
Apakah ini adalah kesalahan?
Jessica bertanya-tanya, keresahan terpancar jelas di wajahnya. Di seberang Jessica yang gundah-gulana, Demian menyantap semangkuk chicken salad dengan suapan besar. Menemani chicken salad tersebut, secangkir kopi hitam yang masih panas berada di samping mangkuk Demian.
Sebenarnya, itu adalah menu makan siang Jessica. Namun, ia menyerahkan makanan tersebut ke Demian yang dalam sepengetahuan Jessica, belum makan sama sekali.
"Kau tidak perlu berpikir keras," kata Demian setelah mengunyah. "Aku akan kerepotan kalau kau tiba-tiba berubah pikiran."
Oh, ya. Mengenai kelanjutan dari keberadaan Demian dan mengenai kegelisahan Jessica sekarang, semua itu karena keputusan yang Jessica buat 30 menit yang lalu.
"Aku akan membiarkanmu menetap di sini selama satu minggu. Selebih itu, aku tidak peduli pada apa pun situasimu, pokoknya kau harus pergi dari sini."
Jessica membuat keputusan tersebut berdasarkan simpati. Mengingat dirinya pernah berada di posisi yang sama dengan Demian, sisi emosional Jessica meracuni rasionalitasnya. Ia--entah bagaimana, melunak kepada Demian begitu saja.
Sialan!
Demian yang sempat mengatur strategi untuk membeli izin dari Jessica dengan sejumlah uang sampai terpana ketika Jessica memberikan izin tinggal padanya secara tiba-tiba.
Maksud Demian, mengapa? Apa yang terjadi sampai Jessica tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah godaan dan ancaman tidak mempan?
'Apa karena sedikit masalah yang kubocorkan padanya? Apa dia bersimpati padaku?' Demian menimbang-timbang alasan Jessica, dan satu-satunya jawaban hanya itu. Jessica sudah pasti prihatin padanya.
Gadis itu..., apa dia idiot?
Tidak peduli seberapa malang nasib seorang pria, dia tidak seharusnya menerima pria asing di kamarnya.
Haaah, Demian jadi frustasi sendiri.
Well, katakanlah ia beruntung sudah menerima bantuan Jessica, dan itu memang bantuan yang sangat ia butuhkan sekarang. Namun, memikirkan kemurahan hati Jessica lagi, Demian agak tidak nyaman sendiri. Gadis itu terlalu naif. Demian merasa berdosa sudah memanfaatkannya.
Kembali ke sekarang, kepada situasi awkward yang melingkupinya dan Jessica. Demian tidak bicara banyak, tapi ia cukup menikmati makanan yang diberikan Jessica padanya. Gadis itu sangat baik hati dan peduli pada orang lain, itu manis. Walau tingkahnya sedikit kasar, Demian percaya hal itu tejadi hanya karena dia sedikit gusar.
Dengan sedikit kata-kata manis yang memancing iba, jujur saja, Demian percaya ia mampu membuat Jessica memperlakukannya penuh cinta. Jessica--tidak seperti Angela yang secara totalitas polos--lebih ke tipe wanita yang mempunyai empati yang tinggi.
Empati sendiri adalah kelemahan bagi Demian, tapi itu cukup manis bila ia bisa memanfaatkan sedikit empati Jessica.
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih kau mau menampungku untuk sementara waktu, aku berjanji tidak akan merepotkanmu sama sekali." Demian bicara seolah-olah ia adalah korban bencana. Ia merasa konyol dengan tingkahnya sekarang.
Setelah menyelesaikan makannya, Demian lalu mengangkat mangkuk kotornya menuju wastafel Jessica yang berada di belakang kitchen set mini berwarna cream tersebut.
Kamar Jessica--sama seperti Elixir, mempunyai warna cerah dan hangat yang cukup mengiritasi mata. Demian bukan pria yang cukup bersahabat dengan warna mustard, pastel dan teman-temannya yang lain. Rasanya warna itu terlalu..., ceria?
"Anyway, Jesse..." Demian kembali ke sofa. "Sebagai ucapan terima kasih sudah membiarkanmu membantuku, haruskah aku melakukan sesuatu untukmu? Aku bisa membayarmu bila itu membantu?"
Sebenarnya, tas yang dibawa Adam tidak hanya menampung pakaian, tapi juga sejumlah uang yang sebelumnya ingin Demian gunakan untuk bernegosiasi dengan Jessica. Sekarang, karena uang itu sudah tidak perlu, Demian rasa ia bisa memberikannya secara percuma kepada Jessica sebagai bentuk apresiasi saja.
Juga, membawa uang cash dalam jumlah besar hanya memberatkan tasnya. Demian tidak suka.
"Aku tersentuh dengan caramu menyapaku," gumam Jessica, suaranya sinis. "Rasanya seperti kita adalah kawan lama."
