MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
77. Pasrah.


__ADS_3

"Waaaah, udaranya sangat bagus, ya? Sangat bersih, sangat damai, dan sangat menentramkan."


Pagi-pagi di Elixir, Dania datang menyapa dengan wajah sumringah. Memakai sunny dress berwarna ungu terang, rambut pirang yang tergerai elegan, ia melenggang menyapa kawan-kawannya yang sudah berkumpul di tempat biasa. Di depan bar.


Menyambut kedatangan Dania, Jessica yang juga sudah berada di sana, tersenyum agak heran saat melihat Dania. "Apa yang kau katakan? Apa memungkinkan bagi Vegas untuk mempunyai udara segar, bersih dan damai seperti yang kau katakan?"


Setau Jessica, Vegas itu adalah kota yang berisik. Kendaraan di mana-mana menciptakan polusi di udara. Ditambah lagi, limbah-limbah dari perusahaan besar, hotel dan lain-lain, menjadi hal yang cukup memprihatinkan.


Jalanan Vegas--mengesampingkan jalan yang merupakan tempat wisata--beraroma seperti kantong sampah dan kotoran kucing.


"Oh, Jesse baby..., kau tidak mengerti metafora sama sekali, huh?" Dania mengambil satu bangku kosong di samping Jessica dan merangkul sobatnya itu erat. "Aku membicarakan atmosfir Elixir, Jesse. Apa kau tidak sadar, sudah nyaris seminggu kita menjadi sangat tenang dan tentram..., bumi berputar dengan normal."


"Oh, oh? apa bumi tidak berputar dengan normal sebelum ini?"


Dania mengendikkan bahu. "Tidak untukmu, setidaknya."


"Huh?"


"Jesse baby, aku tidak ingin mengungkit mereka, tapi karena situasinya sudah menjadi lebih damai..., dan kau terlihat baik-baik saja, akan aku katakan. Aku sedang membicarakan Demian dan Angela, Jesse."


Mendengar nama dua orang itu disebut, Jessica jadi meneguk ludah. Jessica tau kalau Angela sudah dipecat oleh Dania, dan Jessica tidak keberatan. Namun, karena pemecatan itu juga, Demian jadi tidak pernah muncul di Elixir.


Jessica menduga Demian marah kepadanya, dan mungkin mengutuknya karena sudah berani memecat Angela. Atau, bisa saja dia mematuhi keinginan Jessica untuk menjauhi satu sama lain.


Apa pun itu..., dia sudah tidak pernah datang.


"Kau benar, atmosfirnya memang menjadi lebih baik." Jessica memaksakan senyuman. "Aku sempat melarangmu memecat Angela, Dani. Namun, sekarang aku ingin meminta maaf padamu. Kau benar, memecatnya adalah solusi terbaik."


"Jangan minta maaf, Jesse..., kau melarangku karena kau prihatin pada iblis itu. Semua orang akan prihatin kalau dia muncul dengan tangisan dan wajah muram di mana-mana. Kau tidak salah apa pun kalau kau merasa iba. Tsk..., ini salahku sudah mengungkitnya. Mari bahas yang lain..."


"Kau selalu menyesal belakangan, Dania." Ethan mengejek. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan sundress ngejreng itu? Apa kau berniat berkencan hari ini?"


"Mustahil aku akan berkencan, Ethan. Kau mencemaskan situasiku pagi malam. Aku akan menikahimu, kau tau." Dania jadi mengomel.


"Tapi Ethan benar, kenapa dengan penampilanmu yang tiba-tiba cantik, tiba-tiba ceria dan bahagia...?"


Dania terkekeh. "Aneh, ya? Sebenarnya aku hanya mau memakai gaun ini karena sekarang sudah mendekati musim gugur. Aku mau berpisah dengan style musim panasku sebelum dia benar-benar berakhir."


"Untuk beberapa alasan, kau hanya melankolis menyangkut hal yang tidak penting, kan?"


"Berisik, Ethan!"


Sementara dua sobatnya bertikai, Jessica memilih diam. Ia menopang dagu di meja sambil memperhatikan segelas milkshake strawberry yang dibuatkan Ethan untuknya tadi.


Jessica--kendati dihadapkan oleh kemeriahan kawan-kawannya--merasa agak hampa di sana. Pahit menyebar di mulutnya, menghilangkan nafsu makan.


Jessica--saat itu juga--tidak akan menyangkal. Isi kepalanya hanya dipenuhi oleh satu orang. Satu orang yang sudah seminggu tidak muncul di hadapannya, tidak pernah mencarinya, dan tidak pernah merindukannya. Satu-satunya Demian Bellamy.


