
Jubah tidur hitam menjuntai panjang di tubuh jangkung Demian, melingkupi piyama satin donker yang ia kenakan. Malam itu..., di balkon rumahnya, Demian melenggang sendirian tanpa arah dan tujuan. Matanya menyorot teduh ke arah kegelapan malam. Jauh kepada laut yang nampak total hitam di ujung pandangan.
Angin malam berembus lembut menyusup disela-sela surai ikal Demian, menciptakan sensasi dingin yang samar.
Ada banyak hal berkelebat di benak Demian, bergentayangan di kepalanya dan menghantuinya hingga ia sulit terlelap belakangan. Terkadang, saking mengerikannya hal-hal yang sudah memenuhi kepalanya, Demian sampai memuntahkan isi perutnya. Demian dilanda dilema, amarah dan juga kecewa. Demian tidak tau harus melangkah kemana.
"Semua keputusan di tanganmu, Demian. Apakah kau ingin menjadi pemimpin di Bellamy atau kau ingin menanggalkan posisi penting ini kepada saudaramu. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku ingin kau memanfaatkan otakmu dengan baik di sini. Buatlah pilihan terbaik untuk dirimu sendiri."
Sementara ucapan Christian bergaung di benaknya, Demian juga kembali teringat pada ekspresi Jessica malam itu. Ekspresi ketakutan Jessica masih melekat di ingatan Demian, meninggalkan teror yang sulit untuk ia lupakan. Demian tau Jessica mengatakan ia baik-baik saja, dan demi Tuhan Demian, juga mengharapkan hal serupa.
Namun, entah bagaimana Demian...
Hari ini Demian menerima sebuah bingkisan. Tanpa mempertanyakan siapa yang memberikan bingkisan tersebut, Demian sudah tau itu dari Erthian karena yang mengantarnya adalah Carlos.
Demian sudah hapal mati kalau pria yang seharusnya menjadi teladannya; saudara yang memberikan contoh baik padanya tersebut; adalah orang gila. Demian tau kalau setiap tindakan Erthian selalu mempunyai makna tersembunyi, dan makna itu tidak pernah baik. Karena Demian sangat tau orang seperti apa Erthian, Demian seharusnya langsung melempar bingkisan itu ke dalam perapian yang menyala. Namun, tololnya..., Demian membuka bingkisan tersebut.
Demian membuka bingkisan itu dan sekarang, di sinilah Demian. Dia berjalan tak tentu arah seperti hantu yang menghuni mansion tua itu. Seakan-akan pikiran Demian tidak cukup kusut, bingkisan itu malah membuat Demian naik pitam. Menghitamkan pandangan Demian.
Hari ini, jika bukan karena banyak orang menghentikannya, Demian mungkin akan berakhir menjadi pembunuh saudaranya sendiri. Erthian mungkin akan mati.
"Bajingan," Demian menghela napas panjang.
"Aku baik-baik saja, Demian."
Ucapan Jessica muncul di benaknya kembali, dan Demian spontan saja menekan telapak tangannya di mata. Ia memejamkan matanya erat-erat, seakan-akan berusaha meredam bayangan Jessica di benaknya yang nampak begitu nyata. Demian tidak mau mengingat Jessica, tidak ketika ingatan itu adalah ingatan buruk yang menghantui kewarasannya.
Demian hanya ingin mengingat Jessica-nya sebagai gadis ramah yang baik hati. Demian tidak ingin memikirkan wajah itu menahan tangis, terluka ataupun nelangsa. Demian tidak ingin membayangkan betapa terlukanya Jessica belakangan.
"Demian..." Seperti benalu, sosok yang tidak Demian harapkan muncul dan menyapanya. Wanita itu--Selina, siapa lagi kalau bukan dia--datang dengan gaun malam tipis yang menjijikkan. Demian merasakan tekad terlarang menyeruak di benaknya, menghasutnya untuk melempar Selina jatuh dari balkon lantai lima.
Gila.
'Apa aku sudah gila?' Demian meringis atas pemikirannya sendiri.
"Mengapa kau sendirian di sini?" Selina kembali bicara, walau sebelumnya sudah diabaikan. "Kau bisa kedinginan kalau di luar."
