
Jessica mengira gertakannya akan berhasil di sana, Demian bahkan melonggarkan cengkeramannya. Namun, tidak seperti ekspektasi Jessica, ketika ia mengira Demian akan melepaskannya begitu saja, si pria yang ia ketahui memiliki jalan pikiran yang sulit dipahami, tiba-tiba memanggulnya.
Mengesampingkan perhatian para pengunjung taman--tidak berarti semua perhatian itu menunjukkan kepedulian--Demian berujung menyampirkan Jessica ke pundaknya.
Hidung Jessica menghantam punggung Demian dan ia merasa dunianya terbalik. Tidak, posisinya sekarang lah yang membuatnya melihat dunia secara terbalik. Dalam posisi yang membuatnya merasakan deja vu, Jessica menemukan lengan Demian melingkar dan mengamankan pahanya. Mengunci posisinya.
"De-Demian!!!" Jessica dilanda kepanikan. "Turunkan aku sekarang!"
Jessica meronta-ronta, kakinya terayun liar di udara. "Ini penculikan," kecam Jessica. Ia berusaha menemukan cara lepas dari tanggungan Demian, tapi..., di saat bersamaan Jessica menyadari ia sekarang menjadi tontonan. Orang-orang yang ia andalkan akan menolongnya, malah tertawa-tawa jenaka menyaksikan mereka.
Apa-apaan? Kemana perginya kemanusiaan semua orang? Ini bukan drama romansa merah muda, demi apa pun, ini adalah penculikan di tempat terbuka!
Mereka seharusnya menolong Jessica. Namun, karena pemandangan itu terlihat kekanakan, mereka yang berada di taman dan menyaksikan aksi antik Demian malah asik mendamba relasi keduanya. Menganggap romantis sesuatu yang sama sekali tidak romantis.
"Keparat! Demian!"
"Kalau kau tidak mau jatuh, kau sebaiknya berhenti melawanku, Jesse."
"Aku tidak mau pulang!" Jessica menyahut keras sambil memukul pinggang Demian. Pukulan yang ia layangkan sebagai upaya pemberontakan itu, entah mengapa tidak cukup keras untuk membuat Demian kesakitan. Jessica--kendati sudah diangkut Demian di depan masa seperti menanggung beras kiloan--masih enggan menyakiti Demian.
Sialan, empatinya sudah menghalangi jalan!
"Demian! Cukup! Turunkan aku!"
"..."
"Demian!!!"
"Aku akan menurunkanmu setelah kita sampai di mobil!"
"Aku tidak mau! Aku tidak mau pulang!" Jessica kembali menendang udara, berusaha lepas dari tangan Demian yang mendekapnya. "Kalaupun aku harus pulang, aku tidak mau pulang bersamamu! Lepaskan aku, aku membawa sepedaku ke sini! Aku akan kembali sendiri!"
"Sepeda itu adalah hal terakhir yang harus kau cemaskan, Jessica."
Apa maksudnya? Apa Jessica perlu mencemaskan nyawanya sekarang? Apa dia berada di posisi yang terancam?
"Demian, kau tidak boleh melakukan ini padaku! Aku sudah bilang aku membenci kekerasan, bukan?"
"Aku hanya mengangkatmu."
"Ini adalah kekerasan, kau memaksaku mengikuti kemauanmu!"
"Dan aku akan melakukan ini terus kalau kau berusaha melarikan diri dariku."
"Huh?" Sejak kapan Jessica berusaha melarikan diri? "Aku hanya jalan-jalan di taman, berhenti membuat alasan tolol."
Demian--dalam gerak yang tangkas--menurunkan Jessica dari pundaknya. Tanpa membuat kaki Jessica menapak di tanah juga, ia langsung memasukkan Jessica ke kursi depan di mobilnya.
__ADS_1
Setelah melabuhkan Jessica di sana, manik kelam Demian kembali menyorot ke wajah Jessica, kepada wajahnya yang memerah marah. Gadis itu mempelototinya penuh permusuhan. Menggemaskan.
"Biarkan kutegaskan sekali lagi, Princess..." Demian mencondongkan wajahnya rapat kepada wajah merah Jessica, deru napasnya bersahutan dengan deru napas Jessica yang beraroma seperti mint dan strawberry favorite-nya. "Kau adalah milikku, aku tidak akan membiarkan pria lain merebutmu dariku."
