
Untungnya, setelah menyibukkan dirinya seharian di Elixir, Jessica kembali ke kamarnya dan menemukan Demian sudah tidak ada di sana. Pria itu pergi entah sejak kapan, meninggalkan kemeja flanelnya teronggok kotor di sofa.
Jessica memungut kemeja itu dan menaruhnya di keranjang kotor. Jessica tidak bisa melihat barang-barang kotor mengendap di kamarnya, ini tidak berarti dia peduli pada Demian atau apa pun, kok. Serius! Jessica hanya..., ah, baiklah. Jessica hanya prihatin pada pria itu yang hidup urak-urakan.
"Menjengkelkan," gumaman Jessica dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Jessica--lagi-lagi, tidak bisa berhenti bersimpati.
"Aku harap dia tidak pernah kembali."
*
Harapan Jessica terkabulkan untuk setidaknya 2 minggu lamanya. Demian tidak pernah muncul di kamarnya lagi dan di Elixir. Angela--wanita yang sekarang menjalin hubungan dekat dengan Demian pun tidak memperoleh kunjungan apa pun dari Demian.
Jessica merasa lega dan untuk beberapa saat, mengira kalau doanya telah menyapu bersih keberadaan Demian dari hidupnya. Jessica awalnya merasa khawatir, tapi seiring berjalannya waktu dan kesibukan yang menumpuk, keberadaan Demian tersudutkan di benak Jessica.
Situasinya kembali seperti semula, seolah-olah Demian tidak pernah hadir di hidup Jessica. Jika bukan karena kemeja flanel Demian yang masih menggantung di dinding kamar Jessica, menjadi satu-satunya pengingat dan bukti bahwa Demian pernah berada di kamar Jessica--, Jessica mungkin akan melupakan Demian sepenuhnya.
Demian pula, di sisi lain...
Dibawah perintah Oscar, Demian terpaksa pergi ke Carson City untuk beberapa pekan. Sebuah tugas besar menyangkut bisnis di Bronze membutuhkan orang seperti Demian yang turun tangan. Mengingat Demian adalah salah seorang kepercayaan Oscar.
Demian awalnya ingin menolak, tapi mengingat bantuan Oscar padanya sejauh ini, Demian mau tidak mau pergi.
"Apa kau sangat mencintai Vegas sampai pergi dari sini menyakitimu?" Oscar menggodanya waktu itu.
Demian merutuk jengkel.
Tidak, dia tidak mempunyai ikatan istimewa pada kota penuh dosa itu. Demian hanya...,
"Aku baru menemukan mainan baru," kata Demian hari itu. "Akan mengecewakan kalau aku meninggalkannya untuk waktu yang lama."
"Mainan, kah?" Oscar membaca maksud Demian dengan kerlingan heran. "Apa ini si wanita malaikat yang sudah menemanimu sejak awal di Vegas?"
"Angela?" Demian balik mengerutkan dahinya.
"Aku tau kau menaruh minat padanya."
"Angela berbeda," tukas Demian. Memikirkan kalau Angela dipermainkan olehnya saja membuat Demian tidak senang. Angela bukan seorang gadis yang layak dipermainkan. Dia adalah orang yang sangat penting untuk Demian. Satu-satunya orang yang Demian sayang.
"Huh..., jadi bukan dia?"
Oscar mengangkat sebelah alisnya. "Aku jadi penasaran..., aku tidak menyangka kau mempunyai banyak kenalan di kota ini yang bisa kau jadikan mainan."
"Jangan pikirkan urusan personalku," ujar Demian. "Itu tidak penting sama sekali."
"Kalau tidak penting, kau tidak mungkin dilema untuk pergi meninggalkannya." Oscar sangat tau harus mengatakan apa untuk membuat Demian kesal, dan dia sukses. Demian menoleh ke arahnya sambil mendecakkan lidah.
"Apa kau mau aku pergi atau tidak?"
"Baiklah, jangan marah...," tawa ringan mekar di paras Oscar. "Silakan lakukan pekerjaanmu dengan baik, Demian. Aku mengandalkanmu."
"..."
"Dan untuk sementara waktu, biarkan aku menjaga mainanmu agar tidak rusak."
"Huh?"
Oscar menyeringai. Seringai itu hanya berarti satu. Dia tau. Dia memahami dengan jelas siapa gerangan yang sudah menghambat langkah Demian untuk berjalan.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu kalau kau menyentuhnya," peringatan Demian keluar dengan keseriusan.