Bicaralah pada dirimu sendiri yang hanya memakai gaun sepangkal paha itu!
"Kau tau kau tidak bisa mengabaikanku selamanya, Demian. Tidak setelah apa yang terjadi di antara kita."
__ADS_1
Tatapan Demian meruncing tajam. "Kalau kau masih mau bernapas di rumah ini, Selina. Kusarankan kau tidak mendekatiku lagi."
"Demian..., bukankah kau menikmati apa yang terjadi malam itu?"
"Haaaa..., hahaha...," Apa wanita ini bercanda? "Kau delusional, Selina. Jika bukan karena Erthian memainkan triknya seperti keparat, sampai mati pun, kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan apa pun padaku."
Selina mengepalkan tangannya.
Kendati merasa terhina, Selina tidak merasa penolakan Demian cukup untuk menghancurkan tekadnya. Selina percaya, bila ia bersikeras, ia akan mampu meluluhkan hati baja Demian untuknya. Dia hanya perlu membuktikan cintanya pada Demian.
"Apa yang salah dariku, Demian? Aku sudah mengatakan berulang kali aku menyukaimu! Aku...., meskipun kau sudah meninggalkanku bertahun-tahun, perasaanku padamu tidak berubah sedikit pun, Demian."
Wanita ini semakin gila, pikir Demian saat itu juga.
Meladeni Selina hanya akan memperpanjang kejengkelannya. Demian memilih melenggang dari hadapan Selina begitu saja. Lupakan wanita tidak jelas itu, ada banyak hal yang lebih penting dan lebih utama yang perlu Demian pikirkan. Demian perlu--
"Demian, tunggu..." Selina menahan lengan Demian, tidak, daripada sekedar menahan, ia menggelayut di lengan Demian dan menekan dadanya di sana. Demian merasa kejijikan luar biasa begitu berkontak fisik dengan iblis wanita itu.
"Lepaskan aku!" tegas Demian, matanya berkilat penuh kemurkaan. Bila Selina tidak melepaskannya, Demian tidak akan segan melempar wanita itu dari balkon.
"Demian..., jangan seperti ini padaku." Selina seperti tak peka atas reaksi Demian, tidak, dia tidak peduli. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Demian kendati Demian menunjukkan kebencian. "Meskipun kau tidak menyukaiku, aku rela kau melakukan apa saja padaku, Demian. Kalau kau membenciku, ingin membalas dendam padaku..., biarkan aku menjadi budakmu."
"Aku serius Demian, aku akan menyerahkan tubuhku hanya untukmu. Aku sangat merindukanmu, Demian. Aku rela melakukan apa saja untuk bisa mengalami apa yang sudah terjadi hari itu. Aku ingin kau menyentuhku kembali, Demian..., aku sangat..."
Brugh!!!
Satu kali sentakan, Selina yang menempel di tubuhnya terdorong jatuh ke lantai batu. Demian tidak merasa bersalah sedikit pun sudah bersikap kasar. Malah, jika bukan karena sedikit kemanusiaan yang tersisa di benaknya, Demian mungkin akan menghampiri wanita itu dan menapak di wajahnya, berulang-ulang seperti menginjak kecoa sampai mati.
Tapi..., sekali lagi, Demian masih mempunyai sedikit kemanusiaan.
"Demian...," tanpa membiarkan Demian meninggalkannya, Selina merangkak dengan putus asa dan memeluk kaki Demian seerat-eratnya. Sepasang mata wanita itu berbinar-binar ria. Ia tidak mempedulikan sama sekali penolakan Demian terhadapnya, melihat Demian sudah kembali di atap yang sama dengannya sudah cukup untuk membuat Selina menggila.
"Demian, jangan tinggalkan aku lagi, kau menginginkanku, bukan? Mengaku saja..., berhenti menghindariku. Ayahmu tidak akan tau apa pun. Aku serius Demian, aku..., sudah sangat basah sekarang..., sentuh aku Demian!"
"Ah, ini benar-benar memuakkan." Demian berujar pada dirinya sendiri. Segala kegilaan dan obsesi yang Selina tunjukkan mengingatkan Demian pada realita mengenai mengapa ia begitu membenci kediaman Bellamy. Tempat ini adalah neraka untuknya! Semua orang di rumah ini sudah gila!
