MONSTER LOVER!

MONSTER LOVER!
45. Dirasuki.


__ADS_3

Berbaring di atas ranjang, mata terpejam.


Jessica sudah melakukan itu untuk beberapa jam.


Sekilas, Jessica akan terlihat seperti gadis yang tertidur lelap. Namun, pada realitanya, pikiran gadis itu sedang melalang-buana.


Segala pikiran bercampuran di kepala, berbagai skema, kenangan dan suara-suara yang pergi dan datang. Tidak ada hal spesifik dan signifikan yang sedang ia pikirkan, Jessica hanya membiarkan pikirannya mengembara ke berbagai objek yang berbeda.


Di antara campuran hal-hal random yang mewarnai kepalanya pula, sebuah kotak pandora yang bersemayam di otaknya perlahan-lahan terbuka. Mengingatkan ia pada kenangan lama yang membuat keningnya mengerut segan.


Tidak.


Kenapa kenangan itu datang?


"Jessica!" teriak seorang wanita. Dia memekik garang saat menemukan Jessica--dalam tubuh yang berbeda size dari tubuhnya sekarang--menggenggam gagang pintu.


Kenangan itu datang dari 17 tahun lalu. Ketika Jessica berusia 11 tahun. Tidak seperti dirinya sekarang yang berada dalam kondisi aman dan nyaman, Jessica di 17 tahun lalu merupakan gadis dengan tubuh kurus kerontang. Tulang pipinya menonjol menakutkan.


17 tahun lalu, bersama wanita yang ia panggil Ibu...


"Apa kau lupa apa yang ibu katakan? Kau tidak boleh keluar! Apa yang akan terjadi kalau ayahmu melihatmu, apa kau mau mati?" Wanita itu memekik marah ke arahnya. Dengan langkah yang terhentak nyaring, dia mendekati Jessica dan menyentak lengan puterinya menjauh dari pintu.


"Bersembunyi di kamarmu!"


"Tapi, Ibu..." Jessica ingin melarikan diri dari sana. Namun, untuk kesekian kalinya, ia diseret kembali menuju kamarnya. Jessica yang saat itu hanya berusia 11 tahun tidak tau bahaya macam apa yang membuat ibunya panik dan marah. 


Ayah yang menjadi sumber ketakutan ibunya tidak berada di sana. Sosok itu sudah tidak pernah muncul sejak terakhir kali polisi mendobrak pintu rumahnya. Namun, entah mengapa..., sikap paranoid ibunya tidak pernah mereda.


Jessica, sebagai satu-satunya orang di sana, adalah korban dari rasa takut yang tumbuh buas dalam diri ibunya.


"Jangan keluar dari sini, tetap bersembunyi..."


Jessica tidak tau apa-apa. Bahkan ketika ia harus menahan lapar dan dahaga di dalam lemari yang terkunci selama berhari-hari. Ia nyaris mati untuk beberapa kali.


Ayah tidak akan pernah kembali, Jessica ingin Ibunya mengerti. Namun, tidak ada kata-kata dan suara yang akan pernah mencapai telinga ibunya lagi.


Wanita itu menderita. Bertahun-tahun hidup sebagai korban kekerasan rumah tangga dan nyaris mati di tangan pria yang ia cintai, membuatnya menjadi gila.


Bahkan ketika pria bajingan itu pergi dari kehidupannya, teror itu tinggal mendarah daging di tubuhnya. Merusaknya.


Di usia 13 tahun, ketika Jessica perlahan-lahan beranjak belia, ketika ia harus membuat keputusan berat di hidupnya, adalah hari ketika Jessica berujung di sebuah penjara remaja.


Jessica Cerise, sebagai tersangka...


"Haaaaaaa~" Dalam satu kali tarikan napas, Jessica beranjak bangun. Ia membuka mata, napas tersengal lelah. Seolah-olah dia habis dikejar oleh seribu banteng.