Oscar bersandar di bangkunya sambil bersilang lengan. "Jangan jahat begitu, aku tidak ada niatan berebut mainan dengan temanku."
"Hn, fokuslah pada judimu itu. Aku akan mengalahkanmu lagi ketika aku kembali."
*
Setelah kepergian Demian, satu sosok lain mulai muncul di kehidupan Jessica dua minggu belakangan. Sosok itu adalah Jake Allendale. Meskipun dia tidak muncul terang-terangan di Elixir, Jake menghubungi Jessica melalui ponselnya.
Jake Allendale masih belum menyerah dengan permintaan bantuannya pada Jessica. Jessica--setelah dibujuk sedemikian rupa oleh Jake yang terlihat memprihatinkan, terpaksa menuruti kemauan pria itu.
Mereka bertemu di sebuah restoran bintang lima yang dari penampilannya, menyajikan makanan mahal yang mampu membuat Jessica miskin dalam semalam.
"Apa ini tidak berlebihan?" Adalah keluhan Jessica ketika Jake menarikkan satu bangku untuknya.
"Maafkan aku, apa kau tidak suka tempat ini? Aku tidak tau banyak tempat untuk makan. Ta-tapi tenang saja, chef di restoran ini adalah temanku, dia menyajikan makanan lezat, percayalah."
Tidak, ini bukan tentang makanannya. Jessica mencemaskan budget-nya. Tempat ini sangat menyilaukan mata dan menguras dana.
"Jake..., ummm, jujur saja," Jessica bergerak dan menahan ujung jas putih yang Jake kenakan. Ia menarik pria itu agar membungkuk di dekat wajahnya dan mulai berbisik, "Mungkin kau tidak tau ini karena kita baru bertemu beberapa kali, tapi..., aku bukan orang..., umm...kaya?"
"Hah?"
"Aku tidak berpikir aku mampu membiayai makanan di sini. Maksudku, aku bisa..., tapi aku tidak mau menyia-siakan uangku di sana." Jessica masih mempunyai kesulitan dalam mengurus Elixir, ia belum berada di tahap bisa berbelanja dan makan sesuka hatinya tanpa melihat harga.
"A-aaaah? Jadi kau mencemaskan itu?" Jake tersipu. "Jessica, maafkan aku sebelumnya, aku tidak bermaksud menyinggungmu atau apa pun. Hanya saja, karena aku yang sudah merepotkanmu untuk bertemu di sini, aku akan menanggung seluruh biayanya."
"Uwaaah, apa ini kekuatan orang kaya?" Jessica terpana. Ini pertama kalinya ia mendengar kata-kata itu di dunia nyata. Apa Jake Allendale adalah pria pemeran utama yang melompat keluar dari novel? Mengapa dia sangat keren?
"Maafkan aku," ujar Jake kembali. "Karena situasiku, aku jadi merepotkanmu."
"Berhenti meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, kok. Aku juga, kalau tidak mau menemuimu, sudah pasti tidak akan datang. Aku kemari atas kemauanku sendiri."
"Meskipun begitu, aku masih merasa bersalah."
Jessica mengembuskan napas lelah. "Apa kau baik-baik saja belakangan?"
Jake Allendale, kendati tidak seburuk pertama kali Jessica melihatnya, masih menyimpan raut sendu yang kentara. Sepasang iris hazelnya kehilangan cahaya. Sejuta misteri tersembunyi di balik raut muramnya. Misteri yang hanya akan ia tumpahkan kepada Jessica, sedikit demi sedikit.
"Aku baik, kurasa. Memikirkan kalau hari ini aku akan bertemu denganmu membuatku merasa cukup lega."
"Ah, aku senang mendengarnya." Jessica menanggapi apa adanya.
Kendati alasan pertemuannya dengan Jake adalah agar ia mewadahi segala keluh-kesah pria itu, Jessica tidak semata-mata menyerang Jake dengan sejuta tanya. Ia menunggu di sana, berharap pria itu membuka hatinya tanpa merasa terpaksa.
Agar Jake merasa nyaman, ia harus berada di sana layaknya seorang teman.
'Aku harap dia bertemu terapist daripada menemuiku,' Jessica membatin hal yang sama, lagi dan lagi. Untuk ke sekian kali.
