
Karena tidak adanya hiburan di kamar Demian, Jessica jadi kebingungan harus melakukan apa ketika kopi di cangkirnya menyurut sirna. Ia duduk dengan kaku, bingung dan gugup menyatu.
Demian menyadari kecanggungan Jessica dan memberikan kecupan di pundaknya yang menegang. Sambil memperhatikan Jessica juga, Demian jadi menyadari suatu hal yang sudah ia tepikan di benaknya hari ini. Yaitu, penampilan Jessica.
Jujur saja, kendati Jessica nampak begitu indah dalam dress putih minim yang mengekspos pundak, leher dan kaki jenjangnya, Demian merasa tidak suka ketika Jessica menata dirinya seindah ini semata-mata untuk bertemu dengan Jake Allendale.
Mengapa? Mengapa Jessica harus tampil jelita dan manis di depan pria lain? Demian tidak suka! Demian mau segala keindahan Jessica hanya tertuang untuknya, hanya miliknya.
Jadi, dengan pertanyaan itu kembali menyelip di kepalanya, Demian melabuhkan ujung jarinya di lengan baju Jessica yang off shoulder.
"Perasaanku saja, atau ini pertama kalinya aku melihatmu memakai dress ini."
Tidak, secara umum, Demian memang belum pernah melihat Jessica mengenakan dress. Dia selalu tampil rapi dengan blouse manis dan celana jeans ketika keluar.
"Kenapa, memangnya? Aneh ya?" Jessica menoleh dan agak terkesiap saat matanya menemukan wajah Demian begitu dekat. Ia seketika meneguk saliva. Jantungnya berdebar dalam ritme buas.
"Daripada aneh, kau terlihat sangat cantik dan feminim. Itu jadi menjengkelkan."
"Apa-apaan?" Apa itu pujian atau hinaan?
"Habisnya," ucap Demian terjeda. Ia menarik wajah Jessica yang hendak menghindari tatapannya, "Aku tidak suka kau tampil cantik di depan pria lain."
Ucapan itu merupakan kejujuran yang berlapis dengan godaan, dan Jessica yang mendengarnya menjadi kehilangan kata-kata. Ia tak mampu bersuara.
Menyadari ucapannya membuat wajah Jessica merona padam, Demian merasakan kepuasan tersendiri di sana.
"Jadi..., apa kau khusus memakai gaun ini untuk memikat pria lain?" Demian memberikan kecupan ringan di kening Jessica, tanya yang keluar dari bibirnya membuat Jessica mengerutkan dahi jengah.
Dengan lengan berat Demian yang kini merangkul pundak Jessica, ia dengan gampang membawa Jessica jatuh bersandar di dadanya.
"Terserah aku memakai apa pun untuk tujuan apa pun," tukas Jessica. Ia tidak memprotes apa pun ketika Demian memaksanya berbaring.
"Aku tau, tapi itu membuatku cemburu. Nasib baik aku datang menyelamatkanmu dari pandangan si keparat itu, kan?"
"Aku tidak memintamu menyelamatkanku."
"Aku tau, tapi aku tetap mau menyelamatkanmu." Jawaban Demian kali itu disertai dengan sebuah kecupan yang ia layangkan di bibir Jessica.
Sementara tangannya menjadi sandaran kepala Jessica, tangannya yang lain melalang-buana mendekap pinggang ramping yang sudah lama tidak berada di dekapannya. Demian menarik gadis itu semakin rapat ke tubuhnya. Terbungkus dalam hangat temperature-nya.
Pagutan lembut itu saling bersambutan. Jessica yang kerap pasif dalam dominasi Demian, kini memberikan serangan balasan. Tangannya meraup surai ikal Demian dan merangkumnya erat ketika sentuhan tangan Demian yang lain menciptakan kejutan di sarafnya, menggelitiknya.
Ciuman basah itu terus bertukar untuk beberapa waktu, tidak terlepas kendati wajah Jessica bersemu menahan malu. Demian yang semakin agresif memojokkan Jessica tidak hanya dalam pagutannya, tapi juga sentuhan jemarinya.
