
Musim dingin di awal Januari.
Beberapa bulan setelah kembalinya Jessica dan Demian ke Vegas, waktu akhirnya berputar dan membawa mereka kepada musim ini. Kepada musim yang membawa salju dan temperature yang merosot beku.
Musim gugur yang telah tertinggal cukup jauh di belakang, masih terasa segar diingatan Jessica setiap kali ia membuka matanya di pagi hari. Setiap kali ia terbangun, ia akan melempar tatapannya keluar jendela, melihat pemandangan langit mendung Vegas yang menciptakan perasaan lega di dadanya. Jessica melihat keluar dan merasa lega. Ia tidak berada di Italy, ia sekarang berada di Vegas.
Kendati dilingkupi cuaca yang suram, ia sudah berada di tempat yang aman. Tempat yang dapat ia sebut sebagai rumah. Cangkang untuk tubuhnya yang lemah.
Setiap kali Jessica menatap keluar jendela juga, sedikit perasaan nostalgia merayap di benaknya. Mengingatkan ia pada pemandangan dedaunan dan pepohonan yang menjingga. Ia mengingat lautan tirenia dan segala keindahan yang bersembunyi di balik biru sapphire-nya.
Jessica mengingat Demian dan bagaimana hubungan mereka berjalan sekarang.
"Aku akan menunggumu, Jessica." adalah ucapan Demian kepadanya, menyiratkan kesungguhan kentara. Namun, untuk mempercayai ucapan pria itu lagi, Jessica merasa sedikit skeptis. Jessica hanya lega karena Demian mau menuruti keegoisannya yang tidak mampu memilih pria itu, tapi tidak mampu menolaknya juga.
Jessica sudah menghabiskan seluruh musim gugurnya dengan peperangan batin dan gundah-gulana. Sekarang, karena musim dingin sudah datang, peperangan batin itu pun diperpanjang.
"Jesse, apa kau sudah siap?"
Dari luar kamar, Jessica mendengar suara Elliot menggedor pelan daun pintunya. Menyapanya.
"Aku akan keluar sebentar lagi," kata Jessica. Ia mematut dirinya di cermin sekali lagi sebelum menarik koper merah berukuran kecil yang dia taruh di kaki ranjang.
Hari ini, semata-mata untuk refreshing dan menikmati awal tahun, Jessica dan kawan-kawannya berencana menginap di kabin yang berada di area pegunungan Charleston. Mereka akan bersantai dua atau tiga hari di sana sebelum kembali memulai aktivitas seperti semula di Elixir.
Ide menginap di kabin ini sebenarnya datang dari Oscar Brown. Si pria baik hati yang sudah menyelamatakan Jessica dari Rhoden manor tersebut tiba-tiba datang ke Elixir tempo waktu, tepatnya sebelum natal, dan menawarkan agar mereka berlibur bersama di kabin pribadinya yang berada di pegunungan Charleston.
Tawaran menarik itu, ketika sampai di telinga Dania, langsung saja disetujui. Sahabat pirang Jessica tersebut begitu antusias begitu mendengar tawaran Oscar dan..., mengikuti perkembangan tawaran itu, di sinilah mereka sekarang.
Jessica menapak keluar dari Elixir sambil menyeret kopernya.
Di depan Elixir, sebuah mobil van hitam menunggu mereka. Namun, bukannya menaruh perhatian pada mobil van itu, Jessica menaruh perhatian pada sesosok pria yang menyapanya di depan pintu. Pria yang sejauh ini masih mengompensasi keegoisannya dan masih menghormati batasan-batasan yang sudah Jessica buat.
Pria itu adalah Demian Bellamy.
Semenjak kembali ke Vegas, Demian memulai lembaran baru kehidupannya dengan bekerja serius bersama Oscar. Demian menjadi kaki dan tangan dari si pemalas penggila judi itu dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan pekerjaan-pekerjaan profesional. Dia--bersama Adam--menjadi partner.
"Good morning, Princess." Demian menyapa Jessica seraya tersenyum tipis. Sapaannya disambut Jessica dengan seulas senyuman juga, seulas senyuman yang sedikit menyimpan perasaan bersalah.
Jessica merasa berdosa sudah menggantung Demian di dalam hubungan yang tidak mempunyai kepastian ini. Jessica merasa berdosa sudah menyeret keputusannya terlalu lama. Namun, kendati Jessica merasa berdosa, Jessica tau dan paham kalau dirinya tidak benar-benar di posisi yang salah. Jessica hanya..., takut.
"Apa hanya ini bawaanmu?" Demian mengambil alih koper Jessica dari tangan gadis itu yang memucat dan dingin seperti es batu.