Cara Demian berbicara, tegas suaranya, teduh tatapan matanya, dan serius ekspresinya, Jessica yang seharusnya marah pada itu semua malah merasakan panas menjalar naik ke lehernya, terus hingga ke wajahnya.
Napasnya tercekat oleh pesona manik hitam yang kini menyorot tembus ke jiwanya. Jessica di bawah tatapan Demian yang menghipnotisnya, merona terpana. Bibirnya terbuka, hendak memberikan perlawanan kata. Namun, tidak ada. Ia tidak mampu menimpali Demian, tidak ketika seringai tipis bermain di paras pria itu. Membuatnya tergugu.
Keparat, keparat, keparat!
Memanfaatkan ketampanannya adalah hal curang!
Jessica megap-megap menahan kekesalan.
"Sekarang..." semakin Demian merapatkan wajahnya pada Jessica, semakin jantung Jessica berpacu luar biasa. Bayangan kalau Demian akan menciumnya membuat Jessica begitu mengantisipasi setiap centi yang tereliminasi di antara mereka. Jessica memejamkan mata, hendak menerima pagutan yang sudah lama tidak menyapa bibirnya.
"Pakai sabuk pengamanmu."
Eh?
EEEHHHH???
Kemana perginya ciuman yang Jessica antisipasikan dari tadi?
Apa barusan itu mimpi?
Jessica membuka mata dan seperti air sungai yang surut dan kering tak bersisa, segala antisipasi yang membuncah di dada Jessica pun menyurut ketika ia menyadari Demian sudah mundur darinya. Menarik jarak lebih lebar sebelum menutup pintu di depan mukanya.
"Apa kau tidak mempercayaiku, Demian?" Jessica kembali bicara ketika mobil yang dikendarai Demian mulai melaju di jalan raya. Jessica menyandarkan kepalanya di kaca jendela, mood Jessica kembali suram.
Pemikiran bahwa ia harus kembali ke Rhoden manor membuat Jessica keki setengah mati. Jessica benci tempat itu, sangat!
"Apa itu hal yang perlu dipertanyakan lagi? Aku sangat mempercayaimu, Jesse."
"Kalau kau mempercayaiku, kau seharusnya tidak memperlakukanku seperti hari ini, kan? Lagipula, bukankah kau sibuk dengan apa pun urusanmu itu? Mengapa kau harus menggangguku? Kalau kau sangat sibuk, kau seharusnya tidak menaruh peduli lagi padaku!"
"..."
"Kau baik-baik saja tidak menghubungiku belakangan, kau tidak peduli pada apa yang terjadi padaku sama sekali sampai..., hei, aku keluar dan bersenang-senang dan itu sekarang menjadi masalah."
Jessica melanjutkan keluhannya, ia tidak mau menengok ke arah Demian karena ia merasa emosinya hanya akan semakin meninggi begitu ia melihat wajah pria itu lagi.
"Apa masalahnya? Apa aku tidak boleh bersenang-senang juga? Apa aku hanya semacam boneka di kotak musikmu? Aku hanya bisa menari dan berbahagia ketika kau menginginkannya..., dan ketika kau bosan, kau boleh menutupku dan mengurungku selamanya?"
Satu-persatu ucapan Jessica diserap oleh indera pendengaran Demian. Ia menelan dan meresapi segala amarah yang Jessica tumpahkan padanya, segala keluh-kesah yang sudah Jessica pendam belakangan.
Demian diam, tapi itu tidak berarti ia mengabaikan Jessica. Ia menunggu sampai Jessica puas menumpahkan isi hatinya dan ketika Jessica kembali diam, barulah Demian memelankan laju mobilnya. Ia berhenti berkendara di bibir jalan yang dilingkupi oleh hutan.
__ADS_1
Sunyi dan senyap.
"Aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu, Jessica." Demian akhirnya membuka suara. Ia menoleh ke arah Jessica dan menemukan kalau wajah jelita yang selalu ia damba sekarang menampakkan gurat luka. Demian tidak menyukai pemandangan itu. Ia tidak menyukai dirinya yang sudah menjadi penyebab luka Jessica.
"Jessica, maafkan aku."
Jessica tidak memberikan jawaban.