Jessica mengusap wajahnya, mencoba menyapu bersih segala pikiran yang mengotori benaknya. Butuh waktu beberapa lama untuk Jessica mampu meredakan debaran jantungnya yang berpacu laju, dia mengatur napas sambil memijit kepalanya yang ngilu.


"Hah, lupakan, idiot!" Jessica memperingatkan dirinya sendiri. "Semuanya sudah berlalu, kau tidak melakukan kesalahan apa pun."


Benar, tidak ada kesalahan dalam upaya berjuang untuk kehidupan.


Semuanya sudah berbeda sekarang. Dia baik-baik saja. Dia tidak perlu terbenam dalam masa lalunya yang hitam.


"Jam berapa sekarang..." Setelah meredakan sedikit emosinya yang berkecamuk, Jessica pun melirik jam digital di atas nakas. Sekarang jam setengah satu malam. Dia sudah berbaring di sana dua jam.


"Di mana Demian?"


Seingat Jessica, pria itu mengirimkannya pesan untuk jangan tidur lebih awal. Katanya dia akan datang dan membawa pizza. Jessica berbaring untuk menunggu kedatangan Demian sebelumnya, sebelum pikirannya membawa ia ke neraka.


Melirik kiri dan kanan ruangan, kepada kamar mandi dan kitchen set yang sepi. Tidak ada tanda-tanda Demian berada di dalam kamar itu. Jessica lalu menoleh ke arah balkon. Di sana, di balik tirai putih tipis yang menggantung melingkupi dinding kaca, siluet Demian terlihat sedang berada di luar sana.


Jessica menghampiri pria itu.


"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Jessica, ia menapak di lantai balkon bertelanjang kaki. 

__ADS_1


Di balkon, aroma asap dari rokok Demian menguar kuat. Hidung Jessica spontan mengernyit saat aroma asam itu menusuk hidungnya dan meninggalkan kesan tak menyenangkan.


"Aku pikir kau tidur, tidak mau membangunkanmu dengan kedatanganku." Demian menyahut. Menyadari Jessica tidak begitu senang atas asap rokoknya, Demian pun mengakhiri sesi merokoknya sambil mengibas-kibaskan asap yang tersisa menjauh dari Jessica.


"Aku baru tau kau bisa pengertian," Jessica berpura-pura haru. "Andai saja kau seterusnya begitu..."


"Ada harga mahal yang perlu dibayar untuk kepedulianku," ejek Demian. Ia lalu memungut pizza dari atas meja dan menyodorkannya ke arah Jessica. "Karena aku sudah membawakan pizza, giliranmu membuatkan aku kopi."


Jessica menerima satu box pizza tersebut dengan cibiran.


"Jadi, sejak kapan kau datang?"


Melanjutkan konversasi mereka di dalam, Jessica melenggang di dalam kamarnya dan menaruh pizza tadi di atas meja yang menghadap sofa. Demian berada di belakang Jessica dan melepaskan jaket kulitnya.


Bicara soal jaket kulit Demian, sepertinya itu adalah jaket baru. Jessica jarang melihat Demian mengenakan luaran selain kemeja flanel dan jaket hitam.


"Aku datang setengah jam yang lalu," ujar Demian. Dia mengikuti Jessica ke dapur.


"Ada apa?" tanya Jessica, ia mengambil dua gelas dari kabinet, mengira Demian menginginkan sesuatu juga dari sana.


"Aku menagih bayaran untuk kepedulianku barusan."


"Huh?"


Sebelum Jessica mencerna maksud ucapan Demian, Demian memberikan kejelasan dari maksud ucapannya dengan tindakan. Ia meraup pinggul Jessica dan memberikan gadis itu ciuman di bibirnya. Jessica terkesiap. Genggamannya pada tangkai gelas menjadi semakin erat. Ia takut ia menjatuhkan gelas itu lantaran terkejut.


Demian di sisi lain, mengusap punggung Jessica dengan tangan kirinya. Meraba pinggang ramping yang bersembunyi di dalam kaos longgar berwarna merah tersebut. Sementara tangannya menekan Jessica semakin rekat di dada, lidahnya menyusup disela bibir Jessica yang terbuka. Mencuri segala rasa manis dari sirup strawberry yang Jessica santap tadi malam.


