa merah muda. Semuanya serba indah dan jelita.


Bahkan pegal di pinggangnya dan ngilu di lututnya tidak membuat Jessica marah, Jessica hanya menyengir lebar keluar dari kamar. Dia nyaris melompat-lompat saking riangnya.


"Selamat pagi, Miss. Jessica." Lisa si bodyguard menyambut Jessica yang baru saja membuka pintu.


Penampilan Jessica sangat segar-bugar, berbeda sekali dari peringatan yang sudah diberikan Demian pada Lisa dan Robin ketika pria itu pulang. 'Jesse sangat letih dan lelah hari ini, pastikan saja dia tidak melakukan hal-hal berat.'


"Kau terlingat sangat ceria hari ini, Miss." Robin menyuarakan kebingungan Lisa. Pria muda berlesung pipi itu sepertinya juga mempertanyakan hal yang sama.


"Itu..., bagus, kan?" Jessica bertanya agak heran. Maksud Jessica, apa yang salah dengan menjadi ceria? Mengapa dua escort-nya menatap ia dengan dua alis meninggi?


"Sangat bagus, Miss. Jessica. Kau terlihat lebih bersemangat daripada hari pertamamu di sini. Itu melegakan."


"Well, then. Terima kasih." Jessica mengengir tipis. "Ah..., ngomong-ngomong, aku agak telat bangun hari ini..., maafkan aku."


"Tidak masalah, Miss. Jessica."


"Apa Miss. Jessica ingin melakukan sarapan di kamar hari ini? Atau...,"


"Kurasa Miss. Hestia masih menikmati sarapannya di taman. Kalau kau mau bergabung...?"


"Itu ide yang bagus." Jessica menjawab.


Kendati Jessica mempunyai sedikit ketidak-senangan pada Hestia, Jessica masih tau diri di mana dia berada sekarang. Jessica merasa ia perlu menyapa tuan rumah itu sesekali, mungkin, siapa yang tau, mereka bisa menjadi lebih akur.


Dengan niat menyantap sarapan bersama Hestia, Jessica pun pergi ke taman yang berada di halaman khusus Rhoden Manor. Taman itu dipenuhi bunga-bunga dan beberapa pepohonan rindang.


Mungkin karena sekarang musim gugur, nuansa di taman itu menjadi teduh dan sayu. Dedaunan berguguran dari atas pohon, mengotori jalan berbatu tempat Jessica menapak. Jessica membayangkan, bila sekarang adalah musim panas, tempat ini pasti sangat hijau dan segar. Panasnya mungkin akan menyengat kepala juga.


"Jessica..., Cerise." Hestia--di antara taman yang memudar jingga--menyapa kedatangan Jessica.


Wanita tua itu duduk di sebuah gazebo kayu yang tiang dan atapnya dijalari dan ditutupi tanaman rambat. Beberapa akar dari tanaman itu bahkan menjuntai di sekitar, seperti ular. Jika Jessica tidak memperhatikan, Jessica mungkin akan berteriak kaget begitu pundaknya menabrak salah satu akar itu.


"Selamat pagi," Jessica menyapa Hestia. "Boleh aku bergabung dan menyantap sarapanku di sini?"


"Nyamankan dirimu," sahut Hestia. Wanita itu kembali membaca koran paginya, nampak tidak terganggu sama sekali pada keberadaan Jessica di hadapannya. Jessica menyukai sikap acuh tak acuh wanita itu. Namun, sunyi yang membentang di antara mereka cukup awkward juga.


Rasanya serba salah.

__ADS_1


Sialan, Jessica sama sekali tidak tau cara berkomunikasi dengan orang-tua. Terlebih bila mereka seumuran Hestia, berekspresi bengis dan sulit didekati.


Phew.


Jessica merasa seperti sedang berhadap-hadapan dengan tembok bata. Apa pun yang ia lontarkan pada tembok itu, kemungkinan akan memantul kembali ke arahnya, tak terespon.


'Tsk, aku menyesal sudah memutuskan menyantap sarapanku di sini. Apa yang kuharapkan akan terjadi? Wanitai ini menakutkan!'


Menyantap sarapannya dalam diam dan dipenuhi oleh perasaan canggung mendalam, Jessica sama sekali mengira kalau pagi ini akan berakhir dalam kesunyian. Namun..., Hestia melipat korannya dan menaruh kertas itu ke atas meja. Mata Hestia menyorot ke arah Jessica. Jessica membalas tatapannya sambil mengunyah lamban.