"Kita hanya menginap tiga hari," sahut Jessica. Bicara soal menginap, Demian dan Oscar juga dipastikan akan ikut. Mengesampingkan Demian yang intensinya sudah jelas sekali hanya untuk mengekori Jessica, Oscar ingin ikut karena dia merasa kesepian kalau sendirian.
Apa menerima Demian adalah pilihan yang tepat untuk dilakukan?
Jessica kembali memikirkan topik yang sama begitu ia dan Demian duduk berdampingan di dalam mobil van yang perlahan-lahan melaju di jalan. Demian berada di sisi Jessica saat itu, mata terpaku kepada buku mekanik yang ia temukan di lantai mobil. Sementara Demian terpekur dalam bacaannya, Jessica kembali dilanda gundah-gulana.
Jessica tau kalau cepat atau lambat, dia perlu membuat keputusan dan kejelasan dalam hubungannya dan Demian. Ia tidak bisa memperlakukan pria itu seperti kawan, tidak ketika mereka sama-sama mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Tidak ketika di balik keramahan mereka, gairah untuk mendekap satu sama lain, hasrat untuk berpulas dan membelit dalam panas begitu mendominasi benak mereka.
Jessica tidak bisa menunda topik ini lebih lama, tidak ketika ia menatap Demian, ia merasakan kerinduan yang luar biasa. Ia rindu mendekap pria itu di dadanya, memanjakannya, mendengar celotehan kekanakannya, merasakan kecemburuannya dan mendengar deru napasnya ketika mereka terlelap berdampingan di tempat tidur yang sama.
"Apa yang kau pikirkan dengan sangat serius?" Demian akhirnya menutup buku mekanik tersebut dan menaruhnya di bawah bangku mobil. Sepasang manik kelam Demian menyorot ke arah Jessica, bingung berpadu-padan dengan kelembutan.
"Apa kau lapar? Aku membawa snack untukmu."
"Oh, oh, oh. Romeo, kau membawa snack hanya untuk Jesse? Bagaimana dengan kami?" Dania yang menyimak dari belakang--menimpali dengan kesebalan.
"Bagaimana, ya?" Demian menoleh ke bangku Dania, suaranya jenaka. "Bagaimana kalau kau mencari pacar?"
"Pacar, bokongku. Kau sendiri masih di zona friendzone, kan?" Dania menyekaknya balik. "Sudah berapa bulan semenjak kau kembali dari Italy? Dua, tiga?"
"Empat." Elliot yang menjawab.
"Benar, empat. Selama empat bulan, hubunganmu dan Jessica masih statis. Ohohoho. Menurutmu kau masih punya harapan untuk perubahan?"
__ADS_1
"Dania," Jessica turut berbicara, akhirnya. "Shut up."
Mengerti kalau ucapan Dania dimaksudkan untuk melukainya, menghinanya, tapi Demian tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Daripada peduli pada Dania, tatapan Demian tersorot tenang ke arah Jessica yang lagi-lagi merana dalam pikirannya sendiri. Demian tidak tau apa yang Jessica pikirkan, tapi belakangan dia selalu gampang terpekur sendirian.
Demian mencemaskan jessica.
"Ini..." Demian membukakan sebungkus permen untuk Jessica, sebuah permen dengan varian rasa anggur di dalamnya. Demian menyerahkan permen itu sambil memperhatikan wajah Jessica. Wajah jelita itu mengukirkan seulas senyum samar sebelum kembali pudar.
"Terima kasih," tutur Jessica.
...*...
Mereka tiba di kabin keluarga Brown setelah satu jam perjalanan yang jujur saja, tidak begitu panjang. Waktu terasa berjalan begitu cepat ketika Demian berpetualang dengan kawan-kawan Jessica. Kerabat gadis itu yang sudah menyerupai keluarganya, sangat berisik dan gemar bercerita. Demian yang mendengar celotehan dan gosip mereka bertiga, jadi tidak sadar kalau mereka sudah mencapai destinasi.
Tidak sampai mobil terhenti dan Adam berbalik menghadap mereka, mengatakan kalau perjalanan telah berakhir.
"Adam, apa kau akan menginap?" Demian bertanya setelah selesai membantu menurunkan koper-koper dari bagasi. Pelayan keluarga Brown yang hadir di tempat itu membawa sebagian koper masuk, sementara sebagiannya lagi ditenteng oleh Ethan dan Elliot.
"I'd love to, tapi aku punya urusan di Carson. Aku akan datang ketika aku punya waktu luang." Adam menimpali sambil menutup bagasi mobil. "Selamat bersenang-senang dan pastikan Oscar tetap waras sampai aku kembali."