"Mmm..." Jessica menggeliat di dalam dekapan Demian, ingin lepas dan bebas. Untungnya, mengerti arti dari reaksi Jessica, Demian pun melonggarkan dekapannya. Tapi itu tidak berarti ia membebaskan Jessica begitu saja.


"Aku pikir kau mau kopi?"


"Aku memang mau kopi."


Jessica menatap Demian penuh iritasi. "Kau pikir aku bisa membuat kopi jika kau menempeliku seperti ini?"


"Tidak!" Jessica memaksakan dirinya bergerak kendati Demian masih mendekap pinggangnya seperti bayi koala. Ia menuju mesin kopi sambil menahan diri dari bereaksi atas hujan kecupan yang Demian berikan di pundaknya sekarang.


Sialan, sialan, sialan. Pria itu melemahkan iman.


"Demian..." Jessica bergidik ketika sekali lagi, Demian menggigit pundaknya dan memberikan hisapan kuat di tengkuknya.


"Apa kau vampire?"


"Jika kau berdarah manis, aku tidak akan segan-segan memakanmu."


Satu sikutan mendarat di perut Demian. "Menjauh, idiot!"


Jessica tidak menyukai kata-kata gombal Demian. Bukan berarti itu menjijikkan dan murahan. Hanya saja, Jessica tidak merasa ia memiliki jantung yang cukup kuat untuk menerima ucapan manis pria itu yang penuh gula dan madu. Dia bisa diabetes.


"Kau tidak bisa diajak romantis sama sekali, ya?" Demian meringis mehanan nyeri. Karena dia tidak bergeser ketika peringatan Jessica yang pertama, ia jadi menerima sikutan kedua dari Jessica.


 Gadis itu selalu menggunakan kekerasan untuk menyembunyikan rasa malunya. Seolah-olah wajah dan telinga yang memerah itu tidak kasat mata.


Demian tersenyum sambil menatap punggung Jessica yang melaluinya. Walau sudah menerima sakit dari sikutan dan cubitan Jessica, Demian--entah bagaimana--malah menyukai reaksi yang gadis itu tunjukkan padanya. Dia terlihat lebih menggemaskan seperti itu, seperti kucing yang pemalu.


Menyusul Jessica yang sekarang duduk bersila di sofa, Demian lalu mengambil seiris pizza di meja.


"Apa kau tidak takut makan tengah malam?" Demian menggoda Jessica pada satu hal yang dia ketahui kebanyakan wanita takuti. Angela adalah salah satunya, salah satu orang yang takut makan tengah malam.


"Kenapa?" tanya Jessica. Dia tau dasar dari pertanyaan Demian, yang tidak Jessica ketahui adalah alasan Demian peduli.


"Kau tau, masalah berat badan dan segala macamnya. Rumornya, kau bisa menjadi nona gemuk di Harry Potter kalau kau makan tengah malam."


Jessica mencebik. "Aku tau berat badanku bisa naik kalau aku makan tengah malam, yang kutanyakan kenapa kau peduli?"

__ADS_1


Demian mengendikkan bahu. Mungkin karena Angela peduli?


"Aku hanya penasaran, karena sepertinya itu isu yang cukup besar di kebanyakan perempuan."


"Ah..." Jessica manggut-manggut tenang. "Aku tidak begitu memikirkan hal itu."


"Kenapa? Apa karena kau tipe perempuan yang 'tidak seperti perempuan kebanyakan', perempuan seperti itu?" Demian tidak mau berhenti menggoda Jessica. Ia senang melihat reaksi jengkel yang mengembang di paras gadis itu ketika dia sibuk mengunyah. Dia seperti tupai tanah.


"Demian..., aku sedang makan sekarang..., jangan buat aku muntah di wajahmu." Jessica memberikan peringatan. "Lagipula, hanya karena aku tidak memikirkan pola makanku, bukan berarti aku 'Tidak seperti gadis lainnya'. Aku hanya tidak peduli, oke?"