Apa yang akan dia katakan sekarang?


"Aku dengar kau dan Demian menghabiskan seharian di luar kemarin." Hestia membuka suara.


Jessica mengangguk, memberikan pembenaran.


"Bagus sekali. Aku pikir dia akan melupakanmu di sini."


"Dia tidak mungkin melupakanku." Jessica berani bertaruh.


"Kau berkata begitu karena kau tidak tau. Keponakanku itu pernah membawa kekasihnya menginap di sini, di kamar yang kau tempati..., dia mengiming-iminginya dengan berbagai janji dan keesokan harinya, dia malah berangkat bersama teman-temannya ke Roma. Perempuan itu dijemput oleh keluarganya sambil menangis. Aku merasa..., iba?"


Bercanda, ya?


Jessica menggaruk pipi, awkward. "Ahaha..., aku tidak tau tentang itu, tapi..., Demian tidak akan memperlakukanku seperti itu. Kau tidak perlu mencemaskanku, Hestia."


"Aku tidak mencemaskanmu. Aku sudah berhenti mencemaskan gadis-gadis manis yang berkeliaran di rumah ini. Mereka hanya datang dan pergi."


"Well, jika aku pergi, aku sudah pasti akan pergi bersama Demian."


"Las Vegas," ujar Jessica. Ia menjawab dengan keseriusan. "Aku dan Demian akan kembali ke Vegas setelah masalah keluarganya terselesaikan."


"Itu agak..., lucu? Aku tidak tau Demian mempunyai masalah keluarga sama sekali. Dia dan keluarganya selalu akrab, Jessica. Kalau ada masalah, aku sudah pasti menjadi orang pertama yang tau."


"Kalau mereka cukup akrab, Demian tidak akan berangkat ke Vegas dan meninggalkan keluarganya bertahun-tahun. Oh, dan kalau kau lupa, jika bukan karena aku menghentikan Demian, Erthian yang merupakan keluarganya bisa saja kritis di rumah sakit sekarang. Aku tidak tau apa itu yang kau maksudkan dengan akrab."


"Demian selalu marah kepada Erthian, itu sudah menjadi kewajaran. Mereka saudara, saling berbagi pukulan sudah lumrah. Kau mungkin tidak tau karena kau tidak mempunyai keluarga..., ah, apa ucapanku keluar agak kasar?"


"Tidak kasar sama sekali, Hestia. Hahaha..., bagaimana mungkin itu kasar?" Jessica mengepalkan telapak tangannya. Menahan kemurkaan. "Kau hanya mengutarakan kebenaran," ujar Jessica lagi. "Namun, hanya karena hal-hal yang kau ucapkan wajar, itu tidak serta-merta menutupi fakta kalau Demian mengutuk keluarganya dan sangat ingin melarikan diri dari sana."


"Lalu, bagaimana kalau kukatakan kau salah?"


"Ya?"


"Demian tidak akan meninggalkan keluarganya. Dia, bagaimanapun, adalah seorang Bellamy. Apa kau pikir hanya karena seorang wanita..., dia akan meninggalkan hal-hal yang sudah mendarah daging di hidupnya?"


"Dia tidak meninggalkan Bellamy untukku, Hestia. Dia meninggalkan Bellamy untuk dirinya sendiri." Jessica mengoreksi dengan sabar.


Hestia meraih cangkir tehnya, mata melirik Jessica jenaka. Seolah-olah Jessica melontarkan lelucon di depan wajahnya. "Itu lucu," ujar Hestia setelah menyesap tehnya.


"Tidak ada yang lucu dari itu. Kalau kau menyayangi Demian, kau seharusnya memikirkan Demian dan mendukungnya."


"Percaya padaku, Jessica. Tidak ada orang yang lebih mendukung Demian daripada aku. Aku sangat mengutamakan yang terbaik untuk keponakan-keponakanku. Kau tidak tau sedikit pun hal yang sudah aku korbankan demi memihak mereka..., aku..." Hestia menjeda ucapannya, ia agak terkejut ketika ia merasa dirinya sedikit terprovokasi oleh ucapan Jessica.


Bagaimana bisa ia kehilangan ketenangannya saat berdebat dengan gadis seperti Jessica?


Sangat-sangat tidak pantas!