"Aku tidak bisa memanggilmu 'hei hei' selamanya, bukan? Tapi, jika kau tidak suka, haruskah aku memanggilmu Honey?"
Jessica merasa Demian terlalu santai sekarang. Seakan-akan pria itu yang mengendalikannya, bukan sebaliknya. Jessica tidak menyukai tingkah Demian yang terkesan leluasa di ruang yang bukan miliknya. Terlebih lagi, apa Demian memang pria yang seperti ini? Sejak kapan dia menjadi berisik?
"Aku penasaran, apa kau akan melakukannya kalau aku mengatakan iya?"
Jessica menyilangkan lengan di dada. "Panggil aku Honey."
"Huh?"
"Bukankah kau menyarankan ide itu barusan? Aku tidak keberatan. Daripada mendengarmu kesana-kemari memanggilku Jesse, aku pikir akan cukup menyenangkan dipanggil Honey."
Bagaimana dengan itu? Jessica menggoda Demian kembali. Ia percaya, Demian hanya asal bicara dan itu menjengkelkan. Jessica ingin membalas pria itu yang sudah seenaknya. Setidaknya, buat dia tidak nyaman di rumah ini dan segera pergi.
"Aaah, itu bukan masalah." Demian melahap tantangan Jessica layaknya pemenang. "Honey lebih cocok untuk wanita manis sepertimu. Honey, my Honey."
Kenapa ada my di sana? Aku bukan milikmu, sialan! Ugh, ini mengerikan.
"Lupakan saja," tukas Jessica. "Memikirkannya kembali, panggilan itu menjijikkan."
Jessica lalu beranjak dari sofa dan melenggang menuju tempat tidur.
__ADS_1
Hari ini Jessica kelelahan sekali. Selain karena semalam ia tidak tidur, hari ini pun, ia perlu menghadap Demian yang memancing stress di kepalanya memuncak.
"Jadi, bagaimana dengan tawaranku tadi?" Demian mengikuti Jessica dari belakang.
"Tawaran apa?"
"Bantuan. Aku bisa membayar sewa, kalau kau mau."
Jessica duduk di tempat tidur dan menguap besar. Air mata kembali merembes di sudut matanya.
"Jika kau punya uang, daripada membayarku, sebaiknya kau menggunakan uang itu untuk menemukan cara pergi dari sini. Maksudku, kau bisa menginap di hotel atau membeli tiket pesawat keluar negeri, bukan?"
"Hotel bukan tempat yang aman," jelas Demian. Sementara menimpali Jessica pula, ia melabuhkan telapak tangannya di pipi gadis itu yang lembut dan sayu. Ibu jarinya bergerak perlahan dan mengusap cairan hangat yang membasahi bulu mata Jessica.
Mungkin karena mengantuk juga, Jessica tidak begitu memikirkan sentuhan Demian di wajahnya. Malah, hangat sentuhan jemari pria itu membuatnya semakin mengantuk. Rasanya nyaman dan menenangkan.
"Apa kau mengantuk?" Demian berujar lembut. Ia memperhatikan bagaimana kelopak mata Jessica berkedip lemah, indah.
"Mmm..." Jessica mengangguk, "Aku akan tidur sebentar, kau..., kau sebaiknya tidak menggangguku."
Dengan itu, Jessica pun melabuhkan kepalanya ke bantal. Tidak berselang lama, ia pun beranjak menuju dunia mimpi yang jauh dari realitanya sama sekali. Jauh dari Demian yang masih berdiri dan memantaunya dengan keingintahuan yang asing.
Jessica Cerise, apa gadis ini adalah gadis yang sama yang sudah bergetar ketakutan di depannya semalam? Mengapa ia bisa dengan mudahnya terlelap tanpa pertahanan di depan pria yang bisa saja mencari keuntungan dalam kelalaiannya?
'Sungguh berbahaya, kalau kau terlalu mudah, aku bisa saja memanfaatkanmu sepenuhnya.' Demian membatin sambil menatap Jessica.
Jemari Demian kembali berlabuh di rambut hitam Jessica yang jatuh berantakan di sisi bantal. Ia merapikan helai demi helai surai hitam itu, dan dalam waktu yang terus berlalu, Demian tau-taunya telah melabuhkan kecupan ringan di rahang gadis itu.
Aroma manis strawberry yang kental menguar di sana, di bawah daun telinga Jessica yang gampang memerah. Demian merasa bersalah sudah melabuhkan bibirnya di sana, tapi aroma manis itu sangat memikat inderanya.
Ciuman itu bukan apa-apa, hanya bentuk keingintahuan kecil Demian saja. Karena demi Tuhan, Demian sangat penasaran tentang aroma strawberry yang muncul dari gadis itu. Sangat penasaran..., mengapa ia begitu ingin menggigit kulit pucat itu. Mewarnainya merah kelabu.
Demian hanya penasaran.
*
__ADS_1