Tau kalau tidak ada solusi terbaik selain kekerasan di sana, Demian hendak menendang wanita cacat mental itu lepas dari kakinya. Namun, sebelum ia mengayunkan kakinya, satu sosok lagi datang menyela. Meriuhkan ketenangan malam Demian dengan keberadaan mereka yang menjengkelkan.
"Pemandangan menjijikkan macam apa ini?" Erthian muncul dengan tongkat terapit di kiri dan kanan lengannya. Terima kasih atas pukulan dan injakan yang sudah Demian hujankan pada Erthian siang ini, Erthian nyaris tidak bisa berdiri.
__ADS_1
Di samping Erthian, Carlos melenggang sebagai petugas keamanan. Dia akan menjadi perisai Erthian kalau-kalau Demian hendak memukul saudaranya lagi.
Sambil mendampingi Erthian juga, Carlos dikejutkan oleh pemandangan Selina yang menyentuh tubuhnya sendiri sambil mendekap kaki Demian. Wanita itu seperti kehilangan akalnya, Carlos sampai memalingkan muka. Jijik luar biasa.
"Selina...," tegur Erthian. Ia menatap Selina tanpa ekpsresi apa-apa. "Apa nyawamu nomor dua setelah nafsumu?"
"H-huh?" Selina menatap Erthian, matanya berkabut penuh gairah. Ia sangat bergairah hanya dengan mendekap kaki Demian. Selina percaya ia bisa mencapai klimaksnya hanya dengan mengendus aroma Demian karena pria itu adalah idamannya. Selina bahkan tidak malu sama sekali ketika tubuhnya terekspos di sana sini.
"Kau tau kau masih di Bellamy, bukan?" Erthian berujar tenang. "Kalau kau masih mau bernapas di menit berikutnya, aku mau kau berhenti menjadi hama di kaki adikku!"
"Tapi Erthian..."
"Tiga!" Erthian menghitung mundur.
"Aku tidak mau melepaskan Demian..."
"Dua! Carlos keluarkan senjatamu."
"Baiklah, baiklah..." Selina menarik paksa dirinya menjau dari Demian. Gaun malam yang ia kenakan sudah melorot ke perutnya. mengekspos tubuh bagian atasnya yang tak mengenakan apa-apa. Selina percaya Demian akan menyukai pemandangan itu jadi ia sengaja mengekspos tubuhnya sebanyak mungkin di hadapan Demian.
"Erthian, kau merusak malam bahagiaku bersama Demian."Selina mendumel.
Demian--setelah memperhatikan interaksi Erthian dan Selina--hanya melenggang menjauh dari sana. Dua orang gila itu tidak pantas untuk memperoleh atensinya. Demian tidak mau berdekatan dengan keduanya karena Demian percaya ia akan berakhir menjadi pembunuh sungguhan. Jessica tidak akan senang bila ia menjadi pembunuh.
"Memuakkan," gumam Demian. Ia menuruni tangga menuju kamarnya. Sambil menuruni satu persatu anak tangga juga, mata Demian kembali tertuju pada jendela kaca. Kepada langit malam yang gulita.
Pikiran Demian kembali melalang-buana. Memikirkan hal yang seharusnya ia lupakan. Memikirkan bingkisan yang seharusnya ia bakar begitu sampai di tangan.
Demian teringat pada sebuah blouse dan celana jeans yang berada di dalam bingkisan itu. Blouse yang sangat familiar itu adalah blouse yang Jessica kenakan sebelum dia menghilang. Aroma Jessica pun masih melekat di sana.
Demian mengingat bagaimana beberapa kancing dari blouse itu terkoyak rusak. Demian--tanpa perlu bertanya-tanya mengenai alasannya--bisa membayangkan mengapa blouse itu rusak.
..."Aku baik-baik saja, Demian."...
Ucapan itu seharusnya bermakna menenangkan. Namun, di sinilah Demian sekarang, terpenjara dalam kebencian. Demian membenci Erthian, tapi lebih dari apa pun, Demian benci dirinya sendiri yang tidak mampu melindungi Jessica. Gadis itu bahkan berusaha menenangkannya.
Demian merasa sangat tidak berguna.
...*...
__ADS_1