__ADS_1


"Lupakan saja," tukas Hestia. Ia kembali dalam pose angkuhnya. "Aku hanya akan memberikan sedikit informasi padamu. Di sini, di tempat ini, kami sangat mengapresiasi keberadaan keluarga kami. Kami menganggap keluarga kami bernilai lebih tinggi dari sekedar kehidupan kami. Karena itu..., aku percaya kau tau maksudku."


Dalam kata lain, Jessica yang hanya orang luar dan hanya 'seorang wanita' di mata Hestia. Jessica tidak mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan keluarga Bellamy. Sungguh cara manis untuk mengatakan Jessica tidak penting. Jessica terharu. Apakah ini cara elegan orang kaya memaki orang lain?


Angela perlu belajar dari Hestia, sejujurnya.


Ah!


Jessica jadi kepikiran wanita keparat itu, kan. Sialan!


"Informasimu sangat bermanfaat, Hestia. Aku mengapresiasinya. Namun, akan kuberitahu padamu juga..., aku percaya pada Demian, dan Demian mempercayaiku."


"Kepercayaan, kah? Sudah berapa lama kepercayaan itu dibangun, Jessica?"


"..."


"Satu bulan, tiga bulan?"


"..."


"Kau merasa, hanya dengan segelintir hari yang kau lewati bersamanya sudah cukup sebagai fondasi di hubungan kalian berdua?" Hestia menahan tawa. "Menggemaskan. Sekarang aku bisa melihat sedikit hal yang membuat Demian menyukaimu."


Hestia memberikan Jessica tatapan jenaka untuk kesekian kalinya. Tidak perlu membuka mulut, Jessica sudah tau wanita itu meremehkan keberadaannya.


"Kenaifan itu, oh, Demian sangat mengagumi kenaifan itu. Hahaha. Dia menyukai kepolosan seorang wanita. Kurasa, itu menghiburnya. Kau tau, seperti melihat kotak musik dengan ballerina yang menari di dalamnya. Jessica, kau juga..., sama seperti ballerina itu. Melihatmu menari dalam ritmenya, itu pasti memukau mata."


"Mengapa kau sanggup mengatakan hal seburuk itu, Hestia?"


Jessica sangat takjub pada ucapan Hestia. Selain karena ucapan wanita itu menombak tembus ke jantungnya, menyakitinya. Jessica juga sangat terkesima pada fakta kalau Hestia bisa menjadi sangat jahat.


Apa wanita itu tidak mempunyai nurani sama sekali? Apa hatinya tidak sakit ketika sudah mengatakan hal nista seperti itu? Apa dia tidak merasa tercekik oleh perasaan bersalah? Di mana moralnya?


"Aku hanya memberikanmu kejujuran."


"Itu bukan kejujuran sama sekali." Itu adalah penghinaan.


"Benar, kejujuran yang sebenarnya adalah, Christian akan menunjuk siapa penerusnya minggu depan. Untuk sekarang, Demian dan Erthian sedang mempersiapkan diri untuk menerima posisi itu. Beberapa ujian mungkin sedang diberikan oleh Christian pada mereka, karena itu keduanya akan menjadi sangat sibuk kedepan."


"Eh?"


"Kau sudah menghabiskan waktu bersama Demian seharian kemarin. Namun, sepertinya ini pertama kali kau mendengarkan informasi ini."


Jessica merasakan kerongkongannya mengering. Apa yang baru saja Hestia katakan?


"Untuk orang yang saling mempercayai satu sama lain, aku rasa kalian berbagi kejujuran terlalu sedikit. Baik itu Demian..., maupun kau...," ucapan Hestia mengacu pada Jessica yang belum membeberkan apa pun menyangkut Erthian. Namun, seperti yang sudah-sudah Jessica katakan, tidak ada yang terjadi di antaranya dan Erthian. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun pada Demian!


Jessica jujur ketika ia mengatakan pada Demian tidak ada yang terjadi dan Demian mempercayainya. Namun...,


"Demian akan memberitahuku nanti sore," ujar Jessica. "Dia hanya lupa karena kami terlalu asik kemarin."


Demian tidak mungkin melewatkan informasi penting itu secara sengaja. Dia pasti hanya lupa.


Hestia beranjak dari tempat duduknya. "Hmmm. Pastikan saja dia tidak melupakanmu juga."


Keparat!


...*...

__ADS_1


__ADS_2