
[Kau berada di mana?]
Sebuah pesan muncul di ponsel Demian, datang dari Angela. Demian membaca pesan itu sekilas sebelum menaruh ponselnya kembali ke atas meja.
Saat itu juga, kendati Angela merupakan sosok yang cukup berarti di hidupnya, Demian tidak ingin wanita itu mengetahui keberadaannya sekarang, atau apa pun yang ia lakukan.
Demian tidak ingin Angela yang lugu dan ceria, mengetahui kehidupan malamnya. Terlebih ketika sekarang, seorang wanita lain berada di antara kakinya yang terbuka. Mencoba menghiburnya dan menggerus nafsunya.
"Kau seharusnya tidak membawaku ke sini kalau kau sedang tidak dalam mood untuk bermain." Wanita yang jika Demian tidak salah mengingat--bernama Eva, merutuk kesal ketika Demian tidak menunjukkan reaksi apa pun pada setiap godaan yang ia berikan.
Eva mendongak menatap wajah Demian yang bosan. Pria itu jelas sekali sedang memikirkan sesuatu yang lain.
"Apa kau mau berhenti sekarang?" tanya Eva lagi.
"Jangan menyerah," tutur Demian. "Aku membayarmu untuk menghiburku, bukan menjadi berisik."
"Kalau begitu fokuslah sedikit," ketus Eva. Ia bangkit dan mendaki tubuh Demian yang bertelanjang dada. "Jangan memikirkan hal lain dan hanya melihat ke arahku."
Setidaknya, pikir Eva, hanya ketika Demian menaruh atensi penuh padanya, barulah Demian mampu mengapresiasikan tubuhnya, keindahan yang ia rawat sedemikian rupa agar bisa memikat mata yang memandangnya.
Menangkup wajah Demian di dalam jari-jari lentiknya, Eva pun melabuhkan kecupan dan pagutan yang dalam di bibir Demian. Demian tidak memberontak atau menolak kecupan yang ditumpahkan Eva padanya. Wanita itu berusaha keras dalam pekerjaannya, Demian mengapresiasi usahanya.
Akan tetapi, area itu tidak terpicu sama sekali.
Tidak peduli betapa liar pagutan itu, betapa menggebu-gebunya Eva mendekapnya, menyapu tubuhnya dengan kecupan panas penuh saliva, Demian tidak bisa. Demian tidak bisa menaruh perhatian penuh pada Eva.
Sesuatu di dasar benaknya, mengejeknya.
Bayangan seorang wanita bersurai hitam tebal, mata bulat seperti giok, menatap penuh kepedulian. Seulas senyum tipis yang tidak begitu riang, tapi menyiratkan keramahan dan keanggunan. Seorang gadis bernama Jessica Cerise muncul di benak Demian, gadis yang membuat tubuhnya tidak berfungsi sempurna.
Kenapa dia di sana?
Demian mempertanyakan kewarasannya ketika lagi-lagi, ia yang berusaha menyingkirkan Jessica dari benaknya, kembali memikirkan gadis itu.
Aroma strawberry-nya, halus surai hitamnya, pucat kulitnya..., lembut bibirnya.
"Demian..." suara gadis itu bergaung di pikirannya, Demian menatap Eva dan membayangkan Jessica di sana.
Jika itu Jessica yang menyentuhnya, melakukan hal kotor yang Eva lakukan. Jika itu Jessica yang berada di antara kakinya, meraupnya dengan haus.
Gairah di sepasang iris hijaunya, saliva meleleh di sudut bibirnya.
Jika itu Jessica...
Demian meraih pinggang Eva dan merebahkan wanita itu di tempat tidurnya. Mata mereka terkunci satu sama lain, tapi Demian tidak benar-benar menatap kepada Eva. Sebuah skenario lain bermain di kepalanya, seperti simulasi dan fatamorgana.
__ADS_1
Jika itu Jessica, maka...
*
Jessica terbangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Ia mempersiapkan diri untuk membantu Ethan. Hari ini, rencana Jessica adalah membantu Ethan seharian di Elixir. Dania libur hari ini, jadi Jessica akan menggantikannya.
Sementara mempersiapkan dirinya di cermin, Jessica mendengar sebuah suara landasan besar sepatu dari arah balkon kamarnya.
Tanpa panik atau waspada terhadap siapa pengunjung asing yang mendarat di balkonnya, Jessica hanya menatap ke arah cermin dengan ekspresi masam. Ia memperhatikan sesosok pria yang muncul di dalam pantulan kaca, masuk melalui pintu balkonnya.
"Selamat pagi..." Demian menyapa Jessica dengan ekspresi santai. Kemeja flanel merah yang tak terkancing, terpakai longgar di tubuhnya.
Demian--tidak seperti Jessica yang segar dan siap menyambut hari dengan optimis--, berpenampilan urak-urakan. Aroma alkohol dan tembakau membaur di tubuhnya, mengotori udara. Sepasang iris kelam Demian terlihat kelelahan, seperti dia tidak tidur sepanjang malam. Rambut ikalnya kering seperti ilalang gersang.
"Bukankah kubilang kau hanya boleh masuk ke sini setelah aku mengizinkanmu masuk?"
"Apa kau keberatan sekarang?" Demian melenggang tenang. Ia menggaruk kepalanya dan membuat surai ikalnya semakin berantakan.
"Apa pertanyaan itu penting sekarang?"
Jujur saja, di mata Jessica, walau Demian terlihat seperti gembel yang belum mandi lima hari, ketampanannya tidak luntur sama sekali.
Wajahnya yang kelelahan, entah bagaimana, sangat mempesona.
Luar biasa.