Seperti sentuhan api, jejak jemari Demian yang menyapu tubuhnya meninggalkan panas yang luar biasa. Jessica kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam pagutannya. Tubuh mengejang menahan gairah.
Kepala Jessica berdengung oleh stimulasi yang muncul dari lain.
"Apa ini tujuanmu membawaku kemari?" Jessica bergumam ketika pagutannya dan Demian terjeda. Ia menatap wajah pria itu yang sama merahnya. Namun, kendati pagutan mereka terjeda. Tangan pria itu sama sekali tak berhenti.
"Tidak hanya ini..." gumam Demian, ia memberikan gigitan di rahang Jessica, menciptakan ruam merah kentara.
"Aku ingin melakukan banyak hal denganmu."
"Ugh!"
"Lagipula, jari-jariku saja tidak akan cukup..."
"Demian!!!"
Senyum Demian kemudian merekah ringan. "Apa salah?"
"Kau akan mengotori bajuku..." Jessica mengabaikan tanya pria itu dengan sengaja. Ia mana mau mengakui apa pun.
"Aku akan meminjamkanmu pakaianku setelah ini..."
__ADS_1
"Tapi ini baju Dania, aku tidak mau bajunya kotor karena..., ini.."
"Ahaaa..., jadi teman psiko-mu itu yang merencanakan ini, huh?"
"Apa?"
Jessica gelap mata, ia kesulitan fokus terhadap ucapan Demian. Tidak ketika jari pria itu bermain di pusat tubuhnya, menstimulasi kenikmatan dalam tubuhnya tanpa jeda.
"Demy..., please..." Jessica menggigit bibir. Akan bahaya bila ia mengotori pakaian Dania, Jessica tidak yakin ia akan sanggup menatap wajah sahabatnya itu lagi.
"Aku tidak akan memaafkannya karena sudah melakukan ini padamu..." ujar Demian. Berani-beraninya gadis itu berusaha mencomblangi Jessica dengan Jake. Memakaikan Jessica pakaian seksi hanya karena Jessica tidak bisa menolak permintaannya, awas saja!!!
"Aku tidak akan membiarkannya menjadikanmu bonekanya lagi..." Demian bergumam sambil meraup Jessica ke dalam pagutan yang dalam. Gaun yang Jessica kenakan sekarang, Demian pasti akan menghancurkannya.
Tanpa memedulikan kepanikan Jessica, Demian semakin meningkatkan performanya. Ia--dalam beberapa detik setelah itu juga--merasakan tubuh Jessica menegang kuat di dalam dekapannya. Napas terengah-engah.
Peluh menyusup keluar dari kulit Jessica, membanjiri kulit porselennya. Aroma strawberry itu menguar manis dari panas tubuhnya.
Jessica..., tanpa bisa menahan dirinya, menumpahkan klimaksnya di sana.
"Aku membencimu!" rengek Jessica.
Ia menutupi wajahnya atas perasaan malu yang sekarang meliputi tubuhnya, membakarnya. Jessica tidak menyangka akan segampang itu ia mencapai batasnya. Kemana perginya kontrol diri yang ia miliki? Mengapa setiap sentuhan dari Demian selalu membuatnya meringkuk dalam ekstasi?
Mengapa ia begitu lemah di hadapan Demian?!
"Jangan melarikan diri..."
Demian membuka paksa telapak tangan yang menutupi wajah Jessica. Tentunya, kekuatan tangan Jessica tidak ada bandingnya dengan kekuatan Demian.
Tanpa usaha keras, Demian berhasil membuka perisai yang menutupi wajah nanar gadis itu. Pipinya yang bersemu, matanya yang berkaca-kaca menahan malu, dan bibir basahnya..., pemandangan itu seperti stimulasi yang memancing gairah Demian meninggi.
Kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya, menggelitiknya. Napasnya tertahan saat itu juga.