"Jangan mencemaskan hal itu."
"Mm."
Seusai bertukar kata pada Demian, Adam pun memasuki mobilnya kembali dan meninggalkan Demian Bellamy sendirian di depan kabin Oscar yang nampak elegan.
Ketika Demian melenggang masuk menuju pintu kayu tersebut, Demian menemukan sisa ornamen natal masih melekat di pintunya. Sesampai di dalam, Demian langsung mencari punggung Jessica dan menemukan gadis itu sedang menatap pohon natal yang masih terhias indah oleh kerlap-kerlip lampu.
"Apa kau merayakan natal di sini, Oscar?" Jessica bicara kepada Oscar yang barusan menyambut mereka di ruang tengah.
"Bukan aku, tapi pekerja yang bekerja di sini."
"Ah..." Benar-benar baik hati.
Oscar merasakan deja vu. Ia teringat waktu ia menemukan Demian dan Jessica sedang mengobrol di sebuah cafe di Bologna. Betapa cepatnya Demian menemukan Jessica, Oscar agak takjub saat itu.
"Aku pikir kau tidak akan ikut," kata Oscar, menyapa Demian.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Jessica sendirian," Demian jujur di sana. Namun, jawabannya membuat Jessica dilanda panas luar biasa. Ia tersipu dari leher hingga ke telinga. Ucapan Demian yang terang-terangan melindunginya, peduli dan penuh kasih, membuat Jessica terkesima. Jantungnya membuncah menggedor rusuknya, siap melompat keluar dari rongga dadanya.
Jessica tidak tau cara menanggapi Demian yang selalu terang-terangan, jadi Jessica berujung meninggalkan keduanya tanpa mengatakan apa-apa.
Jessica hanya memutuskan melarikan diri dari sana.
Menatap kepergian Jessica, Demian menghela napas lemah.
"Apa kalian belum baikan?" Oscar bicara sambil memungut satu hiasan pohon natal yang jatuh di karpet.
"Kurasa dia belum bisa memaafkanku." Demian meratap sayu.
Kendati sudah bersabar beberapa bulan belakangan ini, Demian tidak serta-merta merasa keberadaannya sudah mencapai posisi aman. Jessica, Jessica-nya masih membangun tembok tinggi tak kasat mata di antara mereka. Mereka bisa saja bertukar kata, Demian bisa saja menggoda Jessica dan mencari jalan menuju hati gadis itu, tapi..., itu tidak membantu.
Setelah Jessica tiba di Vegas, dia menjadi sosok yang lebih tenang. Ia mempunyai keseganan pada keberadaan Demian, seakan-akan mereka adalah dua orang yang baru saling mengenal.
Demian membiarkan Jessica memperlakukannya sebatas teman, dan walau ada banyak godaan dan ujian dalam kesabarannya, Demian tidak pernah kalah. Demian tidak akan menyerah. Dia akan menunggu sampai Jessica siap membuka hati untuknya kembali.
"Kau tau aku mendukungmu, kan? Jadi..., gunakan waktu ini baik-baik."
...*...
Menginap di kabin Oscar adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan. Mereka berbagi kebersamaan dan memperdalam keakraban melalui aktivitas yang mereka lalui bersama-sama. Seperti ketika memasak saja, Oscar yang tidak mempunyai teman dan memang sulit berteman, berbaur seperti pria normal ketika Elliot memerintahnya ini dan itu. Mereka menciptakan makan siang dengan bangga sampai senyum Oscar melebar sempurna.
Dania dan Demian yang bermain kartu di meja makan juga mulai menunjukkan keakraban, walau sesekali, Dania kerap mengintimidasi Demian dengan komentar-komentarnya yang menikam.
Semuanya berjalan dengan aman, sebenarnya.
__ADS_1
Semuanya kecuali isi kepala Jessica yang runyam.
Sebagai orang yang tidak membantu apa pun dalam menyiapkan makan siang hari ini, Jessica bersama Ethan akhirnya ditugaskan membersihkan piring-piring kotor. Awalnya, Oscar dan Demian mengatakan itu tidak perlu. Namun, Jessica tetap melakukan tugasnya karena ia tidak mau menyusahkan pelayan Oscar.
"Kalau isi kepalamu penuh dan berantakan, hal terbaik yang perlu dilakukan adalah menyibukkan dirimu." Ethan--partner cuci piring Jessica--berkomentar di sebelahnya.
"Apa isi kepalamu sedang berantakan?" tanya Jessica.
"Kalau aku tidak," jawab Ethan. "Tapi aku tidak tau dengan dirimu. Kau kebanyakan termenung..., aku jadi mencemaskanmu."