Membuka diri bukan hal yang mudah bagi Jake sama sekali. Jadi, alih-alih bertemu Jessica dan langsung bercerita mengenai masalahnya, Jake duduk di seberang meja dengan kegelisahan yang kembali mengambil-alih keberaniannya. Jake--di hadapan Jessica, kehilangan kata-kata.
"Karena kau bilang chef di restoran ini adalah temanmu, apa kau mau merekomendasikan padaku menu yang bagus?" Jessica memulai obrolan dengan tema yang ringan.
"Uh..., tentu saja," Jake membaca buku menu di hadapannya. Sementara ia terbenam dalam daftar menu yang tercantum di sana, menimbang-nimbang makanan yang cocok untuk Jessica, Jessica di sisi lain memindai Jake dengan iba.
"Kalau aku boleh tau, apa pekerjaanmu, Jake?"
__ADS_1
"Real estate, semacam itu."
"Ah..., itu mengesankan." Jessica manggut-manggut. Setelah Jake membuat pesanan untuk dan menyerahkan buku menu kepada pelayan, Jessica kembali bimbang harus membahas apa. Jake bukan Demian yang gemar bicara sesuka-hatinya, Jake daripada Demian, adalah pria yang cukup pendiam.
Oh! Benar juga!
"Jake...?"
"Hmmm?"
"Apa kau dan Demian..., umm, saling mengenal?"
"Demian Bellamy adalah pria yang akrab dengan Angela," jawaban Jake membingungkan Jessica.
"???"
"Aku tidak begitu mengenalnya," lanjut Jake lagi. "Aku hanya tau dia dan Angela sudah dekat sejak lama. Ketika aku dekat kepada Angela, Demian adalah orang yang menentang kedekatan kami berdua. Kurasa, dia sangat menyukai Angela."
"Hmmm...," Itu bukan jawaban yang tidak Jessica ketahui. Demian memang--lebih dari siapa pun, selalu menaruh Angela di posisi pertama. Jessica masih ingat betapa depresinya pria itu setiap kali nama Angela diungkit.
"Kau sendiri..., bagaimana kau mengenal Demian?"
"Huh?" Giliran Jessica yang terperangah. "Aku...?"
"Sepertinya Demian menaruh kepedulian khusus padamu. Aku sempat mengira kalian bersama, tapi mengingat situasi Angela, aku menyadari Demian masih menaruh hati pada Angela."
Jessica spontan tertawa. "Yaah, tidak, tidak. Kami tidak bersama atau apa pun. Itu mustahil. Mana mungkin!" Jessica lalu mengibaskan tangan. "Kami hanya saling mengenal lewat Elixir."
Jake sulit percaya.
Demian, di mata Jake, sangat menaruh permusuhan ketika ia mengetahui Jake dekat kepada Jessica. Seakan-akan dia cemburu. Apa dia memang cemburu?
"Berbicara denganmu, aku jadi menyadari kalau aku tidak salah memilih orang untuk membantuku."
"Heh, kenapa tiba-tiba?"
"Jessica," ujar Jake. "Sejujurnya, aku membutuhkan bantuan untuk melupakan Angela. Oleh karena itu, aku harap kau bisa menjadi media yang mampu membuatku melupakannya."
'Tunggu, tunggu..., media? Apa? seingatku skenarionya tidak seperti ini? Kenapa perubahan yang tiba-tba?'
"Aku pikir kau hanya ingin bicara..." Jessica berucap seperti bisikan.
"Ya, dan berbicara denganmu sangat membantuku. Kau membuatku menyadari banyak hal hari ini, jadi..., aku harap kita akan sering bertemu kedepannya."
Menyadari apa? "Uh, aku tidak yakin aku berada di posisi yang tepat untuk membantumu melupakan Angela. Lagipula, apa yang aku lakukan?"
Benar!
Situasi ini sangat membingungkan. Jessica tidak menyadari apa pun yang ia lakukan hari ini sampai ia bisa dikatakan membantu Jake. Apalagi membuat pria itu sadar. Mereka hanya bicara mengenai menu makanan sebelumnya, demi Tuhan!
"Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, kurasa."
"Ya?"
"Kau mempunyai kepribadian yang menyenangkan, Jessica. Aku harap kau dan aku bisa menjadi teman seterusnya." Jake tersenyum tulus untuk pertama kalinya.
*
__ADS_1