"Jessica..." bisik Demian, suaranya bermaksud menenangkan. "Tunjukkan segalanya padaku..., jangan melarikan diri dan jangan bersembunyi."
Aku tidak akan membiarkanmu menyembunyikan apa pun dariku, perasaanmu ataupun ekspresimu.
"Biarkan aku tau segala hal tentangmu."
...****************...
Demian adalah pria bermulut manis, Jessica mengakui itu. Karena, tidak peduli berapa kali ia mengutuk pria itu dan memberikannya kecaman kejam, Jessica berujung dikalahkan. Dia--pada akhirnya, untuk kesekian kali--berujung di tempat tidur Demian lagi.
Mereka sudah melakukan ini--kau tau apa--tadi siang. Namun, untuk beberapa alasan mesum Demian yang katanya sudah menahan diri seminggu, Jessica jadi dirayu sedemikian rupa untuk bersenang-senang dengannya.
Seharian, rasanya Jessica hanya menghabiskan waktunya dengan bergelut dengan pria itu di tempat tidur.
Meskipun ada jeda, itu karena Jessica kelaparan dan butuh makan. Mereka menyantap chicken wings bersama dan sebotol cola raksasa.
Demian menyantap makanannya dengan suka-cita, seakan-akan seember chicken wings itu adalah makanan istana. Jessica tidak paham, tapi dia menebak mungkin Demian cuma sedang kelaparan.
Jessica tidak tau kalau alasan bahagia Demian karena pria itu bisa menyantap makanan favorite-nya kembali dengan gadis favorite-nya juga.
"Jika mati hari ini pun, rasanya sudah tidak masalah." Demian menyelesaikan makanannya dengan kata-kata yang hiperbola.
Jessica mencebik saja mendengar penuturan Demian.
Setelah makan pun, Jessica mengecek ponsel dan menyadari sekarang masih jam 5 sore. Jessica tidak menyangka sekarang baru jam 5. Setelah sejak tadi bergelung bersama Demian di atas ranjang, Jessica berharap kalau sekarang sudah malam.
"Apa yang kau perhatikan?" Demian merangkul pinggang Jessica dan mengangkat gadis itu ke atas meja dapurnya. Jessica duduk di hadapannya sekarang, hanya mengenakan kaos hitam yang ia pinjamkan.
"Jam berapa kau akan membiarkanku pulang?" Jessica bertanya.
Saat itu, Jessica merasa kurang nyaman menunduk dan menatap wajah Demian. Ia jadi teringat aktivitasnya tadi siang. Ketika ia berada di atas Demian dan menatap rendah ke arahnya sambil memimpin ritme permainan mereka. Mengingat situasi itu kembali, Jessica tidak menyangka ia mampu melakukan hal-hal memalukan semacam itu.
__ADS_1
Dia mungkin memang wanita gampangan.
Bukan, dia sudah pasti wanita gampangan!
"Siapa yang bilang aku akan membiarkanmu pulang?" Demian bicara sambil mengecup lutut Jessica. Tindakannya jelas sekali menggoda. Jantung Jessica jadi berpacu cepat saat bibir Demian berlabuh di kulitnya.
"Jangan bermain-main, aku sudah mengompensasimu terlalu banyak hari ini." Terlalu banyak dan terlalu melelahkan, sejujurnya. Jessica merasa dia bisa mati sakit pinggang.
"Terlalu banyak bagimu terdengar hanya lima persen untukku."
"Apa kau binatang?"
Demian terkekeh. "Setidaknya aku sudah membelikanmu makanan, kan? Energi sudah kembali."
"Apa kau pikir itu cukup?"
"Kuharap, untuk beberapa jam kedepan itu akan cukup." Demian menanggapi Jessica, kali ini sambil memberikan hujan kecupan di wajah. Jessica tau--saat itu juga--Demian belum selesai dengan gairahnya, belum selesai dengan obsesinya.
'Aku hanya akan mengompensasimu untuk hari ini,' gumam Jessica di dalam hati. Ia mendekap Demian kembali, mendekapnya dengan terlampau erat.