Pria bajingan yang hanya mencintai Angela itu mungkin sedang sibuk mengobati hati kekasihnya yang terluka, menjadi sandarannya.


Demian Bellamy...,


Terkadang, memikirkan pria itu membuat Jessica merasa miris. Habisnya, bagaimana bisa pria itu menjadi sangat baik terhadap satu wanita dan menjadi sangat egois pada wanita lain? Jessica sama sekali tidak paham, serius. Ketidak-adilan yang Demian berikan padanya dan Angela.


Cinta mungkin membuatmu memperlakukan orang lain secara berbeda, lebih istimewa. Namun, cinta seharusnya tidak membuatmu pilih kasih dan menutup mata pada buruk dan baik. Bagaimana bisa Demian hanya baik pada satu orang, pada Angela, dan menjadi iblis kepadanya?


Mengapa pria itu tidak bisa menghormatinya sebagaimana dia menghormati Angela?


Memikirkan situasi itu membuat Jessica menjadi sakit hati.


'Aku sangat bersyukur sudah menyingkirkanmu, Demian.' Jessica membatin tak senang. 'Terima kasih sudah tidak pernah datang, keparat! Terima kasih!'


"Bagaimana menurutmu, Jesse?"


"..."


"Jesse?"


"..."


"Holla, Jesseeeee???"


Terkesiap, Jessica spontan mengerjap. Ia menatap Dania yang sekarang memperhatikannya penuh tanya. Mencemaskannya tanpa kata.

__ADS_1


"Jesse, are you okay?"


"Huh?"


"Kau tiba-tiba bengong..., apa ada yang salah?"


"Tidak, tidak ada. Apa yang salah? Oh, oh, oh. Aku baik, kok, baik."


"Kalau begitu..." Dania masih ragu, tapi tetap melanjutkan. "Kami sedang mendiskusikan untuk merayakan ulang tahunmu minggu depan."


"Eh, apa?"


"Kau tidak akan melewatkan ulang tahunmu kali ini, Jesse. Mari undang semua orang dan buat pesta yang semeriah mungkin, bagaimana menurutmu?"


"Itu bagus..., tapi..." Jessica tidak mau merepotkan siapa pun. Terlebih bila ini hanya acara ulang tahunnya.


Jessica tidak merasa ia cukup istimewa untuk membuat acara meriah. Bagaimana bila tidak ada yang datang? Tidak, lebih parah, bagaimana ia malah membuat orang lain terpaksa datang? Jessica benci menjadi beban.


"Tidak ada tapi-tapian lagi tahun ini." Dania memotong ucapan Jessica duluan. "Aku sudah mentolerirmu beberapa tahun, kau ingin pesta kecil, dan aku setuju..., aku selalu setuju, dan tahun lalu pun kita hanya merayakan ulang tahunmu di McDonald. Apa kau pikir itu wajar?"


"Itu menyenangkan. Aku tidak pernah makan di McDonald."


"Astaga, Jessica..." Dania menggaruk kepala frustasi. "Pokoknya, tidak. Tidak boleh. Kali ini, aku akan menjadi event organizer untuk pesta ulang tahunmu. Juga, kita akan mengadakannya di sini. Di Elixir."


Mengunci keputusannya di sana, Jessica mau tak mau menelan ucapan Dania dengan sedikit keberatan di dada.


"Akan jadi apa ulang tahunku nanti?"


*


Mungkin karena statusnya yang sekarang adalah kekasih Jake Allendale, sulit bagi Jessica menolak ajakan keluar yang kerap pria itu tawarkan belakangan. Alhasil, kendati itu hanya berjalan beberapa meter dari Elixir, singgah minum kopi di pinggir jalan, main catur di taman dan pertemuan-pertemuan kecil lainnya, Jessica menurut saja.


Tidak masalah, anggap saja ini usahanya untuk membuka hati kepada Jake. Jessica berupaya mendikte isi kepalanya, tapi..., pada akhirnya, ia mengembuskan napas berat di sana. Ia tidak bisa menipu dirinya sendiri dengan kata-kata mutiara yang positif dan manipulatif.


Dia tidak bisa..., begitu saja, berpaling kepada Jake.


"Bagaimana pekerjaanmu belakangan?" Jake memulai pembicaraan setelah dua tangkai Ice cream diserahkan masing-masing kepadanya dan Jessica. Jessica berjalan santai di sebelahnya, sebelah tangan tercelup di saku mantel cokelatnya.