"Kenapa?"


"Kenapa apa?" Jessica menghela napas lelah.


"Aku hanya penasaran kenapa kau tidak peduli." Demian menyeret topik itu demi memperpanjang kekesalan Jessica. Senyum Demian mengembang jahil ketika sekali lagi, Jessica menatapnya keki.


"Kau mau tau mengapa?" Jessica menatap Demian, kali ini dengan cukup keseriusan.


"..."


"Karena aku pernah berhari-hari tidak makan, berhari-hari di dalam kesunyian. Aku membuat janji pada diriku sendiri, bila suatu hari nanti aku bisa bebas dari kurungan mematikan itu, aku akan memakan apa pun yang ingin kumakan, kapan pun, di mana pun."


"..."


"..."


Untuk beberapa detik yang terlampaui, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Demian setelah Jessica menanggapi ucapannya. Ia terjebak dalam dilema mengenai kebenaran ucapan Jessica. Apa dia bercanda, atau mengutarakan kebenaran? Demian tidak bisa memberikan perbedaan sama sekali.


"Ahahahahaha..." hingga akhirnya tawa Jessica lepas di udara. Menyapa telinga Demian dengan nada jenaka. "Kenapa kau membeku?"


"..."


"Apa kau pikir aku serius?" Jessica menertawai Demian sambil tidak menaruh perhatian lebih kepada manik kelam Demian yang menyelidik penasaran. Pria itu sulit dipermainkan, menyebalkan.


"Ngomong-ngomong," kata Jessica kemudian, ia mengganti topik. "Ada apa dengan memar di pipimu?"


"Huh?" Demian sedikit tersentak begitu jari halus Jessica menyentuh sudut bibirnya. Keteduhan di sepasang emerald Jessica berbaur dengan kekhawatiran samar.


"Apa sangat sakit?" Jessica mengira reaksi terkejut Demian datang dari sentuhannya yang menciptakan nyeri di sana.


"Tidak, ini baik-baik saja." Demian kembali bertingkah tenang.


Jujur saja, bekas pukulan yang Demian terima tempo hari tidak meninggalkan rasa nyeri sama sekali. Demian bahkan tidak menyadari kalau ada memar di wajahnya. Demian tersentak hanya karena Jessica yang tiba-tiba menyentuhnya. Gadis itu..., dalam beberapa waktu, berhasil membuat Demian tertegun.


Mungkin karena Demian tidak mengira Jessica akan menyentuhnya duluan, terlebih secara tiba-tiba.


Jantung Demian berdegup dua kali lipat lebih laju daripada sebelumnya. Keterkejutan yang ia rasakan sudah pasti mempengaruhi kinerja jantungnya sekarang. Sungguhan, Demian tidak menyangka ia akan berujung panik dan gugup oleh sedikit kepedulian.


Apa-apaan dengan reaksi tubuhnya sekarang?


Mengapa Jessica yang berada di hadapannya terlihat begitu cerah daripada warna di sekitarnya? Seolah-olah ia memancarkan cahaya.


"Kau harus memperhatikan kesehatanmu. Meskipun ini tidak sakit untukmu, orang yang melihatmu dan peduli padamu pasti akan merasakan sakit melihatmu terluka." Jessica memberikan nasihat tulus di sana.


Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya pula, ditanggapi Demian dengan keheningan yang membingungkan. Jessica bingung terhadap Demian yang tidak mengejeknya dan menganggap remeh ucapannya.


Pria itu mendengarkannya, begitu seksama. Begitu terlena.


"Demian?" Jessica menjentikkan jarinya di depan muka Demian. Ia membangunkan pria itu yang masih betah menatapnya dengan penuh kelembutan. "Apa kau dirasuki sesuatu?"


Demian mendengar pertanyaan Jessica dan tersenyum kaku.


Itu pertanyaan yang tepat, apa dia sedang dirasuki sesuatu?


Mengapa jantungnya menggebu-gebu?

__ADS_1


*


__ADS_2