Demian yang merasakan sedikit keanehan dari Jessica, meredakan godaannya. Ia mengusap punggung gadis itu sementara keningnya mengerut penuh tanya.
Ada apa?
"Jesse..., apa kau baik-baik saja?" Jika Demian sudah keterlaluan, Demian tidak akan melanjutkan godaannya. Serius. Demian tidak akan mau melukai Jessica. Tetapi...
"Bukan apa-apa..." gumam Jessica, ia melonggarkan dekapannya dan mengambil ruang tipis sebagai spasi antara dirinya dan tubuh Demian yang tanpa atasan. Ia menatap sepasang manik kelam itu dengan sayang. "Aku akan memaafkanmu untuk hari ini," ujar Jessica.
"Jadi, lakukan apa yang kau suka..., aku akan memberikanmu segalanya."
Mendapat persetujuan dari Jessica, Demian pun kembali melayangkan kecupannya di sana, di bibir Jessica yang terbuka. Lidah bertemu lidah. Selagi bibir mereka berpagutan, Demian merayapkan kedua tangannya yang tak bisa diam ke dalam kaos Jessica. Meraup setiap titik sensitifnya dan membuat gadis itu menggeliat dan mengerang.
Saat pagutan mereka terjeda, Demian mengusap wajah Jessica dengan ibu jemarinya. Keringat yang membasahi wajah gadis itu membaur satu dengan salivanya yang mengalir di dagu. Demian menyukai pemandangan itu. Terlalu menyukai Jessica yang luluh lantak di dalam kuasanya.
"Lakukan sesuatu untukku, mau?" Demian membujuk Jessica sementara tangannya dengan berani menuntun jari-jemari Jessica menuju area paling berbahaya.
"Dari mana datangnya semua energi ini?" Jessica melontarkan tanya dengan agak terkesima. Karena, demi apa pun, energi Demian menakutinya. Pria itu masih terjaga, bahkan setelah aktivitas melelahkan yang ia hadapi seharian. Dia benar-benar monster mengerikan.
"Itu pertanyaan yang tidak perlu, Jessica." Demian bicara sambil menurunkan Jessica dari meja. Gadis itu kini berdiri di hadapannya, mendongak menatapnya.
"Semua ini karenamu," ujar Demian, alasan yang tidak masuk akal ia ucapkan. "Karena aku begitu menginginkanmu, aku selalu menginginkanmu."
Mendengar penuturan Demian saat itu, Jessica sedikit tersipu.
"Aku tidak tau mengapa kau menyukai ini," kata Jessica kembali pada topik permintaan Demian sebelumnya. "Aku sudah bilang aku tidak tau cara yang benar melakukannya, bukan?"
"Aku hanya senang melihatmu melakukannya."
"Mesum!"
Kendati mengeluh, Jessica tetap menyanggupi permintaan Demian. Ia--dengan suka-rela--menjatuhkan lututnya secara perlahan di lantai dapur Demian. Meringkuk setinggi pinggang, tangan masih menggenggam harta berharga Demian.
"Bukankah kau bilang akan melakukan apa yang kumau?" Demian menggunakan kartu keberuntungannya, dan itu membuat Jessica menghela napas pasrah.
"Baiklah, untuk hari ini...," Jessica memberikan hal yang paling Demian dambakan. Memberikan pria itu kepuasan dengan tindakan yang begitu merendahkan.
Jessica--di kepalanya--tidak pernah membayangkan kalau ia akan melakukan hal sejauh ini dalam hubungannya bersama pria. Selama ini, Jessica mengira hal-hal yang terjadi di film dewasa tidak akan pernah lompat ke realita, tapi malangnya..., perkiraan naif itu mengejeknya.
Sekarang, dengan mulut yang penuh, ia melakukan hal yang pernah ia anggap begitu menjijikkan.
Dan uniknya, itu tidak semenjijikkan yang ia pikirkan.
Sudah pasti, Jessica sudah pasti wanita murahan!
...****************...
__ADS_1