"Kudengar mereka sedang mempersiapkan perayaan ulang tahunmu minggu depan."


"Aaah, aku tidak menyangka Dania sudah menceritakan itu padamu."


"Tidak masalah, Jessica. Aku pacarmu, aku akan sedih kalau aku terlambat tau."


Kata pacar itu membuat Jessica sedikit ngeri. "Ya, tapi..., aku tidak mau membebani pikiranmu dengan masalah tidak penting."


"Hari kelahiranmu adalah hari yang sangat istimewa, Jesse. Aku sangat mengapresiasi keberadaanmu dan aku ingin kau juga melakukan hal yang sama. Perayaan ulang tahun bukan sebuah masalah atau apa pun, itu adalah bentuk apresiasi orang-orang atas dirimu."


Senyum Jessica merekah tipis. "Kau sangat baik, Jake. Terima kasih."


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya kebenaran." Selesai dengan ucapannya, Jake lalu merangkul pinggang Jessica. "Kalau kau berterima kasih, bagaimana dengan satu ciuman?"


"Huh?"


"Kita sudah berpacaran..." Jake menatap Jessica, keseriusan yang samar terpatri di matanya. "Bukankah sedikit skinship adalah kewajaran?"


"Haa..., ah. Itu..., benar."


Itu benar, tapi Jessica tidak merasa nyaman sama sekali mendengar kebenaran itu. Ia tidak mau melakukan itu, mencium Jake atau siapa pun. Jessica tidak tau mengapa, tapi ia merasa..., tindakan itu di luar kemampuannya. Ia tidak...


"Jangan berwajah murung begitu, aku tidak memaksamu, kok." Jake melepaskan rangkulannya dan kembali berada di jarak amannya. Ia sedikit kecewa, dan kekecewaan pria itu seperti jarum yang menusuk nurani Jessica. Menghantuinya dengan perasaan berdosa.


Ia merasa sudah tidak adil dengan Jake.


"Kemari," gumam Jessica akhirnya. Ia menatap Jake tepat di mata, kepada sepasang iris hazel yang sekarang berbinar gembira.


Jessica mengumpulkan keberaniannya, tekadnya. Ia demi apa pun, tidak boleh terpaku pada satu pria yang sudah melukainya. Sekarang, di hadapannya, adalah Jake Allendale. Pria yang menghormatinya, menghargainya dan mencintainya dengan normal. Jake Allendale adalah pria yang pantas untuk bersamanya, menerima segala kebaikannya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Jake berhenti berjalan. Ia berhadap-hadapan dengan Jessica di trotoar jalan yang senggang. Mata saling bertukar pandangan.


Mengatur napasnya yang tiba-tiba naik turun tak beraturan, Jessica pun menangkup wajah Jake di dalam telapak tangannya yang halus dan nyaman. Ia akan melakukannya, serius! Ia akan mencium Jake di sini dan sekarang, demi dirinya sendiri. Demi Jake yang sudah menemaninya hingga saat ini. Demi hatinya yang butuh penyembuhan dari luka lama..


Jessica akan melakukannya..., dengan mata terpejam dan kaki yang berjinjit mencoba menggapai bibir Jake...

__ADS_1


Jessica akan melakukannya andai saja...


Tak..., tak..., tak... dan Bugh!


Suara langkah kaki seseorang yang berlari menyapa telinga Jessica, tapi itu tidak membuatnya membuka mata. Ia hanya membuka mata ketika tiba-tiba, Jake yang berada di hadapannya terhempas lepas dari tangkupan tangannya, lepas dari sentuhannya.


Jessica spontan membuka mata, spontan menatap ke arah Jake yang terlempar beberapa meter dari hadapannya. Pria itu terbaring di tanah, siku berdarah.


Pelaku yang sudah menerbangkan Jake, Demian Bellamy, berdiri dengan ekspresi mengeruh keki. Satu tendangan tidak cukup, pikirnya. Ia perlu meratakan wajah si Allendale itu ke tanah!


Belum sempat Demian mengambil langkah maju menghampiri Jake, Jessica yang terpana atas kedatangan Demian langsung peka terhadap niat busuknya. Jesica menarik lengan Demian dan memblokade jangkauannya ke arah Jake. "Apa yang kau lakukan? Apa kau sehat, Demian? Apa yang kau pikirkan?"


Jessica panik tak tertahan.


Jessica takut.