Jessica merasa ia membutuhkan lebih dari sekedar permintaan maaf. Jessica sejak awal tidak menumpahkan isi hatinya untuk mendengar permintaan maaf. Yang Jessica inginkan adalah Demian jujur padanya, tidak meninggalkannya dalam topik yang tidak ia ketahui apa.
Jessica pikir ia berada di sini untuk Demian, tapi setelah beberapa waktu berlalu, pemikiran itu memudar dalam keambiguan. Jessica tidak mengerti apakah dia masih dibutuhkan di sini.
"Maafkan aku," ulang Demian sekali lagi. Ia melabuhkan telapak tangannya di atas punggung tangan Jessica. Menggapai jari-jemari lentik itu ke dalam genggamannya, menautkan jari mereka bersama-sama.
"Apa kau meminta maaf hanya untuk perdamaian atau kau memang mempunyai hal yang kau sesalkan, Demian?"
"..." Demian bungkam. Demian mempunyai alasan mengapa ia bungkam. Namun, di mata Jessica kebungkaman itu adalah jawaban lain yang tidak Jessica harapkan.
"Jadi..., hanya untuk perdamaian kalau begitu?"
"Jesse..., aku punya alasanku. Aku..., kau akan mengerti setelah semuanya selesai. Mengapa aku sibuk belakangan ini, mengapa aku menjauhkanmu dari segala masalah yang terjadi di rumahku..., aku akan memberitahu segalanya padamu. Hanya..., please, don't do this. Jangan marah padaku."
"Aku tidak marah padamu." Jessica--daripada marah--lebih merasakan kekecewaan menyebar di nadinya, melemahkan tubuhnya. "Aku hanya penasaran pada satu hal...,"
Jessica menatap Demian yang membawa tangannya ke pangkuan pria itu. Demian memberikan kecupan lembut di punggung tangannya, sihir yang kerap muncul dari kecupan itu seharusnya menenangkan Jessica. Namun, Jessica mati rasa.
"Demian..., mengapa kau pikir aku yang sekarang tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi?"
"..."
"Kau bilang aku akan mengerti ketika semuanya selesai. Mengapa aku tidak akan mengerti ketika semuanya belum selesai?"
Demian menguatkan genggamannya di telapak tangan Jessica, seakan-akan ia menguatkan dirinya sendiri. Seakan-akan, bila ia melonggarkan genggaman tangannya sedikit saja, sosok Jessica yang berada di hadapannya akan memudar di udara.
"Jesse..."
"Kurasa itu juga tidak mempunyai jawaban." Jessica tersenyum masam. Ia perlahan-lahan menarik lepas tangannya dari genggaman tangan Demian. Ketika tautan jemari mereka terlepas, Demian merasakan kehampaan menyelimutinya. Seakan-akan sebuah ruang kosong terbuka di dadanya, menyedot habis energinya.
"Apa yang kau inginkan dariku, Jessica?" Demian berusaha menemukan sepasang emerald yang kerap menatapnya penuh keramahan dan keceriaan. Namun, ketika ia menatap mata Jessica, sepasang netra kelam Demian malah bertemu dengan tatapan dingin yang menghujamnya tajam.
"Saat ini, Demian, tidak ada." jawaban Jessica menyegel pembicaraan mereka hari itu.
Jessica, selama perjalanannya kembali ke Rhoden manor, tidak membuka bicara lagi. Demian yang berada di sisinya seperti sosok tak kasat mata. Jessica tidak tau mengapa, pertemuan hari ini hanya berujung melukainya. Demian yang berada di sisinya, pria yang paling ia rindukan belakangan, pria yang limpahkan dengan kepercayaan, malah datang dengan tembok kokoh melingkupinya.
Kalau Demian tidak bisa berbicara dengannya, tak mempercayainya, untuk apa Demian bertemu dengannya?
Jessica memejamkan mata ketika ia kembali melabuhkan punggungnya di tempat tidur. Demian yang tadi datang bersamanya dicegat oleh Hestia di pintu depan. Jessica melenggang melewati keduanya tanpa menaruh kepedulian sedikit pun.
__ADS_1
"Aku mau pulang," Jessica bergumam di kesendiriannya, dan bersama dengan itu juga, setetes air mata mengalir keluar dari kelopak matanya yang terkatup merana.
...*...