Seperti yang Jessica harapkan dari sahabatnya yang selalu peka. Tanpa perlu bicara, Ethan sudah tau kalau Jessica memang sedang dalam suasana hati yang tidak sempurna.
"Apa kau dan Demian ada masalah?"
"Hmm?"
"Kau banyak memperhatikannya hari ini. Kupikir dia mungkin melakukan sesuatu yang memancing emosimu lagi. Kau tau, apa pun itu."
Semenjak Jessica kembali dari Italy, teman-teman Jessica mengetahui kalau hubungan Demian dan Jessica telah merenggang ke ambang nyaris putus berantakan. Mereka tau ada masalah yang terjadi, tapi..., mereka tidak mempunyai konteks terhadap isi masalah itu. Mereka hanya bisa menerka-terka kalau Demian sudah pasti biang masalahnya.
"Oh, Ethan..., kau benar-benar temanku yang sangat perhatian, bukan?" Jessica terkekeh samar. "Aku sangat berterima kasih karena kau sudah mencemaskanku."
"..."
Jeda sejenak di antara mereka. Jessica masih enggan menyuarakan uneg-unegnya. Daripada bicara, dia kembali menekuni membasuh piring kotor di hadapannya. Mengira Jessica tidak akan membuka suara, Ethan pasrah-pasrah saja.
Ethan nyaris selesai pada tugas membilasnya ketika di sela-sela berisik air yang jatuh dari keran itu, suara Jessica kembali menyapa telinganya. Menghentikan aktivitasnya.
"Ethan," ujar Jessica, keragu-raguannya kentara.
"Hmm?"
"Kau tau hubunganku dan Demian sekarang, bukan? Maksudku..., kami tidak mempunyai kejelasan apa pun. Aku..., aku mengatakan aku membutuhkan waktu untuk kembali ke seperti sedia kala, tapi..., situasinya sudah terlalu jauh berubah. Aku tidak yakin situasinya akan kembali seperti semula setelah apa yang terjadi."
Ethan tidak tau apa yang sudah terjadi tapi, "Apa perasaanmu padanya telah berubah?"
"Ya?"
"Ah, aku hanya agak penasaran. Apa kau masih mencintainya, seperti itu?"
"Ku--kurasa."
Perasaan Jessica tidak pernah berubah. Jika ada hal yang berubah, maka itu adalah dirinya yang menjadi pengecut dan enggan dalam kembali memulai hubungannya bersama Demian. Jessica takut ia akan berujung terluka, ia tidak mau mengemban perasaan sakit yang sudah-sudah.
"Jadi masalahnya bukan di perasaanmu?"
"Aku tidak tau..." Jessica mematikan keran air. "Aku..., aku takut membuat keputusan yang berakhir akan kusesalkan. Aku takut, bila sewaktu-waktu aku akan berakhir membenci keputusanku."
"Kau tidak mempunyai kendali atas apa yang dapat terjadi di masa depan, Jesse. Kalau masa depan membuatmu takut dalam melakukan apa pun, kau sama saja seperti mengurung dirimu dalam jeruji tak kasat mata." Ethan tersenyum tulus di sana.
"Aku tidak bermaksud mengguruimu atau apa pun, aku tidak tau apa yang sudah kau lalui..., tapi, kupikir adalah hal yang tepat untuk memikirkan perasaanmu sekarang, daripada memikirkan perasaanmu di masa depan."
"..."
"Probabilitas kau terluka dan probabilitas kau berbahagia adalah sesuatu yang tidak terduga. Kau bisa saja terluka dan berbahagia, tapi..., kalau kau mengurung dirimu dalam perasaan takut, kau tidak akan bisa mencapai masa depan itu."
"Aku..., aku tau itu." Jessica tau kalau ketakutannya pada masa depan adalah tindakan tolol. Jessica tau, tapi ia masih kesulitan menyingkirkan ketakutannya. Ia tidak mau terluka.
"Sementara kau termenung dalam rasa takut seperti ini, bumi terus berputar, Jesse. Segala hal yang berada di sisimu saat ini akan berlalu. Demian juga..., dia mungkin mendeklarasikan akan menunggumu, tapi untuk berapa waktu? Bukankah itu sama saja seperti menyiksanya kalau kau menyeret topik ini terlalu lama?"
"Apa kau memihak Demian?"
Ethan tertawa. "Aku tidak memihaknya. Aku hanya ingin kau berbahagia. Jika menolaknya adalah pilihan yang membuatmu lega, aku mendukungmu, Jessica."
...*...
__ADS_1