"Jangan bawel," ujar Demian kembali. "Aku tidak akan mengganggumu sama sekali hari ini. Aku hanya..., umm, butuh waktu untuk istirahat."
"Kau bisa beristirahat di lain," tukas Jessica. Jessica tidak akan membiarkan Demian beristirahat di kamarnya, tidak ketika pria itu berpenampilan kotor dan bau. Ugh, juga..., apa itu jejak lipstick di lehernya? Ew.
"Aku mau beristirahat di sini," kata Demian, jelas sekali tidak mau mendengarkan.
"Haaa~" Jessica menghela napas. Kenapa dia harus berurusan dengan pria seperti Demian?
"Kenapa kau pagi-pagi sudah harum?" Mengabaikan kejemuan yang terukir di paras Jessica, Demian mendekati gadis itu dan menghirup aroma manis yang menguar di pundak Jessica. Jessica spontan mundur.
"Apa kau anjing? Jangan mengendusku sembarangan..." Jessica bergidik.
"Sensitifnya. Aku tidak akan memakanmu." Demian terkekeh atas reaksi Jessica. "Apa kau takut padaku sekarang?"
"Daripada takut, aku merasa jijik."
"HUH?" Mata Demian melebar terpana. Jijik?
"Kau bau..." ujar Jessica terang-terangan. "Kau belum mandi sama sekali. Bagaimana bisa kau muncul di kamarku dengan penampilan seperti ini? Sebagai laki-laki, apa kau tidak tau malu?"
__ADS_1
"Kau sudah berani menghinaku sekarang?" Demian tidak tersinggung atas ucapan Jessica, ia menyadari ia memang agak kotor hari ini. Dia--setelah bergelut dengan Eva--tanpa membersihkan dirinya, langsung menemui Jessica.
Mungkin karena segala skenario yang ia bangun semalam sudah luntur pagi tadi, Demian jadi agak kecewa. Ia ingin melihat Jessica yang asli dengan kedua matanya.
"Ini bukan hinaan," ujar Jessica. "Karena kau adalah tamuku, aku mau--setidaknya--kau merawat dirimu. Jangan harap kau bisa tidur di sini bila kau tidak membersihkan dirimu sama sekali."
"Baiklah, baiklah." Demian menangkup wajah Jessica dalam telapak tangannya dan menoyor Jessica mundur selangkah. "Kau bawel sekali. Apa kau istriku?"
"Biadab..." Jessica mengelap jejak tangan Demian dari wajahnya. "Aku tidak menikahi pria brengsek."
"Heeeh, apa itu artinya kau tidak akan pernah menikah?"
"Kenapa kau menarik kesimpulan seenaknya?"
Demian mengendikkan bahu. Ia yang berada dua langkah di hadapan Jessica, kembali memotong jarak di antara mereka. Ia meraih pundak Jessica dan memutar gadis itu kembali menghadap cermin. Matanya dan mata Jessica bertemu di cermin.
"Karena aku tau setiap laki-laki di bumi ini brengsek, mustahil bagimu menemukan pria yang berhati mulia."
Jessica menepis tangan Demian dari pundaknya. Entah mengapa, Jessica merasa Demian terlalu nyaman di dekatnya. Pria itu dengan senang hati melabuhkan tangannya di sana-sini dan tidak mempunyai batasan sama sekali. Seenaknya saja merapat ke arahnya dan merangkulnya.
'Apa dia tidak melihatku sebagai manusia?' Jessica merengut tapi tidak mengatakan apa-apa. Jessica tidak mau diejek Demian lagi. Pria itu akan menggodanya dan mengatai ia sensitif dan menertawai statusnya yang memang--single.
"Tidak semua cowok bajingan sepertimu, ya. Ethan dan Elli saja memperlakukanku dengan baik. Tidak, bukan cuma aku, mereka memperlakukan semua orang dengan baik. Mereka adalah malaikat."
"Pffttt..." Demian bersandar di meja rias Jessica, tangan bersilang di dada.
"Kau mungkin tertawa karena kau tidak percaya, tapi Elli, Ethan dan oh..., Jake? Mereka adalah contoh dari pria normal di luar sana. Mereka adalah tipe-tipe pria yang akan aku nikahi."
"Oh, romantisnya. Aku tidak tau kalau sekarang Jake keparat itu masuk ke dalam tipe idealmu."
Tidak..., bukan berarti Jake adalah tipe ideal Jessica. Hanya saja, jika mengungkit masalah suami, pria yang ingin kau jadikan teman sehidup semati, pria yang pantas adalah pria baik-baik, bukan?
Pria semacam Demian adalah tipe ideal Jessica, tapi ia tidak pernah membayangkan pria itu berada di depan altar, menunggunya dengan senyuman berbinar ceria. Itu mustahil!!!
"Lupakan saja," potong Jessica. "Aku tidak mau membahas tipe idealku padamu. Kau sebaiknya mandi dan membersihkan tubuhmu. Aku akan membunuhmu kalau kau tidur di kamarku dengan penampilan seperti ini."
Demian memperhatikan Jessica yang mengambil selangkah menjauh darinya. Kendati gadis itu berusaha menutupi ekspresi tak nyamannya, Demian sangat tau kalau kedekatan dan keakraban yang ia tuangkan ke arah Jessica membuat gadis itu menjadi sangat sadar dan waspada atas keberadaannya.
Itu bagus..., pikir Demian.
Ia senang memperhatikan Jessica menggeliat di bawah tatapannya, seperti ulat kecil yang menari di dalam genggamannya.
Demian ingin melihat seberapa jauh Jessica dapat bertahan. Demian ingin tau, siapa di antara mereka yang akan melanggar janji yang mereka buat malam itu.
'Aku akan membuatmu menginginkanku, mainanku.'
__ADS_1
*