Bagaimana bila Demian menjangkau Jake dan memberikan pria itu pukulan seperti ia memukul orang-orang di gang sempit malam itu? Jessica tidak mau situasi itu terjadi. Ia tidak mau Jake terbunuh dan ia tidak mau Demian menjadi pembunuh.


"Menyingkir, Jessica. Aku sudah mentolerir bajingan itu terlalu lama. Dia perlu tau tempatnya.."


"Tempat apa? Jangan bicara omong kosong, ini di keramaian, Demian! Apa kau tidak tau malu!"


"Aku yang tidak tau malu?" Demian akhirnya menggulirkan sepasang manik kelamnya ke arah Jessica. "Kau akan mencium pria random di jalan raya, dan entah bagaimana..., aku yang tidak tau malu?"


"Pria random? Dia pacarku." Jessica seketika meninggikan suara. Sulit berdebat dengan Demian ketika pria itu bicara asal-asalan. "Apa masalahmu, Demian? Jake adalah pacarku, kekasihku. Aku berhak melakukan apa pun dengannya, kau..., kau siapa Demian?"


Jake bangun dari posisinya dan berdiri di sebelah Jessica. "Kau tau aku bisa menuntutmu atas tindakanmu barusan, kan, Demian?"


"Lakukan, Jake Allendale. Aku ingin melihat bagaimana pohon keluargamu yang rimbun itu rontok berantakan di tanah karena sudah berani menyentuh milikku."


"Arogansi tanpa dasar ini sangat mirip Angela, Demian. Kalian bersama, kurasa kecacatan mental kalian juga sama."


"Bicara sekali lagi???" dan terima kasih atas ucapan Jake barusan, Jake kembali mendapat satu tinjuan di wajahnya.


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Sambil terhuyung, Jake melawan Demian. "Jessica adalah kekasihku, Demian. Kau seharusnya tidak ikut campur dalam urusanku! Dia bukan siapa-siapamu!"


"Demi Tuhan, ya..." Jessica mundur perlahan-lahan dari sana. Jessica tidak mau menjadi perhatian orang-orang, Jessica tidak mau menjadi tontonan sirkus yang menyajikan omong kosong sebagai atraksi utamanya. Jessica tidak mau!


"Aku lebih baik pulang, kalian berdua selesaikan apa yang ingin kalian bicarakan."


Menyadari Jessica akan pergi dari sana, Demian seketika bersuara. "Apa aku mengizinkanmu pergi, Jessica?!" Suara Demian meninggi penuh iritasi. Ia berseru dengan urat mencuat kencang di leher dan pelipisnya.


"Aku tidak butuh izin dari siapa pun, tidak pula darimu!" tanggapan Jessica tegas dan lugas. Namun, seperti itu tidak cukup, Demian menarik pergelangan tangannya, menahan langkahnya dengan cekalan yang membuat merah kulitnya.


"Lepaskan!"


"Aku tidak akan melepaskanmu."


"Demian? Jangan kekanakan, ya. Kau membuatku sangat marah sekarang!"


"Demian, lepaskan Jessica sekarang juga!" Jake mencoba menyela. Amarah berkobar di matanya.


"Jangan buat aku memukulmu sampai mati di sini, Allendale." Demian melayangkan peringatan terakhirnya. "Seratus pengacara di dunia ini tidak akan bisa mengembalikan nyawamu, bahkan bila kau menuntutku! Apa kau paham?"


"..."


"Demian, jangan melakukan hal bodoh!" Jessica--kendati dicekal oleh Demian--berusaha melindungi Jake dengan tubuhnya. Ia berdiri di antara mereka, suara mengendur pasrah. "Aku akan mengikutimu, aku serius. Aku akan mengikutimu!"


Tanpa kata dan suara, Jake dan Demian saling beradu tatapan, saling menguji keberanian dan kesungguhan. Menguji siapa yang paling berani bertahan.


Tatapan dingin dan tajam mereka yang bersambutan, membuat Jessica dilanda ketakutan dan kengerian. Ia--kendati tubuhnya bergetar--berupaya meredakan amarah Demian. Meredakan ketegangan di wajahnya.


"Demian, please..." bisik Jessica, matanya sedikit basah di sana. "Jangan buat aku semakin membencimu."


"..."


"Demian, please?"


"Tsk!" Demian akhirnya memutuskan pandangannya dari Jake duluan, ia beralih menatap Jessica dan menyadari betapa pucatnya gadis itu karenanya. "Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh pacarmu. Setidaknya, tidak untuk hari ini."


Sebagai gantinya, Demian pun membawa Jessica pergi. Entah kemana, tapi sekarang Jessica akan pasrah saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2